بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ الْمُعَلِّمُ الْأَوَّلُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, ada satu kabar yang sederhana tapi menusuk: kita diingatkan agar jangan langsung percaya pada konten dakwah yang ternyata dibuat oleh mesin. Ada wajah yang tampak seperti seorang penceramah, ada suara yang terdengar seperti ustadz yang kita kenal, tetapi ternyata semuanya rekayasa. Malam ini saya ingin membagikan satu pesan saja, dan saya minta kita renungkan bersama — bukan tentang mesinnya, tapi tentang jempol kita. Sebab yang paling berbahaya dari zaman ini bukanlah bahwa mesin bisa berbohong; yang paling berbahaya adalah bahwa kita terlalu cepat ikut menyebarkannya.
Mari kita mulai dari pertanyaan jujur. Siapa di antara kita yang pekan ini pernah membagikan sesuatu — pesan, gambar, video, kutipan agama — tanpa benar-benar memeriksa dari mana asalnya? Jangan cepat menjawab tidak. Sebab kita hidup di zaman di mana membagikan lebih cepat daripada berpikir. Jari kita sudah menekan tombol bagikan sebelum kepala kita sempat bertanya, "sebentar, ini benar tidak?" Dan justru di situlah ujiannya. Allah berfirman menegur satu kaum yang ikut-ikutan menyebarkan kabar bohong:
وَلَوْلَآ إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُم مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبْحَٰنَكَ هَٰذَا بُهْتَٰنٌ عَظِيمٌۭ
"Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: 'Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau, ini adalah dusta yang besar.'" (QS. An-Noor: 16)
Perhatikan, saudara-saudara: yang ditegur bukan yang membuat kabar bohong, melainkan yang ikut memperkatakannya. Seolah Allah berkata, "Mengapa kalian tidak berhenti? Mengapa kalian tidak berkata 'ini tidak pantas kita sebarkan'?" Ayat ini turun untuk mereka yang punya lidah; hari ini ia berbicara pula untuk kita yang punya jempol. Ayat ini adalah bagian dari kisah besar di masa Nabi ﷺ, ketika berita bohong menimpa keluarga beliau dan sebagian orang beriman ikut memperkatakannya tanpa memastikan. Allah tidak hanya menegur si perancang fitnah; Allah menoleh kepada orang-orang baik yang mestinya berhenti, tetapi tidak berhenti. Betapa dekatnya teguran itu dengan kita.
Coba kita bayangkan sejenak. Andai satu berita bohong itu berhenti di satu orang saja — tidak diteruskan ke grup, tidak dibagikan ke beranda — ia mati di situ, tidak melukai siapa-siapa. Tetapi karena satu jari menekan forward, ia berpindah ke sepuluh orang; sepuluh orang itu memindahkannya ke seratus; dan dalam semalam ia sudah menjadi keyakinan orang banyak. Kita sering merasa peran kita kecil — "kan saya cuma satu orang, cuma satu klik." Padahal dalam jaringan, satu klik adalah satu sambungan; dan setiap sambungan menentukan apakah dusta itu mati atau justru menyala lebih besar. Islam menaruh tanggung jawab justru pada titik sambungan itu.
Di zaman Nabi ﷺ, kabar berjalan dari mulut ke mulut, pelan, dan orang punya waktu untuk menahan diri. Hari ini, kabar berjalan dari layar ke layar dalam hitungan detik, dan yang menahan diri justru terasa aneh, ketinggalan, tidak update. Padahal justru menahan diri itulah ibadah yang paling dibutuhkan sekarang. Pekan ini kita dengar tentang wajah palsu yang dibuat untuk menipu orang di dunia keuangan digital, kita dengar tentang hoaks yang berseliweran, kita dengar tentang konten agama yang dijahit oleh mesin. Semua ini hanya bisa menyebar karena ada tangan-tangan yang mau meneruskannya. Dan sebagian dari tangan itu, jujur saja, adalah tangan kita sendiri, tangan orang-orang baik yang niatnya ingin berbagi kebaikan.
Inilah yang membuat saya merenung: fitnah zaman ini tidak selalu masuk lewat pintu kemaksiatan. Ia sering masuk lewat pintu kebaikan. Kita membagikan sebuah kutipan agama karena ingin dapat pahala, tanpa sadar kutipan itu palsu. Kita meneruskan sebuah kabar karena ingin memperingatkan saudara, tanpa sadar kabar itu dusta. Niat kita baik, tapi kita menjadi mata rantai kebatilan. Di sinilah letak bahayanya — karena kita merasa sedang berbuat baik, kita tidak pernah berhenti untuk memeriksa.
Rasulullah ﷺ mengajarkan kita jalan keluarnya dengan sangat gamblang. Beliau bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
"Hendaklah kalian berpegang teguh pada kebenaran, karena kebenaran menuntun kepada kebajikan, dan kebajikan menuntun ke Surga." (Sahih Muslim 2607c)
Saudara-saudara, kejujuran di sini bukan hanya "tidak berbohong dengan lidah". Termasuk di dalamnya adalah tidak menjadi penyambung dusta orang lain. Kalau kita meneruskan kabar bohong, secara teknis mungkin bukan kita yang mengarangnya — tapi di hadapan Allah, kita ikut menuntun orang menjauh dari kebenaran. Dan Nabi ﷺ mengaitkan kejujuran dengan surga bukan tanpa sebab: masyarakat yang jujur adalah masyarakat yang bisa saling percaya, dan masyarakat yang saling percaya adalah cikal-bakal surga kecil di dunia sebelum surga yang sesungguhnya. Sebaliknya, masyarakat yang setiap kabarnya harus dicurigai, yang setiap wajah di layarnya mungkin palsu, yang setiap suara mungkin tiruan — itu adalah masyarakat yang lelah, penuh curiga, kehilangan ketenangan. Kejujuran, kalau kita rawat bersama, adalah sedekah sosial yang menenangkan seluruh kampung.
Perhatikan pula betapa halus bahasa hadits ini: "dan seseorang yang senantiasa berkata benar dan menjadikan kebenaran sebagai tujuannya." Nabi ﷺ tidak berkata "sekali jujur", melainkan senantiasa dan menjadikan tujuan. Artinya kejujuran itu dibangun dari pengulangan kecil setiap hari — termasuk kejujuran kecil bernama "saya tahan dulu berita ini sampai saya pastikan." Sekali kita menahan, dua kali kita menahan, lama-lama itu menjadi tabiat. Dan di ujungnya, kata Nabi ﷺ, orang itu dicatat di sisi Allah sebagai shiddiq, gelar yang sama yang disandang Abu Bakar. Bayangkan, jamaah: kebiasaan sederhana menahan jempol, kalau diniatkan karena Allah, bisa mengantar kita ke barisan orang-orang yang jujur di sisi-Nya.
Sekarang mari kita gali lebih dalam. Kenapa manusia begitu cepat membagikan? Karena ada rasa ingin diakui — ingin jadi yang pertama tahu, ingin dianggap peduli, ingin terlihat berilmu. Ada juga rasa takut ketinggalan, takut dianggap tidak update. Semua ini adalah gejolak jiwa yang manusiawi, tapi kalau tidak dijaga, ia menjadikan kita alat penyebar yang malas berpikir. Teknologi tidak menciptakan penyakit ini; ia hanya memperbesar dan mempercepatnya. Dahulu, ingin dianggap paling tahu hanya menghasilkan gosip di warung; sekarang, dorongan yang sama menghasilkan hoaks yang tersebar ke ribuan orang dalam sekejap. Maka penyembuhnya pun bukan pada teknologi, melainkan pada latihan jiwa: kembalikan kendali pada akal dan hati sebelum jempol bergerak.
Para sahabat telah memberi kita teladan yang indah dalam hal ini. Ketika berita bohong itu beredar di Madinah dan sebagian orang mulai ikut memperkatakannya, ada di antara sahabat yang menolak larut. Salah seorang di antara mereka, ketika ditanya istrinya tentang kabar yang sedang ramai, menjawab dengan tenang bahwa seandainya ia berada di posisi itu, ia sendiri tidak akan mengatakannya — maka bagaimana mungkin ia memperkatakan tentang orang yang jauh lebih mulia? Perhatikan, jamaah: ia mengembalikan urusan pada prasangka baik dan pada nalar yang sehat, bukan pada arus omongan orang banyak. Mereka tidak punya aplikasi pengecek fakta, tidak punya tombol laporkan, tidak punya teknologi apa pun. Yang mereka punya hanyalah hati yang terlatih untuk berhenti sebelum ikut bicara. Dan hati semacam itulah yang justru paling langka — sekaligus paling kita butuhkan — di zaman kita hari ini.
Dan izinkan saya menyentuh satu sisi yang jarang kita sadari: bahaya terbesar teknologi hari ini bukan pada kabar yang jelas-jelas kotor, melainkan pada kabar yang tampak suci. Sebuah pesan yang dibuka dengan salam, dihiasi ayat, ditutup dengan ajakan berdoa — kita cenderung langsung percaya, karena bungkusnya agama. Padahal justru di situ celahnya. Orang yang hendak menyesatkan tahu bahwa umat ini mudah luluh oleh yang berbau agama, maka mereka membungkus kebohongan dengan pakaian kesalehan. Inilah sebabnya, untuk urusan agama, kita malah harus lebih hati-hati, bukan lebih longgar. Sebuah ayat yang benar bisa ditempelkan pada kesimpulan yang salah; sebuah wajah alim bisa dijahitkan pada ucapan yang tak pernah ia katakan. Menahan diri di hadapan konten yang tampak religius adalah bentuk penghormatan kita kepada agama itu sendiri — kita tidak mau menjadi corong yang menodai nama Allah dan Rasul-Nya dengan kabar palsu.
Lalu apa yang bisa kita lakukan begitu pulang dari sini malam ini? Saya tawarkan tiga hal yang ringan tapi nyata. Pertama, buat satu aturan pribadi: sebelum membagikan apa pun yang bersifat kabar atau agama, tanyakan tiga hal — dari mana asalnya, benarkah, dan bergunakah? Kalau salah satu tidak terjawab, tahan. Aturan tiga pertanyaan ini ringan, tapi kalau dipegang teguh, ia menutup pintu bagi sebagian besar dusta yang lewat di tangan kita. Kedua, khusus untuk konten agama, biasakan mencari nama kitab dan nomornya; kalau tidak ada sumber jelas, jangan sebarkan meski isinya terdengar indah — sebab keindahan kata-kata bukan jaminan kebenaran sumbernya. Ketiga, jadilah orang yang berani berkata di grup, dengan santun, "sebentar, ini sudah dipastikan belum?" — satu kalimat itu bisa menyelamatkan puluhan orang dari ikut menyebar dusta, dan sering kali orang lain diam-diam berterima kasih karena ada yang berani menahan arus.
Ada satu hal lagi yang perlu kita renungkan sebelum menutup: apa yang kita bagikan sesungguhnya adalah cermin dari apa yang kita cintai. Orang yang hatinya rindu keributan akan cepat menyebar berita yang mengaduk emosi. Orang yang hatinya tenang akan lebih memilih diam dan memeriksa. Maka menahan jempol bukan sekadar disiplin teknis; ia adalah buah dari hati yang sudah ditata. Nabi ﷺ mengajarkan kita bahwa lisan — dan hari ini kita tambahkan: jari — adalah anggota tubuh yang paling banyak menjerumuskan manusia. Betapa banyak orang yang shalatnya rajin, puasanya kuat, tetapi terpeleset justru lewat kabar yang ia sebarkan tanpa periksa. Kita tidak ingin amal-amal baik kita bocor lewat celah kecil bernama forward yang ceroboh. Maka mari kita jadikan setiap pesan yang masuk sebagai kesempatan berlatih: berhenti, periksa, baru putuskan. Latihan kecil ini, kalau istiqomah, akan menata hati kita jauh melampaui urusan layar.
Jamaah yang saya hormati, kita menutup dengan satu kesadaran: di zaman di mana mesin bisa membuat apa saja tampak nyata, satu-satunya yang tidak bisa dipalsu adalah niat kita di hadapan Allah. Mesin bisa meniru wajah, tetapi tidak bisa meniru keikhlasan; ia bisa menggandakan suara, tetapi tidak bisa menggandakan ketakwaan. Maka jagalah jempol seperti kita menjaga lidah, karena keduanya sama-sama akan dihisab. Berhenti sejenak sebelum membagikan bukanlah kelemahan; ia adalah tanda iman yang matang.
اَللَّهُمَّ ثَبِّتْ أَلْسِنَتَنَا وَأَنَامِلَنَا عَلَى الصِّدْقِ، وَاحْفَظْنَا مِنْ أَنْ نَكُونَ سَبَبًا لِنَشْرِ الْكَذِبِ، وَنَوِّرْ قُلُوبَنَا بِنُورِ الْحَقِّ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْمَعُ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُ أَحْسَنَهُ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.
