Di tengah pekan yang ramai oleh kabar harta yang hilang dan tabungan yang menguap, ada satu cerita lama yang mengingatkan bahwa pemberian sekecil apa pun tak pernah benar-benar hilang. Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wan-Nihayah — الأحاديث الواردة في شفاعة المؤمنين لأهاليهم menghimpun riwayat tentang syafaat orang-orang beriman di hari kiamat. Di antaranya ada satu adegan yang begitu sederhana, namun getarannya terasa sampai sekarang.
Bayangkan hari itu. Padang mahsyar terbentang luas. Matahari begitu dekat. Manusia berdiri menunggu keputusan, berkeringat, gelisah. Sebagian sudah masuk surga. Sebagian lagi masih di dalam neraka, menanggung akibat dosa-dosa mereka.
Lalu seorang lelaki dari penghuni surga teringat sesuatu. Ia teringat sebuah kebaikan kecil yang pernah ia terima di dunia — dulu, di masa yang seolah sudah sangat jauh. Ada seseorang yang pernah memberinya seteguk air ketika ia kehausan.
Lelaki itu menghadap Tuhannya. Ia berkata dengan penuh harap:
يَا رَبِّ، إِنَّ فُلَانًا سَقَانِي شَرْبَةً مِنْ مَاءٍ فِي الدُّنْيَا، فَشَفِّعْنِي فِيهِ
"Wahai Tuhanku, sesungguhnya si fulan pernah memberiku seteguk air di dunia. Maka izinkanlah aku memberi syafaat untuknya."
Coba renungkan. Bukan gunung emas yang ia sebut. Bukan warisan besar. Hanya seteguk air. Sesuatu yang di dunia mungkin dianggap tak berarti, bahkan mungkin sudah dilupakan oleh si pemberi sendiri. Barangkali dulu ia memberikannya sambil lalu, di tengah perjalanan yang panas, tanpa berpikir bahwa satu gelas air itu akan dicatat dan disimpan sampai hari pembalasan.
Tapi begitulah cara langit menghitung. Yang kecil di mata manusia bisa jadi besar di sisi Allah, asal dilakukan dengan tulus. Dan lelaki penghuni surga itu tidak lupa. Di tengah kenikmatan yang tak terbayangkan, ia masih mengingat siapa yang pernah baik kepadanya, dan ia ingin membalasnya dengan balasan terbaik yang bisa ia berikan.
Maka Allah menjawab permohonan itu. Dikisahkan dalam riwayat itu, Allah pun berkata kepadanya:
اذْهَبْ فَأَخْرِجْهُ مِنَ النَّارِ
"Pergilah, keluarkanlah dia dari neraka."
Lelaki itu pun bergegas. Ia menyusuri neraka, mencari-cari sang pemberi air. Ia meraba-raba di antara kepulan panas, mengenali wajah yang pernah menolongnya dulu. Dan ketika ia menemukannya, ia mengeluarkannya dari neraka — seteguk air itu akhirnya menjadi penyelamat.
Ibn Katsir juga menukil sebuah hikmah yang begitu dalam, yang konon tertulis dalam kitab Zabur Nabi Dawud 'alaihissalam. Di sana Allah berbicara kepada hamba-hamba-Nya yang zuhud di hari kiamat. Allah tidak menjauhkan dunia dari mereka karena membenci mereka; sebaliknya, agar bagian mereka utuh tersimpan di sisi-Nya. Lalu Allah memerintahkan mereka untuk menyusuri barisan-barisan manusia.
فَمَنْ أَحْبَبْتُمُوهُ فِي الدُّنْيَا أَوْ قَضَى لَكُمْ حَاجَةً، أَوْ رَدَّ عَنْكُمْ غِيبَةً، أَوْ كَسَاكُمْ خِرْقَةً، أَوْ أَطْعَمَكُمْ لُقْمَةً، أَوْ سَقَاكُمْ شَرْبَةً؟ ابْتَغَاءَ وَجْهِي، فَخُذُوا بِيَدِهِ وَأَدْخِلُوهُ الْجَنَّةَ
"Maka siapa saja yang pernah kalian cintai di dunia, atau menunaikan hajat kalian, atau menolak ghibah atas kalian, atau memakaikan kalian sehelai kain, atau memberi kalian sesuap makanan, atau memberi kalian seteguk minuman — dengan mengharap wajah-Ku — maka ambillah tangannya dan masukkanlah ia ke dalam surga."
Bayangkan pemandangan itu. Orang-orang saleh berjalan menyusuri barisan, mencari wajah-wajah yang pernah berbuat baik kepada mereka. Sepotong kain. Sesuap makanan. Seteguk air. Semua kebaikan kecil yang dulu tampak sepele, kini menjadi tiket menuju surga.
Pelajaran
Kisah ini menampar cara kita menilai harta dan kebaikan. Kita sering mengira bahwa yang akan menyelamatkan kita di akhirat adalah sedekah yang besar, angka yang mengesankan, atau bantuan yang terlihat orang banyak. Padahal Allah merekam seteguk air, sesuap makanan, sehelai kain — pemberian yang di dunia hampir tak terasa, tetapi di akhirat menjadi penebus dari api neraka. Yang dinilai bukan besarnya, melainkan keikhlasannya: ibtighā'a wajhī — karena mengharap wajah Allah. Di pekan ketika begitu banyak orang cemas akan harta yang bisa hilang seketika, kisah ini menenangkan: satu kebaikan tulus tidak akan pernah hilang. Ia hanya menunggu di sisi Allah, sampai tiba hari ketika ia menjemput pemiliknya dan menariknya keluar dari kesulitan.
Sumber Asli
Al-Bidayah wan-Nihayah — الأحاديث الواردة في شفاعة المؤمنين لأهاليهم
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يَقُولُ الرَّجُلُ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: يَا رَبِّ، إِنَّ فُلَانًا سَقَانِي شَرْبَةً مِنْ مَاءٍ فِي الدُّنْيَا، فَشَفِّعْنِي فِيهِ. فَيَقُولُ اللَّهُ: اذْهَبْ فَأَخْرِجْهُ مِنَ النَّارِ. فَيَذْهَبُ فَيَتَحَسَّسُ عَلَيْهِ فِي النَّارِ حَتَّى يُخْرِجَهُ مِنْهَا."
يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِنَّ عِبَادِيَ الزَّاهِدِينَ… فَمَنْ أَحْبَبْتُمُوهُ فِي الدُّنْيَا أَوْ قَضَى لَكُمْ حَاجَةً، أَوْ رَدَّ عَنْكُمْ غِيبَةً، أَوْ كَسَاكُمْ خِرْقَةً، أَوْ أَطْعَمَكُمْ لُقْمَةً، أَوْ سَقَاكُمْ شَرْبَةً؟ ابْتَغَاءَ وَجْهِي وَطَلَبَ مَرْضَاتِي، فَخُذُوا بِيَدِهِ، وَأَدْخِلُوهُ الْجَنَّةَ.
