Ma'asyiral muslimin rahimakumullah. Marilah pada Jumat yang mulia ini kita bertakwa kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya — takwa yang tidak berhenti di dalam masjid, melainkan ikut pulang bersama kita ke rumah, ke meja makan, ke kamar anak-anak kita, ke tempat kita bekerja dan bertetangga. Sebab agama ini bukan hanya urusan kening yang bersujud, tetapi juga urusan tangan yang menjaga, lisan yang menenangkan, dan hati yang menaungi mereka yang lemah di sekitar kita.
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahrim: 6)
Hadirin yang dimuliakan Allah, ayat ini menaruh sebuah amanah yang berat di pundak kita masing-masing. Perhatikan urutannya: qū anfusakum — jagalah dirimu — baru kemudian wa ahlīkum — dan keluargamu. Allah memerintahkan kita memulai penjagaan dari diri sendiri sebelum menuntut orang lain. Seorang ayah tidak bisa menjaga rumahnya dari api jika ia sendiri membawa bara ke dalamnya. Seorang ibu tidak bisa menanam ketenangan jika hatinya sendiri kering dari zikir. Menjaga keluarga, dalam bahasa Al-Qur'an, bukanlah tugas mengawasi dari luar; ia adalah tugas menjadi teladan dari dalam.
Para ulama menjelaskan bahwa makna "jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka" adalah dengan mengajarkan mereka kebaikan, mendidik mereka dengan adab, dan mencegah mereka dari keburukan. Sahabat 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu ketika menafsirkan ayat ini berkata: "Ajarilah dirimu dan keluargamu kebaikan, dan didiklah mereka." Maka penjagaan yang dimaksud bukanlah sekadar memberi makan dan pakaian — itu penjagaan tubuh. Yang Allah maksud lebih dalam: penjagaan hati, penjagaan akhlak, penjagaan iman. Betapa banyak keluarga yang tercukupi seluruh kebutuhan jasmaninya tetapi kelaparan dari sisi ruhani, karena tidak pernah ada yang mengajarkan mereka mengenal Allah, tidak pernah ada yang mendidik mereka membedakan yang baik dari yang buruk. Rumah seperti itu, sekaya apa pun, sedang dibiarkan mendekat ke api.
Dan renungkanlah, hadirin, betapa beratnya bahasa ayat ini. Api itu, kata Allah, bahan bakarnya adalah "manusia dan batu", dijaga oleh malaikat yang keras dan tegas. Allah tidak memakai bahasa yang lembut untuk menggambarkan akibat dari kelalaian menjaga keluarga, karena taruhannya memang bukan perkara ringan. Ini bukan urusan yang bisa kita tunda sampai anak-anak besar, sampai kita punya waktu luang, sampai pekerjaan tidak lagi sibuk. Setiap hari yang kita lewatkan tanpa menanamkan kebaikan di rumah adalah hari yang tidak akan kembali. Maka mari kita jujur bertanya kepada diri: hari ini, apa yang telah kita tanam di hati keluarga kita — kebaikan yang menjauhkan mereka dari api, ataukah kelalaian yang justru mendekatkan?
Dan penjagaan itu, hadirin, adalah pekerjaan yang mendesak justru di zaman kita. Dari berita yang sampai kepada kita pekan ini, kita mendengar hal-hal yang membuat dada sesak. Ada kisah-kisah rumah tangga yang seharusnya menjadi tempat berteduh, tetapi berubah menjadi tempat luka bagi istri dan anak. Ada dugaan pelecehan yang terungkap di sejumlah lingkungan pendidikan agama di Jawa Tengah — tempat yang justru kita titipi anak-anak kita untuk mengenal Allah. Ada pula kabar dari Surabaya tentang seorang remaja yang menjadi korban dari orang yang seharusnya paling melindunginya. Dan tidak jauh dari itu, ada kabar dari Nusa Tenggara Timur tentang seorang tenaga medis muda yang wafat setelah diduga mengalami tekanan berat.
Kita tidak berdiri di sini untuk menghakimi individu, sebab proses hukum atas kasus-kasus itu sebagiannya masih berjalan dan banyak yang masih berstatus dugaan. Kita berdiri di sini untuk membaca pola — dan pola yang muncul begitu jelas: tempat yang paling kita percaya justru berulang menjadi tempat yang paling melukai. Rumah, madrasah, orang terdekat. Ketiganya adalah lingkaran amanah yang paling dalam, dan ketika lingkaran terdalam retak, seluruh bangunan kepercayaan masyarakat ikut goyah. Inilah yang harus kita rawat kembali bersama-sama.
Dan izinkanlah saya menekankan, hadirin, bahwa membaca pola bukan berarti kita mencurigai setiap rumah dan setiap lembaga. Sebagian besar keluarga dan lembaga pendidikan agama di negeri ini adalah tempat yang tulus menjaga dan mendidik. Tetapi justru karena kita mencintai kebaikan itulah kita tidak boleh menutup mata dari celah yang ada. Sebuah lembaga yang baik tidak takut pada pengawasan; ia menyambutnya sebagai jaminan bahwa kebaikannya terjaga. Maka membangun sistem penjagaan yang berlapis bukanlah bentuk kecurigaan kepada yang baik, melainkan bentuk perlindungan bagi yang lemah sekaligus penjagaan nama baik bagi yang tulus.
Dan bersamaan dengan kabar-kabar berat itu, ada pula benang keprihatinan yang lebih senyap tetapi tak kalah dalam. Pekan ini banyak diperbincangkan tentang figur ayah yang absen dalam tumbuh kembang anak — hadir mencari nafkah tetapi tidak hadir dalam hati anak-anaknya. Ramai pula keprihatinan tentang generasi muda yang mengalami tekanan mental, dan tentang anak-anak yang memilih menutup diri dari orang tuanya karena komunikasi yang terputus. Ini bukan berita kriminal yang menghebohkan, tetapi ia adalah retakan halus yang, jika dibiarkan, melahirkan luka-luka besar di kemudian hari. Anak yang tidak didengar di rumah akan mencari telinga di tempat lain, dan tidak semua tempat itu aman.
Ada pula, hadirin, kabar tentang seorang tenaga medis muda di Nusa Tenggara Timur yang wafat setelah diduga mengalami tekanan berat dalam menjalankan tugasnya. Kabar ini menggetarkan hati banyak orang dan memunculkan solidaritas lintas profesi. Kita tidak dalam posisi memvonis siapa pun, sebab prosesnya masih berjalan. Tetapi pola yang kita baca darinya adalah pertanyaan besar tentang bagaimana masyarakat kita memperlakukan orang-orang yang lemah dan orang-orang yang mengabdi: apakah kita menaunginya, atau membiarkannya sendirian menghadapi tekanan yang menghimpit? Sebab menjaga, dalam Islam, tidak berhenti di pintu rumah kita sendiri; ia meluas kepada setiap jiwa yang Allah dekatkan ke lingkaran hidup kita.
Maka pertanyaan yang harus kita bawa pulang Jumat ini bukan "siapa yang salah di luar sana", tetapi "sudahkah rumahku sendiri menjadi tempat yang aman". Sudahkah anak-anak kita merasa bahwa ketika mereka menghadapi bahaya, orang pertama yang akan mereka datangi adalah kita — bukan justru orang yang mereka takuti? Sebab banyak anak yang terluka justru diam, karena mereka tidak percaya bahwa rumah akan membelanya. Tugas kita, sebagai orang tua dan sebagai komunitas beriman, adalah membangun kembali kepercayaan itu: rumah yang mendengar, bukan rumah yang menghakimi. Rumah yang, ketika seorang anak berbisik "Bunda, aku takut", menjawab dengan pelukan dan bukan dengan bentakan.
Hadirin yang dirahmati Allah, Islam tidak berhenti pada perintah menjaga; ia mengajarkan cara menjaga. Salah satu kunci penjagaan keluarga adalah menghadirkan Allah di tengahnya. Allah berfirman:
"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa." (QS. Taa-Haa: 132)
Perhatikan betapa lembut hikmah di balik ayat ini. Allah tidak berkata "perintahkan keluargamu shalat, lalu selesai." Allah berkata waṣṭabir 'alaihā — dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Sebab menanamkan kebiasaan baik di dalam keluarga bukan pekerjaan sekali jadi; ia menuntut kesabaran yang panjang, pengulangan yang tak bosan, dan keteladanan yang konsisten. Seorang ayah yang absen — yang hadir secara fisik tetapi tidak pernah benar-benar bersama anak-anaknya — tidak akan sanggup menjalankan perintah ini. Dari kabar pekan ini kita ketahui betapa banyak keprihatinan tentang figur ayah yang tidak hadir dalam tumbuh kembang anak. Ayat ini menjawabnya: kehadiran orang tua dalam ibadah keluarga adalah benteng pertama yang menjaga anak dari api dunia dan akhirat.
Dan ketika Allah menyambung ayat itu dengan jaminan rezeki — naḥnu narzuquka — Allah seolah menghapus alasan yang paling sering kita pakai: "aku sibuk mencari nafkah, tak sempat mengurus anak." Allah membalikkannya: uruslah shalat keluargamu, sebab rezeki adalah urusan-Ku. Betapa banyak orang tua yang mengorbankan kehadiran demi harta, lalu kehilangan keduanya. Betapa banyak yang mengira bahwa memberi uang saku sudah cukup menggantikan tatapan mata dan telinga yang mendengar. Islam mengajarkan sebaliknya: hadir dulu, sebab kehadiran adalah nafkah batin yang tidak bisa dibeli.
Hadirin, penjagaan keluarga juga menuntut kita mewaspadai bahaya dari arah yang paling tidak kita sangka. Allah berfirman dengan sangat mengejutkan:
"Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. At-Taghaabun: 14)
Ayat ini bukan mengajarkan kita mencurigai keluarga sendiri, hadirin. Maknanya lebih dalam: bahwa cinta kepada keluarga tidak boleh membutakan kita dari kebenaran. Kadang, karena terlalu sayang, kita menutup mata dari perilaku yang salah — membela anak yang berbuat aniaya, menutupi kekerasan yang dilakukan pasangan, atau membisu ketika seharusnya bicara. Ayat ini memperingatkan: penjagaan sejati kadang berarti berani menegur yang kita cintai. Tetapi lihatlah bagaimana Allah menutup ayat itu — dengan pintu maaf yang terbuka lebar. Islam menyeimbangkan kewaspadaan dengan kasih sayang; ia menuntut kita tegas terhadap kesalahan, tetapi lembut terhadap orang.
Inilah pelajaran besar bagi kita yang menyaksikan kabar-kabar berat pekan ini. Ketika ada korban kekerasan, tugas kita bukan menambah beban dengan hakiman dan tuduhan, melainkan menaunginya dengan perlindungan. Ketika ada pelaku, tugas kita bukan memakluminya karena ia keluarga atau tokoh yang kita hormati, melainkan menegakkan kebenaran dengan adil. Kewaspadaan dan kasih sayang harus berjalan bersama; jika salah satunya hilang, keluarga dan masyarakat kehilangan keseimbangannya.
Perhatikanlah, hadirin, betapa berbahayanya ketika kekaguman kita kepada seseorang membuat kita menutup mata. Sejarah dan kenyataan mengajarkan bahwa pelaku kejahatan terhadap yang lemah sering kali justru orang yang berada di posisi terhormat dan dipercaya, sehingga korban tidak berani bicara dan masyarakat tidak mau percaya. Di sinilah iman kita diuji: apakah kita lebih setia kepada kebenaran, atau kepada nama baik seseorang? Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa keadilan tidak boleh pandang bulu, bahkan seandainya pelakunya orang yang paling kita hormati. Menegakkan kebenaran atas orang yang kita segani jauh lebih berat daripada atas orang asing — dan justru di situlah letak kejujuran iman kita.
Dan tugas menaungi korban itu, hadirin, adalah tugas kita bersama sebagai satu tubuh. Rasulullah ﷺ mengumpamakan orang-orang beriman seperti satu tubuh: bila satu anggota mengaduh kesakitan, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur. Maka ketika ada seorang anak yang terluka, seorang perempuan yang teraniaya, atau seorang yang tertekan di lingkungan kita, itu bukan "urusan mereka" — itu demam yang seharusnya kita rasakan bersama. Sikap acuh, sikap "yang penting bukan keluarga saya", adalah tanda bahwa tubuh keimanan kita sedang mati rasa. Membangun kembali kepekaan itu — kepekaan untuk merasa sakit ketika sesama disakiti — adalah bagian dari memperbaiki iman kita sebagai umat.
Marilah kita belajar dari doa para nabi yang Allah abadikan dalam Al-Qur'an. Ketika Nabi Luth 'alaihissalam menyaksikan kerusakan besar di sekelilingnya, beliau tidak larut dalam keputusasaan; beliau berdoa dan bertindak. Allah mengabadikan seruannya:
رَبِّ نَجِّنِى وَأَهْلِى مِمَّا يَعْمَلُونَ
"(Luth berdoa): 'Ya Tuhanku selamatkanlah aku beserta keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan.'" (QS. Ash-Shu'araa: 169)
Doa ini mengajarkan sikap seorang mukmin di tengah lingkungan yang rusak: ia memohon keselamatan bagi diri dan keluarganya, sekaligus tidak berhenti berdakwah. Seorang mukmin tidak menutup diri dari masyarakat, tetapi ia juga membentengi keluarganya dengan doa dan penjagaan. Di zaman ketika kerusakan begitu mudah masuk ke rumah lewat layar di genggaman anak-anak kita, doa Nabi Luth ini menjadi doa harian yang sangat kita butuhkan: Ya Rabb, selamatkan aku dan keluargaku dari akibat perbuatan buruk yang meluas di sekeliling kami.
Hadirin yang dirahmati Allah, dan perhatikanlah bahwa Allah tidak menyia-nyiakan doa hamba yang menjaga keluarganya. Ketika Nabi Nuh 'alaihissalam menghadapi banjir besar, ketika Nabi Luth menghadapi kehancuran kaumnya, ketika Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam api, Allah menyelamatkan mereka beserta orang-orang beriman yang bersama mereka. Allah berfirman:
"Dan Kami telah menyelamatkannya dan pengikutnya dari bencana yang besar." (QS. As-Saaffaat: 76)
Ayat ini memberi kita harapan besar di tengah kabar-kabar yang berat. Bahwa upaya menjaga keluarga dan orang-orang lemah di sekeliling kita tidak pernah sia-sia di sisi Allah. Ketika seorang ayah bersusah payah hadir untuk anaknya, ketika seorang ibu bersabar mendidik, ketika seorang tetangga mengulurkan tangan kepada keluarga yang tertekan — semua itu dicatat dan dibalas dengan penyelamatan dari bencana yang besar, di dunia maupun di akhirat. Maka janganlah kita berputus asa melihat banyaknya keburukan; tugas kita bukan menyelesaikan semuanya sendirian, melainkan menjaga lingkaran terdekat yang Allah titipkan kepada kita, dan menyerahkan sisanya kepada pertolongan-Nya.
Hadirin, marilah kita belajar dari teladan Rasulullah ﷺ sendiri dalam memperlakukan keluarga dan anak-anak. Beliau, yang memikul beban dakwah seluruh umat, tidak pernah terlalu sibuk untuk yang kecil dan lemah. Diriwayatkan bahwa ketika beliau sedang sujud dalam shalat dan cucunya Hasan atau Husain naik ke punggungnya, beliau memanjangkan sujud agar sang cucu tidak terjatuh. Beliau mencium anak-anak, mengusap kepala mereka, dan menyapa mereka dengan lembut. Ketika ada seorang badui yang heran melihat beliau mencium anak, lalu berkata, "Aku punya sepuluh anak dan tidak pernah kucium satu pun," Rasulullah ﷺ menjawab bahwa siapa yang tidak menyayangi tidak akan disayangi. Inilah teladan yang harus kita hidupkan kembali: bahwa kasih sayang yang tampak, yang diucapkan, dan yang dirasakan anak, bukanlah kelemahan seorang pemimpin keluarga, melainkan inti dari kepemimpinan itu sendiri.
Dan penjagaan keluarga dalam Islam, hadirin, tidaklah dibangun di atas rasa cemas semata, melainkan di atas visi dan harapan. Dengarkanlah bagaimana Al-Qur'an mengabadikan doa hamba-hamba Allah yang saleh:
"Dan orang-orang yang berkata: 'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.'" (QS. Al-Furqaan: 74)
Perhatikan betapa tinggi cita-cita orang beriman terhadap keluarganya. Mereka tidak sekadar berdoa agar keluarganya selamat dari keburukan; mereka berdoa agar keluarganya menjadi qurrata a'yun — penyejuk mata — dan agar mereka sendiri menjadi teladan bagi orang bertakwa. Ini mengajarkan kita bahwa menjaga keluarga bukan hanya tentang mencegah bahaya, tetapi tentang membangun keindahan: rumah yang ketika kita pulang kepadanya, hati kita tenang; anak-anak yang ketika kita memandang mereka, mata kita sejuk; pasangan yang menjadi mitra dalam ketakwaan, bukan sekadar teman berbagi biaya hidup. Di tengah kabar-kabar tentang rumah tangga yang retak dan keluarga yang terluka pekan ini, doa ini mengembalikan arah kita: bahwa target kita bukan sekadar "rumah yang tidak bermasalah", melainkan "rumah yang menjadi penyejuk mata".
Hadirin yang dimuliakan Allah, mari kita rangkai kembali ketiga benang yang kita rasakan pekan ini. Pertama, tempat yang paling kita percaya berulang menjadi tempat luka — ini menuntut kita membangun penjagaan yang berlapis, bukan sekadar mengandalkan kebaikan hati satu-dua orang. Kedua, kehadiran yang hilang membuat banyak anak tumbuh dalam kesepian di tengah keramaian — ini menuntut kita hadir dengan utuh, bukan sekadar berada di ruang yang sama. Ketiga, mereka yang lemah dan mengabdi kerap dibiarkan menghadapi tekanan sendirian — ini menuntut kita menghidupkan kembali budaya menaungi sesama. Ketiganya bermuara pada satu akar: melemahnya budaya menjaga. Dan syariat kita, sejak empat belas abad silam, telah menempatkan penjagaan diri, keluarga, dan orang lemah sebagai amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Inilah yang dalam ilmu para ulama disebut sebagai bagian dari hifz an-nasl — menjaga keturunan — dan hifz an-nafs — menjaga jiwa. Keduanya adalah maqashid, tujuan-tujuan tertinggi yang karenanya syariat ini diturunkan. Menjaga seorang anak dari bahaya, menaungi seorang perempuan yang terluka, mendampingi seorang yang tertekan hingga ia selamat — semua itu, dalam timbangan Allah, adalah pekerjaan yang mulia dan berpahala besar. Ini bukan urusan sampingan yang bisa kita tunda; ini adalah fardh kifayah, kewajiban bersama yang jika terbengkalai menjadi dosa yang kita tanggung bersama pula. Maka jangan sampai kita menjadi umat yang khusyuk dalam ibadah ritual tetapi lalai menjaga jiwa dan kehormatan orang-orang lemah di sekeliling kita.
Hadirin yang dimuliakan Allah, dari mimbar ini saya mengajak kita semua untuk mewujudkan penjagaan itu dalam langkah-langkah nyata pekan ini.
Pertama, hidupkan kembali shalat berjamaah di rumah, walau hanya sekali sehari. Pilih satu waktu yang paling mungkin — barangkali Maghrib, ketika sebagian besar anggota keluarga telah pulang. Jadikan ia titik pertemuan keluarga yang tak tergantikan layar, dan sesudahnya sisihkan beberapa menit untuk saling menatap dan berbagi kabar hari itu. Ritme kecil yang konsisten ini menanamkan pada anak bahwa Allah hadir di tengah rumah, dan bahwa keluarganya adalah tempat ia kembali.
Kedua, luangkan waktu khusus untuk benar-benar mendengar anak-anak kita, tanpa menghakimi dan tanpa memotong. Berilah mereka ruang untuk bercerita sampai selesai, sebab banyak anak berhenti bicara bukan karena tidak punya cerita, melainkan karena merasa tidak akan didengar. Rumah yang mendengar adalah rumah yang menjadi tempat pertama anak datang ketika ia dalam bahaya.
Ketiga, bangun kesepakatan bersama di lingkungan kita — di majelis taklim, di pengajian anak-anak, di masjid — tentang perlindungan anak: batas yang jelas tentang siapa yang boleh sendirian bersama anak, cara melaporkan hal yang mencurigakan, dan cara mendampingi korban tanpa mempermalukannya. Penjagaan yang berlapis dan disepakati bersama jauh lebih kuat daripada mengandalkan kewaspadaan satu-dua orang saja.
Keempat, jadilah tetangga yang hadir bagi keluarga yang tertekan di sekitar kita. Tengoklah yang mungkin sedang berat, tawarkan bantuan yang nyata, dan jangan biarkan ada yang menanggung beban sendirian. Sebab menaungi yang lemah adalah bagian dari amanah yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Semoga Allah menjadikan rumah-rumah kita sakinah, menjaga anak-anak kita dari segala keburukan, dan menjadikan kita penjaga amanah yang tidak mengkhianati kepercayaan yang dititipkan-Nya.
Hadirin yang dimuliakan Allah, pada khutbah kedua ini izinkan saya mempertajam satu hal yang mudah luput dari kita. Kita sering mengira bahwa menjaga keluarga adalah tugas menahan bahaya dari luar — mengunci pintu, mengawasi pergaulan, membatasi gawai. Semua itu penting. Tetapi penjagaan yang paling menentukan justru terjadi di dalam: pada suasana hati yang kita bawa pulang, pada cara kita berbicara kepada pasangan, pada kesabaran kita mengulang nasihat kepada anak. Rumah yang dijaga dari luar tetapi keras di dalam bukanlah rumah yang aman.
Kita juga perlu jujur bahwa kehadiran tidak sama dengan keberadaan. Banyak orang tua berada di rumah tetapi tidak benar-benar hadir — matanya di layar, pikirannya di pekerjaan, telinganya tertutup. Anak yang tumbuh di samping orang tua yang sibuk merasa sama sepinya dengan anak yang ditinggal pergi. Maka perintah "perintahkanlah keluargamu shalat dan bersabarlah" itu sesungguhnya adalah perintah untuk hadir dengan utuh, bukan sekadar berada di ruang yang sama.
Dan mari kita renungkan pula tentang keheningan anak-anak yang terluka. Salah satu pelajaran paling menyakitkan dari kabar-kabar pekan ini adalah bahwa banyak korban memilih diam dalam waktu yang lama. Mengapa? Kadang karena mereka takut tidak dipercaya. Kadang karena pelakunya adalah orang yang dihormati, sehingga mereka mengira tidak ada yang akan membela. Kadang karena mereka pernah mencoba bicara dan justru dimarahi. Keheningan itu bukanlah tanda bahwa tidak ada masalah; ia justru tanda bahwa sistem penjagaan kita telah gagal menyediakan tempat yang aman untuk bersuara. Maka tugas kita bukan hanya melarang keburukan, tetapi membangun ruang tempat suara yang lemah didengar dan dipercaya. Sebuah masyarakat yang membuat korban takut bersuara sedang, tanpa sadar, melindungi pelaku.
Kita perlu pula mewaspadai sikap yang paling berbahaya: sikap menganggap bahwa selama keluarga kita sendiri baik-baik saja, maka semua beres. Islam tidak mengajarkan keegoisan seperti itu. Rasulullah ﷺ memperingatkan bahwa jika kemungkaran dibiarkan merajalela sementara orang-orang baik hanya diam, azab bisa menimpa semua — yang berbuat maupun yang membiarkan. Menjaga keluarga sendiri adalah wajib, tetapi ia tidak boleh berujung pada ketidakpedulian terhadap keluarga lain di sekitar kita. Justru rumah kita yang aman seharusnya menjadi sumber kekuatan untuk menaungi rumah tetangga yang sedang goyah.
Dan terakhir, marilah kita perluas makna keluarga. Keluarga kita bukan hanya yang sedarah; ia mencakup tetangga yang lemah, anak yatim di lingkungan kita, orang tua yang tinggal sendiri, dan mereka yang mengabdi dalam sunyi. Menaungi mereka adalah bagian dari menjaga "ahli" kita dalam makna yang lebih luas. Ketika kita mendengar kabar tentang orang-orang yang tertekan dan terluka pekan ini, jawaban terbaik kita bukanlah amarah di media sosial, melainkan uluran tangan yang nyata di lingkungan terdekat.
Marilah kita tundukkan hati, memohon kepada Allah dengan doa: