Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatKonflik & GeopolitikJumat, 3 Juli 2026

Khutbah Jumat — "Merawat Persaudaraan di Tengah Dunia yang Terbakar"

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْمُؤْمِنِينَ إِخْوَةً، وَأَمَرَنَا بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَنَهَانَا عَنِ الظُّلْمِ وَالْبَغْيِ وَالْعُدْوَانِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُحْصَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, hadirin yang dimuliakan Allah. Pada Jumat yang penuh berkah ini, marilah kita mulai dengan mensyukuri nikmat yang jarang kita sadari: kita berkumpul di rumah Allah dalam keadaan aman, azan berkumandang tanpa halangan, dan tak ada bom yang jatuh di atap masjid kita. Nikmat yang tampak biasa ini, pekan ini, terasa begitu mahal — karena kabar yang sampai kepada kita menunjukkan betapa banyak saudara kita yang kehilangan justru hal-hal sederhana itu.

Marilah kita renungkan firman Allah yang menjadi pijakan khutbah kita hari ini:

وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱقْتَتَلُوا۟ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنۢ بَغَتْ إِحْدَىٰهُمَا عَلَى ٱلْأُخْرَىٰ فَقَٰتِلُوا۟ ٱلَّتِى تَبْغِى حَتَّىٰ تَفِىٓءَ إِلَىٰٓ أَمْرِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن فَآءَتْ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَهُمَا بِٱلْعَدْلِ وَأَقْسِطُوٓا۟ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ

Allah berfirman dalam Surah Al-Hujuraat ayat 9: "Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang, hendaklah kamu damaikan antara keduanya. Tapi kalau yang satu melanggar terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar itu kamu perangi sampai ia kembali pada perintah Allah. Kalau ia telah kembali, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil."

Hadirin yang dimuliakan Allah, ayat ini menakjubkan. Di tengah perintah yang keras — memerangi pihak yang melampaui batas — Allah menutup ayat dengan seruan yang lembut: berlaku adillah, karena Allah mencintai orang yang adil. Islam tidak mengenal kepedulian yang buta. Bahkan dalam kondisi konflik, timbangan keadilan tidak boleh jatuh dari tangan. Inilah kompas yang kita butuhkan pekan ini, ketika dunia di sekeliling kita seakan terbakar dari banyak arah sekaligus.

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan perselisihan yang terjadi di antara kaum beriman sendiri. Dan yang menarik, hadirin, Allah tidak berhenti pada perintah untuk memerangi pihak yang zalim; Allah memerintahkan tiga hal berurutan: pertama mendamaikan, lalu meluruskan yang melampaui batas, dan terakhir — ini yang sering dilupakan — mendamaikan kembali dengan adil setelah kezaliman berhenti. Tujuan akhirnya bukan kehancuran, melainkan islah, perbaikan, perdamaian yang tegak di atas keadilan. Ini pelajaran besar bagi kita yang hidup di tengah dunia yang gemar memelihara dendam turun-temurun. Seorang mukmin, betapapun tegas menolak kezaliman, hatinya tetap merindukan perdamaian yang adil, bukan kemenangan yang membara dengan kebencian.

Dan perhatikan kata terakhir ayat ini: "innallaaha yuhibbul muqsithiin" — sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Bukan sekadar meridhai, melainkan mencintai. Betapa tinggi kedudukan keadilan dalam pandangan Allah, sampai Dia menyebut cinta-Nya kepada pelakunya. Maka ketika kita menyikapi kabar konflik pekan ini — dari mana pun datangnya — pertanyaan yang harus kita ajukan pada diri sendiri bukan hanya "di pihak mana aku berdiri?", melainkan "apakah sikapku ini termasuk sikap adil yang dicintai Allah, ataukah sekadar luapan amarah yang menyesatkan?"

Dari berita pekan ini kita ketahui, dua kekuatan besar dunia saling melempar serangan. Kabar sampai kepada kita tentang serangan terhadap sasaran militer, ancaman balasan yang lebih besar, insiden di sebuah selat yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia, hingga rumor tentang upaya menghentikan serangan dan pertemuan darurat di negara ketiga. Pagi kita mendengar eskalasi, sore kita mendengar rumor damai. Ramai pula diperbincangkan pekan ini kabar duka wafatnya seorang pemimpin di negeri itu dan persiapan pemakaman yang dihadiri banyak orang. Hati kita ikut terombang-ambing mengikuti kabar yang berubah setiap jam.

Di saat yang sama, kabar dari tanah yang diberkahi tak kunjung reda. Publik dikejutkan oleh berita bahwa sejak gencatan senjata yang katanya sudah dimulai, korban anak-anak Palestina justru terus berjatuhan. Kita mendengar azan dilarang berkumandang di sebuah masjid bersejarah di Palestina selama berhari-hari — bayangkan, hadirin, panggilan kepada Allah pun dibungkam. Kita mendengar ancaman untuk menguasai seluruh wilayah, serangan yang melebar ke Lebanon Selatan, dan pengepungan di Tepi Barat. Namun di sela kabar pahit itu, ada pula kabar upaya diplomasi: delegasi yang datang membicarakan pelaksanaan gencatan senjata, dan organisasi kerja sama Islam yang menegaskan dukungan pada lembaga bantuan bagi para pengungsi.

Kabar-kabar itu, hadirin, datang bertubi-tubi dalam satu pekan. Ada yang membuat dada sesak — anak-anak yang tak berdosa menjadi korban, tempat ibadah yang dibungkam — dan ada pula yang menyisakan setitik harap, seperti upaya perdamaian yang mulai dibicarakan. Perasaan kita ikut naik-turun, sedih lalu marah lalu berharap lalu kecewa lagi. Justru di tengah gelombang perasaan inilah seorang mukmin dituntut memiliki hati yang kokoh: tidak larut sampai lupa diri, tidak pula beku sampai kehilangan kepedulian. Iman kita diuji bukan hanya oleh apa yang terjadi di dunia, melainkan oleh bagaimana hati kita meresponsnya.

Dan konflik itu, hadirin, tidak berhenti di layar televisi. Ia pulang ke rumah kita sendiri. Kabar yang sampai kepada kita pekan ini menyebutkan sebuah pesawat kecil dibakar di Yahukimo, Papua, dan pilotnya diduga dibunuh oleh kelompok bersenjata. Di Intan Jaya, warga sipil ditembak dan ditemukan tewas, hingga pejabat daerah serta lembaga hak asasi menyuarakan agar keselamatan warga sipil diutamakan dan aparat dikendalikan. Darah yang tertumpah di pedalaman negeri kita sendiri sama merahnya, sama mahalnya, dengan darah yang tertumpah di Gaza.

Di sinilah, hadirin, kita perlu meluruskan satu kekeliruan yang halus. Sebagian dari kita begitu bersemangat menangisi Gaza — dan itu memang mulia — tetapi dingin ketika mendengar warga sipil jatuh di Papua, seolah yang satu urusan iman dan yang lain sekadar berita lokal. Padahal kemuliaan darah manusia dalam pandangan syariat tidak ditentukan oleh jarak geografis atau kedekatan sentimen. Nyawa yang tak bersalah adalah nyawa yang tak bersalah, di mana pun ia ditumpahkan. Kepedulian yang benar bukanlah kepedulian yang tebang pilih, melainkan kepedulian yang adil dan menyeluruh — dan justru inilah yang membedakan solidaritas iman dari sekadar fanatisme kelompok.

Maka pertanyaannya, ma'asyiral muslimin: bagaimana seorang mukmin harus berdiri di tengah dunia yang terbakar dari banyak arah ini? Apakah kita larut dalam kepanikan, membagikan setiap kabar tanpa saring, dan menumbuhkan kebencian yang membakar dada tanpa mengubah apa pun? Ataukah kita berdiri dengan hati yang jernih, kepedulian yang adil, dan tangan yang tetap bekerja untuk kebaikan?

Jawaban pertama datang dari sabda Rasulullah ﷺ tentang hakikat persaudaraan kita:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ

Rasulullah ﷺ bersabda dalam riwayat Bukhari nomor 6951: "Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Maka ia tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh menyerahkannya kepada musuh. Dan barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya."

Perhatikanlah dua kata kunci hadits ini, hadirin: "laa yazhlimuhu" — tidak menzaliminya — dan "laa yuslimuhu" — tidak menyerahkannya kepada musuh, tidak membiarkannya sendirian menghadapi bahaya. Persaudaraan iman bukan sekadar slogan yang kita ucapkan saat Ramadhan. Ia adalah ikatan yang menuntut sikap: kita tidak menambah beban saudara kita, dan kita tidak menutup mata ketika ia terancam. Ketika saudara kita di Gaza kehilangan atap, kehilangan azan, kehilangan anak-anak mereka, maka membiarkan mereka sendirian — bersikap seolah itu urusan orang lain — adalah bentuk "islaam" yang dilarang: menyerahkan saudara kepada nasibnya sendiri.

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini menggambarkan tubuh umat sebagai satu kesatuan. Rasulullah ﷺ dalam riwayat lain mengibaratkan kaum mukminin seperti satu jasad: bila satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur. Maka rasa sakit yang kita rasakan saat membaca kabar Gaza sesungguhnya adalah tanda iman yang sehat — pertanda tubuh umat masih terhubung, masih terasa. Yang berbahaya justru ketika hati sudah mati rasa, ketika kabar pembunuhan anak-anak lewat begitu saja seperti angin, tanpa menggerakkan apa pun dalam diri kita. Namun rasa sakit itu harus melahirkan gerak, bukan sekadar keluhan. Tubuh yang sehat, ketika satu bagiannya terluka, akan menggerakkan tangan untuk mengobati, bukan hanya mengerang.

Dan lihatlah janji indah di penghujung hadits: "barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya." Inilah ekonomi kebaikan dalam Islam yang tak pernah rugi. Ketika kita melapangkan kesulitan saudara kita yang tertindas — walau dengan doa di sepertiga malam, walau dengan sedikit harta yang kita sisihkan — kita sebenarnya sedang menabung pertolongan Allah untuk diri kita sendiri di saat kita membutuhkannya. Betapa banyak dari kita yang mengeluh hidupnya sempit, rezekinya seret, hatinya gelisah — sementara pintu kelapangan justru terletak pada seberapa besar kita melapangkan urusan orang lain.

Tetapi, hadirin, di sinilah kita perlu berhati-hati. Menolong saudara yang terzalimi tidak boleh berubah menjadi kezaliman baru dalam bentuk kebencian yang membabi buta. Rasulullah ﷺ mengajarkan keseimbangan yang jarang kita temukan di dunia hari ini. Dengarkanlah hadits qudsi yang agung, diriwayatkan dalam Sahih Muslim, di mana Allah berfirman melalui lisan Nabi-Nya:

يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits qudsi yang diriwayatkan Muslim nomor 2577a, bahwa Allah Yang Maha Tinggi berfirman: "Wahai hamba-Ku, Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi."

Renungkanlah, hadirin. Kezaliman diharamkan Allah atas diri-Nya sendiri — Dzat yang Maha Kuasa berbuat apa saja — dan Dia mengharamkannya di antara kita. Maka ketika kita membela Palestina, kita membela karena menolak kezaliman, bukan karena membenci suatu bangsa secara membabi buta. Ketika kita marah pada penembakan warga sipil di Papua, kita marah pada tindakan zalimnya, bukan pada suku atau daerahnya. Inilah "hate the deed, not the person" dalam bahasa syariat: kita membenci perbuatan zalim, dan kita menyeru pelaku kezaliman untuk kembali pada keadilan.

Prinsip ini ditegaskan Allah dalam ayat yang harus kita hafalkan baik-baik pekan ini:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

Allah berfirman dalam Surah Al-Maaida ayat 8: "Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa."

Subhaanallah, hadirin. Ayat ini turun untuk momen seperti pekan ini. "Wa laa yajrimannakum syana-aanu qaumin 'alaa allaa ta'dilu" — jangan sampai kebencianmu pada suatu kaum membuatmu meninggalkan keadilan. Betapa mudahnya, di tengah amarah membaca kabar Gaza, kita ikut menyebarkan kabar bohong asal menjelekkan lawan. Betapa mudahnya kita menghakimi sesama Muslim yang berbeda cara pandang tentang cara membela Palestina, seolah dia pengkhianat. Betapa mudahnya amarah yang berawal dari niat baik berubah menjadi permusuhan di antara sesama kita sendiri.

Dan justru inilah bahaya terbesar yang mengintai umat pekan ini: perpecahan internal. Ketika dunia luar menekan dari segala arah, setan bekerja paling keras untuk memecah barisan dari dalam. Maka Allah memberi kita tali penyelamat:

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًۭا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءًۭ فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًۭا

Allah berfirman dalam Surah Aal-i-Imraan ayat 103: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali agama Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara."

Hadirin, ayat ini mengingatkan bahwa persatuan umat adalah nikmat, bukan sekadar strategi. Dulu suku Aus dan Khazraj di Madinah saling membunuh berpuluh tahun dalam perang yang seolah tak berujung, lalu Islam menyatukan hati mereka hingga menjadi bersaudara. Bayangkan, hadirin: dua kaum yang darahnya sudah bercampur di medan perang, yang setiap keluarga menyimpan luka kehilangan, disatukan hatinya oleh iman sampai mereka rela berbagi rumah dan harta. Nikmat yang sama itu ditawarkan kepada kita hari ini. Ketika kita menyaksikan kezaliman di Gaza, di Lebanon, di Tepi Barat, jangan sampai respons kita justru memecah umat di negeri sendiri menjadi kubu-kubu yang saling mencurigai. Solidaritas yang benar adalah solidaritas yang mempersatukan, bukan yang menciptakan front baru di dalam masjid kita sendiri.

Dan penguat dari sabda Rasulullah ﷺ pun sejalan. Beliau bersabda, sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Muslim:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Rasulullah ﷺ bersabda dalam riwayat Muslim nomor 2580: "Seorang Muslim adalah saudara bagi sesama Muslim. Ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya binasa. Barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa melapangkan satu kesulitan seorang Muslim, Allah akan melapangkan satu kesulitannya di antara kesulitan-kesulitan Hari Kiamat."

Hadirin, betapa besar timbangan Allah. Satu tindakan meringankan beban saudara di dunia — sekecil apa pun — dibalas dengan kelapangan pada hari ketika manusia paling membutuhkan kelapangan, yaitu Hari Kiamat. Maka jangan pernah kita meremehkan bantuan kecil untuk saudara yang tertindas. Donasi yang kita anggap tak seberapa, doa yang kita panjatkan diam-diam, mungkin justru menjadi sebab Allah melapangkan kubur dan hisab kita kelak.

Mari kita ambil pelajaran dari sirah Nabi ﷺ. Ketika pasukan sekutu — Al-Ahzab — mengepung Madinah dari segala penjuru dalam Perang Khandaq, hati para sahabat pun sempat mencekam. Al-Qur'an menggambarkan "wa balaghatil-quluubul-hanaajir" — hati naik sampai ke tenggorokan karena takut. Namun Rasulullah ﷺ tidak larut dalam kepanikan. Beliau menggali parit dengan tangannya sendiri, menyemangati sahabat dengan syair, dan yang terpenting: beliau berdoa. Beliau mengangkat tangan memohon pertolongan Allah. Dan pertolongan itu datang bukan dari kekuatan pedang semata, melainkan dari angin dingin yang Allah kirim untuk memporak-porandakan perkemahan musuh. Allah sendiri yang mencukupkan kaum mukminin dari peperangan itu — "wa kafallaahul-mu'miniinal-qitaal."

Dari kisah ini, hadirin, kita belajar tiga hal untuk pekan ini. Pertama, di tengah pengepungan dari segala arah, seorang mukmin tidak panik tetapi bekerja dan berdoa. Kedua, kemenangan hakiki datang dari Allah, sehingga senjata utama kita adalah doa yang tulus, bukan sekadar cacian di media sosial. Ketiga, ujian justru memisahkan yang jujur imannya dari yang munafik — dan Allah menjanjikan balasan bagi orang-orang yang menepati janji mereka kepada-Nya.

Renungkanlah, hadirin, betapa relevannya kisah Khandaq itu dengan keadaan kita hari ini. Al-Qur'an menggambarkan bagaimana pada saat itu ada tiga golongan manusia. Golongan pertama adalah orang-orang munafik dan yang di hatinya ada penyakit; ketika melihat pasukan sekutu datang, mereka berkata bahwa janji Allah dan Rasul-Nya tak lebih dari tipuan belaka, dan sebagian mencari-cari alasan untuk melarikan diri dari medan. Golongan kedua adalah orang-orang yang lidahnya tajam ketika aman tetapi menciut ketika bahaya datang — Allah menggambarkan mata mereka berputar ketakutan seperti orang yang pingsan menghadapi maut, lalu ketika bahaya berlalu, mereka mencaci dengan lidah yang tajam dan kikir terhadap kebaikan. Dan golongan ketiga adalah kaum mukminin sejati yang, ketika melihat pasukan sekutu, justru berkata: "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya, dan benarlah Allah dan Rasul-Nya" — dan hal itu tidak menambah mereka kecuali keimanan dan kepasrahan.

Ketiga golongan itu, hadirin, masih hidup di tengah kita hari ini. Ada yang, melihat kekuatan besar dunia saling menyerang, langsung putus asa dan berkata bahwa umat ini tak punya harapan. Ada yang lantang berteriak di media sosial ketika aman di kamarnya, tetapi tak pernah menyisihkan sepeser pun untuk korban yang nyata, dan tak pernah bangun malam mendoakan mereka. Dan ada — semoga kita termasuk golongan ini — yang menghadapi ujian dengan iman yang justru bertambah kokoh, yang mengubah keprihatinan menjadi doa dan amal, yang percaya bahwa akhir cerita ada di tangan Allah. Pertanyaannya untuk kita masing-masing pagi ini: di golongan yang mana kita berdiri?

Ada pula pelajaran keempat yang tak kalah penting. Ketika kaum Bani Quraizhah mengkhianati perjanjian mereka dengan kaum muslimin di saat-saat paling genting — bergabung dengan pasukan sekutu menyerang dari dalam — Al-Qur'an mencatat bahwa pengkhianatan itu tidak membawa mereka pada kebaikan apa pun. Ini mengajarkan bahwa kesetiaan pada perjanjian dan amanah adalah pondasi yang menjaga masyarakat dari kehancuran. Betapa banyak konflik dunia hari ini yang berakar dari perjanjian yang dilanggar, dari janji damai yang diingkari, dari kesepakatan yang dijadikan alat menipu. Islam mengajarkan bahwa seorang mukmin adalah orang yang menepati janjinya, bahkan kepada mereka yang berseberangan dengannya.

Maka, ma'asyiral muslimin, izinkan saya menutup khutbah pertama ini dengan beberapa langkah konkret yang bisa kita lakukan pekan ini. Pertama, jadikan doa untuk saudara-saudara kita yang tertindas sebagai amalan harian; hidupkan kembali qunut nazilah dalam shalat, terutama untuk kaum mukminin yang lemah di Palestina, Lebanon, dan di mana pun mereka tertekan. Doa bukanlah pelarian orang lemah, melainkan senjata orang beriman yang menembus langit; sebagaimana angin di Khandaq datang menjawab doa, jangan pernah kita anggap remeh kekuatan tangan yang terangkat di malam hari.

Kedua, saring kabar sebelum menyebarkan; jangan menjadi penyambung berita bohong yang justru memperkeruh suasana — tabayyun adalah perintah, bukan pilihan. Kabar perang pekan ini berubah setiap jam; menyebar kabar yang belum jelas kebenarannya bukan menolong korban, melainkan menambah fitnah dan kegaduhan di tengah umat.

Ketiga, salurkan solidaritas dalam bentuk nyata: donasi melalui lembaga tepercaya, dan boikot produk secara tertib tanpa merusak dan tanpa ujaran kebencian. Ukurlah kepedulian kita bukan dari banyaknya air mata, melainkan dari nyatanya bantuan yang sampai. Air mata yang tidak diikuti tindakan lebih menghibur diri kita sendiri daripada menolong saudara kita.

Keempat, jaga persatuan di lingkungan kita sendiri; jangan sampai berbeda pandangan soal cara membela Palestina memutuskan silaturahmi antar-sesama Muslim. Ingatlah, ketika musuh menekan dari luar, kemenangan mereka yang paling murah adalah ketika kita pecah dari dalam.

Kelima, doakan pula keselamatan warga sipil di Papua dan di seluruh penjuru negeri kita, karena kepedulian yang adil tidak tebang pilih. Darah yang tertumpah di pedalaman negeri sendiri sama mahalnya di sisi Allah; jangan sampai kepedulian kita hanya menyala untuk yang jauh sambil padam untuk yang dekat.

Keenam, tanamkan pada anak-anak kita bahwa kepedulian pada umat adalah bagian dari iman, sejak dini, dengan bahasa yang menumbuhkan kasih bukan dendam. Generasi yang tumbuh dengan hati yang peduli dan adil adalah investasi terbesar kita untuk masa depan umat ini.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.

Hadirin yang dimuliakan Allah, pada khutbah kedua ini izinkan saya memperdalam satu sisi dari apa yang telah kita bicarakan. Kita telah sepakat bahwa solidaritas itu wajib. Tetapi ada satu godaan halus yang sering luput: menjadikan solidaritas sebagai konsumsi emosi belaka. Kita membaca berita Gaza sambil menangis, membagikannya dengan penuh amarah, lalu sepuluh menit kemudian kita lupa dan kembali sibuk dengan urusan kita. Solidaritas yang seperti ini, saudaraku, lebih menenangkan diri kita sendiri daripada menolong saudara kita. Rasulullah ﷺ mengajarkan solidaritas yang menghasilkan tindakan: memenuhi kebutuhan saudara. Maka ukurlah solidaritas kita bukan dari banyaknya air mata, melainkan dari nyatanya bantuan yang sampai.

Sisi kedua yang perlu kita gali adalah bahaya menjadikan konflik jauh sebagai alasan untuk melalaikan amanah dekat. Ada orang yang begitu sibuk berdebat tentang geopolitik dunia sampai lupa menunaikan hak tetangganya, hak istrinya, hak anaknya. Padahal Islam mengajarkan bahwa kepedulian dimulai dari lingkaran terdekat lalu meluas. Membela Palestina di media sosial sambil menelantarkan keluarga di rumah adalah timbangan yang pincang. Keduanya adalah amanah; keduanya harus ditegakkan.

Sisi ketiga, dan ini yang paling menenangkan: kita harus yakin bahwa urusan dunia ada di tangan Allah, bukan di tangan para penguasa yang saling menyerang. Peta kekuatan dunia berubah cepat — hari ini satu pihak kuat, besok ia jatuh; hari ini sekutu, besok bermusuhan. Namun janji Allah tidak pernah berubah. Sebagaimana Dia mencukupkan kaum mukminin dari peperangan Ahzab dengan angin yang tak terlihat, Dia pula yang mengatur akhir dari setiap konflik hari ini. Tugas kita bukan memikul beban seluruh dunia di pundak sendiri hingga stres dan putus asa, melainkan menunaikan bagian kita — doa, bantuan, sikap adil — lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Sisi keempat, marilah kita jadikan setiap ujian ini sebagai cermin muhasabah. Ketika kita melihat saudara kehilangan segalanya, kita diingatkan betapa banyak nikmat yang kita lupa syukuri: keamanan, azan yang bebas, anak-anak yang tidur nyenyak. Rasa syukur ini seharusnya melahirkan kedermawanan, bukan kesombongan. Orang yang benar-benar bersyukur atas keamanannya akan tergerak membagi keamanan dan rezekinya kepada yang tidak memilikinya.

Maka marilah kita akhiri dengan menundukkan hati, mengangkat tangan, memohon kepada Allah Yang Maha Mendengar.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَاحْقِنْ دِمَاءَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَاكْفِنَا شَرَّ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِينَ الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوصًا إِخْوَانَنَا فِي أَرْضِ فِلَسْطِينَ وَفِي لُبْنَانَ، اَللَّهُمَّ فُكَّ حِصَارَهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَاحْفَظْ أَطْفَالَهُمْ، وَرُدَّ الْأَذَانَ إِلَى مَسَاجِدِهِمْ عَزِيزًا مَسْمُوعًا.

اَللَّهُمَّ احْفَظْ دِمَاءَ الْأَبْرِيَاءِ فِي بِلَادِنَا، وَاحْقِنْ دِمَاءَ الْمَدَنِيِّينَ فِي كُلِّ إِقْلِيمٍ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِ أَهْلِ هَذَا الْوَطَنِ عَلَى الْخَيْرِ وَالْعَدْلِ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيهِ خَيْرُ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ حُرَّاسًا لِلْعَدْلِ وَحُمَاةً لِلْمَظْلُومِينَ.

اَللَّهُمَّ اجْمَعْ كَلِمَةَ الْمُسْلِمِينَ عَلَى الْحَقِّ، وَوَحِّدْ صُفُوفَهُمْ، وَلَا تَجْعَلْ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ، وَاصْرِفْ عَنَّا الْأَحْزَابَ كَمَا صَرَفْتَهَا عَنْ نَبِيِّكَ يَوْمَ الْخَنْدَقِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan