Di tengah pekan yang penuh kabar tentang orang yang memamerkan kekayaan dan yang menahan diri dari harta, ada satu potret tua tentang bagaimana manusia paling mulia justru hidup dalam kesederhanaan yang lapang. Imam at-Tirmidzi rahimahullah dalam Asy-Syama'il al-Muhammadiyyah — Bab 50: Tentang Cara Hidup Rasulullah ﷺ menghimpun sebuah kisah tentang siang yang panas, rasa lapar, dan sebuah kebun kurma di Madinah.
Siang itu terik. Matahari Madinah membakar jalan-jalan berpasir. Ini bukan jam untuk keluar rumah. Tapi Rasulullah ﷺ keluar — pada saat yang biasanya tak seorang pun keluar dan tak seorang pun menemuinya.
Tak lama, datang Abu Bakr. "Apa yang membuatmu keluar, wahai Abu Bakr?" tanya Nabi ﷺ. "Aku keluar untuk menemui Rasulullah, memandang wajah beliau, dan mengucapkan salam," jawab Abu Bakr.
Belum lama berselang, Umar pun datang. "Apa yang membuatmu keluar, wahai Umar?" "Rasa lapar, wahai Rasulullah," jawab Umar terus terang.
Rasulullah ﷺ tersenyum. "Aku pun merasakan sebagian dari itu," sabda beliau. Ternyata mereka semua keluar didorong oleh hal yang sama — lapar yang tak tertahankan. Maka mereka pun berangkat bersama menuju rumah Abu Haitsam bin at-Tayyihan al-Anshari, seorang lelaki yang memiliki banyak pohon kurma dan kambing.
Sampai di sana, tuan rumah tak ditemukan. "Ke mana suamimu?" tanya mereka pada istri Abu Haitsam. "Ia pergi mengambilkan air tawar untuk kami," jawab sang istri. Tak lama, Abu Haitsam datang memikul geriba berisi air, lalu meletakkannya. Ia bergegas memeluk Nabi ﷺ, menebus beliau dengan ayah dan ibunya sebagai ungkapan cinta.
Ia lalu membawa mereka ke kebunnya, membentangkan tikar. Kemudian ia pergi ke pohon kurma dan kembali membawa setandan kurma, meletakkannya di hadapan tamunya. "Mengapa tidak kaupilihkan yang matang saja untuk kami?" tanya Nabi ﷺ. "Wahai Rasulullah, aku ingin engkau sendiri yang memilih di antara yang matang dan yang setengah matang," jawab Abu Haitsam. Maka mereka pun makan kurma itu dan minum air tawar yang sejuk.
Rasulullah ﷺ bersabda, dan kata-kata beliau terasa dalam:
هَذَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مِنَ النَّعِيمِ الَّذِي تُسْأَلُونَ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، ظِلٌّ بَارِدٌ، وَرُطَبٌ طَيِّبٌ، وَمَاءٌ بَارِدٌ
"Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, inilah sebagian dari kenikmatan yang akan kalian tanya pada Hari Kiamat: naungan yang sejuk, kurma yang segar, dan air yang dingin."
Lalu Abu Haitsam beranjak hendak menyembelihkan hewan untuk mereka. "Jangan sembelih yang sedang menyusui," pesan Nabi ﷺ, menjaga agar sumber susu tetap ada. Maka Abu Haitsam menyembelih seekor kambing muda, dan mereka pun makan bersama.
Setelah itu Nabi ﷺ bertanya, "Apakah engkau punya pembantu?" "Tidak," jawab Abu Haitsam. "Kalau begitu, bila datang tawanan kepada kami, temuilah kami," sabda beliau. Kemudian ketika Nabi ﷺ mendapatkan dua orang tawanan, Abu Haitsam datang. "Pilihlah salah satu dari keduanya," kata Nabi ﷺ. "Wahai Rasulullah, pilihkanlah untukku," jawab Abu Haitsam. Maka Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ الْمُسْتَشَارَ مُؤْتَمَنٌ، خُذْ هَذَا، فَإِنِّي رَأَيْتُهُ يُصَلِّي، وَاسْتَوْصِ بِهِ مَعْرُوفًا
"Sesungguhnya orang yang dimintai nasihat itu adalah pemegang amanah. Ambillah yang ini, karena aku melihatnya menegakkan shalat, dan perlakukanlah ia dengan baik."
Abu Haitsam pulang dan mengabarkan sabda itu kepada istrinya. Sang istri berkata, "Engkau tidak akan menunaikan hak sabda Nabi ﷺ tentang orang ini kecuali dengan memerdekakannya." "Kalau begitu, ia merdeka," jawab Abu Haitsam. Mendengar itu, Nabi ﷺ pun bersabda tentang tanda kebaikan yang hidup dalam rumah tangga — bahwa Allah tidak mengutus seorang nabi atau khalifah kecuali baginya ada dua pendamping: pendamping yang menyuruh kebaikan dan mencegah kemungkaran, dan pendamping yang tak henti merusak; maka barangsiapa dijaga dari pendamping yang buruk, sungguh ia telah terjaga.
Pelajaran
Kisah ini memotret kekayaan sejati dalam satu adegan sederhana: naungan sejuk, kurma segar, air dingin — dan Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai kenikmatan yang akan ditanya pada Hari Kiamat. Betapa kita sering melupakan nikmat-nikmat kecil ini, sibuk mengejar yang besar dan gemerlap, lalu merasa hidup kita kurang. Padahal manusia paling mulia merasa cukup — bahkan bersyukur mendalam — dengan sepiring kurma dan seteguk air di bawah naungan pohon. Di pekan ketika layar-layar kita penuh pamer harta dan gaya hidup, kisah ini menegur dengan lembut: yang membuat hati tenang bukan banyaknya yang dikumpulkan, melainkan dalamnya rasa syukur atas yang ada. Dan perhatikan Abu Haitsam — yang lapang menjamu meski sederhana, yang taat pada pesan Nabi ﷺ untuk berbuat baik pada tawanannya sampai memerdekakannya. Kekayaan hatinya jauh melampaui isi kebunnya.
Sumber Asli
Asy-Syama'il al-Muhammadiyyah — 50- باب ما جاء في عيش رسول الله صلى الله عليه وسلم
حدثنا محمد بن إسماعيل، حدثنا آدم بن أبي إياس، حدثنا شيبان، حدثنا عبد الملك بن عمير عن ابن عبد الرحمن عن أبي هريرة قال: خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم في ساعة لا يخرج فيها ولا يلقاه فيها أحد، فأتاه أبو بكر فقال: ما جاء بك يا أبا بكر؟ قال: خرجت ألقى رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنظر في وجهه والتسليم عليه، فلم يلبث أن جاء عمر، فقال: ما جاء بك يا عمر؟ قال: الجوع يا رسول الله. قال صلى الله عليه وسلم: وأنا قد وجدت بعض ذلك.
فانطلقوا إلى منزل أبي الهيثم بن التيهان الأنصاري، وكان رجلا كثير النخيل والشاء ولم يكن له خدم، فلم يجدوه فقالوا لامرأته: أين صاحبك؟ فقالت: انطلق يستعذب لنا الماء، فلم يلبثوا أن جاء أبو الهيثم بقربة يزعبها فوضعها، ثم جاء يلتزم النبي صلى الله عليه وسلم ويفديه بأبيه وأمه، ثم انطلق بهم إلى حديقته فبسط لهم بساطا، ثم انطلق إلى نخلة فجاء بقنو فوضعه، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: أفلا تنقيت لنا من رطبه؟ فقال: يا رسول الله إني أردت أن تختاروا أو تخيروا من رطبه وبسره، فأكلوا وشربوا من ذلك الماء، فقال صلى الله عليه وسلم: هذا والذي نفسي بيده من النعيم الذي تسألون عنه يوم القيامة! ظل بارد، ورطب طيب، وماء بارد.
فانطلق أبو الهيثم ليصنع لهم طعاما، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: لا تذبحن لنا ذات در، فذبح لهم عناقا أو جديا فأتاهم بها فأكلوا، فقال صلى الله عليه وسلم: هل لك خادم؟ قال: لا. قال: فإذا أتانا سبي فأتنا؛ فأتي صلى الله عليه وسلم برأسين معهما ثالث، فأتاه أبو الهيثم، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: اختر منهما، فقال: يا رسول الله اختر لي، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: إن المستشار مؤتمن، خذ هذا فإني رأيته يصلي، واستوص به معروفا، فانطلق أبو الهيثم إلى امرأته فأخبرها بقول رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقالت امرأته: ما أنت ببالغ حق ما قال فيه النبي صلى الله عليه وسلم إلا بأن تعتقه، قال: فهو عتيق.
