اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْإِنْسَانَ وَعَلَّمَهُ الْبَيَانَ، وَجَعَلَ الصِّدْقَ نَجَاةً وَالْكَذِبَ هَلَاكًا، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُحْصَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الصَّادِقُ الْأَمِينُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah. Marilah kita membuka khutbah ini dengan sebuah ayat yang, meski turun berabad-abad lalu, seolah ditulis untuk pekan yang baru saja kita lewati.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوْلًۭا سَدِيدًۭا
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar." (QS. Al-Ahzaab: 70)
Hadirin yang dimuliakan Allah, ayat ini menautkan dua hal yang jarang kita satukan dalam pikiran: takwa dan perkataan. Seolah Allah hendak berkata bahwa iman yang lurus akan tampak paling jelas bukan di tempat sujud saja, melainkan juga di ujung lidah dan — di zaman kita — di ujung jempol yang mengetik. Perkataan yang benar, qaulan sadidan, adalah perkataan yang tepat sasaran, jujur, tidak dilebih-lebihkan, tidak dipelintir, tidak direkayasa untuk menipu. Dan tidak ada masa dalam sejarah manusia di mana perkataan begitu mudah diproduksi, digandakan, dan dipalsukan seperti hari ini.
Mari kita jujur pada diri sendiri tentang apa yang kita hadapi. Dari berita yang sampai kepada kita pekan ini, ada peringatan agar umat tidak langsung mempercayai konten dakwah yang dibuat oleh kecerdasan buatan — konten yang bisa meniru suara, gaya bicara, bahkan wajah seorang penceramah, padahal ucapan itu tak pernah keluar dari mulut siapa pun. Bayangkan, hadirin, sebuah ayat atau hadits dibacakan oleh "seseorang" yang tidak pernah ada, dengan sanad yang tidak pernah tersambung. Dahulu kita mewaspadai kabar dari mulut ke mulut; sekarang kita harus mewaspadai kabar dari mesin ke layar.
Di ranah yang lebih kasar, ramai diperbincangkan pekan ini maraknya penipuan lewat rekaman wajah palsu di dunia aset digital — wajah dan suara seseorang dicuri, lalu dijahit ulang untuk menipu orang lain agar menyerahkan hartanya. Publik juga dikejutkan oleh perbincangan tentang peretasan besar-besaran yang menyeret teknologi sebagai alat kejahatan. Semua ini bertemu pada satu titik: kita memasuki zaman di mana melihat bukan lagi berarti percaya, dan mendengar bukan lagi berarti membenarkan.
Maka pertanyaan khutbah kita pekan ini sederhana namun mendasar: bagaimana seorang mukmin menjaga kebenaran ketika alat untuk memalsu kebenaran sudah berada di genggaman setiap orang? Jawabannya, hadirin, sudah lama Allah dan Rasul-Nya ajarkan, jauh sebelum ada layar dan mesin.
Yang pertama, Islam menjadikan kejujuran sebagai jalan, bukan sekadar sifat. Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits yang masyhur:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا
"Hendaklah kalian berpegang teguh pada kebenaran, karena kebenaran menuntun kepada amal saleh, dan amal saleh menuntun ke Surga. Dan seseorang yang senantiasa berkata benar dan menjadikan kebenaran sebagai tujuannya, ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur." (Bulugh al-Maram 1717)
Perhatikan, hadirin, ungkapan "menjadikan kebenaran sebagai tujuannya" — yataharral-shidq. Kejujuran di sini bukan kebetulan, melainkan pilihan yang diulang-ulang sampai menjadi karakter. Di zaman digital, ini berarti sebuah komitmen baru: kita tidak menyebarkan sesuatu yang belum kita pastikan benar, sekalipun ia sesuai dengan pandangan kita, sekalipun ia menguntungkan pihak yang kita bela. Menahan diri dari menyebar kabar yang belum jelas adalah bentuk shidq yang paling dibutuhkan hari ini. Sebab satu kali kita menekan tombol bagikan pada kabar bohong, kita ikut menuntun banyak orang menjauh dari kebenaran.
Yang kedua, Islam mengajarkan sikap yang tepat ketika kabar meragukan sampai kepada kita. Allah berfirman menegur mereka yang ikut menyebarkan berita dusta pada peristiwa besar di masa Nabi:
وَلَوْلَآ إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُم مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبْحَٰنَكَ هَٰذَا بُهْتَٰنٌ عَظِيمٌۭ
"Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: 'Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.'" (QS. An-Noor: 16)
Hadirin, ayat ini adalah pelajaran tabayyun yang paling tajam dalam Al-Qur'an. Allah tidak menegur mereka karena membuat kabar bohong itu — yang ditegur adalah mereka yang hanya ikut memperkatakannya. Turut menyebarkan tanpa memverifikasi, dalam timbangan Allah, sudah cukup untuk dicela. Renungkanlah betapa relevannya ini. Setiap kali sebuah pesan berantai sampai ke grup keluarga kita, setiap kali sebuah video yang menghebohkan muncul di beranda, di situ ayat ini berbicara: mengapa kita tidak berhenti sejenak dan berkata, "tunggu dulu, dari mana ini, benarkah ini?" Sikap diam yang memeriksa jauh lebih mulia daripada sikap cepat yang menyebarkan.
Yang ketiga, dan ini yang paling berat, Islam melarang keras mencampuradukkan yang benar dengan yang batil. Allah Ta'ala memerintahkan dalam Al-Qur'an:
وَلَا تَلْبِسُوا۟ ٱلْحَقَّ بِٱلْبَٰطِلِ وَتَكْتُمُوا۟ ٱلْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
"Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui." (QS. Al-Baqara: 42)
Inilah, hadirin, dosa khas zaman kita. Teknologi hari ini paling lihai justru dalam mencampur — mengambil sedikit kebenaran, membungkusnya dengan kebohongan, lalu menyajikannya sedemikian rupa sehingga tak bisa dibedakan. Sebuah konten bisa memuat ayat yang benar tetapi ditempelkan pada kesimpulan yang menyesatkan. Sebuah wajah yang asli bisa ditempeli ucapan yang tak pernah ia katakan. Rekayasa modern adalah seni mencampur haqq dengan batil dalam kadar yang membuat orang lengah. Maka tugas kita bukan hanya menolak yang jelas-jelas batil, melainkan berhati-hati terhadap yang tampak benar tetapi dicampuri.
Hadirin yang dimuliakan Allah, izinkan saya menautkan ini dengan sebuah hadits yang membuat bulu kuduk berdiri, tentang bagaimana amanah bisa hilang dari hati manusia. Rasulullah ﷺ menceritakan:
أَنَّ الْأَمَانَةَ نَزَلَتْ فِي جَذْرِ قُلُوبِ الرِّجَالِ، ثُمَّ عَلِمُوا مِنَ الْقُرْآنِ، ثُمَّ عَلِمُوا مِنَ السُّنَّةِ
"Sesungguhnya amanah itu turun ke dalam akar hati manusia, lalu mereka mempelajarinya dari Al-Qur'an, kemudian mempelajarinya dari Sunnah." (Sahih al-Bukhari 6497)
Beliau ﷺ lalu mengabarkan bahwa amanah itu bisa terangkat dari hati, sedikit demi sedikit, sampai tersisa hanya bekasnya saja — orang masih tampak amanah dari luar, tetapi hatinya sudah kosong dari sifat itu. Betapa mengerikan gambaran ini bila kita bawa ke dunia digital: sebuah akun bisa tampak saleh, sebuah kanal bisa tampak berilmu, sebuah pesan bisa tampak jujur — semua di permukaan — sementara di baliknya tidak ada amanah sama sekali, hanya bekasnya, hanya rupanya. Zaman ini adalah zaman ujian membedakan yang berjiwa amanah dari yang sekadar berbekas amanah.
Kisah para sahabat memberi kita teladan. Ketika berita bohong menimpa keluarga Nabi ﷺ, Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu 'anhu ditanya istrinya tentang kabar yang beredar. Ia menjawab dengan sikap seorang mukmin sejati: "Demi Allah, seandainya aku berada di posisi itu, aku tidak akan mengatakannya, dan istriku lebih baik dari mereka." Ia menolak menyebarkan, ia mengembalikan urusan pada prasangka baik dan pada pemeriksaan. Sahabat tidak punya mesin verifikasi; yang mereka punya adalah hati yang terlatih untuk berhenti sebelum ikut bicara. Hati semacam itulah yang perlu kita hidupkan kembali.
Maka, hadirin yang dirahmati Allah, dari mimbar ini saya ajak kita semua kepada beberapa langkah nyata untuk pekan ini dan seterusnya. Pertama, jadikan tabayyun sebagai kebiasaan: sebelum membagikan apa pun yang mengandung dakwah, kabar, atau tuduhan, berhentilah dan tanyakan sumbernya, kejelasannya, dan kegunaannya. Kedua, khususkan kehati-hatian pada konten keagamaan: sebuah ayat, hadits, atau fatwa yang kita terima lewat layar wajib kita telusuri nama kitab dan nomornya, sebab urusan agama tidak boleh bersandar pada rupa yang meyakinkan. Ketiga, latih diri dan keluarga untuk tidak langsung percaya pada rekaman — video dan suara bukan lagi bukti mutlak; kabar penting perlu ditegakkan di atas sumber yang bisa dipertanggungjawabkan. Keempat, jaga lisan digital kita: apa yang kita ketik, komentari, dan sebarkan adalah bagian dari perkataan yang akan dihisab. Kelima, tanamkan pada anak-anak kita bahwa alat yang cerdas bukan pengganti akal yang jujur; ajari mereka berpikir sebelum bertanya pada mesin, dan memverifikasi sebelum meyakini.
Hadirin, teknologi bukanlah musuh. Ia adalah amanah dan ujian sekaligus. Ia bisa menjadi ladang kebaikan yang luas — menyampaikan ilmu, menyambung silaturahmi, membuka rezeki — dan bisa pula menjadi ladang fitnah yang dalam. Yang menentukan bukan alatnya, melainkan hati dan lisan yang memakainya. Selama kita memegang teguh qaulan sadidan, selama kita menjaga amanah dan shidq, alat secanggih apa pun tidak akan menyeret kita ke dalam kebatilan. Dan menjaga ruang bersama ini tetap jujur bukanlah beban satu-dua orang, melainkan amanah kita bersama sebagai khalifah di bumi — yang akan ditanyakan pertanggungjawabannya kelak.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.
Jamaah yang dimuliakan Allah, izinkan pada khutbah kedua ini kita menggali lebih dalam satu sisi yang belum tuntas. Kita sering mengira bahwa bahaya terbesar teknologi adalah kabar bohong yang datang dari luar. Padahal, ujian yang lebih halus justru datang dari dalam diri kita sendiri — dari kesenangan kita menyebar sesuatu sebelum memastikan, dari keinginan kita agar tampak lebih tahu, lebih dulu, lebih pintar. Rekayasa di luar hanya berhasil karena ada kelemahan di dalam.
Perhatikanlah bahwa Allah, dalam ayat An-Noor tadi, tidak menegur alat, tidak menegur si pembuat kabar saja, melainkan menegur hati yang gampang memperkatakan. Maka perbaikan harus dimulai dari sana. Menahan jempol sebelum menyebar adalah bentuk jihad kecil melawan diri sendiri di zaman ini. Ia tidak tampak heroik, tetapi ia menyelamatkan banyak orang dari fitnah yang tidak mereka duga.
Sisi berikutnya adalah tentang akal. Sebagian kabar pekan ini menyoroti bagaimana ketergantungan pada alat cerdas dapat menumpulkan nalar, bahkan memunculkan pengakuan kecanduan pada sebagian pengguna muda. Ini bukan urusan sepele. Akal adalah salah satu dari lima hal pokok yang syariat perintahkan untuk dijaga. Ketika alat yang seharusnya menemani berpikir malah menggantikan berpikir, kita kehilangan sesuatu yang tidak bisa dibeli kembali. Menjaga akal berarti tetap melatihnya — membaca, merenung, menimbang — meski mesin menawarkan jalan pintas.
Sisi ketiga adalah tanggung jawab kolektif. Menjaga ruang digital tetap jujur dan sehat bukan tugas satu orang, melainkan fardh kifayah atas kita bersama sebagai khalifah di bumi ini. Bila cukup banyak dari kita yang menegakkan tabayyun, mengajarkan literasi kepada tetangga, dan menolak menjadi penyambung dusta, kewajiban itu tertunaikan. Bila semua lengah, kita menanggung dosanya bersama. Inilah yang akan ditanyakan kelak: di zaman ketika kebenaran begitu mudah dipalsu, di pihak mana kita berdiri?
Terakhir, jamaah, mari kita ingat bahwa di balik semua kecanggihan, kendali sejati tetap di tangan Allah. Alat bisa memalsu wajah, tetapi tidak bisa memalsu niat di hadapan-Nya. Alat bisa menipu manusia, tetapi tidak bisa menipu Yang Maha Mengetahui. Maka sandaran terakhir kita bukan pada kecanggihan verifikasi, melainkan pada takwa yang membuat kita takut berdusta bahkan ketika tidak ada yang melihat.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ، وَمِنْ كَذِبٍ يُزَيَّنُ حَتَّى يُشْبِهَ الْحَقَّ، وَمِنْ صُورَةٍ تُصْنَعُ لِتَخْدَعَ عِبَادَكَ، اَللَّهُمَّ ثَبِّتْ أَلْسِنَتَنَا عَلَى الصِّدْقِ، وَقُلُوبَنَا عَلَى الْأَمَانَةِ، وَأَبْصَارَنَا عَلَى الْحَقِّ.
اَللَّهُمَّ احْفَظْ شَبَابَنَا مِنْ فِتْنَةِ الشَّاشَاتِ، وَرُدَّ إِلَيْهِمْ عُقُولَهُمْ سَلِيمَةً، وَاجْعَلِ الْآلَاتِ فِي أَيْدِيهِمْ عَوْنًا عَلَى طَاعَتِكَ لَا سَبِيلًا إِلَى مَعْصِيَتِكَ.
اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِينَ الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوصًا إِخْوَانَنَا فِي أَرْضِ فِلَسْطِينَ، اَللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلِيًّا وَنَصِيرًا.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ. اَللَّهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدِينَا، وَارْحَمْ مَنْ رَبَّيَانَا صِغَارًا.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
