أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَجَعَلَ الْأَرْضَ مُسَخَّرَةً لَنَا أَمَانَةً، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati ini, kabar musibah datang bertubi-tubi ke layar kita — dari asap kebakaran tempat sampah yang menyesakkan warga di kawasan Tangerang, hingga gempa besar di negeri yang jauh yang menelan ribuan nyawa. Malam ini saya ingin membagikan satu pesan yang tidak panjang, tapi mudah-mudahan menempel: bagaimana seharusnya iman kita bersikap saat angin musibah datang menerpa.
Coba kita jujur pada diri sendiri. Siapa di antara kita yang pekan ini pernah merasa, saat melihat berita bencana, hati ini campur aduk — antara ngeri, sedih, dan diam-diam bertanya "kenapa harus mereka?" Perasaan itu manusiawi. Dan justru untuk hati yang seperti itulah Rasulullah ﷺ memberi kita sebuah perumpamaan yang indah. Beliau bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَالْخَامَةِ مِنَ الزَّرْعِ، تُفَيِّئُهَا الرِّيَاحُ، تُصْرَعُ مَرَّةً وَتَعْدِلُ أُخْرَى
"Perumpamaan seorang mukmin adalah seperti tanaman muda yang segar; angin membolak-balikkannya, sekali ia rebah dan sekali ia tegak kembali." (Sahih al-Bukhari 5644)
Perhatikan, saudara-saudara: tanaman muda itu tidak dijanjikan bebas dari angin. Ia justru dibengkokkan berkali-kali. Tapi ia lentur, dan setelah angin lewat, ia tegak lagi. Inilah gambaran iman kita. Kita tidak dijanjikan hidup tanpa musibah; kita dijanjikan kekuatan untuk bangkit setelah musibah. Nabi ﷺ tidak menggambarkan mukmin seperti tembok yang kaku, melainkan seperti tanaman hidup yang tunduk pada angin lalu berdiri lagi ke arah matahari.
Ada satu hal yang penting kita camkan dari perumpamaan ini. Angin yang membengkokkan tanaman muda itu bukan tanda bahwa Allah membenci tanaman itu; justru tanaman yang paling hidup adalah yang paling lentur. Sebaliknya, pohon besar yang keras dan kaku — dalam gambaran Nabi ﷺ ia diserupakan dengan pohon pinus — memang terlihat gagah dan tak tergoyahkan, tapi ketika ia tumbang, ia tumbang sekaligus, tercabut sampai ke akarnya. Maka jangan pernah kita mengira bahwa hidup yang tidak pernah diterpa ujian adalah tanda kemuliaan. Kadang justru sebaliknya: orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling sering dibengkokkan angin, karena setiap kali ia membengkuk lalu tegak, imannya bertambah kuat dan dosanya berguguran.
Dan inilah yang Al-Qur'an sampaikan sejak awal. Allah tidak menyembunyikan bahwa hidup ini akan dipenuhi cobaan; Dia justru mengumumkannya di depan supaya kita tidak kaget. Allah berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍۢ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqara: 155)
Renungkan, saudara-saudara, betapa lembut susunan ayat ini. Allah menyebut daftar musibah — ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan — lalu ujungnya bukan ancaman, melainkan kabar gembira: wa basysyiris-shābirīn, berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Musibah dan kabar gembira ternyata bisa berada dalam satu tarikan napas, asalkan ada sabar di antara keduanya. Dan sabar yang dimaksud bukan diam pasrah tanpa rasa; sabar adalah menahan hati agar tidak runtuh, menahan lidah agar tidak mengumpat takdir, dan menahan anggota badan agar tidak berbuat sia-sia — sambil tangan tetap bergerak memperbaiki. Lalu Allah melanjutkan siapa gerangan orang-orang yang sabar itu:
ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌۭ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ
"(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: 'Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn.'" (QS. Al-Baqara: 156)
Kalimat istirja' inilah, saudara-saudara, senjata pertama seorang mukmin ketika kabar duka datang. Ia bukan sekadar ucapan di lidah; ia adalah pengakuan yang menata ulang seluruh cara pandang kita. "Sesungguhnya kami milik Allah" — maka apa yang diambil dari kita sebenarnya bukan milik kita; ia titipan yang dikembalikan kepada Pemiliknya. "Dan hanya kepada-Nya kami kembali" — maka tidak ada kehilangan yang sia-sia, sebab semua bermuara pada perjumpaan dengan Allah. Ketika seorang ibu di negeri yang jauh menemukan bayinya masih hidup di bawah reruntuhan setelah berhari-hari, dan ketika di tempat lain ada keluarga yang harus merelakan buah hatinya, kalimat yang sama sanggup menopang keduanya: yang selamat maupun yang kehilangan sama-sama kembali kepada Allah.
Sekarang mari kita bawa ini ke berita pekan ini. Kabar yang sampai ke kita tentang kebakaran tempat pembuangan sampah di sebuah kawasan — asapnya membuat lebih dari seratus warga terkena gangguan pernapasan, termasuk balita dan ibu hamil. Kita juga mendengar kabar pilu seorang balita di Jakarta yang terperosok ke lubang galian proyek yang dibiarkan menganga, dan setelah tim menggali berjam-jam untuk menyelamatkannya, anak itu akhirnya berpulang dalam perjalanan ke rumah sakit. Dua kabar ini punya satu benang yang sama: keduanya sebenarnya bisa dicegah. Sampah yang dikelola tidak akan membakar udara. Lubang yang diamankan tidak akan menelan anak.
Tetapi pekan ini kita juga mendengar musibah dari jenis yang lain — musibah yang benar-benar di luar jangkauan tangan manusia. Dari sebuah negeri yang jauh datang kabar gempa dahsyat yang meruntuhkan gedung-gedung dan menelan ribuan nyawa, sementara puluhan ribu orang masih dinyatakan hilang di bawah reruntuhan. Dari benua yang lain kita mendengar gelombang panas ekstrem yang diperkirakan merenggut ribuan jiwa, sebagian besar menimpa orang-orang lanjut usia yang tubuhnya tak lagi kuat menahan terik. Dan di dekat kita sendiri, di beberapa daerah, kemarau membuat sumur-sumur mengering hingga ada warga yang bertahan hidup dari air satu masjid. Di hadapan dua jenis musibah ini — yang bisa dicegah dan yang tak terkendali — sikap iman kita tidak boleh sama persis, tetapi keduanya bermuara pada satu titik: kesadaran bahwa kita hanyalah hamba yang menumpang di bumi titipan.
Maka penting kita luruskan sejak awal: tidak setiap musibah adalah hukuman. Gempa yang meratakan negeri jauh itu, gelombang panas yang membunuh para lansia itu — kita tidak berhak menvonisnya sebagai azab atas dosa penduduknya. Nabi ﷺ tidak pernah mengajari kita menghitung dosa orang yang tertimpa musibah; beliau mengajari kita mengulurkan tangan. Menjadikan bencana sebagai alat menghakimi korban adalah kekeliruan yang justru menambah luka di atas luka. Tugas kita di hadapan yang tertimpa bukan berkhotbah tentang sebab musibahnya, melainkan meringankan bebannya.
Di sinilah letak pesan malam ini. Sikap mukmin terhadap musibah bukan cuma "sabar dan pasrah". Sabar itu tugas ke dalam. Tapi ada tugas ke luar: memperbaiki, menutup, membersihkan, mencegah. Rasulullah ﷺ juga bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِيْ كُلٍّ خَيْرٌ
"Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan." (Bulugh al-Maram 1724)
Beliau melanjutkan: "Bersemangatlah pada apa yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan berputus asa." Lihat, saudara-saudara — Nabi ﷺ menggabungkan dua hal yang sering kita pisahkan: ikhtiar yang bersungguh-sungguh dan tawakal yang penuh. Mukmin yang kuat itu bukan yang otot lengannya besar, melainkan yang tidak menyerah pada keadaan, yang terus mencari yang bermanfaat, sambil menyandarkan hasilnya kepada Allah. Betapa sering kita salah paham tentang tawakal: kita kira tawakal itu berhenti berusaha dan menyerahkan segalanya. Padahal Nabi ﷺ meletakkan "bersemangatlah pada apa yang bermanfaat" sebelum "mintalah pertolongan kepada Allah". Ikhtiar dulu, baru tawakal — bukan tawakal sebagai alasan untuk malas.
Dan agar hati kita semakin tenang, ada satu penghiburan besar yang Nabi ﷺ ajarkan tentang hakikat musibah. Ketika sebagian sahabat resah membayangkan beratnya hisab, beliau menenangkan mereka dengan sabda:
سَدِّدُوا وَقَارِبُوا، فَإِنَّهُ لَا يُصِيبُ أَحَدًا مُصِيبَةٌ إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا عَنْهُ، حَتّٰى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا
"Berbuatlah yang lurus dan teguhlah; sesungguhnya tidaklah seorang Muslim ditimpa musibah kecuali Allah menghapus dosanya dengannya, bahkan hingga duri yang menusuknya." (Sahih Muslim 2574)
Perhatikan, saudara-saudara, betapa luasnya rahmat dalam sabda ini. Sekecil apa pun musibah yang menimpa seorang mukmin — bahkan hanya duri yang tak sengaja menusuk telapak kaki — Allah jadikan ia sebagai penghapus dosa, asalkan disikapi dengan sabar. Bayangkan kalau duri sekecil itu saja berharga di sisi Allah, betapa besar timbangan pahala bagi mereka yang kehilangan rumah, harta, bahkan orang yang dicintai, lalu tetap bersandar kepada-Nya. Inilah yang mengubah cara kita memandang musibah: ia bukan tanda bahwa Allah membenci kita, melainkan pintu yang Allah bukakan agar kita pulang kepada-Nya dalam keadaan lebih bersih. Maka ketika kabar duka pekan ini terasa menghimpit dada, ingatlah — bagi hati yang sabar, tidak ada satu pun tetes air mata yang terbuang percuma di sisi Allah.
Maka kalau kita renungkan lebih dalam, musibah pekan ini sebetulnya bertanya kepada kita: sudah sejauh mana kita menjadi "tanaman yang lentur" sekaligus "mukmin yang kuat"? Apakah saat melihat sampah menumpuk di lingkungan kita, kita ikut bergerak, atau hanya mengeluh di grup? Apakah saat melihat bahaya di jalan atau di rumah tetangga — lubang yang menganga, kabel yang menjuntai, gang yang gelap — kita menutupnya, atau kita berkata "bukan urusan saya"? Iman yang hidup selalu bertanya: apa yang bisa aku perbaiki dari posisiku sekarang? Dan iman yang mati selalu menemukan alasan: "nanti sajalah", "toh yang lain juga tidak peduli", "itu tugas pemerintah". Padahal seorang balita yang terperosok ke lubang yang tak diamankan tidak menunggu siapa yang seharusnya bertanggung jawab; ia hanya butuh satu orang yang mau menutup lubang itu sebelum terlambat.
Di sinilah kita perlu jujur pada diri sendiri. Kesalahan terbesar kita sering bukan ketidakmampuan, melainkan sikap "karena aku tidak bisa mengubah semuanya, maka aku tidak akan mengubah apa pun". Kita melihat gunungan sampah dan berkata, "apalah artinya satu bungkus plastikku". Kita melihat kerusakan besar dan merasa gerakan kecil kita tidak ada gunanya. Padahal dalam timbangan Allah, yang dihitung bukan besarnya hasil, melainkan kesungguhan usaha. Satu lubang yang kita tutup, satu pohon yang kita tanam, satu genangan yang kita keringkan, satu tetangga yang kita ingatkan — semuanya tercatat. Mukmin yang kuat tidak menunggu panggung besar untuk berbuat baik; ia memungut kesempatan sekecil apa pun yang ada di depan matanya.
Dan pertanyaan yang lebih halus: sudahkah kita bersyukur atas nikmat yang belum dicabut? Udara yang masih bisa kita hirup, air yang masih mengalir dari keran, tanah yang tidak berguncang di bawah kaki kita — semua itu karunia yang di tempat lain, pekan ini, sedang direnggut dari saudara-saudara kita. Ada warga yang harus mengantre air dari satu sumber di tengah kemarau; ada orang tua di negeri jauh yang tak sanggup bertahan menghadapi panas ekstrem. Kita sering baru menghargai nikmat setelah ia hilang. Musibah orang lain seharusnya menjadi tarbiyah bagi kita: jangan menunggu air kita kering baru kita berhemat, jangan menunggu udara kita beracun baru kita peduli. Syukur yang benar bukan hanya diucapkan di lidah, tetapi dibuktikan dengan menjaga: menjaga tubuh yang sehat, menjaga air yang mengalir, menjaga udara yang bersih, menjaga bumi yang dititipkan.
Karena itu, saudara-saudara, sebelum kita pulang malam ini, mari kita ambil beberapa langkah kecil yang nyata. Pertama, malam ini juga, ucapkan istirja' — innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn — untuk setiap korban musibah pekan ini, dari yang di dekat kita hingga yang di negeri seberang, dan doakan mereka dengan hati yang hadir, bukan sekadar meneruskan pesan di grup. Kedua, besok pagi, mulailah dari yang paling dekat dan paling mungkin: pisahkan sampah di rumah, dan jangan buang minyak jelantah ke saluran air yang bisa menyumbat dan mencemari. Ketiga, luangkan waktu memeriksa satu titik bahaya di sekitar rumah — lubang, kabel, atau lampu gang yang mati — lalu amankan sendiri atau laporkan ke pengurus lingkungan; menutup satu bahaya bagi anak-anak tetangga adalah sedekah yang harganya tak ternilai. Keempat, hematlah air seakan-akan kita sedang berbagi dengan saudara kita yang kekeringan, sebab pada hakikatnya memang begitu. Kelima, sisihkan sedikit rezeki untuk korban bencana — sekecil apa pun, itu bukti bahwa iman kita bergerak, bukan hanya bicara.
Marilah kita jadikan diri kita tanaman muda yang lentur namun kuat: dibengkokkan angin musibah, tapi selalu tegak kembali menghadap Allah, sambil tangan kita terus memperbaiki bumi yang dititipkan kepada kita.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الصَّابِرِيْنَ الشَّاكِرِيْنَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ الْأَقْوِيَاءِ الْعَامِلِيْنَ، اَللّٰهُمَّ ارْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ، وَاحْفَظْ أَرْضَنَا وَمَاءَنَا وَهَوَاءَنَا، وَارْحَمْ إِخْوَانَنَا الْمُصَابِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
