أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Saudara-saudara sekalian, di pekan yang baru saja kita lewati, percakapan tentang perbedaan agama kembali ramai — dan sayangnya banyak yang berakhir menjadi saling-hujat. Malam ini saya ingin mengajak kita merenungkan satu hal sederhana: terkadang, diam yang santun lebih mulia daripada kemenangan yang kasar.
Ada pertanyaan yang ingin saya lemparkan ke hati kita masing-masing: pernahkah kita merasa menang dalam sebuah perdebatan agama di grup atau di kolom komentar, tetapi setelahnya hati justru terasa kotor? Itu pertanda kita mungkin menang argumen, tetapi kalah adab. Allah berfirman dalam QS. Al-An'aam ayat 108:
وَلَا تَسُبُّوا۟ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّوا۟ ٱللَّهَ عَدْوًۢا بِغَيْرِ عِلْمٍۢ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِم مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
"Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan." Lihatlah betapa jauh pandangan Allah. Dia tidak melarang kita memaki karena khawatir menyakiti yang batil, tetapi karena makian melahirkan makian balasan, dan akhirnya nama yang kita cintai — nama Allah — yang ikut tercoreng. Maka menahan lisan bukan tanda lemah; ia tanda kita berpikir dua langkah ke depan, seperti yang Allah ajarkan.
Saudara-saudara, pekan ini kita menyaksikan betapa cepat ujaran kasar menyebar. Ada perdebatan tentang tempat ibadah yang berubah menjadi serangan pribadi. Ada isu yang ditanggapi dengan kemarahan ketimbang ilmu. Bahkan ada ujaran yang merendahkan agama secara terbuka. Reaksi pertama kita biasanya ingin membalas, ingin "mengembalikan serangan". Tetapi di sinilah ujian kita. Membalas hinaan dengan hinaan hanya memperbesar api. Yang dibutuhkan bukan bensin, melainkan air.
Mari kita dengar bagaimana Rasulullah ﷺ menasihati utusannya. Dalam riwayat Sahih Muslim nomor 1733a, ketika beliau mengutus dua sahabat ke negeri yang beragam keyakinannya, beliau bersabda:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم بَعَثَهُ وَمُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ " يَسِّرَا وَلاَ تُعَسِّرَا وَبَشِّرَا وَلاَ تُنَفِّرَا وَتَطَاوَعَا وَلاَ
Rasulullah ﷺ bersabda, "Bersikaplah lemah lembut kepada orang-orang dan jangan bersikap keras; berilah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari menjauh; bekerja samalah kalian dan jangan berpecah-belah." Bayangkan, ke negeri yang penuh perbedaan, bekal pertama yang Nabi berikan bukanlah daftar bantahan, melainkan adab: permudah, gembirakan, jangan buat orang lari. Sebab dakwah yang membuat orang lari menjauh dari Islam, walau niatnya membela Islam, sesungguhnya telah gagal sejak langkah pertama.
Apa yang ayat dan hadits ini ungkapkan tentang diri kita? Bahwa naluri membalas adalah hal manusiawi, tetapi menahannya adalah hal yang mulia. Kita hidup di zaman di mana setiap orang punya mimbar di telapak tangannya — sebuah ponsel yang bisa menyebarkan kata ke ribuan orang dalam sekejap. Mimbar sekecil itu menuntut tanggung jawab sebesar mimbar masjid. Setiap kali jempol kita hendak mengetik balasan kasar, ingatlah: di hadapan Allah, cara kita bicara dicatat sama seperti isi yang kita bicarakan.
Mari kita renungkan lebih dalam lagi. Mengapa kekasaran begitu mudah menular di ruang digital? Salah satu sebabnya, karena di balik layar kita tidak melihat wajah lawan bicara. Kita lupa bahwa di seberang sana ada manusia yang juga punya hati, punya keluarga, punya luka. Ketika berhadapan langsung, kita cenderung lebih sopan; tetapi begitu dipisahkan oleh layar, kita merasa bebas melontarkan apa saja. Inilah ujian baru yang tidak dihadapi generasi sebelum kita. Maka adab yang dahulu dijaga di majelis dan di pasar, kini harus kita jaga juga di kolom komentar dan grup pesan. Tempatnya berubah, tetapi perintahnya satu: jaga lisan, jaga jempol.
Renungan kedua menyentuh akar yang lebih dalam: dari mana datangnya dorongan untuk menghujat? Sering kali ia lahir bukan dari kekuatan iman, melainkan dari rasa tidak aman. Orang yang yakin dengan kebenaran yang ia pegang tidak merasa terancam oleh perbedaan; ia tenang, ia lapang. Sebaliknya, orang yang imannya rapuh justru paling cepat marah dan paling keras menyerang, seolah dengan menjatuhkan orang lain ia sedang menegakkan dirinya sendiri. Maka jika kita mendapati diri kita mudah tersulut saat agama kita disinggung, barangkali yang perlu diperkuat bukan suara kita, melainkan ilmu dan keyakinan kita. Ketenangan adalah buah dari kedalaman, bukan dari kelantangan.
Lalu apa yang bisa kita lakukan setelah pulang malam ini? Tiga hal sederhana. Pertama, malam ini, sebelum tidur, periksa satu percakapan online yang sedang kita ikuti; jika ada balasan kasar yang ingin kita kirim, tahan, dan ganti dengan diam atau kata yang lembut. Kedua, esok pagi, jika bertemu tetangga atau rekan yang berbeda keyakinan, awali dengan sapaan yang hangat dan tulus — itu dakwah tanpa kata. Ketiga, manfaatkan hari Asyura ini untuk berpuasa dan beristighfar, memohon agar Allah menjaga lisan kita.
Pada akhirnya, saudara-saudara, kemuliaan seorang Muslim tidak diukur dari berapa banyak perdebatan yang ia menangkan, melainkan dari berapa banyak hati yang ia lembutkan. Keteguhan iman kita tidak butuh dibuktikan dengan kekasaran; ia justru paling bersinar saat dibungkus kesantunan. Nabi ﷺ memenangkan begitu banyak hati bukan dengan suara yang paling keras, melainkan dengan akhlak yang paling indah. Maka di tengah ramainya hujatan pekan ini, marilah kita memilih jalan yang berbeda — jalan yang lebih sunyi, tetapi lebih dicintai Allah. Sebab boleh jadi satu kelembutan yang kita tunjukkan hari ini lebih berbobot di sisi-Nya daripada seribu argumen yang kita menangkan dengan kemarahan.
اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ الْحِقْدِ وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ السَّبِّ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
