Di tengah pekan yang ramai oleh cerita orang-orang yang setia menjaga amanah dalam sunyi, ada satu kisah tua yang rasanya perlu diceritakan ulang. Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wan-Nihayah — حديث الذي استسلف من صاحبه ألف دينار فأداها menghimpun kisah seorang lelaki Bani Israil yang berutang seribu dinar, lalu menyerahkan seluruh urusannya kepada satu Saksi dan satu Penjamin yang tak pernah tidur.
Seorang lelaki dari Bani Israil datang kepada saudaranya. Ia butuh uang. Banyak. Seribu dinar.
"Pinjamkan aku seribu dinar," katanya.
Yang diminta berpikir sejenak. "Datangkan saksi," jawabnya, "biar aku persaksikan pinjaman ini."
Lelaki itu menggeleng pelan. "Cukup Allah sebagai saksi," katanya.
Angin barangkali berhenti sebentar. Kalimat itu berat. Yang mendengar terdiam.
"Kalau begitu, datangkan penjamin," kata pemberi utang.
"Cukup Allah sebagai penjamin," jawab lelaki itu lagi. Suaranya tenang, tanpa gemetar.
Pemberi utang menatapnya lama. Lalu sesuatu di dadanya luluh. "Engkau benar," katanya. Ia serahkan seribu dinar itu, dengan tempo yang disepakati.
Lelaki itu pun berlayar menyeberangi laut. Ia selesaikan keperluannya di negeri seberang. Ketika waktu pelunasan hampir tiba, ia mencari kapal untuk pulang. Tapi tidak ada satu kapal pun. Laut kosong. Waktu terus berjalan.
Ia berdiri di tepi pantai. Di tangannya seribu dinar yang harus dikembalikan, tapi tak ada jalan untuk mengantarnya. Maka ia mengambil sepotong kayu. Ia lubangi. Ia masukkan seribu dinar itu ke dalamnya, bersama sepucuk surat untuk saudaranya. Lalu ia tutup rapat lubang itu.
Ia bawa kayu itu ke tepi laut. Ia angkat wajahnya ke langit.
