Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumPendidikan & SDMJumat, 3 Juli 2026

Kultum — "Niat yang Menjaga Guru Bertahan"

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الْمُعَلِّمُ الْأَوَّلُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, ada satu kabar yang menyita hati banyak orang: betapa memprihatinkannya upah para guru honorer, terutama di madrasah, yang bertahun-tahun mengabdi dengan penghasilan yang jauh dari layak. Kabar ini menyebar cepat, membuat banyak orang tercenung, dan sebagian ikut marah. Wajar. Sebab hampir setiap kita punya seorang guru yang pernah mengubah hidup kita — guru mengaji yang mengajari kita huruf pertama Al-Qur'an, guru SD yang mengajari kita menulis nama sendiri, guru yang barangkali kita lupa namanya tapi jasanya masih kita nikmati sampai hari ini. Malam ini saya ingin kita berhenti sejenak di kabar itu, bukan untuk mengeluh, tetapi untuk bertanya kepada diri kita masing-masing: apa sebenarnya yang membuat seseorang bertahan mengajar bertahun-tahun dengan upah sekecil itu?

Jawabannya, saudara-saudara sekalian, hanya satu kata: niat. Bukan gaji yang membuat mereka bertahan, karena kalau soal gaji, mereka sudah lama berhenti. Yang membuat mereka bertahan adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang — panggilan untuk mencerdaskan anak orang lain seolah anak sendiri. Bayangkan, bertahun-tahun mengabdi. Itu bukan waktu yang singkat, saudara-saudara. Selama tahun-tahun itu mereka menyaksikan murid-muridnya tumbuh, lulus, bekerja, menikah, punya anak — sementara mereka tetap di ruang kelas yang sama, dengan kapur dan papan tulis yang sama. Apa yang menahan seseorang di tempat yang tidak menaikkan derajat duniawinya? Hanya satu hal: hati yang telah menemukan makna yang lebih tinggi dari uang. Dan inilah yang diajarkan para ulama kita tentang menuntut dan mengajarkan ilmu.

حُسْنُ النِّيَّةِ فِيْ طَلَبِ الْعِلْمِ بِأَنْ يَقْصِدَ بِهِ وَجْهَ اللهِ تَعَالٰى وَالْعَمَلَ بِهِ وَإِحْيَاءَ الشَّرِيْعَةِ

Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثالث في أدب المتعلم في نفسه ومع شيخه ورفقته ودرسه / الثاني — "Niat yang baik dalam menuntut ilmu, yaitu dengan menghendaki wajah Allah Ta'ala, mengamalkannya, dan menghidupkan syariat." Imam Sufyan ats-Tsauri bahkan berkata: "Tidak ada sesuatu yang lebih berat aku obati daripada niatku."

Bayangkan, jamaah — ulama sekelas Sufyan ats-Tsauri saja mengaku bahwa yang paling sulit ia jaga adalah niatnya. Padahal beliau lautan ilmu. Kalau beliau saja bergulat dengan niat, bagaimana dengan kita? Di sinilah kita perlu jujur. Kita sering mendorong anak kita menuntut ilmu dengan iming-iming yang salah: "Belajar yang rajin biar nanti jadi orang kaya", "Kuliah yang tinggi biar gengsi keluarga naik". Tanpa sadar, kita sedang menanam benih niat yang keliru, dan benih itu akan tumbuh menjadi pohon yang buahnya pahit. Dan yang lebih mengkhawatirkan, benih itu tidak berhenti pada satu anak; ia diwariskan. Anak yang belajar hanya demi uang, ketika kelak menjadi orang tua, akan mengajarkan hal yang sama kepada anak-anaknya, sehingga niat yang keliru itu berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya seperti warisan yang tak pernah kita sadari sedang kita titipkan.

Mengapa niat begitu penting, saudara-saudara? Karena niat adalah akar, dan segala sesuatu yang tumbuh selalu mengikuti akarnya. Kalau kita menanam ilmu dengan akar cinta dunia, buahnya adalah manusia yang ilmunya banyak tapi hatinya kering — pandai berdebat tapi tidak takut kepada Allah, hafal banyak teori tapi tega mengkhianati amanah. Kita sudah cukup sering melihat contohnya, bukan? Orang-orang yang gelarnya berderet tapi justru menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Ilmu tanpa niat yang lurus bukan hanya sia-sia, ia bisa berbahaya. Sebaliknya, ilmu yang ditanam dengan akar cinta kepada Allah akan berbuah manusia yang tenang, jujur, dan bermanfaat, meski gelarnya sederhana.

Dan mari kita ukur diri sendiri malam ini dengan jujur. Ketika anak kita mendapat peringkat bagus, apa reaksi pertama kita? Apakah kita langsung membayangkan masa depan karier dan penghasilannya, ataukah kita mensyukurinya sebagai amanah ilmu yang harus dijaga? Tidak ada yang salah dengan berharap anak kita sejahtera. Tetapi kalau hati kita hanya berdetak untuk angka dan gaji, jangan heran kalau anak kita pun tumbuh dengan hati yang sama. Anak belajar bukan dari apa yang kita katakan, melainkan dari apa yang kita banggakan. Kalau yang kita banggakan hanya prestasi duniawi, itulah yang akan mereka kejar seumur hidup. Maka mari kita mulai membiasakan diri untuk juga membanggakan kejujuran anak, kebaikan hatinya, dan kesediaannya menolong — bukan hanya peringkat dan nilainya. Karena anak yang dibesarkan dengan kebanggaan pada akhlak akan tumbuh menjadi orang yang ilmunya membawa maslahat, bukan mudarat.

Pekan ini kita juga mendengar kegelisahan tentang lulusan yang hanya menjadi peniru, tentang ilmu-ilmu dasar yang sepi peminat, tentang kekhawatiran bangsa ini akan selamanya menjadi pengguna teknologi buatan orang lain. Siapa di sini yang tidak ikut cemas mendengarnya? Tetapi mari kita ukur diri sendiri: mungkin salah satu akarnya adalah karena kita, sebagai orang tua dan sebagai umat, terlalu lama mengajarkan bahwa ilmu adalah alat mengejar dunia, bukan cahaya yang menerangi hati. Ketika ilmu hanya dilihat sebagai tiket menuju dompet tebal, wajar kalau yang dipilih adalah jurusan yang cepat menghasilkan, dan yang ditinggalkan adalah ilmu yang butuh kesabaran panjang.

Saya jadi teringat sebuah kisah tentang seorang ulama yang ditanya, mengapa ia mau menghabiskan puluhan tahun mempelajari satu cabang ilmu yang tidak menghasilkan uang. Ia menjawab, karena ilmu itu bukan untuk perutnya, melainkan untuk hatinya dan untuk umat sesudahnya. Bandingkan dengan cara kita hari ini memilihkan jurusan untuk anak. Coba jujur, saudara-saudara — berapa banyak dari kita yang bertanya kepada anak, "Nak, ilmu apa yang paling kamu cintai dan paling bermanfaat buat orang?" — dibanding yang bertanya, "Kuliah jurusan itu nanti gajinya berapa?" Bukan berarti bertanya soal gaji itu haram; tentu tidak. Tapi kalau itu satu-satunya pertanyaan kita, kita sedang mengajari anak bahwa ilmu hanyalah alat, bukan amanah.

Nabi kita ﷺ mengajarkan bahwa yang paling menentukan nasib seseorang di akhirat bukanlah seberapa tinggi ilmunya, melainkan takwa dan akhlaknya. Beliau ﷺ bersabda:

أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ الْجَنَّةَ تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

Bulugh al-Maram 1731 — "Rasa takut kepada Allah dan akhlak yang baik adalah dua sifat utama yang mengantarkan ke Surga." Perhatikan, jamaah, Nabi ﷺ tidak berkata "gelar tertinggi" atau "nilai terbaik". Beliau berkata takwa dan akhlak. Ini menohok kita yang kadang lebih bangga menceritakan nilai anak daripada menceritakan kebaikan hatinya. Coba kita renungkan sejenak: kalau besok kita dipanggil menghadap Allah, apa yang akan kita bawa? Bukan ijazah, bukan tumpukan sertifikat, melainkan takwa dan akhlak yang kita bangun sepanjang hidup. Kalau itu bekal terpenting kita, mestinya itu pula yang paling kita tanamkan pada anak-anak kita — bukan sebagai pelengkap, tapi sebagai inti.

Maka pelajaran yang ingin saya bawa pulang malam ini sederhana saja. Kalau kita ingin melahirkan generasi yang tidak sekadar meniru, kita harus terlebih dahulu meluruskan alasan mengapa mereka belajar. Ilmu yang diniatkan untuk wajah Allah akan melahirkan keberanian untuk berpikir jujur, mencipta, dan bermanfaat. Ilmu yang diniatkan untuk gengsi hanya akan melahirkan peniru yang pandai. Sebab daya cipta sejati lahir dari cinta pada ilmu, dan cinta itu hanya tumbuh ketika niatnya bersih.

Saudara-saudara, ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan sebelum kita berdoa. Di tengah semua keprihatinan ini, kita juga patut bersyukur bahwa pekan ini banyak sekali kabar baik yang beredar — anak-anak dari keluarga yang sangat sederhana, anak seorang tukang bangunan, anak seorang pengemudi ojek daring, bahkan anak-anak dengan keterbatasan fisik, yang berhasil menembus perguruan tinggi. Kabar-kabar ini adalah bukti bahwa Allah tidak pernah menutup pintu bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh. Ilmu adalah salah satu jalan paling adil yang Allah buka bagi orang miskin untuk mengangkat derajatnya. Maka kalau kita punya kemampuan, sekecil apa pun, untuk membantu satu anak agar tetap bisa belajar — jangan tunda. Karena bisa jadi, satu buku yang kita berikan hari ini adalah awal dari perjalanan seorang anak menuju masa depan yang mengubah nasib seluruh keluarganya.

Dan untuk para guru di sekitar kita — guru ngaji anak-anak, guru madrasah, guru honorer — mari kita jaga niat baik mereka dengan tidak membiarkan mereka berjuang sendirian. Menghargai guru adalah bagian dari menghargai ilmu itu sendiri. Ketika kita melihat seorang guru yang bertahun-tahun mengabdi dengan upah kecil, jangan hanya kita kasihani dari jauh; mari kita muliakan dari dekat. Sebuah bingkisan kecil di hari raya, sebuah kunjungan singkat, sebuah doa yang tulus — semua itu berarti besar bagi hati seorang pendidik yang lelah tapi setia. Dan yang terpenting, jangan pernah kita rendahkan guru di depan anak-anak kita, karena saat itu kita sedang menutup pintu keberkahan ilmu bagi mereka sendiri.

Saya tahu, saudara-saudara, mungkin sebagian dari kita berpikir, "Ustadz, itu urusan pemerintah, urusan lembaga besar, apa kuasa kita?" Betul, sebagian memang urusan yang lebih besar dari kita. Tetapi Islam tidak pernah menyuruh kita menunggu perbaikan datang dari atas sebelum kita berbuat dari bawah. Guru ngaji yang mengajari anak-anak kita mengaji di surau kampung — beliau ada di jangkauan tangan kita. Anak tetangga yang terancam putus sekolah — dia ada di jangkauan mata kita. Kita tidak perlu menunggu siapa pun untuk memuliakan mereka. Kebaikan yang kecil tapi nyata di depan kita jauh lebih Allah cintai daripada angan-angan besar yang tidak pernah kita kerjakan.

Ada tiga hal konkret yang bisa kita lakukan mulai malam ini. Pertama, tanyakan kepada anak kita malam ini juga: "Nak, kamu belajar itu untuk apa?" — lalu dengarkan, dan luruskan pelan-pelan tanpa memaksa. Kedua, sebutkan nama satu guru dalam doa kita malam ini, guru yang pernah mengajari kita apa pun, sekalipun beliau kini telah tiada. Ketiga, jika ada guru ngaji di kampung kita yang kesulitan, ajak beberapa tetangga untuk diam-diam meringankan bebannya pekan ini, tanpa perlu diumumkan agar martabat beliau tetap terjaga.

Saudara-saudara, mari kita akhiri malam ini dengan satu pesan yang mudah diingat: bahwa nasib ilmu di tangan anak-anak kita sangat ditentukan oleh alasan yang kita tanamkan pada mereka tentang mengapa mereka belajar. Luruskan alasannya, maka lurus pula jalannya. Dan sambil kita memperbaiki niat anak-anak kita, jangan lupa memperbaiki niat kita sendiri, karena kita pun tidak pernah berhenti menjadi murid di hadapan Allah. Ilmu yang bermanfaat, guru yang dimuliakan, dan niat yang lurus — tiga hal itulah yang membuat sebuah keluarga, sebuah kampung, bahkan sebuah bangsa, benar-benar naik derajatnya. Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang menghidupkan tiga hal itu. Mari kita tutup dengan doa.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ نِيَّاتِنَا، وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا نَافِعًا وَعَمَلًا صَالِحًا. اَللّٰهُمَّ اجْزِ مُعَلِّمِيْنَا وَمُعَلِّمَاتِنَا خَيْرَ الْجَزَاءِ، وَبَارِكْ لَهُمْ فِيْ أَرْزَاقِهِمْ، وَاجْعَلْ أَوْلَادَنَا مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ الْمُخْلِصِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan