أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ رَزَقَ عِبَادَهُ مِنَ الطَّيِّبَاتِ، وَأَوْجَبَ الْعَدْلَ فِيْ كُلِّ مُعَامَلَةٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, peringatan tentang pelajar dan orang muda yang rawan terjerat pinjaman daring kembali sampai ke telinga kita. Malam ini saya ingin mengajak kita semua merenungkan satu hal sederhana yang sering luput: betapa mudahnya sekarang kita jatuh, dan betapa jauhnya perjalanan untuk bangkit kembali.
Coba kita bayangkan sejenak. Dulu, kalau seseorang mau berjudi, ia harus keluar rumah, mencari tempatnya, bertaruh dengan uang tunai di depan mata orang lain. Ada rasa malu, ada jeda, ada kesempatan untuk berpikir ulang. Sekarang? Cukup satu klik di kamar sendiri, tengah malam, tanpa ada yang tahu. Kalau seseorang mau berutang, dulu ia harus datang ke rentenir, menunduk, merasakan beratnya. Sekarang cukup mengetik nominal, dan uang cair dalam hitungan menit. Kemudahan ini terdengar seperti kemajuan, padahal ia adalah jebakan. Sebab yang dihilangkan bukan hanya kesulitan — yang dihilangkan adalah jeda untuk sadar.
Allah Ta'ala melukiskan nasib pemakan riba dengan gambaran yang tidak akan pernah usang. Allah berfirman:
ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ ٱلرِّبَوٰا۟ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِى يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيْطَٰنُ مِنَ ٱلْمَسِّ
"Orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran tekanan penyakit gila." (QS. Al-Baqara: 275)
Perhatikan kata "terhuyung", "sempoyongan", tidak bisa berdiri tegak. Bukankah itu persis kondisi orang yang terjebak lingkaran utang berbunga? Ia meminjam dari aplikasi kedua untuk membayar yang pertama, dari yang ketiga untuk menutup yang kedua, sampai ia sendiri tidak tahu lagi di mana ia berpijak. Ayat ini turun berabad-abad lalu, tapi ia sedang menggambarkan seseorang yang mungkin ada di sekitar kita malam ini. Para ulama menjelaskan bahwa gambaran "terhuyung seperti kerasukan" ini bukan sekadar kiasan tentang siksa di akhirat, melainkan juga cermin dari keadaan batin pemakan riba di dunia — hatinya tidak pernah tenang, pikirannya kalut oleh tagihan yang terus mengejar, hidupnya kehilangan keseimbangan. Betapa akuratnya Al-Qur'an melukiskan jiwa manusia; ia tahu bahwa harta yang haram tidak pernah membawa ketenangan, sebanyak apa pun jumlahnya.
Saudara-saudara sekalian, mari kita jujur pada diri sendiri. Berapa banyak dari kita yang pernah, walau hanya sekejap, tergoda melihat iklan "pinjaman tanpa jaminan, cair lima menit" saat sedang kepepet? Berapa banyak dari kita yang pernah ragu sesaat saat melihat tautan yang menjanjikan "menang besar dari modal kecil"? Godaan itu nyata, dan ia tidak memilih-milih orang. Ia datang justru saat kita sedang lemah — saat tanggal tua, saat ada kebutuhan mendesak, saat kita lelah dan ingin jalan pintas.
Pekan ini pula kita dengar kabar tentang penggerebekan sebuah pusat judi daring yang begitu besar, mengelola ratusan situs dan memutar uang hingga belasan triliun. Angka itu terdengar seperti dunia lain, jauh dari kita. Tapi mari kita renungkan: uang belasan triliun itu tidak datang dari langit. Ia dikumpulkan sedikit demi sedikit dari jutaan orang biasa — mungkin dari uang jajan seorang pelajar, mungkin dari gaji seorang buruh, mungkin dari tabungan seorang ibu yang berharap "sekali ini saja menang lalu berhenti". Setiap rupiah dalam angka raksasa itu adalah kisah kecil tentang seseorang yang terhuyung, persis seperti yang digambarkan ayat tadi.
Dan bukan hanya soal uang, saudara-saudara. Pekan ini kita juga mendengar kabar tentang barang perusak akal jenis baru — cairan yang diisap lewat perangkat elektronik, dikemas begitu rupa agar tampak seperti barang gaya hidup, bukan racun. Perhatikanlah polanya: sama seperti judi dan pinjol, ia menjual kesenangan yang datang lebih dulu dan menyembunyikan kehancuran yang datang belakangan. Isapan pertama terasa menenangkan, lalu perlahan menjadi rantai yang tidak bisa dilepas. Ketiga penyakit ini — judi, riba, dan racun akal — sebenarnya adalah tiga wajah dari satu godaan yang sama: godaan untuk mendapatkan kenikmatan tanpa menempuh jalan yang benar. Dan ketiganya sekarang tinggal satu klik, satu isap, satu transfer.
Mengapa Allah begitu keras terhadap tiga hal ini? Karena ketiganya menyerang inti dari apa yang membuat kita menjadi manusia yang mulia. Riba merampas harta yang seharusnya menjadi berkah. Judi merusak jiwa dengan candu untung-untungan. Dan zat perusak menghancurkan akal, anugerah yang membedakan kita dari makhluk lain. Ketika seseorang kehilangan ketiganya, ia tidak hanya rugi di dunia — ia kehilangan kemampuan untuk beribadah dengan tenang, untuk berpikir jernih, untuk menjadi tulang punggung keluarga yang bisa diandalkan. Inilah mengapa menjauhi ketiganya bukan sekadar menghindari dosa, melainkan menjaga martabat diri sebagai hamba Allah.
Ada satu hadits yang perlu kita renungkan bersama malam ini. Rasulullah ﷺ tidak hanya melaknat orang yang memakan riba, tetapi juga orang yang membantu prosesnya. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa beliau melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, pencatatnya, dan dua saksinya, seraya berkata: "Mereka semua sama." (Sahih Muslim 1598). Renungkanlah betapa luasnya lingkaran tanggung jawab ini. Kita mungkin merasa aman karena tidak berjudi dan tidak berutang. Tapi apakah kita pernah meneruskan tautan judi di grup keluarga "sekadar iseng"? Apakah kita pernah merekomendasikan aplikasi pinjol kepada teman yang sedang susah? Hadits ini mengajarkan bahwa dalam urusan harta haram, tidak ada peran yang "hanya membantu". Semua yang menyentuh rantainya ikut menanggung.
Mari kita renungkan satu kata yang tadi saya sebut: jeda. Dalam agama kita, jeda itu punya nama yang indah — ia disebut tafakkur, merenung, berpikir sejenak sebelum bertindak. Justru inilah yang paling ingin dihapus oleh sistem digital yang merusak. Aplikasi taruhan dirancang agar kita terus menekan tanpa berpikir. Aplikasi pinjaman dirancang agar uang cair sebelum kita sempat menimbang. Semuanya berlomba menghilangkan jeda, karena mereka tahu: kalau seseorang diberi waktu sedikit saja untuk berpikir, ia sering akan mundur. Maka salah satu bentuk perlawanan paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah mengembalikan jeda itu ke dalam hidup kita — menunda keputusan finansial semalam, tidak menekan tombol saat emosi, memberi diri kita ruang untuk berkata "sebentar, apakah ini benar?"
Ada satu hal lagi yang perlu kita sadari bersama, saudara-saudara. Kabar pekan ini juga menyebut bahwa iklan-iklan judi kini membanjiri kolom komentar dengan bantuan robot otomatis, dan bahwa para pelajar termasuk yang paling rawan terseret. Artinya, musuh ini tidak menunggu kita datang; ia yang mendatangi kita, bahkan mendatangi anak-anak kita, tanpa diundang, di sela-sela tontonan yang tampak tidak berbahaya. Ini mengubah cara kita harus berpikir. Dulu, menjaga diri cukup dengan tidak pergi ke tempat maksiat. Sekarang, tempat maksiat itu yang datang ke ruang tamu kita, ke kamar tidur anak kita, lewat layar yang menyala dua puluh empat jam. Maka menjaga diri hari ini menuntut kewaspadaan yang jauh lebih aktif daripada sekadar tidak melangkah keluar rumah.
Ada satu pertanyaan yang perlu kita ajukan pada diri sendiri malam ini. Kalau kita tahu semua penyakit ini berbahaya, mengapa begitu banyak orang tetap terjatuh? Jawabannya, saudara-saudara, sering kali bukan karena mereka tidak tahu, melainkan karena mereka merasa kuat. "Saya cuma coba sekali, saya bisa berhenti kapan saja." Kalimat inilah yang paling sering diucapkan sebelum seseorang terjerat dalam-dalam. Kesombongan merasa kebal adalah pintu masuk yang paling sering dilewati setan. Orang yang sadar dirinya lemah justru lebih terjaga; ia menjauh dari tepi jurang. Sementara orang yang merasa kuat berani mendekat, dan sering kali baru sadar ketika sudah terlambat.
Lalu apa yang ayat dan hadits ini ungkapkan tentang diri kita sebagai manusia? Bahwa kita adalah makhluk yang mudah tergoda oleh yang cepat dan menunda yang benar. Kita tahu utang berbunga itu buruk, tapi kita ambil karena butuh sekarang. Kita tahu judi itu haram, tapi kita coba karena ingin cepat kaya. Setan tidak pernah menjual kejahatan sebagai kejahatan; ia selalu membungkusnya sebagai solusi. Maka pertahanan terbaik kita bukanlah kekuatan menahan godaan saat ia datang — karena saat itu kita sudah lemah — melainkan menutup pintunya sejak awal, sebelum godaan itu sempat berbicara. Dan pertahanan kedua adalah kejujuran: berani mengakui pada diri sendiri bahwa kita rapuh, bahwa kita bisa jatuh, sehingga kita tidak sombong merasa kebal lalu mendekati tepi jurang.
Saudara-saudara, sebelum kita pulang malam ini, saya ingin menawarkan tiga hal yang bisa kita lakukan dalam dua puluh empat jam ke depan. Pertama, buka ponsel kita malam ini, dan hapus satu saja aplikasi atau tautan yang membuka pintu ke arah yang haram — entah aplikasi pinjaman yang menganggur, entah bookmark yang mencurigakan. Satu pintu yang ditutup adalah kemenangan nyata. Jangan meremehkan langkah kecil ini; sering kali kejatuhan besar bermula dari satu pintu yang kita biarkan terbuka karena merasa "ah, kan tidak akan kupakai". Kedua, kalau kita mengenal seseorang yang sedang terhuyung karena utang, hubungi dia besok, bukan untuk menghakimi, tapi untuk menemani. Kadang yang menyelamatkan seseorang dari pinjol berikutnya hanyalah satu telepon yang berkata "kamu tidak sendirian". Seorang yang terjerat sering kali paling takut pada penghakiman, bukan pada utangnya; kalau kita datang sebagai sahabat, bukan sebagai hakim, kita membuka jalan pulang baginya. Ketiga, mari kita periksa niat kita sendiri terhadap harta — apakah kita mengejar rezeki dengan cara yang Allah ridhai, atau kita sedang mencari jalan pintas yang membinasakan. Dan bila kita punya anak atau adik, luangkan lima menit malam ini untuk sekadar bertanya kabar mereka; percakapan hangat hari ini adalah benteng bagi mereka esok hari.
Jamaah yang saya hormati, mari kita tutup dengan satu kesadaran. Kemudahan zaman ini adalah ujian, bukan hadiah. Setiap kali layar menawarkan jalan pintas menuju kesenangan, di baliknya ada tebing yang tidak terlihat. Orang yang selamat bukanlah yang paling pintar menghindar di detik terakhir, melainkan yang paling bijak menutup pintu sejak jauh hari. Dan orang yang paling kuat bukanlah yang merasa kebal terhadap godaan, melainkan yang rendah hati mengakui dirinya rapuh lalu menjaga jarak dari sumber bahaya. Mari kita pulang malam ini bukan dengan rasa takut yang melumpuhkan, melainkan dengan tekad yang tenang: satu pintu ditutup, satu saudara ditemani, satu niat diluruskan. Semoga Allah menjaga kaki kita agar tetap tegak, tidak terhuyung karena harta haram, dan menjadikan rumah kita tempat yang aman bagi anak-anak kita dari segala racun yang datang lewat layar.
اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ، وَأَعِنَّا عَلٰى كَسْبِ الْحَلَالِ، وَجَنِّبْنَا وَأَهْلِيْنَا وَأَوْلَادَنَا كُلَّ مَا يُسْكِرُ الْعَقْلَ وَيُهْلِكُ الْمَالَ.
اَللّٰهُمَّ اهْدِ شَبَابَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَرُدَّ مَنْ ضَلَّ مِنْهُمْ إِلَيْكَ رَدًّا جَمِيْلًا، وَاجْعَلْ بُيُوْتَنَا آمِنَةً مِنْ كُلِّ سُوْءٍ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
