Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsKonflik & GeopolitikJumat, 3 Juli 2026

Kisah Pendek — "Shalat yang Tak Ditunda oleh Bahaya"

Di tengah pekan yang dipenuhi kabar perang dan warga sipil yang jatuh, ada satu pertanyaan tua yang kembali: seberapa kokoh iman kita ketika nyawa jadi taruhan? Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wan-Nihayah — مقتل خالد بن سفيان ابن نبيح الهذلي merekam satu kisah kecil yang jarang diceritakan, tentang seorang sahabat bernama Abdullah bin Unais dan sebuah tugas yang mustahil.

Waktu itu urusan Khandaq dan Bani Quraizhah baru saja usai. Madinah belum benar-benar bernapas lega. Kabar buruk kembali datang.

Seorang lelaki bernama Khalid bin Sufyan bin Nubaih al-Hudzali sedang mengumpulkan orang. Dia menghimpun massa untuk menyerang Rasulullah ﷺ. Ancaman itu nyata.

Rasulullah ﷺ memanggil Abdullah bin Unais. Perintahnya singkat dan berat.

إِنَّهُ قَدْ بَلَغَنِي أَنَّ خَالِدَ بْنَ سُفْيَانَ بْنِ نُبَيْحٍ الْهُذَلِيَّ يَجْمَعُ لِيَ النَّاسَ لِيَغْزُوَنِي وَهُوَ بِعُرَنَةَ، فَأْتِهِ فَاقْتُلْهُ

"Telah sampai kepadaku bahwa Khalid bin Sufyan bin Nubaih al-Hudzali sedang mengumpulkan orang untuk menyerangku, dan ia berada di 'Uranah. Datangilah ia, dan bunuhlah."

Abdullah bingung. Ia bahkan belum pernah melihat wajah orang itu. "Wahai Rasulullah," katanya, "gambarkan ciri-cirinya kepadaku supaya aku mengenalinya."

Jawaban Nabi ﷺ aneh sekaligus menenangkan.

إِذَا رَأَيْتَهُ وَجَدْتَ لَهُ قُشَعْرِيرَةً

"Bila engkau melihatnya, engkau akan merasakan bulu kudukmu meremang."

Maka berangkatlah Abdullah. Pedangnya terselip di balik jubah. Ia menyusuri jalan menuju 'Uranah, seorang diri, menuju musuh yang tak dikenal. Jalan itu panjang dan sepi, berdebu, membelah bukit-bukit gersang di luar Madinah. Sepanjang langkah, hanya satu ciri yang ia pegang: bulu kuduk yang akan meremang. Bukan nama, bukan wajah, bukan tinggi badan — hanya sebuah getaran di tubuhnya sendiri yang kelak akan menjadi penunjuk. Ia berjalan dengan bekal itu saja, dan dengan keyakinan bahwa yang mengutusnya tidak pernah salah.

Sore itu, ketika matahari mulai condong dan bayang-bayang memanjang menandai masuknya waktu Ashar, ia menemukannya. Seorang lelaki bersama rombongan kecil, sedang mencari tempat singgah untuk bermalam. Begitu pandangan Abdullah jatuh pada lelaki itu, tubuhnya bereaksi. Bulu kuduknya meremang, persis seperti yang dikatakan Rasulullah ﷺ. Itu dia. Tidak salah lagi.

Abdullah melangkah mendekat, perlahan, menahan napas. Tetapi ada satu ganjalan di hatinya. Waktu Ashar sudah masuk, dan matahari terus turun. Kalau ia berhenti untuk shalat sekarang, dengan berdiri dan rukuk seperti biasa, ia bisa terlihat dan kesempatan itu lenyap. Kalau ia menunda shalat sampai urusan selesai, ia takut ada pertarungan yang akan menyita waktu hingga waktu Ashar habis dan shalatnya terlewat. Dua-duanya berat. Di titik itu, banyak orang mungkin akan berkata pada dirinya sendiri, "Ini darurat, shalat bisa nanti."

Ia memilih jalan yang tak terpikir banyak orang. Ia shalat sambil berjalan.

فَصَلَّيْتُ وَأَنَا أَمْشِي نَحْوَهُ أُومِئُ بِرَأْسِي لِلرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ

"Maka aku shalat sambil berjalan ke arahnya, memberi isyarat dengan kepalaku untuk rukuk dan sujud."

Langkah demi langkah menuju bahaya, ia tetap menunaikan haknya kepada Allah. Rukuk ia ganti dengan anggukan kepala, sujud ia ganti dengan tunduk yang lebih dalam, matanya tak lepas dari sasaran, tetapi hatinya tak lepas dari shalat.

Ketika ia sampai, lelaki itu menoleh. "Siapa engkau?" tanyanya.

Abdullah menjawab dengan tenang, "Seorang lelaki dari bangsa Arab, yang mendengar..."

Pelajaran

Yang menahan langkah kita di kisah ini bukan darah yang tertumpah, melainkan satu keputusan kecil Abdullah bin Unais: ia tidak menunda shalat, bahkan ketika sedang menuju bahaya yang paling menegangkan. Ia bisa saja berdalih — "nanti saja, ini kondisi darurat" — dan mungkin banyak dari kita akan memakluminya. Tetapi ia memilih menjaga hubungannya dengan Allah justru di detik ia paling membutuhkan pertolongan-Nya. Ini pelajaran yang mengena untuk kita pekan ini: di tengah kabar dunia yang menegangkan dan hati yang gelisah, hal pertama yang sering kita korbankan adalah ibadah kita sendiri — shalat jadi cepat-cepat, doa jadi terlupa, hati sibuk pada layar. Padahal justru di saat genting itulah kedekatan dengan Allah paling dibutuhkan. Abdullah shalat sambil melangkah; kita, minimal, jangan sampai berhenti shalat karena sibuk mencemaskan perang yang tak bisa kita kendalikan.

Sumber Asli

Al-Bidayah wan-Nihayah — مقتل خالد بن سفيان ابن نبيح الهذلي

[مَقْتَلُ خَالِدِ بْنِ سُفْيَانَ ابْنِ نُبَيْحٍ الْهُذَلِيِّ] ذَكَرَهُ الْحَافِظُ الْبَيْهَقِيُّ فِي " الدَّلَائِلِ " تِلْوَ مَقْتَلِ أَبِي رَافِعٍ. قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ، حَدَّثَنَا أَبِي، عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ، حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرِ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنِ ابْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُنَيْسٍ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: «دَعَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: " إِنَّهُ قَدْ بَلَغَنِي أَنَّ خَالِدَ بْنَ سُفْيَانَ بْنِ نُبَيْحٍ الْهُذَلِيَّ يَجْمَعُ لِيَ النَّاسَ لِيَغْزُوَنِي وَهُوَ بِعُرَنَةَ، فَأْتِهِ فَاقْتُلْهُ " قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، انْعَتْهُ لِي حَتَّى أَعْرِفَهُ. قَالَ: " إِذَا رَأَيْتَهُ وَجَدْتَ لَهُ قُشَعْرِيرَةً ". قَالَ: فَخَرَجْتُ مُتَوَشِّحًا سَيْفِي حَتَّى وَقَعْتُ عَلَيْهِ، وَهُوَ بِعُرَنَةَ مَعَ ظُعُنٍ يَرْتَادُ لَهُنَّ مَنْزِلًا، وَحِينَ كَانَ وَقْتُ الْعَصْرِ، فَلَمَّا رَأَيْتُهُ وَجَدْتُ مَا وَصَفَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْقُشَعْرِيرَةِ، فَأَقْبَلْتُ نَحْوَهُ، وَخَشِيتُ أَنْ يَكُونَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ مُجَاوَلَةٌ تَشْغَلُنِي عَنِ الصَّلَاةِ، فَصَلَّيْتُ وَأَنَا أَمْشِي نَحْوَهُ أُومِئُ بِرَأْسِي لِلرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ فَلَمَّا انْتَهَيْتُ إِلَيْهِ قَالَ: مَنِ الرَّجُلُ؟ قُلْتُ: رَجُلٌ مِنَ الْعَرَبِ سَمِعَ

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan