اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْإِيْمَانَ نُوْرًا فِيْ الْقُلُوْبِ، وَجَعَلَ الْعَمَلَ الصَّالِحَ بُرْهَانًا عَلَى صِدْقِ الْإِيْمَانِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, marilah kita membuka khutbah ini dengan satu ayat yang ringkas tetapi menembus jauh ke dalam dada. Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
ٱلَّذِى يُؤْتِى مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَىٰٓ إِلَّا ٱبْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِ ٱلْأَعْلَىٰ
"Yang menafkahkan hartanya untuk membersihkan (dirinya), padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi." (QS. Al-Lail: 18-20)
Hadirin yang dimuliakan Allah, perhatikanlah bagaimana ayat ini memisahkan dua hal yang sering kita campuradukkan: perbuatan lahir dan niat batin. Ada orang yang memberi, tetapi memberinya untuk membalas budi, atau untuk dilihat, atau untuk membeli nama baik. Dan ada orang yang memberi semata-mata karena mencari wajah Tuhannya. Dari luar, keduanya tampak sama — tangan yang sama, jumlah yang mungkin sama. Tetapi di sisi Allah, jarak antara keduanya sejauh langit dan bumi. Inilah pintu masuk khutbah kita pekan ini: bahwa iman kita tidak diukur dari apa yang tampak di layar, melainkan dari apa yang bergerak di dalam hati saat tidak ada seorang pun yang menonton.
Kabar yang sampai kepada kita pekan ini seolah dirancang untuk menguji telinga kita pada pelajaran ini. Ramai diperbincangkan sebuah klaim bahwa seorang wakil rakyat disebut tidak pernah mengambil gajinya sama sekali selama menjabat. Entah seberapa persis kebenarannya, tetapi perhatikanlah kenapa pesan itu menyebar begitu cepat: karena hati publik sedang haus pada gambaran orang yang menahan diri dari harta yang sebenarnya boleh ia ambil. Di saat yang sama, beredar pula sindiran tentang anak seorang pejabat yang memamerkan kegemaran berjudi secara terang-terangan. Dua kabar ini, hadirin, berdiri berhadap-hadapan seperti dua cermin: yang satu memantulkan kerinduan kita pada integritas, yang lain memantulkan kekhawatiran kita pada harta yang dikelola tanpa rasa takut kepada Allah.
Dan bukan hanya soal pejabat. Pekan ini juga beredar kisah lama yang dituturkan kembali — seorang anak lelaki dari sebuah desa kecil berpamitan pada ibunya untuk menempuh perjalanan jauh ke pusat ilmu, demi menuntut ilmu agama. Kisah ini disukai bukan karena baru, melainkan karena ia menyentuh sesuatu yang murni: pengorbanan yang tidak mengharap balasan dunia. Lalu ada pula kabar yang paling lembut dari semuanya — seorang muadzin yang wafat justru pada saat sedang mengumandangkan adzan. Betapa banyak orang tersentuh membacanya. Kenapa? Karena di lubuk hati, setiap kita rindu mati dalam keadaan sedang beribadah, bukan dalam keadaan sedang lalai.
Pekan ini pula sampai kepada kita kabar duka dari negeri yang jauh — lautan manusia yang berkumpul dalam kesedihan mengiringi kepergian orang-orang yang mereka hormati. Tanpa perlu masuk ke urusan politik yang bukan tempat kita membahasnya di mimbar ini, ada satu pelajaran universal yang bisa kita petik: kematian, ketika ia datang dalam jumlah besar dan menyentuh banyak orang, selalu mengembalikan manusia pada pertanyaan yang paling mendasar. Untuk apa kita hidup? Apa yang akan kita bawa? Sebab pada akhirnya, kekuasaan, kekayaan, dan kemasyhuran ditinggalkan di dunia; yang menyeberang bersama kita hanyalah amal. Kabar duka itu, hadirin, adalah pengingat yang datang dari jauh bahwa dunia ini fana dan kita semua sedang dalam perjalanan pulang.
Hadirin yang dimuliakan Allah, semua kabar ini bertemu pada satu simpul: publik kita sedang mencari kesejatian. Kesejatian dalam ibadah, kesejatian dalam integritas, kesejatian dalam akhir hidup. Dan di sinilah tugas kita sebagai umat: bukan sekadar memperbanyak ritual, tetapi memurnikan niat di balik ritual itu. Sebab betapa banyak amal yang besar di mata manusia tetapi ringan di timbangan Allah karena bocor niatnya; dan betapa banyak amal yang kecil di mata manusia tetapi berat di sisi Allah karena murni ikhlasnya.
Marilah kita renungkan sabda Rasulullah ﷺ yang mengabarkan kepada kita apa yang diridhai Allah dan apa yang dibenci-Nya. Dalam riwayat Muslim disebutkan:
إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاَثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاَثًا، فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا، وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ
"Sesungguhnya Allah meridhai tiga hal untuk kalian dan membenci tiga hal untuk kalian. Dia meridhai kalian menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan kalian berpegang teguh pada tali Allah semuanya serta tidak berpecah belah; dan Dia membenci untuk kalian: banyak bicara yang tak berguna, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta." (Sahih Muslim 1715a)
Perhatikan, hadirin, betapa hadits ini merangkai aqidah dan muamalah dalam satu tarikan napas. Allah meridhai tauhid yang murni — menyembah-Nya tanpa syirik — lalu langsung disambung dengan persoalan harta: Dia membenci idha'atal mal, menyia-nyiakan harta. Seolah Rasulullah ﷺ hendak mengajarkan kepada kita bahwa tauhid bukan urusan lidah semata; tauhid yang benar akan turun sampai ke cara kita memperlakukan uang. Orang yang benar-benar meyakini bahwa harta ini titipan Allah tidak akan berani menghamburkannya di meja judi, tidak akan berani mengambil yang bukan haknya, dan tidak akan berani membelanjakannya untuk pamer. Menyia-nyiakan harta, dalam hadits ini, sejajar beratnya dengan banyak bicara kosong dan banyak bertanya yang menyusahkan — ketiganya adalah kebocoran jiwa yang tampak sepele tetapi menggerus iman dari dalam.
Dan di sinilah, hadirin, kita perlu berhenti sejenak untuk merenungkan sebuah kata yang sering kita dengar tetapi jarang kita resapi: tazkiyatun nafs, penyucian jiwa. Para ulama menjelaskan bahwa jiwa manusia ibarat sebuah cermin. Ketika bersih, ia memantulkan cahaya kebenaran dengan jernih; ketika berdebu, pantulannya kabur dan menyimpang. Debu itu bermacam-macam: cinta dunia yang berlebihan, keinginan untuk dilihat, kedengkian pada nikmat orang lain, dan ketamakan yang tak pernah kenyang. Yang berbahaya, hadirin, debu-debu ini tidak datang sekaligus. Ia menempel sedikit demi sedikit, sehingga kita tidak menyadari cermin kita sudah keruh. Orang yang tampak rajin beribadah pun bisa memiliki cermin yang berdebu, kalau ibadahnya diam-diam ditujukan untuk pujian manusia. Inilah kenapa penyucian jiwa adalah pekerjaan seumur hidup, bukan pekerjaan sekali jadi.
Perhatikan pula, hadirin, bahwa dua kabar yang berlawanan pekan ini — orang yang menahan diri dari harta dan orang yang memamerkan harta — sesungguhnya adalah dua wajah dari satu pertanyaan yang sama: ke mana hati ini menghadap? Hati yang menghadap kepada Allah akan merasa cukup dengan sedikit dan takut mengambil yang bukan haknya. Hati yang menghadap kepada pandangan manusia akan selalu merasa kurang, dan akan mencari cara untuk dilihat lebih. Maka tugas kita sebagai umat bukanlah sekadar mengagumi yang satu dan mencela yang lain — tetapi memeriksa ke mana hati kita sendiri sedang menghadap hari ini. Sebab boleh jadi, tanpa kita sadari, kita mengagumi integritas orang lain sambil hati kita sendiri diam-diam haus akan pengakuan.
Al-Qur'an memberi kita gambaran yang lebih halus lagi tentang bagaimana amal bisa bocor bahkan setelah dikerjakan. Allah berfirman:
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَآ أَنفَقُوا۟ مَنًّۭا وَلَآ أَذًۭى ۙ لَّهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
"Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS. Al-Baqara: 262)
Perhatikan, hadirin, betapa ayat ini menuntut lebih dari sekadar memberi. Ada orang yang bersedekah dengan tangan yang murah, tetapi kemudian merusaknya dengan lidah — menyebut-nyebut pemberiannya di majelis, mengungkitnya saat kesal, atau menceritakannya berulang kali agar dikenal dermawan. Al-Qur'an menyebut ini mann dan adzā — mengungkit dan menyakiti — dan keduanya membatalkan pahala sedekah. Betapa halusnya penyakit ini, hadirin. Di zaman kita, mann punya wajah baru: unggahan yang menampilkan amal, cerita yang diulang agar dipuji, bantuan yang difoto sebelum diberikan. Ayat ini mengajari kita bahwa keikhlasan tidak berhenti saat amal selesai dikerjakan; ia harus dijaga bahkan setelahnya, dengan lisan yang menahan diri dan hati yang tidak mengungkit.
Lalu bagaimana gambaran orang yang berhasil menjaga keikhlasannya, hadirin? Al-Qur'an melukiskannya dengan indah. Allah berfirman:
وَٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ ٱبْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ سِرًّۭا وَعَلَانِيَةًۭ وَيَدْرَءُونَ بِٱلْحَسَنَةِ ٱلسَّيِّئَةَ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عُقْبَى ٱلدَّارِ
"Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan yang baik." (QS. Ar-Ra'd: 22)
Perhatikanlah rangkaian sifat yang Allah sebutkan, hadirin — dan perhatikan bagaimana semuanya diikat oleh satu frasa kunci: "karena mencari keridhaan Tuhannya." Sabar mereka bukan sabar yang mengeluh mencari simpati; ia sabar yang tenang mencari wajah Allah. Shalat mereka bukan shalat yang dipamerkan; ia shalat yang ditegakkan. Dan infaq mereka, perhatikan, "secara sembunyi atau terang-terangan" — artinya kadang mereka memberi terang-terangan untuk mengajak, kadang sembunyi untuk menjaga hati, tetapi keduanya sama-sama murni karena tolok ukurnya bukan penonton, melainkan Allah. Inilah profil orang yang beruntung: konsisten dalam ibadah yang sederhana, ikhlas dalam sepi maupun ramai, dan membalas keburukan dengan kebaikan. Bukan orang yang gemuruh sesaat lalu padam, melainkan orang yang tenang dan istiqamah. Di tengah zaman yang menghargai yang viral dan melupakan yang konsisten, ayat ini menegaskan bahwa yang dinilai Allah adalah keistiqamahan yang sunyi, bukan gebrakan yang riuh.
Maka apa yang sesungguhnya diminta dari kita? Rasulullah ﷺ juga mengajarkan tentang niat dalam menerima dan mengelola harta orang lain. Dalam riwayat Bukhari yang dihimpun dalam Bulugh al-Maram disebutkan:
مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ، وَمَنْ أَخَذَهَا يُرِيدُ إِتْلَافَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ
"Siapa saja yang menerima harta orang lain dengan niat mengembalikannya, Allah akan menolongnya untuk mengembalikannya. Dan siapa saja yang menerimanya dengan niat menyia-nyiakannya, Allah akan menghancurkannya." (Bulugh al-Maram 983)
Hadits ini, hadirin, membelah dunia amanah menjadi dua kategori berdasarkan niat. Seorang yang memegang kas rukun tetangga, dana proposal masjid, gaji yang menjadi haknya, atau amanah jabatan apa pun — semua diuji pada satu titik: apakah ia memperlakukan harta itu dengan niat menunaikan, atau dengan niat menghabiskan untuk dirinya? Klaim yang viral pekan ini tentang wakil rakyat yang menahan diri dari gajinya, betul atau tidak, menggetarkan hati kita justru karena ia adalah gambaran orang yang mengambil dengan niat menunaikan — bahkan menahan yang boleh diambil. Sebaliknya, memamerkan judi adalah gambaran paling gamblang dari mengambil dengan niat menyia-nyiakan. Allah menjanjikan pertolongan bagi yang pertama, dan kehancuran bagi yang kedua.
Dan yang perlu kita camkan, hadirin, amanah harta itu tidak selalu berupa jumlah besar. Kita cenderung membayangkan pengkhianatan amanah sebagai skandal miliaran yang muncul di berita. Padahal amanah yang paling sering diuji adalah yang kecil dan sehari-hari: uang kembalian yang kelebihan dan tidak kita kembalikan, kas RT yang kita pinjam dulu tanpa izin dengan niat "nanti diganti", fasilitas kantor yang kita pakai untuk keperluan pribadi, atau titipan tetangga yang kita gunakan sebentar. Setiap pos kecil ini adalah miniatur dari ujian yang sama. Rasulullah ﷺ tidak membedakan besar-kecilnya harta dalam hadits itu — yang beliau soroti adalah niatnya. Maka orang yang jujur dalam perkara kecil sedang melatih dirinya untuk jujur dalam perkara besar, dan orang yang meremehkan kecurangan kecil sedang membuka pintu untuk kecurangan yang lebih besar suatu hari nanti.
Kabar tentang anak desa yang berpamitan menuntut ilmu pun sebenarnya bertaut erat dengan tema amanah dan keikhlasan ini. Menuntut ilmu agama, hadirin, adalah ibadah — dan seperti ibadah lainnya, ia bisa bocor niatnya. Ada yang menuntut ilmu agar disebut ustadz, agar mendapat panggung, agar dihormati di masjid. Para ulama kita sangat keras memperingatkan hal ini. Imam asy-Syafi'i rahimahullah pernah berkata bahwa beliau berharap manusia mempelajari ilmu tanpa satu huruf pun dinisbatkan kepadanya — sebuah puncak keikhlasan yang membuat kita malu. Anak desa yang meninggalkan kenyamanan demi ilmu itu menyentuh hati kita karena ia melangkah tanpa jaminan dunia; ia berangkat semata karena mencari ridha Allah lewat ilmu. Inilah kesejatian yang sedang dirindukan zaman.
Kita bisa belajar dari sirah, hadirin. Rasulullah ﷺ dan para sahabat menjalani hidup yang sangat sederhana. Diriwayatkan bahwa keluarga beliau pernah melewati sebulan penuh tanpa menyalakan tungku api — makanan mereka hanyalah kurma dan air. Sahabat mulia seperti Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu pernah jatuh pingsan di antara mimbar Rasulullah ﷺ dan kamar Aisyah karena lapar, sampai orang-orang mengira ia gila, padahal itu semata-mata karena lapar. Namun para sahabat ini tidak pernah menyia-nyiakan harta, tidak pernah tamak pada dunia, karena mata mereka tertuju pada wajah Allah, bukan pada gemerlap dunia. Kesederhanaan mereka bukan kemiskinan yang terpaksa saja — ia adalah pilihan jiwa yang telah lepas dari cinta dunia yang berlebihan.
Dan justru itulah yang Rasulullah ﷺ khawatirkan atas kita. Dalam riwayat Muslim, saat beliau duduk di mimbar, beliau bersabda bahwa yang paling beliau takutkan menimpa umatnya sepeninggal beliau bukanlah kemiskinan, melainkan dibukakannya perhiasan dan keindahan dunia atas mereka (Sahih Muslim 1052a). Beliau tidak takut kita lapar; beliau takut kita kenyang lalu lalai. Beliau tidak takut kita miskin; beliau takut kita kaya lalu lupa. Betapa relevan peringatan ini dengan pekan kita — di mana pamer kekayaan menjadi tontonan, dan di mana ukuran kesuksesan sering kali adalah seberapa banyak yang bisa dipamerkan, bukan seberapa banyak yang bisa disembunyikan sebagai simpanan akhirat.
Ada satu peristiwa dalam sirah yang menggambarkan kekayaan sejati dengan begitu indah, hadirin. Suatu siang yang terik, Rasulullah ﷺ keluar rumah karena lapar, dan bertemu Abu Bakr serta Umar yang ternyata keluar karena hal yang sama. Mereka bertiga pergi ke rumah seorang sahabat Anshar, lalu dijamu dengan kurma segar dan air dingin di bawah naungan pohon. Setelah menikmatinya, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa naungan yang sejuk, kurma yang segar, dan air yang dingin itu termasuk kenikmatan yang akan ditanyakan kepada kita pada Hari Kiamat. Renungkanlah, hadirin — manusia paling mulia menyebut sepiring kurma dan seteguk air sebagai nikmat besar yang harus disyukuri dan akan dipertanggungjawabkan. Sementara kita, yang setiap hari makan berlebih, sering lupa bersyukur dan justru merasa kurang. Kekayaan sejati bukanlah banyaknya yang kita kumpulkan; ia adalah dalamnya rasa syukur atas yang kita miliki.
Dan mari kita kembali sejenak pada kabar yang paling lembut pekan ini, hadirin — seorang muadzin yang wafat justru saat mengumandangkan adzan. Kenapa kabar itu menyentuh begitu banyak hati? Karena di dalamnya ada gambaran husnul khatimah — akhir yang baik — yang menjadi kerinduan setiap mukmin. Tetapi perhatikanlah, hadirin, akhir yang baik itu bukan kebetulan yang jatuh dari langit. Ia adalah buah dari kebiasaan yang ditanam bertahun-tahun. Muadzin itu wafat menyeru kepada Allah karena lisannya telah terbiasa menyeru kepada Allah lima kali sehari. Seseorang biasanya diwafatkan dalam keadaan yang menjadi kebiasaan hidupnya. Maka pertanyaan yang harus kita bawa pulang bukanlah "bagaimana caranya mati dalam keadaan baik", melainkan "kebiasaan apa yang sedang aku tanam hari ini, yang akan menyambutku di ujung nafasku nanti?"
Inilah, hadirin, yang menyatukan seluruh benang khutbah kita hari ini. Ibadah yang bersih, harta yang amanah, ilmu yang ikhlas, dan akhir hidup yang baik — semuanya berakar pada satu hal: ke mana hati kita menghadap. Bila hati menghadap kepada Allah, maka ibadah menjadi murni, harta menjadi berkah, ilmu menjadi cahaya, dan hidup ditutup dengan indah. Bila hati menghadap kepada dunia dan pandangan manusia, maka semua amal yang tampak besar menjadi ringan di timbangan, karena bocor niatnya. Publik kita pekan ini sedang mencari kesejatian — dan kesejatian itu, hadirin, tidak ada di layar; ia ada di dalam hati yang telah lurus menghadap kepada Allah semata.
Hadirin yang dimuliakan Allah, marilah kita tarik pelajaran ini menjadi tindakan nyata untuk pekan ini, agar khutbah ini tidak berhenti sebagai renungan yang indah lalu menguap begitu kita keluar dari pintu masjid.
Pertama, mari kita periksa satu pos harta yang menjadi amanah kita — entah gaji, entah kas komunitas, entah titipan tetangga. Duduklah sebentar pekan ini, buka catatannya, dan tanyakan pada diri sendiri dengan jujur: apakah aku memegangnya dengan niat menunaikan, atau diam-diam dengan niat memanfaatkan? Kalau ada selisih yang belum jelas, beresi pekan ini juga, sebelum ia menjadi beban yang menumpuk. Amanah yang kecil dan bersih lebih menenangkan daripada jabatan besar yang berdebu.
Kedua, mari kita bersihkan satu amal ibadah kita pekan ini dari motif dilihat orang. Pilih satu amal — cukup satu — yang benar-benar kita rahasiakan: sedekah yang tidak difoto, sholat malam yang tidak kita ceritakan kepada siapa pun, tahajud yang kita simpan hanya antara kita dan Allah. Rasakan bagaimana amal yang tersembunyi itu terasa berbeda di dalam dada — lebih ringan, lebih lapang, karena ia tidak lagi bergantung pada tepuk tangan.
Ketiga, mari kita hidupkan kembali kesederhanaan sebagai pilihan yang sadar, bukan keterpaksaan. Pilih satu bentuk pamer yang selama ini kita lakukan tanpa sadar — di media sosial, di majelis, dalam percakapan sehari-hari — dan tinggalkan pekan ini. Boleh jadi itu kebiasaan menyebut harga barang yang kita beli, atau memperlihatkan ibadah kita, atau membandingkan pencapaian kita dengan orang lain. Menahannya satu pekan akan mengajari kita betapa banyak yang selama ini kita lakukan bukan untuk Allah, melainkan untuk mata manusia.
Keempat, mari kita ingat mati dengan cara yang menghidupkan, bukan menakutkan. Perbanyak dzikir pagi dan petang pekan ini, luangkan waktu sejenak setiap hari untuk mengingat bahwa hidup ini singkat. Sebab orang yang sering mengingat maut akan berhati-hati dengan hartanya, ikhlas dengan amalnya, dan lembut kepada sesamanya. Ingat mati bukan untuk membuat kita murung, melainkan untuk membuat setiap hari kita lebih bermakna dan setiap amal kita lebih bersih.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلهِ عَلٰى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلٰى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلٰى رِضْوَانِهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَعْوَانِهِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.
Hadirin yang dimuliakan Allah, izinkan kita menggali lebih dalam apa yang telah kita bicarakan di khutbah pertama. Kerinduan publik pada ibadah yang otentik — yang kita saksikan pekan ini — adalah nikmat sekaligus amanah. Nikmat, karena hati manusia belum mati; amanah, karena kerinduan itu bisa disalurkan ke sumber yang jernih atau ke sumber yang keruh. Tugas kita adalah menjadi sumber yang jernih.
Kita perlu menyadari bahwa musuh terbesar ibadah bukanlah kemalasan semata, melainkan riya' — beribadah agar dilihat. Di zaman yang setiap amal bisa direkam dan dibagikan, godaan ini jauh lebih besar daripada zaman kakek-nenek kita. Maka ayat pembuka tadi — "semata-mata karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi" — bukan hanya pujian bagi orang saleh, melainkan standar yang harus kita perjuangkan setiap hari.
Dan kesederhanaan Rasulullah ﷺ mengajarkan kita bahwa kekayaan sejati bukan pada apa yang kita kumpulkan, melainkan pada apa yang kita rasa cukup. Orang yang hatinya kaya tidak perlu memamerkan, tidak perlu menyia-nyiakan, tidak perlu mengambil yang bukan haknya. Ia tenang, karena ia tahu rezekinya sudah dijamin, dan yang sedang ia kejar bukanlah dunia melainkan wajah Allah.
Akhirnya, hadirin, marilah kita jadikan pekan ini pekan pembersihan niat. Satu amal yang kita rahasiakan, satu harta yang kita jaga amanahnya, satu kesederhanaan yang kita pilih dengan sengaja — itulah cara kita menjawab kerinduan zaman pada kesejatian.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَالْهَرَمِ وَالْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ.
اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الْفَسَادِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ، وَارْزُقْنَا حُسْنَ الْخَاتِمَةِ عِنْدَ لِقَائِكَ.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ مَوْتَاهُمْ، وَاشْفِ مَرْضَاهُمْ، وَآمِنْ خَائِفَهُمْ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَارْزُقْهُمُ الْأَمَانَةَ فِيْ حِفْظِ أَمْوَالِ الْأُمَّةِ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْ مَنْ رَبَّيَانَا صِغَارًا، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يُنْفِقُ مَالَهُ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ الْأَعْلٰى لَا رِيَاءَ وَلَا سُمْعَةً.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
