Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatToleransi & Lintas-ImanKamis, 25 Juni 2026

Khutbah Jumat — "Teguh Iman, Santun pada Sesama"

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الَّذِيْ جَعَلَ النَّاسَ شُعُوْبًا وَقَبَائِلَ لِيَتَعَارَفُوْا، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ.

Hadirin yang dimuliakan Allah, kita berkumpul pada Jumat ini bertepatan dengan hari yang mulia, hari Asyura, sepuluh Muharram. Pada hari ini Allah menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya dari kezaliman, dan menenggelamkan kezaliman itu sendiri. Maka tepat sekali bila pada hari ini kita merenungkan satu tema yang sedang ramai mengusik ruang publik kita: bagaimana seorang Muslim bersikap kepada mereka yang berbeda keyakinan, tanpa kehilangan keteguhan imannya sendiri.

Marilah kita buka khutbah ini dengan firman Allah yang menjadi kaidah agung dalam berinteraksi dengan pemeluk agama lain:

لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ

Inilah QS. Al-Mumtahana ayat 8. Allah berfirman, "Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." Ayat ini diturunkan sebagai pembeda yang tegas. Allah tidak melarang kita berbuat baik dan berlaku adil kepada mereka yang hidup damai bersama kita. Yang dilarang hanyalah memberi loyalitas dan pertolongan kepada pihak yang memerangi agama kita atau mengusir kita dari negeri kita. Maka kepada tetangga yang berbeda iman, kepada rekan kerja, kepada pedagang di pasar yang sama, sikap dasar seorang Muslim adalah birr — kebaikan — dan qisth — keadilan.

Hadirin, dari berita pekan ini kita ketahui bahwa percakapan tentang toleransi dan tempat ibadah kembali memanas di ruang digital. Sayangnya yang menonjol bukan kedalaman gagasan, melainkan kekasaran nada. Hujatan, olok-olok, dan tuduhan beredar lebih cepat daripada argumen yang santun. Ramai pula diperbincangkan polemik seputar isu orientasi seksual, yang sering ditanggapi dengan kemarahan ketimbang hikmah. Dan di sela-sela itu, muncul ujaran-ujaran kotor yang merendahkan agama secara terang-terangan. Inilah potret zaman kita: bukan kekurangan keyakinan, melainkan kekurangan akhlak dalam menyuarakan keyakinan.

Maka pertanyaan yang harus kita jawab di mimbar pagi ini bukanlah "apakah kita harus toleran", sebab Islam sudah memerintahkannya. Pertanyaannya adalah "bagaimana kita bersikap adil dan santun kepada yang berbeda, tanpa mencairkan keyakinan kita sendiri". Di sinilah Islam memberi kita keseimbangan yang indah: teguh di dalam, lembut di luar.

Tentang keteguhan itu, Allah berfirman dalam QS. Al-Kaafiroon ayat 6:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ

"Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku." Ayat penutup surah ini adalah deklarasi keteguhan akidah yang paling ringkas. Ia tidak mengatakan "agamamu dan agamaku sama". Ia tidak meleburkan tauhid ke dalam kompromi teologis. Ia justru menarik garis yang jelas: dalam urusan ibadah dan keyakinan, tidak ada percampuran. Inilah pondasi toleransi versi Islam — toleransi yang lahir dari kejelasan, bukan dari kekaburan. Justru karena saya tahu persis di mana batas akidah saya, saya bisa berinteraksi dengan tenang dan adil kepada mereka yang berbeda. Yang merendahkan toleransi adalah orang yang tidak punya pijakan, sehingga ia goyah dan defensif. Yang merawat toleransi sejati adalah orang yang akidahnya kokoh, sehingga ia lapang.

Lalu bagaimana kita menyampaikan kebenaran kepada yang berbeda? Allah memberi adab berdebat dalam QS. Al-Ankaboot ayat 46:

۞ وَلَا تُجَٰدِلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ إِلَّا بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ إِلَّا ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنْهُمْ ۖ وَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا بِٱلَّذِىٓ أُنزِلَ إِلَيْنَا وَأُنزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَٰهُنَا وَإِلَٰهُكُمْ وَٰحِدٌۭ وَنَحْنُ لَهُۥ مُسْلِمُونَ

Allah berfirman, "Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka." Perhatikan, hadirin, Allah tidak melarang berbeda pendapat. Allah mengatur caranya: billati hiya ahsan — dengan cara yang paling baik. Bukan sekadar baik, tetapi yang paling baik. Maka seorang Muslim yang membela kebenaran dengan caci-maki sebenarnya sedang melanggar perintah Allah, sekalipun isi argumennya benar. Sebab di hadapan Allah, cara menyampaikan adalah bagian dari kebenaran itu sendiri. Kebenaran yang dibungkus kekasaran akan ditolak hati manusia sebelum sampai ke akalnya.

Allah bahkan menutup pintu menuju permusuhan dari arah yang sering kita lupakan, dalam QS. Al-An'aam ayat 108:

وَلَا تَسُبُّوا۟ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّوا۟ ٱللَّهَ عَدْوًۢا بِغَيْرِ عِلْمٍۢ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِم مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Allah berfirman, "Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan." Sungguh ayat yang menakjubkan. Allah melarang kita memaki keyakinan orang lain — bukan karena keyakinan itu benar, sebab ia jelas batil, tetapi karena makian hanya melahirkan makian balasan, dan akhirnya nama Allah yang ikut dihina. Inilah hikmah yang sering hilang dari linimasa kita pekan ini. Banyak yang merasa membela Allah dengan menghina yang lain, padahal cara itu justru membuka pintu agar Allah dihina balik. Membela agama menuntut kecerdasan, bukan sekadar keberanian melontarkan kata.

Maka teladan kita adalah Rasulullah ﷺ. Ketika beliau mengutus Mu'adz dan Abu Musa ke Yaman, ke negeri yang penduduknya beragam, beliau berpesan sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari nomor 3038:

حَدَّثَنَا يَحْيَى، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم بَعَثَ مُعَاذًا وَأَبَا مُوسَى إِلَى الْيَمَنِ قَالَ ‏ "‏ يَسِّرَا وَلاَ تُعَسِّرَا، وَبَشِّرَا وَلاَ تُنَفِّرَا، وَتَطَاوَعَا وَلاَ تَخْتَلِفَا ‏"

Rasulullah ﷺ bersabda, "Mudahkanlah orang-orang dan jangan persulit mereka; berilah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari menjauh; saling bekerja samalah kalian berdua dan jangan berselisih." Inilah ruh dakwah Nabi: yassiru — mudahkan, bassyiru — gembirakan. Bukan 'assiru — persulit, bukan tunaffiru — membuat lari. Dakwah Nabi menarik hati, bukan menakuti. Maka ketika kita mendapati cara beragama yang justru membuat orang lari menjauh dari Islam, itu pertanda kita telah keluar dari sunnah cara, walau masih merasa berada di jalan kebenaran.

Hadirin, dari rangkaian ayat dan hadits ini, marilah kita ambil beberapa langkah konkret pekan ini. Pertama, jadikan rumah dan tempat kerja kita sebagai ruang yang adil bagi siapa pun, tanpa memandang keyakinannya — tepati janji, jangan curangi timbangan, hormati hak tetangga. Kedua, jika kita harus berdebat tentang agama, baik di dunia nyata maupun di media sosial, tahan diri dari menghina; pilih cara yang paling baik, atau diam jika kita tidak sanggup santun. Ketiga, jaga lisan dan jempol kita dari memaki keyakinan orang lain, sebab itu membuka pintu agar nama Allah ikut dihina. Keempat, perkuat akidah kita sendiri lewat belajar, sebab keteguhan di dalam adalah syarat kelapangan di luar. Kelima, manfaatkan hari Asyura ini dengan puasa dan istighfar, memohon agar Allah menjaga lisan kita dari fitnah lintas-iman.

Sesungguhnya keteguhan iman dan kesantunan akhlak bukanlah dua hal yang bertentangan. Justru keduanya adalah dua sayap dari burung yang sama. Iman yang teguh tanpa akhlak yang santun melahirkan kekerasan; akhlak yang santun tanpa iman yang teguh melahirkan kekaburan. Islam memerintahkan keduanya sekaligus: lakum dinukum waliya din untuk keteguhan, dan an tabarruhum watuqsithu ilaihim untuk kebaikan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلٰى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلٰى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Hadirin yang dimuliakan Allah, marilah kita perdalam satu sisi penting dari khutbah pertama. Toleransi yang Islam ajarkan bukanlah pluralisme yang menyamakan semua jalan. Islam dengan jelas menyatakan dirinya sebagai kebenaran, dan menyeru manusia kepadanya. Tetapi seruan itu dilakukan dengan hikmah, bukan paksaan. La ikraha fid-din — tidak ada paksaan dalam beragama. Maka kita merangkul manusia, kita berbuat adil kepada semua, sambil tetap meyakini dan mendakwahkan kebenaran. Dua hal ini berjalan beriringan tanpa saling menafikan.

Sisi kedua yang perlu kita renungkan: medan yang paling kasar justru paling membutuhkan kehadiran kita. Ketika linimasa dipenuhi hujatan, menarik diri bukanlah kesalehan, melainkan pengabaian. Sebab jika suara yang santun mundur, yang tersisa hanyalah suara yang keras, dan publik akan mengira itulah wajah Islam. Maka hadir dengan nada yang sejuk di ruang yang panas adalah jihad lisan zaman ini.

Sisi ketiga, mari kita jadikan momentum Asyura sebagai titik balik personal. Hari ini Allah menyelamatkan yang lemah dari kezaliman yang kuat. Maka jadilah kita pihak yang menyelamatkan suasana — bukan menambah kobaran. Satu komentar santun yang kita tulis hari ini bisa lebih berbobot daripada seribu hujatan yang kita tahan.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

اَللّٰهُمَّ جَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ وَالْبَغْضَاءَ، وَطَهِّرْ أَلْسِنَتَنَا مِنْ سَبِّ الْآخَرِيْنَ، وَاجْعَلْنَا دُعَاةً إِلَيْكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلِيًّا وَنَصِيْرًا.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْ مَنْ رَبَّيَانَا صِغَارًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan