Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsAqidah & IbadahJumat, 3 Juli 2026

Kisah Pendek — "Penghuni Surga yang Terakhir"

Pekan ini banyak orang bicara tentang ibadah yang selesai dan hati yang berharap rahmat. Ada satu kisah lama yang menggambarkan betapa luas rahmat itu. Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wan-Nihayah — فصل في آخر من يدخل الجنة menghimpun riwayat tentang seorang laki-laki yang terakhir keluar dari neraka dan terakhir masuk surga.

Padang mahsyar sudah sepi. Api telah mengeluarkan orang-orang beriman yang sempat masuk ke dalamnya. Tinggal satu orang. Ia merangkak keluar dari neraka, tubuhnya lelah, wajahnya menunduk.

Allah memerintahkannya berbalik memunggungi neraka. Lalu ia berjalan tertatih menuju surga.

Udara di padang itu panas dan kering. Wajahnya masih menyimpan bekas jelaga api. Langkahnya berat.

Dari jauh, ia melihat sebuah pohon rindang. Daunnya hijau. Bayangannya sejuk. Terdengar gemericik air di bawahnya. Hatinya tergerak. Ia menengadah.

"Ya Rabb, dekatkan aku ke pohon itu. Aku ingin berteduh di bawahnya, minum airnya."

Allah bertanya kepadanya, "Wahai anak Adam, jika Kuberikan itu, apakah engkau akan meminta yang lain?"

"Tidak, ya Rabb," jawabnya. Ia berjanji. Ia bersumpah tidak akan meminta lagi.

Allah tahu ia tidak akan sanggup menahan diri, sebab tak ada kesabaran menghadapi apa yang ia lihat. Tapi Allah tetap mendekatkannya ke pohon itu. Laki-laki itu berteduh. Ia minum. Sejenak ia tenang.

Lalu tampaklah pohon lain yang jauh lebih indah. Airnya lebih jernih. Bayangannya lebih rimbun.

"Ya Rabb, dekatkan aku ke pohon yang itu saja. Setelah itu aku tidak akan minta apa-apa lagi."

"Bukankah engkau sudah berjanji tidak meminta selainnya?"

Laki-laki itu tahu ia melanggar janji. Tapi ia tidak sanggup menahan diri. Allah pun memaklumi kelemahannya, dan mendekatkannya ke pohon kedua.

Tapi manusia memang begitu. Nikmat yang di tangan cepat terlupa; yang belum diraih selalu tampak lebih menggoda. Laki-laki itu tidak berbeda dari kita. Ia sudah berteduh, sudah minum, tapi matanya kembali mencari.

Kemudian pintu surga tampak di kejauhan. Daun pintunya berkilau. Dari dalamnya terdengar suara penghuni surga, tawa dan percakapan yang menyenangkan. Aroma yang belum pernah ia cium menyeruak ke arahnya. Cahayanya membuat laki-laki itu lupa segalanya — lupa pohon, lupa air, lupa janjinya.

"Ya Rabb, dekatkan aku ke pintu surga. Cukup sampai di ambangnya. Aku tidak akan minta lebih."

Allah bertanya lagi. Laki-laki itu berjanji lagi. Dan Allah, dengan rahmat-Nya, mendekatkannya sampai ke ambang pintu.

Ketika ia melihat isi surga — kenikmatan yang tak pernah terbayang — ia terdiam. Lalu ia berbisik lirih:

"Ya Rabb, masukkan aku ke dalamnya."

Maka Allah berfirman kepadanya, "Masuklah."

Laki-laki itu masuk. Dan ketika ia sudah berada di dalam, Allah berfirman lagi kepadanya:

أَتَمَنَّى

"Berangan-anganlah, mintalah apa yang kau inginkan."

Ia pun mulai meminta. Allah mengingatkannya akan hal-hal yang bisa ia minta, sampai angan-angannya habis. Lalu Allah berfirman:

لَكَ ذَلِكَ وَعَشَرَةُ أَمْثَالِهِ

"Itu semua untukmu, dan sepuluh kali lipatnya."

Laki-laki itu terperanjat. Ia yang tadi hanya meminta berteduh di bawah pohon, kini diberi seluruh yang ia angankan, dilipatgandakan sepuluh kali. Dengan polos dan terheran-heran, ia berkata:

"Apakah Engkau mengejekku — atau menertawakanku — padahal Engkau adalah Raja?"

Perawi berkata: sungguh aku melihat Rasulullah ﷺ tertawa sampai tampak gigi geraham beliau. Dan dikatakan bahwa itulah penghuni surga yang paling rendah kedudukannya.

Pelajaran

Kisah ini bukan tentang seorang yang banyak ibadahnya. Justru sebaliknya — ia adalah orang yang paling rendah, yang terakhir keluar dari neraka, yang berkali-kali melanggar janjinya sendiri karena tak sanggup menahan diri. Namun yang menakjubkan adalah bagaimana Allah memperlakukannya: setiap kali ia melanggar janji, Allah tetap memaklumi kelemahannya dan tetap memberi. Dan di puncaknya, Allah memberinya sepuluh kali lipat dari semua yang ia angankan. Inilah wajah rahmat Allah yang sesungguhnya — jauh lebih luas dari amal hamba-Nya, jauh lebih lembut dari yang kita kira. Laki-laki itu bahkan tidak percaya, mengira Allah sedang bercanda. Tawa Rasulullah ﷺ saat menceritakannya adalah tawa yang penuh harapan: bahwa tidak ada seorang pun yang terlalu rendah untuk diselamatkan. Bagi kita yang kadang merasa ibadah kita cacat dan janji kita sering ingkar, kisah ini adalah pengingat untuk tidak pernah berputus asa dari rahmat-Nya — sambil tetap berusaha memperbaiki diri.

Sumber Asli

Al-Bidayah wan-Nihayah — فصل في آخر من يدخل الجنة

أَمْثَالِهَا - أَوْ إِنَّ لَكَ مِثْلَ عَشَرَةِ أَمْثَالِ الدُّنْيَا - فَيَقُولُ: أَتَسْخَرُ بِي - أَوْ تَضْحَكُ مِنِّي - وَأَنْتَ الْمَلِكُ؟ ". فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ، وَكَانَ يُقَالُ: ذَلِكَ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan