Di zaman ketika wajah bisa dibuat mirip dan suara bisa ditiru, ada satu kisah lama yang tiba-tiba terasa dekat — kisah tentang penipu terbesar yang pernah dijanjikan akan datang. Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam «Al-Bidayah wan-Nihayah» — bagian tentang Dajjal menghimpun riwayat-riwayat tentangnya. Salah satu yang paling menggetarkan diriwayatkan dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu 'anhu.
Suatu hari Rasulullah ﷺ berkhutbah panjang di hadapan para sahabat. Udara Madinah siang itu terasa berat. Para sahabat duduk rapat, menunggu. Sebagian besar isi khutbah bukan tentang perang, bukan tentang harta. Beliau berbicara tentang satu ancaman: Dajjal. Beliau memperingatkan, dan terus memperingatkan.
"Tidak ada fitnah di muka bumi, sejak Allah menciptakan keturunan Adam, yang lebih besar daripada fitnah Dajjal," sabda beliau. Suasana majelis hening. Tidak ada yang berbisik. Setiap nabi, kata beliau, telah memperingatkan umatnya tentang si mata satu ini — dari Nuh sampai Isa, semuanya. Tetapi khutbah ini terasa berbeda, lebih mendesak, seolah ancaman itu tidak lagi jauh.
"Aku adalah penutup para nabi, dan kalian adalah umat terakhir. Ia pasti keluar di tengah kalian," lanjut beliau.
Para sahabat mendengar dengan dada berdebar. Rasulullah ﷺ lalu menyebut ciri yang tak pernah disebut nabi mana pun sebelumnya. Dajjal, kata beliau, akan mulai dengan mengaku, "Aku seorang nabi." Lalu ia akan naik satu tingkat lebih tinggi dan berkata:
أَنَا رَبُّكُمْ
"Akulah Tuhan kalian."
Tetapi Rasulullah ﷺ memberi umatnya kunci untuk membongkarnya. "Kalian tidak akan melihat Tuhan kalian sampai kalian mati," beliau mengingatkan. Dan yang paling penting:
وَإِنَّهُ أَعْوَرُ، وَإِنَّ رَبَّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ بِأَعْوَرَ
"Sesungguhnya ia bermata satu, sedangkan Tuhan kalian — Yang Maha Mulia lagi Maha Agung — tidaklah bermata satu."
Di sinilah letak pelajaran yang menakjubkan. Dajjal, penipu terbesar, ternyata punya cacat yang tidak bisa ia sembunyikan. Ia bisa menampakkan surga dan neraka, bisa menampilkan mukjizat palsu, bisa membuat orang mengira api itu air dan air itu api. Tapi ada satu tanda yang tetap terbaca oleh setiap mukmin: di antara kedua matanya tertulis satu kata.
مَكْتُوبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ كَافِرٌ
Di antara kedua matanya tertulis: kafir. Dan Rasulullah ﷺ berkata, tulisan itu akan terbaca oleh setiap mukmin, baik yang pandai membaca maupun yang tidak. Bukan mata jasmani yang membacanya, melainkan mata hati yang diterangi iman.
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa yang menjaga seseorang dari fitnah Dajjal adalah berlindung kepada Allah dari fitnahnya, dan memegang teguh apa yang telah dikabarkan. Yang selamat bukan yang paling tajam matanya, melainkan yang paling terjaga hatinya. Seorang mukmin yang sejak awal menanamkan di dalam dirinya bahwa Tuhan tidak mungkin cacat, tidak mungkin dilihat di dunia, tidak mungkin berupa manusia — orang seperti ini tidak akan tertipu betapapun meyakinkannya pertunjukan itu.
Pelajaran
Kisah Dajjal mengajarkan satu hal yang sangat cocok dengan zaman kita: penipuan yang paling berbahaya justru yang paling sempurna rupanya. Dajjal tidak datang dengan wajah buruk yang mudah dikenali; ia datang dengan pertunjukan yang megah, dengan "bukti" yang tampak nyata di mata. Yang menyelamatkan para mukmin bukan kemampuan mereka memeriksa keajaiban itu satu per satu, melainkan pengetahuan dasar yang sudah tertanam lebih dulu di hati — bahwa Tuhan tidak bermata satu, bahwa tanda "kafir" itu ada. Mereka punya timbangan kebenaran sebelum fitnah datang. Di dunia yang penuh wajah dan suara buatan hari ini, pelajaran itu berlaku persis: yang menjaga kita bukan kemampuan membedakan setiap rekaman palsu, melainkan hati yang lebih dulu berpegang pada kebenaran yang kokoh, sehingga betapapun meyakinkan sebuah tipuan, ia tetap terbaca sebagai tipuan.
Sumber Asli
«Al-Bidayah wan-Nihayah» — حديث عن أبي أمامة الباهلي صدي بن عجلان في معنى حديث النواس بن سمعان
قَالَ ابْنُ مَاجَهْ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ… عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ، قَالَ: خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ أَكْثَرُ خُطْبَتِهِ حَدِيثًا حَدَّثَنَاهُ عَنِ الدَّجَّالِ، وَحَذَّرَنَاهُ، فَكَانَ مِنْ قَوْلِهِ أَنْ قَالَ: «إِنَّهُ لَمْ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ مُنْذُ ذَرَأَ اللَّهُ ذُرِّيَّةَ آدَمَ أَعْظَمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ، وَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْ نَبِيًّا إِلَّا حَذَّرَ مِنَ الدَّجَّالِ، وَأَنَا آخِرُ الْأَنْبِيَاءِ، وَأَنْتُمْ آخِرُ الْأُمَمِ، وَهُوَ خَارِجٌ فِيكُمْ لَا مَحَالَةَ… إِنَّهُ يَبْدَأُ فَيَقُولُ: أَنَا نَبِيٌّ. وَلَا نَبِيَّ بَعْدِي، ثُمَّ يُثَنِّي فَيَقُولُ: أَنَا رَبُّكُمْ. وَلَا تَرَوْنَ رَبَّكُمْ حَتَّى تَمُوتُوا، وَإِنَّهُ أَعْوَرُ، وَإِنَّ رَبَّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ بِأَعْوَرَ»
«Al-Bidayah wan-Nihayah» — صفة الدجال
قَدْ تَقَدَّمَ فِي الْأَحَادِيثِ أَنَّهُ أَعْوَرُ… وَإِنَّ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مَكْتُوبٌ كَافِرٌ، يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ.
«Al-Bidayah wan-Nihayah» — ذكر ما يعصم من الدجال
فَمِنْ ذَلِكَ الِاسْتِعَاذَةُ مِنْ فِتْنَتِهِ، فَقَدْ ثَبَتَ فِي الْأَحَادِيثِ الصِّحَاحِ.
