أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَنَا أَيُّنَا أَحْسَنُ عَمَلًا، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, ada satu kabar lembut yang menyentuh banyak hati: seorang muadzin dikabarkan wafat justru saat ia sedang mengumandangkan adzan. Bayangkan — nafas terakhirnya adalah panggilan menuju Allah. Malam ini saya ingin mengajak kita semua merenungkan satu hal yang jarang kita bicarakan dengan tenang: bagaimana kita ingin mengakhiri hidup, dan apa yang menentukannya.
Kita semua pasti pernah mendengar istilah husnul khatimah — akhir yang baik. Tapi seringkali kita membayangkannya sebagai sebuah keberuntungan yang tiba-tiba, seolah ada yang beruntung mati saat sujud dan ada yang sial mati saat lalai. Padahal, saudara-saudara sekalian, akhir yang baik itu bukan undian. Ia adalah buah dari kebiasaan. Mari kita renungkan firman Allah:
إِلَّا ٱبْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِ ٱلْأَعْلَىٰ
"Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi." (QS. Al-Lail: 20)
Ayat ini berbicara tentang seseorang yang beramal bukan untuk balasan, bukan untuk dilihat, tetapi murni mencari wajah Allah. Dan inilah kunci akhir yang baik: seseorang biasanya diwafatkan dalam keadaan yang menjadi kebiasaannya. Orang yang terbiasa mengingat Allah dalam sepi, akan lebih mungkin mengingat Allah di ujung nafasnya. Muadzin itu wafat saat adzan bukan karena kebetulan — itu adalah panggilan yang telah ia ucapkan lima kali sehari selama bertahun-tahun, sampai lisannya begitu akrab dengan menyeru kepada Allah.
Para jamaah, pekan ini kita juga mendengar dua kabar yang berlawanan tentang harta. Ada yang menahan diri dari gaji yang menjadi haknya, dan ada yang memamerkan judi tanpa malu. Mungkin kita berpikir, "Ah, itu urusan orang-orang besar, bukan urusan saya." Tapi mari kita ukur diri sendiri: berapa kali kita beramal lalu diam-diam berharap ada yang tahu? Berapa kali kita bersedekah lalu menyebut-nyebutnya? Riya' dan pamer bukan hanya penyakit pejabat — ia menyelinap ke dalam sedekah kita, sholat kita, bahkan ke dalam cara kita bercerita tentang ibadah kita di media sosial. Dan penyakit inilah yang paling berbahaya bagi akhir hidup, karena ia mengosongkan amal dari isinya tanpa kita sadari.
Kabar lain pekan ini juga menyentuh: kisah seorang anak desa yang berpamitan pada ibunya untuk menempuh perjalanan jauh demi menuntut ilmu agama. Ia meninggalkan kenyamanan demi sesuatu yang tidak memberi keuntungan dunia langsung. Kenapa kisah seperti ini menyentuh kita? Karena di dalamnya ada kemurnian — pengorbanan yang tidak mencari balasan. Dan kemurnian itulah yang kita rindukan, karena kita tahu betapa jarangnya ia di zaman sekarang.
Para jamaah, pekan ini pula sampai kepada kita kabar duka dari negeri yang jauh — banyak orang berkumpul dalam kesedihan mengiringi kepergian. Kabar-kabar tentang kematian, dari mana pun datangnya, sebenarnya adalah hadiah yang menyamar. Ia mengetuk pintu hati kita yang sering lupa bahwa waktu ini terbatas. Kita menyusun rencana lima tahun, sepuluh tahun, tetapi lupa bahwa satu-satunya kepastian adalah bahwa kita semua akan menyeberang. Dan yang menyeberang bersama kita bukanlah gelar, bukan saldo, bukan jumlah pengikut — melainkan amal yang kita bawa dalam diam. Orang bijak berkata, barangsiapa masuk ke alam kubur tanpa bekal amal saleh, seakan mengarungi lautan tanpa perahu. Maka kabar duka itu, saudara-saudara, bukan untuk membuat kita takut, melainkan untuk membuat kita bertanya: sudah cukupkah perahu yang sedang kita bangun hari ini?
Saudara-saudara sekalian, Rasulullah ﷺ mengajarkan kita satu doa yang sangat pas untuk penyakit zaman ini. Dalam riwayat Muslim, beliau biasa berdoa memohon disucikan jiwanya:
اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا
"Ya Allah, berikanlah jiwaku ketakwaannya, dan sucikanlah ia, Engkaulah sebaik-baik yang menyucikannya, Engkaulah Pelindung dan Penjaganya." (Sahih Muslim 2722)
Perhatikan, para jamaah, bahwa Rasulullah ﷺ tidak berkata "aku akan menyucikan jiwaku sendiri." Beliau memohon kepada Allah untuk menyucikannya, karena penyucian jiwa terlalu berat untuk kita lakukan sendirian. Riya' itu licik; ia bersembunyi bahkan di balik amal yang kita kira paling ikhlas. Maka kita butuh pertolongan Allah untuk membersihkannya.
Ini membawa kita pada satu pertanyaan yang menggali: kalau malam ini adalah malam terakhir kita, amal apa yang sedang kita kerjakan? Apakah kita sedang dalam kebiasaan yang kalau kita mati di dalamnya, kita ridha? Atau kita sedang dalam kebiasaan yang kalau maut menjemput, kita malu? Muadzin itu tidak memilih waktu wafatnya — tapi ia telah memilih kebiasaannya selama hidup. Dan kebiasaan itulah yang menyambutnya di ujung.
Maka, saudara-saudara, apa yang bisa kita lakukan setelah pulang dari sini malam ini? Pertama, pilih satu amal kecil yang bisa kita rutinkan dalam sepi — dzikir pagi-petang, dua rakaat sebelum tidur, atau sedekah harian yang tidak kita ceritakan pada siapa pun. Jadikan itu kebiasaan, agar ia menjadi teman kita di ujung nafas. Kedua, malam ini, sebelum tidur, muhasabah sebentar: adakah amal hari ini yang kita kerjakan untuk dilihat orang? Kalau ada, mohon ampun dan perbaiki niat esok hari. Ketiga, hidupkan doa Nabi tadi — mohon kepada Allah untuk menyucikan jiwa kita, karena kita tidak mampu melakukannya sendiri.
Marilah saya tutup dengan satu kesimpulan yang saya harap menempel: akhir yang baik bukanlah keberuntungan yang jatuh dari langit, melainkan panen dari benih kebiasaan yang kita tanam hari ini. Orang yang setiap hari membersihkan niatnya, sedang menyiapkan sambutan yang indah di ujung perjalanannya. Semoga Allah mewafatkan kita semua dalam keadaan sedang mengingat-Nya.
اَللّٰهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَالنِّفَاقِ، وَارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ فِيْ أَعْمَالِنَا، وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
