Pekan ini banyak orang sibuk menimbang orang lain dengan tergesa di layar, seolah keadilan bisa diringkas dalam satu tangkapan layar. Padahal ada satu timbangan yang jauh lebih teliti dan tak bisa disuap. Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wan-Nihayah — bab bayan kaunil mizan lahu kiffatan hissiyatan musyahadatan menghimpun sebuah kabar tentang timbangan itu, dan tentang seorang lelaki yang berdiri di hadapannya, sendirian, di antara seluruh makhluk.
Hari itu Hari Kiamat. Matahari didekatkan. Padang mahsyar penuh sesak. Keringat membanjir, kaki-kaki berdiri lama, dan tak ada suara kecuali gemuruh nafas yang tertahan. Semua wajah menunduk. Setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri, menunggu giliran dipanggil.
Lalu Allah memilih satu orang dari umat Nabi Muhammad ﷺ. Bukan orang besar. Bukan pula orang yang namanya dikenal di dunia. Hanya seorang hamba biasa, dipanggil ke depan, dipisahkan dari kerumunan, berdiri sendirian di hadapan seluruh makhluk yang menyaksikan. Semua mata kini tertuju padanya.
Di hadapan lelaki itu dibentangkan gulungan-gulungan catatan. Satu per satu digelar, dibuka, dijulurkan. Bukan satu. Bukan sepuluh. Sembilan puluh sembilan gulungan. Setiap gulungan panjangnya sejauh mata memandang. Ujungnya hilang di kejauhan, larut di garis cakrawala. Di setiap lembar tertulis rapi apa yang pernah ia lakukan — yang ia ingat maupun yang telah lama ia lupakan.
فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مَدُّ الْبَصَرِ
"Maka dibentangkan atasnya sembilan puluh sembilan gulungan (catatan), setiap gulungan sejauh pandangan mata."
Lelaki itu gemetar. Bagaimana tidak? Seluruh hidupnya terpampang, setiap kesalahan tercatat rapi, tak ada satu pun yang terlewat. Ia menunduk. Ia tahu tidak ada gunanya menyangkal di tempat di mana kulit dan lidah pun bersaksi. Lalu terdengar pertanyaan, lembut namun menggetarkan.
"Apakah engkau mengingkari sesuatu dari catatan ini?" tanya Rabb-nya. "Apakah para malaikat pencatat-Ku menzalimimu?"
Lelaki itu tak bisa berdusta. Di sana tidak ada tempat untuk berkelit. "Tidak, wahai Rabb," jawabnya lirih.
"Apakah engkau punya alasan? Atau punya satu kebaikan?" tanya-Nya lagi.
Lelaki itu tertunduk. Ia merasa habis. Sembilan puluh sembilan gulungan dosa, dan ia tak ingat punya apa-apa untuk membelanya. "Tidak, wahai Rabb," katanya, hampir putus asa.
Tetapi jawaban dari Yang Maha Adil datang membalik segalanya.
بَلَى، إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً وَاحِدَةً، لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ
"Justru ada. Sesungguhnya engkau punya satu kebaikan di sisi Kami. Tidak ada kezaliman atasmu hari ini."
Lelaki itu terpana. Di tengah lautan dosa yang baru saja ia akui, ternyata masih tersimpan satu kebaikan yang tak ia sangka. Lalu dikeluarkanlah sehelai kartu kecil. Bithaqah — sekeping kartu yang tampak begitu ringan di antara gulungan-gulungan raksasa itu. Di atasnya tertulis satu kalimat:
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
"Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah."
Lelaki itu memandang kartu kecil di satu tangan, dan sembilan puluh sembilan gulungan raksasa di sisi lain. Apalah arti secarik kartu melawan gunung catatan? Tetapi ini bukan timbangan manusia. Kartu itu diletakkan di satu daun timbangan, gulungan-gulungan itu di daun yang lain.
Sejenak seluruh mata menahan nafas. Bagaimana mungkin selembar kartu tipis menandingi sembilan puluh sembilan gulungan yang panjangnya sejauh mata memandang? Namun timbangan Allah bukan timbangan pasar. Dan kartu itu turun. Gulungan-gulungan raksasa itu justru terangkat, seolah kehilangan bobotnya. Seringan-ringannya lembar kartu, seberat-beratnya kalimat tauhid yang jujur dari hati. Tidak ada satu pun nama Allah yang bisa dikalahkan oleh timbunan dosa, selama kalimat itu diucapkan dengan benar dan dibenarkan hati.
Pelajaran
Kisah ini menaruh satu ibrah di dada kita: timbangan Allah tidak seperti timbangan lini masa. Manusia menakar dengan tergesa, menumpuk kesalahan orang lain sampai sejauh mata memandang, lalu menghakimi tanpa menimbang satu pun kebaikan. Allah, Yang Maha Adil, justru menegaskan "lā zhulma 'alaikal-yaum" — tidak ada kezaliman atasmu hari ini — dan Dia tetap menghitung satu kebaikan terkecil dengan teliti. Bila timbangan Sang Pencipta saja seteliti dan seadil ini kepada seorang hamba yang bergelimang dosa, betapa malunya kita yang tergesa memvonis sesama hanya dari sepotong kabar. Pekan ini, ketika jempol kita gatal menakar keburukan orang, ingatlah kartu kecil itu: yang tahu isi hati dan berat timbangan hanyalah Allah, bukan kita.
Sumber Asli
Al-Bidayah wan-Nihayah — بيان كون الميزان له كفتان حسيتان مشاهدتان
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَسْتَخْلِصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مَدُّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَقُولُ لَهُ: أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ قَالَ: لَا يَا رَبِّ. فَيَقُولُ: أَلَكَ عُذْرٌ، أَوْ حَسَنَةٌ؟ فَيُبْهَتُ الرَّجُلُ، فَيَقُولُ: لَا يَا رَبِّ. فَيَقُولُ: بَلَى، إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً وَاحِدَةً، لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ. فَتَخْرُجُ لَهُ بِطَاقَةٌ، فِيهَا: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ»
Al-Bidayah wan-Nihayah — ذكر الميزان
قَالَ تَعَالَى: {وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا} [الأنبياء: 47] . وَقَالَ تَعَالَى: {فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ}
