Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatPemerintahan & KebijakanJumat, 3 Juli 2026

Khutbah Jumat — "Amanah yang Ditagih di Hari Kiamat"

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَمَانَةَ مِيْزَانَ الْعِبَادِ، وَأَمَرَ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْأَمِيْنُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, marilah kita membuka khutbah pekan ini dengan sebuah ayat yang menjadi pondasi seluruh urusan mengurus orang banyak. Allah berfirman:

۞ إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًۭا

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." — QS. An-Nisaa: 58.

Hadirin yang dimuliakan Allah, ayat ini turun sebagai satu perintah yang tidak bisa dipisah menjadi dua. Menyampaikan amanah kepada yang berhak, dan menetapkan hukum dengan adil, adalah sepasang kaki yang menopang tubuh kepemimpinan. Kalau salah satu pincang, seluruh bangunannya oleng. Para ulama tafsir menyebutkan bahwa meski ayat ini punya sebab turun yang khusus tentang kunci Ka'bah, redaksinya sengaja dibuat umum agar berlaku untuk setiap amanah: dari amanah paling besar mengurus negara sampai amanah paling kecil menjaga titipan tetangga. Amanah, dalam bahasa ayat ini, bukan perasaan mulia di dalam dada. Amanah adalah barang yang harus diserahkan kepada pemiliknya yang sah — dan pemilik dari amanah kekuasaan adalah rakyat yang dilayani.

Perhatikanlah, hadirin, bagaimana Allah menutup ayat ini: "Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." Penutup ini bukan sekadar pelengkap. Ia adalah pengawasan yang tak pernah tidur. Seorang pejabat bisa menutup pintu ruangannya dari rakyat, seorang bendahara bisa menyembunyikan pembukuannya dari auditor, seorang pemegang tugas bisa mengerjakan pekerjaannya asal-asalan ketika tak ada yang melihat. Tetapi di atas semua mata manusia, ada Mata yang menyaksikan setiap keputusan yang diambil di ruang tertutup, dan ada Telinga yang mendengar setiap janji yang diucapkan lalu dilupakan. Kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi inilah — yang para ulama sebut muraqabah — yang menjadi benteng terakhir amanah ketika seluruh pengawasan lahiriah gagal. Sebab hukum bisa dielakkan, aturan bisa diakali, tetapi tidak ada satu makhluk pun yang bisa bersembunyi dari penglihatan Allah.

Kita membawa ayat ini ke tengah pekan yang berat. Dari berita pekan ini kita ketahui, sebuah program pemerintah untuk melatih calon pengelola koperasi desa dijalankan dengan model latihan dasar kemiliteran, dan dari proses itu jatuh korban jiwa — bertambah satu demi satu hingga lima orang muda meninggal dunia. Salah satu dari mereka seorang mahasiswi yang kampusnya berduka. Kabar yang sampai kepada kita menyebutkan bahwa lembaga pengawas hak asasi menilai latihan militer tidak relevan untuk calon manajer koperasi dan meminta dihentikan; wakil rakyat mendesak evaluasi; organisasi masyarakat sipil menuntut tim pencari fakta; dan para ulama pun ikut bersuara agar pelatihan itu disetop sementara. Pemerintah, dari pihaknya, menyatakan akan mengevaluasi, mengubah tata nama pelatihan, dan menggeser fokusnya ke manajemen agar korban tidak terulang.

Dan bukan hanya kabar itu yang sampai kepada kita pekan ini. Ramai pula diperbincangkan tuntutan akan reformasi institusi penegak hukum, dengan sekelompok mahasiswa yang turun membawa simbol duka ke depan markas besar kepolisian, tepat di pekan peringatan hari kepolisian. Di saat yang sama, kita mendengar imbauan dari pucuk pemerintahan agar aparat tidak menyusahkan rakyat, dan agar hukum tidak dijadikan alat balas dendam. Kita juga mendengar kabar dugaan korupsi dana program bergizi untuk anak-anak yang disebut sebagai kejahatan luar biasa, dan dugaan seseorang yang menyerahkan kendaraan mewah demi memperoleh sebuah jabatan di daerah. Semua kabar ini, kalau kita satukan, adalah satu pesan besar yang sedang disampaikan oleh masyarakat kita: rakyat sedang menagih janji amanah dari institusi-institusi yang mereka percayai.

Marilah kita berhati-hati di mimbar ini. Kita tidak sedang menuduh siapa pun bersalah — proses hukum dan investigasi masih berjalan, dan itu ranah pihak berwenang, bukan ranah kita. Yang menjadi urusan kita di mimbar adalah prinsipnya: ketika sebuah desain program merenggut nyawa yang seharusnya dijaganya, di situ amanah tersentuh. Sebab hakikat kekuasaan untuk merancang, memutuskan, dan menjalankan program atas nama rakyat adalah amanah dalam pengertian yang paling dalam. Kita juga tidak boleh terjebak pada satu godaan yang sering menghinggapi hati: menjadikan setiap kabar buruk sebagai bahan bakar kebencian dan cercaan. Islam mengajarkan kita bahwa mengoreksi yang salah adalah kewajiban, tetapi cara mengoreksi itu sendiri adalah ibadah yang dinilai. Nasihat yang tulus lahir dari kecintaan agar yang keliru menjadi benar — bukan dari kepuasan melihat orang lain jatuh. Dan Al-Qur'an memberi kita gambaran betapa beratnya beban amanah itu. Allah berfirman:

إِنَّا عَرَضْنَا ٱلْأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱلْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا ٱلْإِنسَٰنُ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومًۭا جَهُولًۭا

"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh." — QS. Al-Ahzaab: 72.

Renungkanlah, hadirin. Langit yang begitu tinggi, bumi yang begitu luas, gunung-gunung yang begitu kokoh — semuanya gemetar dan menolak memikul amanah. Bukan karena mereka lemah, tetapi karena mereka paham betapa berat konsekuensi mengkhianatinya. Lalu manusia dengan berani memikulnya. Ayat ini menutup dengan penilaian yang menggetarkan: manusia itu amat zalim dan amat bodoh — zalim ketika ia menyalahgunakan amanah, dan bodoh ketika ia meremehkan beratnya. Maka setiap kali seseorang menerima jabatan, menerima anggaran, menerima tanggung jawab atas nyawa dan nasib orang lain, sesungguhnya ia sedang mengangkat beban yang gunung pun enggan menyentuhnya. Kesadaran inilah yang hilang ketika sebuah program dijalankan tanpa cukup memikirkan keselamatan mereka yang dilatih.

Marilah kita belajar dari para pendahulu kita, hadirin, tentang bagaimana kesadaran akan beratnya amanah itu terwujud dalam kepemimpinan yang nyata. Diriwayatkan bahwa Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah berkata, "Seandainya ada seekor anak unta yang celaka di tepi sungai Efrat karena tersandung, aku takut Allah akan menanyakannya kepadaku: mengapa engkau tidak meratakan jalan untuknya, wahai Umar?" Lihatlah, hadirin — seorang pemimpin yang wilayahnya membentang dari Mesir sampai Persia, merasa akan dimintai pertanggungjawaban bahkan atas seekor hewan kecil di ujung negerinya. Bukan karena ia berlebihan, tetapi karena ia memahami hakikat penggembala: yang tertinggal, yang lemah, yang tak bersuara — merekalah yang paling dulu ditanyakan. Bandingkanlah dengan kecenderungan zaman kita, ketika nyawa manusia kadang dihitung sebagai "risiko yang dapat diterima" dari sebuah target program. Perbedaannya bukan pada besarnya kekuasaan, melainkan pada besarnya rasa takut kepada pertanggungjawaban.

Begitu pula Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, ketika diangkat menjadi khalifah, menangis. Ketika ditanya mengapa, ia menjawab bahwa ia baru saja dibebani urusan seluruh umat dan ia takut tidak mampu menunaikannya di hadapan Allah. Ia bahkan mematikan lampu milik negara ketika membicarakan urusan pribadi, karena ia tak mau memakai minyak umat walau setetes untuk kepentingannya sendiri. Inilah teladan yang seharusnya menjadi cermin bagi setiap pemegang amanah di negeri kita: bahwa jabatan bukan panggung untuk dinikmati, melainkan ujian yang membuat orang saleh justru menangis ketika menerimanya. Semakin seseorang memahami beratnya amanah, semakin ia berhati-hati; dan semakin ia lalai, semakin ringan ia memperlakukan nyawa dan hak orang lain.

Nabi kita ﷺ menegaskan hakikat ini dengan bahasa yang tak terlupakan. Rasulullah ﷺ bersabda dalam riwayat Ibnu 'Umar:

أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

"Ketahuilah, setiap kalian adalah penggembala dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya. Pemimpin yang mengurus orang-orang adalah penggembala dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya." — Sahih Muslim 1829a.

Hadirin yang dirahmati Allah, perhatikan pilihan kata Nabi ﷺ: rā'in, penggembala. Penggembala tidak berjalan di depan sambil menghitung berapa banyak ternak yang mati sebagai risiko yang wajar. Penggembala berjalan di belakang, menghitung yang tertinggal, mencari yang tersesat, menjaga agar tidak ada satu pun yang celaka karena kelalaiannya. Dan Nabi ﷺ tidak membatasi tanggung jawab ini pada penguasa saja. Beliau mengatakan "kullukum" — kalian semua. Kepala negara penggembala rakyatnya, gubernur penggembala provinsinya, ketua RT penggembala warganya, kepala keluarga penggembala rumahnya, bahkan seorang pekerja penggembala atas pekerjaan yang dipercayakan kepadanya. Tidak ada satu pun dari kita yang tidak sedang menggembala sesuatu. Maka pertanyaan yang lahir dari mimbar pekan ini adalah: apakah kita menjaga gembalaan kita, atau kita membiarkannya celaka sambil sibuk dengan urusan diri?

Ada satu hadits lain yang menusuk lebih dalam lagi, khusus tentang pemimpin yang menyembunyikan diri dari rakyatnya yang lemah. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ وَلَّاهُ اللهُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاحْتَجَبَ عَنْ حَاجَتِهِمْ وَفَقِيْرِهِمِ، احْتَجَبَ اللهُ دُوْنَ حَاجَتِهِ

"Siapa saja yang dijadikan oleh Allah memegang urusan kaum Muslimin, lalu ia menyembunyikan diri dari memenuhi kebutuhan dan mengurus orang miskin mereka, maka Allah akan menyembunyikan diri-Nya dari memenuhi kebutuhannya." — Bulugh al-Maram 1592.

Betapa adilnya balasan ini, hadirin. Pemimpin yang menutup pintu bagi warga yang lemah — yang tidak mau mendengar keluhan orang kecil, yang membuat rakyat harus melewati seribu pintu birokrasi hanya untuk didengar — akan mendapati bahwa pintu langit pun tertutup baginya di saat ia paling membutuhkannya. Ini bukan ancaman politik; ini hukum akhirat yang pasti. Dan hadits ini menyentuh sisi paling menyakitkan dari pola pekan ini: ketika sebuah kabar buruk terjadi, yang paling sering luput justru pemulihan bagi korban dan keluarganya. Padahal dalam kacamata syariat, memenuhi kebutuhan yang lemah bukan belas kasihan yang boleh ditunda — ia adalah inti dari amanah kepemimpinan itu sendiri.

Ada satu sisi lagi yang perlu kita buka, hadirin, karena ia sering menjadi jalan keluar palsu bagi hati yang ingin lepas dari tanggung jawab. Ketika sesuatu berjalan salah dalam sebuah struktur, mereka yang berada di jenjang bawah sering berkata: "Kami hanya menjalankan perintah." Tetapi apakah alasan ini menghapus dosa? Allah berfirman tentang mereka yang menyesatkan orang lain:

لِيَحْمِلُوٓا۟ أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةًۭ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۙ وَمِنْ أَوْزَارِ ٱلَّذِينَ يُضِلُّونَهُم بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ أَلَا سَآءَ مَا يَزِرُونَ

"(Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun. Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu." — QS. An-Nahl: 25.

Perhatikan keadilan Allah yang halus di sini, hadirin. Mereka yang menyesatkan orang lain tidak hanya memikul dosa mereka sendiri secara penuh, tetapi juga sebagian dosa orang-orang yang mereka sesatkan — tanpa mengurangi sedikit pun dosa yang disesatkan itu. Artinya, seorang perancang kebijakan yang keliru menanggung bebannya sendiri dan sebagian beban dari mereka yang ia bawa ke jalan yang salah; sementara mereka yang mengikuti pun tetap menanggung bagiannya masing-masing. Tidak ada yang keluar bersih dengan alasan "saya hanya diperintah". Ayat ini menutup semua celah alibi ketaatan buta. Setiap simpul dalam rantai keputusan — dari yang merancang, yang menyetujui, sampai yang menjalankan di lapangan — memikul bagiannya di hadapan Allah, sesuai dengan pengetahuan dan kuasa yang ia miliki.

Mari kita lihat sisi lain pekan ini, hadirin, agar khutbah kita adil dan tidak berat sebelah. Di tengah kabar duka, mengalir pula kabar yang menghangatkan. Kita dengar rumah seorang guru ngaji yang bertahun-tahun menanti akhirnya dibedah; sumur bor dibangun untuk puluhan keluarga menjelang kemarau panjang; ribuan warga sebuah kabupaten dientaskan dari garis kemiskinan; dan sebuah pemerintah kabupaten memilih membatasi proyek jalan demi mengamankan anggaran pendidikan dan kesehatan. Inilah wajah penggembala yang benar: hadir untuk yang lemah, mendahulukan kebutuhan pokok di atas yang megah. Islam tidak mengajarkan kita untuk hanya mengecam yang buruk; Islam mengajarkan kita untuk mengangkat yang baik sebagai teladan agar ditiru. Maka pujian yang tulus untuk pelayanan yang benar adalah bagian dari amar ma'ruf, sebagaimana kritik yang santun untuk yang keliru adalah bagian dari nahi munkar.

Kabar-kabar kecil yang menghangatkan itu, hadirin, sesungguhnya adalah pelajaran besar tentang skala prioritas dalam mengurus amanah. Sebuah pemerintahan yang memilih mengamankan anggaran pendidikan dan kesehatan daripada membangun proyek yang megah tetapi tidak mendesak, sedang menerapkan sebuah prinsip syariat yang dalam: mendahulukan yang pokok di atas yang pelengkap, mendahulukan kebutuhan orang banyak di atas kemegahan yang dilihat mata. Para ulama menyebut ini sebagai fikih prioritas — bahwa amanah bukan hanya soal tidak mencuri, tetapi juga soal menaruh sumber daya umat pada tempat yang paling dibutuhkan. Air bersih untuk keluarga yang kehausan, sekolah untuk anak yang hampir putus, rumah yang layak untuk yang atapnya bocor — semua ini adalah bentuk pemenuhan hak dasar yang dalam kacamata maqashid syariah termasuk menjaga jiwa dan menjaga keturunan. Ketika negara hadir di titik-titik ini, ia sedang menunaikan sebagian dari fardhu kifayah yang menjadi kewajiban kolektif seluruh umat.

Dan justru di sinilah, hadirin, kita sebagai jamaah menemukan peran kita. Fardhu kifayah tidak gugur hanya karena kita berharap negara yang menanganinya. Selama masih ada tetangga yang kebutuhan pokoknya belum terpenuhi, selama masih ada anak yatim yang terlantar dan janda yang kesulitan, maka kewajiban itu masih membebani kita bersama. Kita tidak boleh menjadi umat yang hanya pandai menuntut pemerintah sambil melipat tangan di rumah. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai dan menyayangi adalah seperti satu tubuh — bila satu anggota mengeluh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur. Maka ketika satu keluarga di lingkungan kita menderita, tubuh keimanan kita seharusnya ikut gelisah, bukan berpaling.

Hadirin yang dirahmati Allah, mungkin ada di antara kita yang berkata dalam hati: "Semua ini tentang para pejabat dan pemimpin besar, apa hubungannya dengan saya yang orang biasa?" Justru di sinilah letak kekeliruan yang paling halus. Kita cenderung merasa amanah adalah urusan orang lain, urusan mereka yang duduk di kursi tinggi. Padahal timbangan yang sama berlaku untuk kita semua, hanya berbeda ukuran gembalaannya. Ketika kita menuntut para pemimpin untuk jujur pada amanah besar, sementara kita sendiri masih curang pada amanah kecil — janji yang diingkari, waktu kerja yang dicuri, titipan yang belum dikembalikan — maka kita sedang menuntut sesuatu yang belum kita tegakkan pada diri sendiri. Keadilan sebuah negeri tidak pernah turun sekaligus dari langit. Ia tumbuh dari bawah, dari jutaan penggembala kecil yang jujur pada gembalaan masing-masing.

Lalu apa yang harus kita lakukan, hadirin, sebagai jamaah yang pulang dari masjid ini? Pertama, mari kita mulai dari amanah yang ada di tangan kita sendiri. Setiap kita memegang sesuatu — jabatan di kantor, kas di organisasi, tanggung jawab atas anak dan istri, titipan tetangga. Periksalah satu pos amanah itu pekan ini, dan tanyakan dengan jujur: sudahkah kita menyampaikannya kepada yang berhak, atau ada yang kita simpan diam-diam untuk diri sendiri? Jangan menunggu urusan besar; mulailah dari yang paling dekat, karena di situlah kejujuran kita diuji setiap hari tanpa saksi kecuali Allah.

Kedua, mari kita jadikan kritik kita kepada penyelenggara negara sebagai nasihat, bukan cercaan. Menuntut evaluasi program yang membahayakan adalah hak dan sekaligus kewajiban kita sebagai warga; diam terhadap kemungkaran bukanlah sikap seorang Muslim. Tetapi caranya lewat musyawarah, surat resmi, forum warga, dan doa — bukan lewat fitnah, caci-maki, dan menyebarkan tuduhan yang belum jelas yang justru menghanguskan pahala kita sendiri dan bisa menzalimi orang yang belum tentu bersalah. Ingatlah, hadirin, bahwa lisan yang mengoreksi dengan hikmah membangun, sementara lisan yang mencerca dengan dendam justru menambah kerusakan.

Ketiga, mari kita jaga agar korban tidak dilupakan. Ini adalah amanah kolektif kita. Doakan keluarga yang kehilangan dalam qunut dan sujud kita, kawal agar pemulihan bagi mereka benar-benar terwujud dan tidak berhenti pada ucapan belasungkawa, dan jadikan tragedi ini pengingat abadi bahwa satu nyawa dalam timbangan syariat lebih berharga dari seribu program yang gemerlap. Sebab Allah menyebut bahwa membunuh satu jiwa tanpa hak seolah membunuh seluruh manusia, dan menghidupkan satu jiwa seolah menghidupkan seluruh manusia.

Keempat, mari kita didik keluarga kita untuk memahami bahwa kekuasaan sekecil apa pun adalah ujian, bukan hadiah. Anak-anak kita kelak akan memegang amanah — sebagai pegawai, sebagai pemimpin komunitas, mungkin sebagai pejabat negara. Tanamkan sejak dini, di meja makan dan di percakapan sehari-hari, bahwa jabatan yang diminta dengan ambisi membawa beban sendiri, sedangkan jabatan yang diamanahkan datang dengan pertolongan Allah. Ajarkan mereka bahwa menjadi ketua kelas, ketua RT, atau direktur sekalipun adalah kesempatan untuk melayani, bukan panggung untuk berkuasa.

Kelima, mari kita hadir untuk yang lemah di sekitar kita — jangan selalu menunggu negara. Ketika kita mendengar ada tetangga yang anaknya kesulitan biaya sekolah, ada janda tua yang atap rumahnya bocor, ada keluarga yang kesulitan air di musim kemarau — jadilah pintu yang terbuka baginya. Sebab hadits tadi mengajarkan: siapa yang membuka pintu bagi yang lemah, Allah akan membuka pintu-Nya baginya; dan siapa yang menutup pintu itu, pintu langit pun tertutup baginya. Inilah cara kita menegakkan keadilan dari akar, dari lingkungan terkecil, sambil mendoakan agar keadilan yang lebih besar pun ditegakkan di puncak.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.

Hadirin yang dimuliakan Allah, izinkan pada khutbah kedua ini kita menggali lebih dalam satu sisi yang mudah terlewat. Ketika sesuatu berjalan salah dalam sebuah program bersama, kecenderungan manusia adalah menunjuk ke atas — "saya hanya menjalankan perintah, saya hanya mengikuti atasan." Al-Qur'an mengabadikan alibi ini sebagai ratapan penghuni neraka yang sudah terlambat. Allah menggambarkan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan." Alibi ketaatan buta itu tidak diterima. Setiap kita tetap dimintai pertanggungjawaban atas peran kita sendiri, sekecil apa pun. Mengikuti perintah yang jelas-jelas membahayakan tidak menghapus tanggung jawab kita di hadapan Allah. Dalam kaidah yang masyhur di kalangan para ulama, "tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq" — tidak ada ketaatan kepada siapa pun jika itu berarti mendurhakai Allah. Maka seorang bawahan yang diperintah melakukan sesuatu yang jelas membahayakan nyawa punya kewajiban untuk menolak dengan cara yang beradab, dan diamnya terhadap bahaya itu adalah bagian dari tanggung jawab yang akan ditanyakan.

Sisi kedua yang perlu kita renungkan adalah bahaya pengkhianatan amanah bagi seorang yang berkuasa. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa pada Hari Kiamat akan ada bendera bagi setiap pengkhianat, diangkat sesuai kadar pengkhianatannya, dan tidak ada pengkhianatan yang lebih besar daripada pengkhianatan seorang penguasa terhadap rakyatnya. Semakin besar amanah, semakin tinggi benderanya, semakin telanjang aibnya di hadapan seluruh makhluk. Ini bukan untuk menakut-nakuti pejabat semata; ini untuk menyadarkan kita semua bahwa besarnya jabatan berbanding lurus dengan besarnya pertanggungjawaban, bukan dengan besarnya hak istimewa. Betapa sering manusia mengejar jabatan karena membayangkan fasilitas dan penghormatan yang menyertainya, lalu lupa bahwa setiap fasilitas itu adalah tambahan beban yang akan ditimbang. Kursi yang tinggi bukanlah tempat beristirahat; ia adalah tempat berdiri di garis depan pertanggungjawaban.

Sisi ketiga adalah pentingnya membedakan antara mengoreksi dan menghakimi. Pekan ini banyak suara meninggi, dan sebagian di antaranya jatuh pada caci-maki dan tuduhan yang belum tentu benar. Islam mengajarkan kita bahwa mengoreksi kemungkaran adalah kewajiban, tetapi ia punya adab: dilakukan dengan ilmu, dengan bukti, dengan niat memperbaiki bukan menjatuhkan, dan dengan menjaga kehormatan orang yang belum terbukti bersalah. Menuduh seseorang berbuat jahat tanpa bukti adalah fitnah, dan fitnah termasuk dosa besar yang menzalimi kehormatan sesama. Maka mari kita jaga lisan dan jari-jari kita: boleh menuntut keadilan sekeras mungkin terhadap kebijakan yang salah, tetapi jangan pernah menghakimi pribadi seolah kita adalah hakim di akhirat. Biarkan proses hukum berjalan, dan kawal dengan cara yang benar.

Sisi keempat, dan ini yang membuat kita boleh tetap berharap: perbaikan selalu mungkin selama nafas masih ada. Pemimpin yang keliru bisa mengevaluasi, program yang berbahaya bisa dihentikan dan dirancang ulang, dan pintu taubat tidak pernah tertutup bagi siapa pun. Maka tugas kita bukan berputus asa dan memaki, melainkan mendoakan perbaikan sambil terus mengawal dengan cara yang benar. Doa untuk pemimpin agar diperbaiki adalah bagian dari nasihat, bukan penjilatan; dan mengawal amanah publik adalah bagian dari iman, bukan pembangkangan. Para ulama kita dahulu berkata bahwa jika mereka memiliki satu doa yang pasti dikabulkan, mereka akan mempersembahkannya untuk pemimpin — karena baiknya pemimpin berarti baiknya urusan seluruh rakyat.

Sisi kelima, mari kita bawa pulang kesadaran bahwa amanah terkecil pun akan ditagih. Dalam kisah-kisah para ulama salaf disebutkan bahwa amanah itu ada dalam shalat, dalam puasa, dalam wudhu, dalam ucapan — dan yang paling berat di antaranya adalah titipan harta. Artinya, sebelum kita menuntut para pemegang kekuasaan besar, kita perlu jujur pada amanah kecil di genggaman kita sendiri: janji yang belum ditepati, titipan yang belum dikembalikan, tugas yang dikerjakan asal-asalan, waktu kerja yang kita curi untuk urusan pribadi. Sebab keadilan yang kita rindukan di puncak hanya akan tumbuh jika akarnya kita tanam di diri sendiri. Mudah-mudahan Allah menjadikan kita hamba-hamba yang amanah, penggembala yang jujur, dan pemimpin yang adil di setiap lingkup yang dipercayakan kepada kita, sekecil atau sebesar apa pun.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ رُعَاةً رَحِيْمِيْنَ بِرَعِيَّتِهِمْ، حَافِظِيْنَ لِأَمَانَاتِهِمْ، عَادِلِيْنَ فِيْ أَحْكَامِهِمْ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ عِبَادَكَ الَّذِيْنَ فَقَدْنَاهُمْ فِيْ هٰذِهِ الْأَيَّامِ، وَاجْبُرْ قُلُوْبَ أَهْلِيْهِمْ، وَاجْعَلْ مُصِيْبَتَهُمْ عِبْرَةً لِلْأَحْيَاءِ، وَأَبْدِلْهُمْ صَبْرًا جَمِيْلًا وَأَجْرًا عَظِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِرًا وَمُعِيْنًا، وَعَلٰى مَنْ ظَلَمَهُمْ قَادِرًا وَمُقْتَدِرًا.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْحَافِظِيْنَ لِأَمَانَاتِهِمْ، الْمُوْفِيْنَ بِعُهُوْدِهِمْ، الْعَادِلِيْنَ فِيْ كُلِّ مَا وُلِّيْنَا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan