بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَمَانَةَ مِيْزَانَ الْعِبَادِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْعَدْلُ فِيْ حُكْمِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْأَمِيْنُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Para jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati ini, kita disuguhi begitu banyak kabar tentang orang kuat yang menindas orang lemah — dari kabar seorang karyawan yang disekap sampai kabar duka seorang dokter muda yang wafat setelah diduga diintimidasi. Ada satu pesan pendek yang ingin saya bagikan malam ini, sebuah pesan yang saya kira sangat kita butuhkan agar hati kita tidak ikut mengeras.
Saudara-saudara sekalian, pernahkah kita bertanya: ke mana perginya kezaliman yang tidak sempat dibalas di dunia? Kita hidup di zaman ketika kabar tentang orang zalim yang tampak lolos begitu sering sampai ke telinga kita. Ada yang merampas hak rakyat lalu hidup nyaman. Ada yang menyakiti orang lemah lalu berlindung di balik kekuasaan. Dan hati kita, jujur saja, kadang bertanya-tanya: apakah keadilan itu benar-benar ada? Apakah mereka yang menindas akan benar-benar dimintai pertanggungjawaban? Orang yang menyakiti, lalu ia mati atau lolos dari hukum dunia — apakah urusannya selesai begitu saja?
Islam menjawab pertanyaan itu dengan tegas: tidak. Tidak ada satu tetes kezaliman pun yang hilang tak berbekas. Dunia ini bukan tempat pembalasan yang final; ia hanya ruang tunggu. Setiap kezaliman yang tampak lolos di sini sesungguhnya sedang menumpuk menjadi tagihan yang akan ditagih dengan sempurna di hadapan Hakim Yang Maha Adil. Justru keyakinan inilah, saudara-saudara, yang menjaga hati kita agar tidak putus asa melihat ketidakadilan, sekaligus menjaga kita agar tidak berani berbuat zalim meski merasa aman dari mata manusia. Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits yang pendek namun menggetarkan.
إِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Dalam riwayat Sahih Muslim 2579, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya kezaliman itu adalah kegelapan pada Hari Kiamat." Perhatikan pilihan kata Nabi ﷺ: kezaliman bukan sekadar dosa yang dicatat, tetapi kegelapan — zhulumat, dalam bentuk jamak, berlapis-lapis. Setiap tetes kezaliman yang kita lakukan akan berubah menjadi kegelapan yang menyelimuti kita justru di hari ketika kita paling membutuhkan cahaya untuk menyeberang.
Mari kita renungkan bersama, saudara-saudara. Pekan ini kabar yang sampai ke kita begitu berat. Kita dengar tentang seorang karyawan yang disekap dan disiksa berbulan-bulan oleh orang yang punya kuasa atasnya. Kita dengar kabar duka seorang dokter di sebuah daerah yang wafat setelah diduga mengalami tekanan dari pihak yang seharusnya melayani rakyat. Kita pun mendengar kabar tentang vonis dalam perkara korupsi dana yang seharusnya untuk pendidikan, dan dugaan suap demi memperebutkan sebuah jabatan. Setiap kali kabar seperti ini datang, ada dua reaksi yang mungkin muncul di hati kita: marah, atau justru mati rasa karena terlalu sering mendengarnya. Keduanya berbahaya jika dibiarkan liar. Marah yang liar berubah jadi cacian; mati rasa berubah jadi ketidakpedulian. Islam menawarkan jalan ketiga: menjadikan kabar itu cermin untuk memeriksa diri.
Sebab, saudara-saudara, kezaliman yang kita saksikan di layar seringkali membuat kita lupa pada kezaliman-kezaliman kecil yang kita lakukan sendiri. Kita mudah mengutuk penindas besar, tetapi kita lupa pada pembantu yang kita bentak, pada pekerja yang upahnya kita tunda, pada anak yang kita hardik tanpa alasan, pada tetangga yang haknya kita abaikan. Kezaliman tidak selalu berwujud penjara dan pukulan; kadang ia sehalus lidah yang menyakiti dan setega tangan yang menahan hak orang lain. Bahkan menunda membayar hak pekerja padahal kita mampu, kata para ulama, sudah termasuk kezaliman. Coba renungkan: siapa di antara kita yang pekan ini pernah membuat orang lain menunggu haknya tanpa alasan yang benar?
Ada satu hal yang sering luput dari kita, saudara-saudara. Kita cenderung membayangkan kezaliman sebagai perbuatan orang-orang besar di tempat-tempat yang jauh. Padahal kezaliman yang paling sering terjadi justru yang paling dekat dan paling kecil — dan karena kecilnya, ia luput dari pengawasan hati kita. Bayangkan seorang pekerja rumah tangga yang haknya kita tunda, atau seorang anak yang kita perlakukan tidak adil; mereka mungkin tidak berdaya membela diri di hadapan kita, tetapi hati mereka yang terluka bisa memanjatkan doa kepada Allah, dan doa orang yang terzalimi bukanlah sesuatu yang ringan. Kita perlu ingat bahwa antara doa orang yang terzalimi dan Allah tidak ada penghalang; ia naik langsung, dan pintu-pintu langit terbuka untuknya, sekalipun yang memanjatkannya hanya seorang anak kecil atau pekerja yang tak berani bersuara di depan kita. Betapa mengerikan jika kita berjalan di dunia sambil tanpa sadar membawa luka hati dari orang-orang kecil yang haknya kita rampas. Karena itu, saudara-saudara, kezaliman terberat sering bukan yang paling terlihat, melainkan yang paling kita anggap remeh.
Rasulullah ﷺ mengajarkan kita bahwa akar dari semua kezaliman adalah keserakahan. Dalam Riyad as-Salihin 203 beliau menyandingkan keduanya.
اتَّقُوا الظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاتَّقُوا الشُّحَّ، فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ
"Jauhilah kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan pada Hari Kiamat; dan jauhilah kekikiran, karena kekikiran telah membinasakan orang-orang sebelum kalian." Keserakahan pada harta dan kuasa itulah yang perlahan menumpulkan nurani, saudara-saudara, sampai seseorang tega mencurangi, memeras, dan menyakiti demi keuntungannya sendiri. Perhatikan bagaimana Nabi ﷺ menyebut keserakahan sebagai penyakit yang "membinasakan umat-umat sebelum kita" — bukan sekadar dosa pribadi, tetapi virus yang bisa meruntuhkan sebuah peradaban. Maka melawan kezaliman sebenarnya dimulai dari melawan keserakahan dalam diri kita; siapa yang hatinya sudah cukup dengan rezeki halalnya, ia tak akan pernah tergoda merampas hak orang lain.
Al-Qur'an sendiri menempatkan keadilan sebagai perintah yang setara pentingnya dengan ibadah. Dengarlah firman Allah melalui lisan Nabi Syu'aib.
وَيَٰقَوْمِ أَوْفُوا۟ ٱلْمِكْيَالَ وَٱلْمِيزَانَ بِٱلْقِسْطِ
Dalam QS. Hud: 85, "Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil." Yang menarik, saudara-saudara, kaum yang ditegur ini bukanlah kaum kafir yang menolak Tuhan; mereka kaum yang beribadah tetapi curang dalam bertransaksi. Seakan Allah hendak mengingatkan bahwa shalat kita, puasa kita, sedekah kita — semua bisa kehilangan nilainya jika di luar sana kita masih mencurangi hak orang lain. Ibadah dan keadilan itu satu paket; tidak bisa kita ambil yang satu dan buang yang lain.
Lalu apa yang bisa kita renungkan lebih dalam? Bahwa keadilan bukanlah beban yang berat; ia sebenarnya menyelamatkan kita. Ketika kita adil kepada orang lain, kita sedang menabung cahaya untuk hari perhitungan. Ketika kita membela yang lemah, kita sedang menuliskan nama kita di antara golongan yang dijanjikan mimbar cahaya. Setiap kali kita menahan diri dari menyakiti — padahal kita bisa — itu adalah ibadah yang mungkin lebih berat timbangannya daripada shalat sunnah yang panjang. Bayangkan, saudara-saudara: seorang yang menahan lidahnya dari menyakiti bawahannya, seorang ibu yang bersabar tidak memukul anaknya saat marah, seorang pedagang yang jujur tidak mengurangi timbangan meski tak ada yang melihat — mereka semua sedang beribadah dengan ibadah yang sunyi namun berat timbangannya di sisi Allah.
Dan inilah yang membedakan seorang mukmin dari yang lain, saudara-saudara: kesadaran bahwa ia diawasi bahkan ketika sendirian. Orang yang curang selalu menunggu saat tak ada yang melihat. Tetapi seorang mukmin sejati tahu bahwa tidak pernah ada saat "tak ada yang melihat" — sebab Allah selalu hadir. Kesadaran inilah yang menjadi benteng terakhir keadilan, jauh lebih kuat daripada kamera pengawas atau ancaman hukuman mana pun.
Mari kita renungkan lebih dalam lagi, saudara-saudara, tentang sifat manusia. Mengapa manusia begitu mudah tergelincir ke dalam kezaliman? Al-Qur'an memberi kita jawaban: karena manusia diciptakan cenderung tergesa-gesa dan cinta pada harta. Ketika kesempatan datang, ketika kuasa ada di tangan, dan ketika pengawasan lemah, nafsu berbisik bahwa "sekali ini saja tidak apa-apa". Dari bisikan kecil itulah kezaliman besar tumbuh. Tidak ada seorang koruptor pun yang lahir langsung besar; ia bermula dari kecurangan-kecurangan kecil yang dibiarkan, sampai hatinya mati rasa dan menganggap yang haram sebagai biasa. Maka menjaga diri dari kezaliman kecil hari ini adalah cara kita menutup pintu kezaliman besar di masa depan.
Dan tentang struktur masyarakat, saudara-saudara — sebuah masyarakat menjadi zalim bukan hanya karena ada pelakunya, tetapi juga karena banyak yang diam. Ketika kita terbiasa melihat yang lemah ditindas lalu berkata "itu bukan urusanku", kita sedang ikut menyuburkan kezaliman. Kepedulian kepada yang lemah adalah bagian dari iman kita; ketika masyarakat kehilangan kepedulian itu, kezaliman menemukan ruang untuk berkembang bebas. Yang paling berbahaya, saudara-saudara, adalah ketika hati kita sudah tidak lagi terusik melihat ketidakadilan — sebab hati yang mati rasa terhadap penderitaan orang lain adalah tanda bahwa iman di dalamnya sedang meredup. Selama kita masih bisa terusik, masih bisa marah pada ketidakadilan, di situ iman kita masih hidup, dan di situ ada harapan untuk perbaikan.
Jadi, saudara-saudara, apa yang harus kita bawa pulang malam ini? Saya ingin menawarkan tiga langkah yang bisa kita mulai bahkan sebelum matahari terbit besok. Pertama, mari kita periksa satu kezaliman kecil dalam hidup kita — mungkin hak seseorang yang belum kita tunaikan, mungkin upah yang belum kita bayar, mungkin permintaan maaf yang belum kita ucapkan kepada anak atau pasangan kita. Pilih satu saja malam ini, dan selesaikan dalam 24 jam ke depan. Jangan tunggu momen besar; keadilan yang paling dinilai Allah justru yang paling kecil dan paling dekat.
Kedua, mari kita tidak menutup mata pada penderitaan yang lemah di sekitar kita. Kadang kita mengira membela yang lemah butuh keberanian besar dan pengorbanan heroik. Padahal sering kali cukup dengan hal sederhana: satu telepon menanyakan kabar, satu kunjungan ke tetangga yang terlihat tertekan, satu keberanian untuk tidak diam ketika melihat yang salah. Setiap tindakan kecil itu bisa menjadi cahaya bagi seseorang yang merasa sendirian dalam penderitaannya. Mulai malam ini, pikirkan satu orang lemah di sekitar kita yang bisa kita perhatikan pekan ini.
Ketiga, mari kita jaga lidah dan jempol kita saat marah pada ketidakadilan yang kita baca di layar. Kemarahan itu boleh, bahkan baik — tetapi ia harus diarahkan menjadi doa, dukungan pada korban, dan advokasi yang santun, bukan menjadi cacian atau tuduhan pada orang yang belum tentu bersalah. Sebelum kita menyebarkan sesuatu, tanyakan pada diri: apakah ini membela kebenaran, atau justru menambah kegelapan? Kebiasaan kecil menahan diri ini, jika kita rutinkan, akan menjaga kita dari terjatuh ke dalam kezaliman yang justru kita benci.
Maka, saudara-saudara, keadilan bukan tentang menghukum orang lain, melainkan tentang membersihkan diri kita dari kegelapan yang bisa menutup jalan kita menuju Allah — dan tentang menjadi cahaya kecil bagi mereka yang sedang tertindas di sekitar kita.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ أَنْ نَظْلِمَ أَوْ نُظْلَمَ، وَنَسْأَلُكَ الْعَدْلَ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ، وَاجْعَلْنَا نُوْرًا لِلْمَظْلُوْمِيْنَ، وَاحْفَظْ أَهْلَنَا وَأَبْنَاءَنَا مِنْ كُلِّ أَذًى، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
