Ketika layar kita pekan ini dipenuhi kobaran api dari tempat pembuangan sampah dan gambar bumi yang berguncang di negeri jauh, ingatan orang beriman kembali ke satu peristiwa besar yang dicatat rapi oleh para sejarawan Muslim. Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wan-Nihayah — ذكر الخبر الوارد في ظهور نار من أرض الحجاز menghimpun kisah munculnya api dahsyat dari tanah Hijaz, sebuah kejadian nyata yang telah dikabarkan Nabi ﷺ jauh sebelumnya.
Tahun itu 654 Hijriah. Hari Jumat, tanggal lima Jumadal Akhirah. Langit di atas Madinah tiba-tiba merah.
Warga keluar dari rumah. Mereka menatap ke arah timur kota. Dari salah satu lembah, tanah merekah. Api keluar.
Bukan api biasa. Panjangnya membentang sejauh empat farsakh, lebarnya empat mil. Ia mengalir seperti sungai yang hidup.
Batu-batu besar yang dilaluinya meleleh. Cair. Warnanya berubah menjadi seperti timah panas yang mengilat.
Lalu, saat api itu berlalu, batu yang tadi meleleh mengeras kembali. Menghitam. Menjadi seperti arang.
Orang-orang tak berani mendekat. Tapi cahayanya begitu terang. Pada malam hari, penduduk bisa berjalan menuju Tayma dengan hanya mengandalkan sinar api itu dari kejauhan.
Api itu tidak padam dalam semalam. Ia menyala sebulan penuh. Penduduk Madinah mencatat setiap detailnya. Para penyair menuliskannya dalam syair-syair yang lama dikenang.
Yang paling menakjubkan bukan hanya apinya. Tapi bahwa kejadian ini sudah disebutkan oleh Rasulullah ﷺ berabad-abad sebelumnya. Ibn Katsir membawakan riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَخْرُجَ نَارٌ مِنْ أَرْضِ الْحِجَازِ تُضِيءُ أَعْنَاقَ الْإِبِلِ بِبُصْرَى
"Tidak akan terjadi kiamat sampai keluar api dari tanah Hijaz yang menerangi leher-leher unta di Bushra." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Bushra adalah negeri di tanah Syam, jaraknya berhari-hari perjalanan dari Madinah. Namun cahaya api itu, menurut kesaksian yang dihimpun Ibn Katsir, benar-benar sampai ke sana. Beliau menuliskan bahwa seorang qadhi terkemuka di Damaskus mengabarkan kepadanya, dari ayahnya, dari beberapa orang Arab badui yang berada di sekitar kota Bushra pada pagi setelah malam itu. Mereka bersaksi dengan mata kepala sendiri: mereka melihat leher-leher unta mereka tersinari cahaya api yang muncul dari arah tanah Hijaz.
Sebuah nubuwat yang diucapkan di sebuah kota kecil di gurun, empat abad kemudian terjadi persis seperti kata-katanya. Api dari Hijaz. Cahaya sampai ke Bushra. Leher unta yang benderang.
Pelajaran
Peristiwa besar di alam ini bukan sekadar guncangan tanah dan letupan panas yang lewat begitu saja; ia adalah tanda yang berbicara. Api Hijaz mengingatkan bahwa bumi yang kita pijak ini bergerak dalam genggaman Allah, dan bahwa apa yang tampak mustahil bisa terjadi persis seperti yang Dia kabarkan lewat lisan Nabi-Nya. Yang paling menggetarkan dari kisah ini bukanlah kedahsyatan apinya, melainkan ketepatan janjinya: sebuah kalimat yang diucapkan di padang tandus, ratusan tahun kemudian menyala nyata hingga menerangi leher unta di negeri seberang. Ketika kita hari ini menyaksikan gempa yang meratakan gedung dan api yang membakar udara, kisah ini menuntun hati kita bukan kepada rasa takut yang lumpuh, melainkan kepada keyakinan bahwa di balik setiap guncangan ada Tuhan yang menepati kata-kata-Nya — dan kepada-Nyalah semua akan kembali.
Sumber Asli
Al-Bidayah wan-Nihayah — ذكر الخبر الوارد في ظهور نار من أرض الحجاز أضاءت لها أعناق الإبل ببصرى
[ذِكْرُ الْخَبَرِ الْوَارِدِ فِي ظُهُورِ نَارٍ مِنْ أَرْضِ الْحِجَازِ أَضَاءَتْ لَهَا أَعْنَاقُ الْإِبِلِ بِبُصْرَى] مِنْ أَرْضِ الشَّامِ، وَذَلِكَ فِي سَنَةِ أَرْبَعٍ وَخَمْسِينَ وَسِتِّمِائَةٍ قَالَ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ، حَدَّثَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ: قَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ، أَخْبَرَنِي أَبُو هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " «لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَخْرُجَ نَارٌ مِنْ أَرْضِ الْحِجَازِ تُضِيءُ أَعْنَاقَ الْإِبِلِ بِبُصْرَى» ". وَرَوَاهُ مُسْلِمٌ مِنْ حَدِيثِ اللَّيْثِ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، بِهِ.
Al-Bidayah wan-Nihayah — ذكر إخباره صلى الله عليه وسلم بالغيوب المستقبلة بعد زماننا هذا
وَأُسْتَاذَ الْمُؤَرِّخِينَ فِي أَوَانِهِ - أَنَّ فِي سَنَةِ أَرْبَعٍ وَخَمْسِينَ وَسِتِّمِائَةٍ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةَ خَامِسِ جُمَادَى الْآخِرَةِ مِنْهَا ظَهَرَتْ نَارٌ بِأَرْضِ الْحِجَازِ فِي أَرْضِ الْمَدِينَةِ النَّبَوِيَّةِ، فِي بَعْضِ تِلْكَ الْأَوْدِيَةِ، طُولَ أَرْبَعَةِ فَرَاسِخَ وَعَرْضَ أَرْبَعَةِ أَمْيَالٍ، تُسِيلُ الصَّخْرَ، حَتَّى يَبْقَى مِثْلَ الْآنُكِ، ثُمَّ يَصِيرُ مِثْلَ الْفَحْمِ الْأَسْوَدِ، وَأَنَّ النَّاسَ كَانُوا يَسِيرُونَ عَلَى ضَوْئِهَا بِاللَّيْلِ إِلَى تَيْمَاءَ، وَأَنَّهَا اسْتَمَرَّتْ شَهْرًا، وَقَدْ ضَبَطَ ذَلِكَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ، وَعَمِلُوا فِيهَا أَشْعَارًا. وَأَخْبَرَنِي قَاضِي الْقُضَاةِ صَدَرُ الدِّينِ عَلِيُّ بْنُ أَبِي الْقَاسِمِ الْحَنَفِيُّ، قَاضِيهِمْ بِدِمَشْقَ، عَنْ وَالِدِهِ، أَنَّهُ أَخْبَرَهُ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ الْأَعْرَابِ صَبِيحَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةِ، مِمَّنْ كَانَ بِحَاضِرَةِ بَلَدِ بُصْرَى، أَنَّهُمْ شَاهَدُوا أَعْنَاقَ الْإِبِلِ فِي ضَوْءِ هَذِهِ النَّارِ الَّتِي ظَهَرَتْ مِنْ أَرْضِ الْحِجَازِ.
