بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَمَانَةَ مِيْزَانَ الْعِبَادِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْعَدْلُ فِيْ حُكْمِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْأَمِيْنُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, ketika kabar duka tentang lima anak muda yang meninggal dalam sebuah pelatihan program pemerintah masih terasa berat di dada, ada satu pesan sederhana yang ingin saya bagikan malam ini. Pesannya bukan tentang mereka yang di atas sana, melainkan tentang kita semua yang duduk di sini malam ini. Sebab kalau kita jujur, setiap kali ada kabar buruk tentang orang-orang besar, hati kita cenderung bergerak ke satu arah saja: mencari siapa yang salah di luar sana. Padahal malam ini saya ingin mengajak kita memutar arah pandangan itu — bukan ke atas panggung, melainkan ke dalam dada kita sendiri.
Coba kita tanya pada diri sendiri: siapa di antara kita yang malam ini tidak sedang memegang amanah apa pun? Rasanya tidak ada. Ada yang memegang amanah sebagai orang tua, ada yang sebagai karyawan, ada yang sebagai pengurus RT, ada yang sekadar dititipi kunci rumah tetangga yang sedang mudik. Bahkan ketika kita duduk di sini pun, sebenarnya kita sedang menunaikan sebuah amanah kecil: amanah waktu, yang kita pilih untuk kita isi dengan mengingat Allah alih-alih dengan yang sia-sia. Dan Rasulullah ﷺ menyebut kita semua dengan satu kata:
أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Ketahuilah, setiap kalian adalah penggembala dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya." — Sahih Muslim 1829a.
Perhatikan, saudara-saudara sekalian, Nabi ﷺ tidak berkata "para pemimpin adalah penggembala". Beliau berkata "kalian semua". Kita sering merasa bahwa urusan amanah itu urusan pejabat, urusan menteri, urusan orang-orang besar. Padahal timbangan yang sama berlaku untuk kita. Bedanya hanya pada ukuran gembalaannya. Ada yang menggembala jutaan rakyat, ada yang menggembala satu keluarga kecil. Tapi pertanggungjawabannya sama-sama nyata di hadapan Allah.
Dan renungkanlah kata yang dipilih Nabi ﷺ itu: penggembala. Kenapa bukan "penguasa", bukan "pemilik", tapi penggembala? Karena penggembala tidak pernah menjadi pemilik dari kawanan yang ia jaga. Ia hanya dititipi. Domba-domba itu bukan miliknya; ia hanya bertugas membawanya pulang dengan selamat, satu per satu, tanpa kurang. Kalau ada yang tertinggal, ia yang mencarinya di kegelapan. Kalau ada yang celaka, ia yang ditanya. Begitulah persisnya hakikat setiap amanah di tangan kita: jabatan bukan milik kita, uang kas bukan milik kita, bahkan anak-anak kita pun sesungguhnya bukan milik kita — semuanya titipan yang suatu hari akan diminta kembali oleh Pemiliknya yang sejati.
Pekan ini kita dengar banyak tuntutan agar sebuah program dihentikan dan diusut karena membahayakan nyawa. Kita juga dengar kabar tentang dugaan orang yang membeli jabatan dengan menyerahkan kendaraan mewah, dan kabar korupsi dana program bergizi untuk anak-anak. Semua ini, kalau kita ringkas, adalah cerita tentang penggembala yang lupa pada gembalaannya. Ternak dibiarkan celaka karena penggembala sibuk mengurus dirinya. Dan mudah sekali bagi kita untuk marah pada mereka. Tapi izinkan saya bertanya dengan jujur: apakah kita yakin gembalaan kita sendiri sedang baik-baik saja?
Di sinilah, saudara-saudaraku, saya ingin kita berhenti sejenak pada satu hal yang sering luput. Kita begitu cepat menuntut orang-orang di atas untuk jujur pada amanah besar mereka, sementara diam-diam kita menganggap amanah kecil di genggaman kita boleh sedikit longgar. Al-Qur'an justru menutup celah pikiran seperti itu. Allah berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَخُونُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوٓا۟ أَمَٰنَٰتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui." — QS. Al-Anfaal: 27.
Perhatikan ujung ayat itu, saudara-saudara: "sedang kamu mengetahui". Betapa halus teguran Allah di situ. Pengkhianatan amanah yang paling berbahaya bukanlah yang dilakukan karena tidak tahu, melainkan yang dilakukan sambil tahu — sambil sadar bahwa ini bukan hak kita, sambil berkata dalam hati "ah, cuma sedikit, nanti juga dikembalikan". Uang kas yang dipinjam diam-diam, waktu kerja yang kita curi untuk urusan pribadi, janji pada anak yang terus kita tunda — semuanya kita lakukan sambil tahu. Dan justru "sambil tahu" itulah yang membuatnya berat di sisi Allah. Maka sebelum kita menunjuk siapa pun di luar sana, ayat ini menyuruh kita menunjuk diri sendiri lebih dulu.
Ada satu hadits yang membuat saya sendiri gemetar setiap kali membacanya. Rasulullah ﷺ bersabda tentang pemimpin yang lalai:
مَنْ وَلَّاهُ اللهُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاحْتَجَبَ عَنْ حَاجَتِهِمْ، احْتَجَبَ اللهُ دُوْنَ حَاجَتِهِ
"Siapa saja yang memegang urusan kaum Muslimin lalu ia menutup diri dari kebutuhan mereka, maka Allah akan menutup diri-Nya dari kebutuhan orang itu." — Bulugh al-Maram 1592. Bayangkan, saudaraku, saat kita paling butuh pertolongan Allah, pintu itu tertutup — karena dulu kita menutup pintu bagi orang yang membutuhkan kita.
Nah, di sinilah pesan malam ini menemukan rumahnya di dada kita. Kita mungkin bukan pejabat. Tapi kita adalah penggembala di rumah kita sendiri. Berapa banyak dari kita yang lebih cepat membalas pesan di grup WhatsApp daripada mendengarkan anak yang ingin bercerita? Berapa kali kita menutup pintu — bukan pintu rumah, tapi pintu perhatian — bagi orang tua yang menua, bagi tetangga yang kesepian, bagi karyawan yang kita pimpin? Amanah tidak selalu bocor karena dicuri. Kadang amanah bocor karena diabaikan pelan-pelan, sedikit demi sedikit, sampai kita sendiri lupa bahwa dulu ia pernah dititipkan pada kita dengan penuh kepercayaan.
Dan ada satu sisi lagi yang jarang kita renungkan, saudara-saudaraku. Kita hidup di zaman ketika banyak orang mengejar jabatan, memburu posisi, sikut sana sikut sini demi sebuah kursi. Kabar pekan ini tentang dugaan orang yang rela menyerahkan kendaraan mewah demi sebuah jabatan hanyalah satu contoh dari penyakit besar itu. Padahal Nabi kita ﷺ mengajarkan sikap yang justru berlawanan. Beliau bersabda kepada sahabatnya:
لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ
"Janganlah engkau meminta jabatan kepemimpinan; sebab jika engkau diberi jabatan karena memintanya, engkau akan diserahkan memikul sendiri, tetapi jika diberi tanpa memintanya, engkau akan ditolong Allah." — Sahih al-Bukhari 7147. Renungkanlah, saudaraku, betapa terbaliknya cara pandang ini dengan cara pandang zaman kita. Kita membayangkan jabatan sebagai hadiah — fasilitas, penghormatan, pengaruh. Nabi ﷺ mengajarkan bahwa jabatan adalah beban yang, kalau kita memburunya karena nafsu, kita akan dibiarkan memikulnya sendirian tanpa pertolongan. Ini bukan hanya nasihat untuk calon bupati atau calon direktur. Ini nasihat untuk kita yang ingin jadi ketua RT, ketua panitia pengajian, bahkan untuk kita yang mendidik anak agar "jadi orang penting" kelak. Ajarkan pada mereka, dan ingatkan diri kita, bahwa kemuliaan bukan pada kursi yang diduduki, melainkan pada bagaimana amanah di kursi itu ditunaikan.
Maka mari kita ukur diri sendiri malam ini, bukan mengukur orang lain. Pertama, pilih satu gembalaan yang paling kita abaikan akhir-akhir ini — mungkin anak, mungkin orang tua, mungkin tugas di tempat kerja, mungkin sebuah janji yang terus kita tunda. Kedua, besok pagi, berikan padanya satu perhatian nyata: satu percakapan tanpa layar handphone, satu tugas yang kita selesaikan dengan jujur dan tuntas, satu titipan yang kita kembalikan hari itu juga tanpa menunggu ditagih. Ketiga, jujurlah pada batas — kalau kita memegang uang yang bukan milik kita, pisahkan; jangan campur, sekecil apa pun jumlahnya, karena di situlah amanah paling sering mulai retak. Keempat, doakan para pemegang amanah besar di negeri ini agar diperbaiki Allah — sebab mendoakan kebaikan bagi mereka lebih mulia dan lebih berpengaruh daripada sekadar mengeluh dan mencaci di layar. Keempat langkah ini kecil, tapi di sanalah letak keadilan yang sesungguhnya dimulai.
Dan supaya hati kita tidak hanya dipenuhi kabar buruk malam ini, mari kita ambil pula pelajaran dari sisi yang menghangatkan. Di sela berita duka pekan ini, mengalir juga kabar-kabar kecil yang menyejukkan: rumah seorang guru ngaji yang bertahun-tahun bocor akhirnya diperbaiki, sumur bor dibangun untuk keluarga-keluarga yang kesulitan air menjelang kemarau. Perhatikanlah, saudaraku, inilah wajah penggembala yang benar — yang hadir justru untuk yang paling lemah, yang mendengar keluhan orang kecil dan bergerak. Islam tidak menyuruh kita hanya pandai mengecam yang buruk; Islam juga menyuruh kita mengangkat yang baik agar ditiru. Ketika kita melihat kebaikan, doakan agar ia bertahan; ketika kita melakukannya, jangan pernah remehkan sekecil apa pun. Mengembalikan uang kembalian yang berlebih, menepati janji pada anak, menjaga rahasia yang dititipkan teman — di mata manusia mungkin sepele, tapi di mata Allah itu adalah amanah yang ditimbang dengan timbangan yang sama seperti amanah para pembesar.
Ada yang mungkin bertanya dalam hati: "Ustadz, kalau amanah kecil saja seberat itu, bukankah lebih aman kalau saya tidak memegang apa-apa?" Tidak, saudaraku. Bukan itu maksud dari semua ini. Islam tidak mengajarkan kita lari dari tanggung jawab; Islam mengajarkan kita memikulnya dengan sadar dan takut kepada Allah. Justru orang yang paling baik adalah yang mau memikul amanah demi kebaikan orang banyak, lalu menunaikannya dengan jujur. Kita butuh guru yang amanah, bendahara yang amanah, pemimpin yang amanah — dan itu semua tidak akan ada kalau semua orang saleh justru menghindar. Maka pesan malam ini bukan "jangan memegang amanah", melainkan "kalau memegang, tunaikan seolah Allah sedang menatapmu" — karena memang demikianlah keadaannya.
Dan inilah rahasia yang membuat para pendahulu kita begitu berhati-hati dengan amanah: mereka meyakini betul bahwa Allah Maha Melihat, bahkan di ruangan yang paling tertutup sekalipun. Seorang bendahara bisa menyembunyikan pembukuannya dari atasan, seorang pegawai bisa bekerja asal-asalan ketika tak ada yang mengawasi, seorang dari kita bisa mengambil yang bukan haknya ketika tak ada yang melihat. Tapi tidak ada satu pun yang bisa bersembunyi dari penglihatan Allah. Kesadaran inilah — bahwa kita selalu ditatap — yang menjadi benteng terakhir ketika seluruh pengawasan manusia gagal. Kalau kesadaran ini hidup di dada seorang penggembala kecil di rumah, maka amanah besar di negeri ini pun punya harapan untuk dijaga; sebab yang duduk di kursi besar hari ini adalah anak-anak yang dulu dididik di rumah-rumah seperti rumah kita.
Saudara-saudara sekalian, keadilan sebuah negeri tidak turun dari langit sekaligus. Ia tumbuh dari jutaan penggembala kecil yang jujur pada gembalaannya masing-masing. Kalau setiap rumah adil, setiap kantor amanah, setiap RT peduli — maka negeri ini sedang diperbaiki dari akarnya, bukan hanya dari puncaknya. Kita mungkin merasa terlalu kecil untuk mengubah keadaan besar di luar sana. Tapi ingatlah, tidak ada penggembala yang menjaga seluruh padang; setiap penggembala hanya bertanggung jawab atas kawanannya sendiri. Kalau kita masing-masing menjaga kawanan kita dengan jujur, padang yang luas itu pun ikut terjaga. Jangan tunggu perubahan datang dari atas; mulailah dari kandang kita sendiri. Sebab di hadapan Allah nanti, kita tidak akan ditanya "kenapa negara ini belum adil", melainkan "apa yang kau lakukan dengan yang Aku titipkan kepadamu".
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الرُّعَاةِ الْأُمَنَاءِ، وَاحْفَظْ عَلَيْنَا أَمَانَاتِنَا، وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَارْحَمْ مَنْ فَقَدْنَاهُمْ، وَاجْبُرْ قُلُوْبَ أَهْلِيْهِمْ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
