Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumSosial & KeluargaJumat, 3 Juli 2026

Kultum — "Hadir Sebelum Terlambat Mendengar"

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, ada begitu banyak kabar tentang anak-anak dan keluarga yang membuat kita menghela napas panjang. Malam ini saya tidak ingin menambah daftar keprihatinan itu. Saya ingin mengajak kita berhenti sejenak pada satu kata yang sederhana tapi sering kita lupakan: mendengar.

Coba kita renungkan satu pertanyaan jujur. Kapan terakhir kali kita benar-benar mendengarkan anak kita — bukan sambil memegang ponsel, bukan sambil memikirkan pekerjaan, tetapi benar-benar menatap matanya dan mendengar sampai selesai? Pekan ini ramai dibicarakan tentang generasi muda yang memilih menutup diri, tentang komunikasi yang terputus antara orang tua dan anak, tentang anak-anak yang menyimpan luka sendirian karena merasa tidak ada yang akan mendengarnya. Dan saya rasa, kita semua pernah menjadi bagian dari masalah itu tanpa sadar.

Allah memberi kita sebuah petunjuk indah tentang cara menjaga keluarga:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًۭا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَٱلْعَٰقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa." (QS. Taa-Haa: 132)

Jamaah, ada satu kata di ayat ini yang saya rasa berbicara langsung kepada kita: waṣṭabir — bersabarlah. Allah tahu bahwa mengurus keluarga itu melelahkan. Menanamkan kebaikan pada anak bukan seperti menekan tombol; ia seperti menanam pohon yang harus disiram setiap hari, kadang bertahun-tahun, sebelum berbuah. Dan kesabaran itu bukan hanya soal mengulang perintah shalat, tetapi soal terus hadir walau anak tampak menolak, terus mendengar walau anak tampak menutup diri.

Malam ini kita dengar dari kabar publik betapa banyak keluarga yang retak karena kehadiran yang hilang. Ada keprihatinan besar tentang figur ayah yang tidak hadir dalam pengasuhan. Ada kabar tentang anak-anak muda yang mengalami tekanan mental karena merasa sendirian. Dan yang paling menyayat, ada kisah-kisah di mana anak menjadi korban justru dari orang-orang terdekat yang seharusnya melindunginya — karena tidak ada yang mendengar ketika mereka mencoba bicara, atau karena mereka sudah terlanjur tidak percaya bahwa ada yang mau mendengar.

Di sinilah kita perlu belajar dari cara Nabi ﷺ memperlakukan anak-anak. Beliau tidak pernah terlalu sibuk untuk mereka. Ketika beliau sujud dan cucunya naik ke punggungnya, beliau memanjangkan sujud agar sang cucu tidak jatuh. Ketika seorang anak kecil kehilangan burung peliharaannya, beliau menyempatkan diri menghibur. Beliau menyapa anak-anak, mengusap kepala mereka, mengingat nama mereka. Bagi Rasulullah ﷺ, mendengar dan hadir untuk yang kecil dan lemah bukanlah gangguan dari urusan besar — itu adalah urusan besar itu sendiri.

Coba kita bandingkan dengan diri kita, jamaah. Kita ini, kalau ada tamu penting datang, seluruh perhatian kita curahkan; HP kita simpan, kita tatap matanya, kita dengar semua ceritanya. Tapi anak sendiri yang tiap hari ada, sering kita layani dengan sisa perhatian — "iya, iya, sebentar", sambil mata tetap di layar. Padahal anak kita jauh lebih penting daripada tamu mana pun. Kalau Nabi ﷺ yang memikul urusan seluruh umat saja masih sempat memanjangkan sujud demi cucunya, apa alasan kita yang urusannya jauh lebih kecil untuk mengabaikan anak sendiri?

Dan pikirkanlah, jamaah, mengapa kabar-kabar berat pekan ini begitu menyayat. Bukankah karena hampir semuanya berpangkal pada satu hal yang sama: seseorang yang lemah tidak menemukan tempat yang aman untuk berlindung dan didengar? Seorang anak yang terluka di tempat yang seharusnya melindunginya. Seorang muda yang menanggung tekanan tanpa ada yang mendengarnya. Seorang yang mengabdi lalu dibiarkan sendirian menghadapi himpitan. Jika ditarik ke belakang, akarnya selalu sama — ketiadaan tempat yang mendengar dan menaungi. Maka ketika kita membangun rumah yang mendengar, sesungguhnya kita sedang ikut menutup salah satu celah yang selama ini melukai banyak orang.

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan kita bahwa penjagaan keluarga dimulai bahkan sebelum seorang anak lahir. Dalam sebuah riwayat, beliau menuntun agar setiap pasangan memohon perlindungan Allah untuk keturunan yang akan Allah anugerahkan — sebagaimana disebut dalam Bulugh al-Maram 1187, doa "Bismillāh, Allāhumma jannibnasy-syaithāna wa jannibisy-syaithāna mā razaqtanā." Doa ini mengajarkan satu prinsip: anak adalah amanah yang penjagaannya dimulai dengan menyandarkan diri kepada Allah, bukan dengan mengandalkan kekuatan kita sendiri. Betapa banyak orang tua yang merasa telah memberi anaknya segalanya — sekolah terbaik, gawai termahal, uang saku berlimpah — tetapi lupa memberinya yang paling dibutuhkan: kehadiran yang dinaungi doa dan kasih.

Jamaah, saya ingin kita berhenti sejenak pada kata "mendengar" itu, karena kita sering salah paham tentangnya. Mendengar bukan berarti menyetujui semua yang dikatakan anak. Mendengar bukan berarti membiarkan ia berbuat sesukanya. Mendengar berarti memberinya ruang untuk berbicara sampai selesai sebelum kita menilai. Kita, orang tua, sering kali terlalu cepat memotong. Anak baru berkata dua kalimat, kita sudah menyimpulkan, sudah menasihati, sudah memarahi. Padahal dua kalimat pertama itu mungkin hanya "pemanasan"; hal yang sebenarnya ingin ia sampaikan justru ada di kalimat kelima yang tidak pernah sempat ia ucapkan karena kita sudah menutup pintu percakapan. Coba kita ukur diri sendiri malam ini: berapa kali dalam sehari kita benar-benar mendengar anak sampai ia selesai bicara?

Dan ada satu hal lagi yang membuat anak berhenti bercerita, yaitu ketika ia merasa ceritanya akan dipakai untuk menyalahkannya. Kalau setiap kali anak jujur ia justru dimarahi, ia akan belajar satu pelajaran: lebih aman berbohong atau diam. Inilah yang membuat banyak anak menyimpan bahaya sendirian. Mereka tahu ada yang salah, tetapi mereka lebih takut pada reaksi orang tua daripada pada bahaya itu sendiri. Maka salah satu tugas terbesar kita sebagai orang tua adalah memisahkan antara menegur perbuatan dan mempermalukan orang. Kita boleh, bahkan harus, meluruskan yang salah — tetapi dengan cara yang membuat anak tetap merasa dicintai, bukan dengan cara yang membuatnya merasa menjadi aib.

Saudara-saudara sekalian, marilah kita juga jujur bahwa membangun rumah yang mendengar itu berat karena kita sendiri sering lelah, sering kehabisan kesabaran, sering membawa pulang beban pekerjaan ke meja makan. Tidak ada orang tua yang sempurna, dan Islam tidak menuntut kesempurnaan. Yang Allah minta adalah waṣṭabir — kesabaran untuk terus mencoba, terus memperbaiki, terus kembali setelah gagal. Seorang ibu yang tadi pagi membentak anaknya lalu meminta maaf dan memeluknya di malam hari, itu jauh lebih mulia daripada orang tua yang tidak pernah salah karena tidak pernah benar-benar hadir. Kesabaran dalam mendidik bukanlah tentang tidak pernah marah, melainkan tentang selalu kembali dengan kasih setelah marah reda.

Jamaah yang saya hormati, mari kita jujur pada diri sendiri malam ini. Kita hidup di zaman ketika perhatian kita direbut dari segala arah. Notifikasi berdenting, pekerjaan mengikuti kita sampai ke kamar tidur, dan tanpa sadar kita memberi anak-anak kita sisa-sisa dari perhatian kita, bukan yang terbaik. Kita membalas pesan grup lebih cepat daripada kita membalas tatapan anak yang ingin bercerita. Dan ketika suatu hari anak itu berhenti bercerita, kita bingung mengapa ia menjadi asing di rumah sendiri.

Mendengar adalah bentuk cinta yang paling murah biayanya tetapi paling mahal nilainya. Ia tidak menuntut uang, tidak menuntut waktu berjam-jam, hanya menuntut kehadiran yang tulus selama beberapa menit yang tak terganggu. Seorang anak yang tahu bahwa ia akan didengar tanpa dihakimi akan datang kepada orang tuanya ketika ia dalam bahaya. Sebaliknya, anak yang selalu dipotong, diremehkan, atau dimarahi ketika bercerita, akan belajar untuk diam — dan diamnya itulah yang membuatnya rentan.

Jamaah, saya ingin kita merenungkan sesuatu tentang diri kita sendiri. Kita semua pernah menjadi anak. Coba ingat-ingat: siapa orang yang paling kita rindukan dari masa kecil kita? Sering kali bukan orang yang paling banyak memberi kita hadiah, melainkan orang yang paling mau mendengarkan kita — seorang nenek yang selalu punya waktu, seorang guru yang menganggap serius pertanyaan kita, seorang paman yang tidak pernah menertawakan cerita kita. Kehadiran yang mendengar itu meninggalkan jejak seumur hidup. Dan pertanyaannya sekarang: akankah anak-anak kita, tiga puluh tahun dari sekarang, mengenang kita sebagai orang yang mendengarkan mereka — atau sebagai orang yang selalu sibuk, selalu buru-buru, selalu di balik layar? Jawaban atas pertanyaan itu sedang kita tulis hari ini, satu percakapan pada satu waktu.

Maka apa yang bisa kita lakukan setelah pulang dari sini malam ini? Saya usulkan tiga hal yang sederhana. Pertama, malam ini juga, sebelum tidur, sisihkan waktu tanpa layar untuk satu anggota keluarga — tanyakan kabarnya dengan sungguh-sungguh dan dengarkan sampai selesai tanpa menyela. Kedua, mulai besok, jadikan satu waktu shalat sebagai waktu berjamaah keluarga, sekecil apa pun; biarkan ia menjadi ritme yang mengikat. Ketiga, tanamkan di hati anak kita satu keyakinan lewat kata dan sikap: "apa pun yang terjadi padamu, datanglah kepada kami dulu, kami akan membelamu." Kalimat sederhana ini bisa menjadi penyelamat.

Dan izinkan saya menambahkan satu ajakan lagi, yang jangkauannya melampaui rumah kita sendiri. Menjaga bukan hanya urusan keluarga inti; ia juga urusan tetangga. Di sekitar kita mungkin ada keluarga yang sedang tertekan, seorang ibu yang menghadapi kesulitan sendirian, seorang anak yatim yang butuh perhatian, atau seorang yang mengabdi dalam sunyi tanpa ada yang menaunginya. Islam mengajarkan bahwa tetangga punya hak atas kita — sedemikian besarnya sehingga Nabi ﷺ sampai mengira Jibril akan menetapkan tetangga sebagai ahli waris. Maka pekan ini, cobalah tengok satu keluarga di lingkungan kita yang mungkin sedang berat, tawarkan bantuan yang nyata, bukan sekadar simpati di media sosial. Sebab menaungi yang lemah adalah bentuk lain dari menjaga keluarga — keluarga besar kita sebagai sesama manusia beriman.

Jamaah yang saya hormati, kadang kita mengira bahwa perubahan besar menuntut langkah besar. Padahal dalam urusan keluarga, justru sebaliknya. Yang menyelamatkan sebuah rumah sering kali adalah hal-hal kecil yang dilakukan konsisten: satu pelukan setiap pagi, satu percakapan tulus setiap malam, satu shalat berjamaah setiap hari, satu kalimat "Ayah bangga sama kamu" yang diucapkan tepat waktu. Hal-hal kecil ini tampak sepele, tetapi merekalah yang membangun rasa aman di hati anak — rasa aman yang kelak menjadi benteng ketika ia menghadapi dunia yang keras. Jangan remehkan yang kecil, sebab dari yang kecil itulah rumah yang menyejukkan dibangun, batu demi batu.

Jamaah yang saya hormati, keluarga yang aman bukanlah keluarga yang sempurna tanpa masalah. Ia adalah keluarga di mana setiap anggotanya tahu bahwa ia didengar, dijaga, dan tidak akan ditinggalkan sendirian. Rumah seperti itu tidak dibangun dengan uang, tetapi dengan kehadiran yang sabar dan telinga yang mau mendengar. Marilah kita mulai membangunnya kembali, satu percakapan pada satu waktu, sebelum terlambat.

Mari kita tutup dengan doa.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ بُيُوْتَنَا سَكَنًا وَأَمَانًا، وَأَصْلِحْ ذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ.

اَللّٰهُمَّ افْتَحْ قُلُوْبَ أَبْنَائِنَا لَنَا، وَقُلُوْبَنَا لَهُمْ، وَلَا تَجْعَلْ بَيْنَنَا حِجَابًا مِنْ غَفْلَةٍ أَوْ قَسْوَةٍ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan