Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsEkonomi & BisnisKamis, 9 Juli 2026

Kisah Pendek — "Api di Rumah Sang Amir"

Di tengah pekan ketika banyak orang mengeluh harta menyempit dan sebagian mempertanyakan ke mana harta bersama mengalir, ada satu kisah lama yang terasa dekat. Kisah tentang seorang pemimpin yang justru takut kepada harta yang menumpuk di rumahnya. Syaikh Yusuf al-Kandahlawi rahimahullah dalam Hayat as-Sahabah — Bab Hijrah, "Pandangan tentang hak kaum Muslimin dalam harta" menghimpun riwayat tentang 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dan sebuah kejutan di dalam rumahnya.

Damaskus tidak, tetapi Kufah — kota tempat Amirul Mukminin memerintah. Siang itu terik. Seorang lelaki bernama 'Antarah datang menghadap. Belum lama ia duduk, masuklah Qanbar, pembantu setia sang Amir.

Wajah Qanbar berseri. Ia merasa telah melakukan sesuatu yang baik untuk tuannya.

"Wahai Amirul Mukminin," katanya, "engkau ini orang yang tidak pernah menyisakan apa pun untuk dirimu. Padahal keluargamu juga punya hak dalam harta ini. Aku telah menyimpankan sesuatu untukmu."

'Ali menatapnya. "Apa itu?"

"Pergilah, lihat sendiri," jawab Qanbar, penuh harap.

Qanbar menuntunnya ke sebuah kamar. Di sana tergeletak sebuah wadah besar, penuh. Cahaya siang yang menyelinap dari celah dinding memantul di permukaannya — bejana-bejana emas dan perak, berkilauan, disepuh emas.

Bukan senyum yang muncul di wajah 'Ali. Wajahnya berubah.

"Celaka engkau," kata beliau, suaranya berat. "Apakah engkau hendak memasukkan api besar ke dalam rumahku?"

Qanbar terdiam. Ia mengira memberi kebaikan; ternyata di mata tuannya, tumpukan emas itu adalah bara yang bisa membakar di Hari Kiamat.

'Ali tidak menundanya sampai esok. Beliau segera menimbang harta itu, sedikit demi sedikit, dan membagikannya kepada setiap penanggung jawab kelompok, sesuai bagian masing-masing. Tangannya bergerak cepat, seolah tidak sabar melepaskan sesuatu yang panas dari genggamannya.

Sambil membagi, beliau bersenandung dengan bait yang sederhana:

هذا جنايَ وخيارُه فيهْ · وكلُّ جانٍ يَدهُ إلى فيهْ

"Inilah hasil petikanku, dan yang terbaik ada di dalamnya — dan setiap orang yang memetik, tangannya kembali ke mulutnya sendiri."

Lalu beliau berkata, seolah berbicara kepada dunia itu sendiri:

يا دنيا، لا تغريني وغُرِّي غيري

"Wahai dunia, janganlah engkau menggodaku — pergilah tipu orang lain."

Harta itu pun habis dibagi hari itu juga. Rumah sang Amir kembali kosong dari kilau emas, tetapi lapang dari beban. Beliau tidak sudi bermalam bersama harta yang belum sampai kepada pemiliknya yang berhak.

Pelajaran

Yang membuat kisah ini menohok bukan karena 'Ali menolak kaya, tetapi karena beliau memandang harta titipan sebagai api, bukan hiasan. Emas yang bagi kebanyakan orang adalah impian, di matanya adalah ujian yang harus segera dilepaskan kepada yang berhak. Qanbar berpikir seperti kebanyakan kita: menyimpan untuk masa depan, mengamankan bagian keluarga. Tetapi 'Ali mengajarkan bahwa pemegang amanah publik tidak punya hak menumpuk; ia hanya penyalur. Di pekan ketika kepercayaan pada pengelolaan harta bersama sedang diuji, kisah ini menawarkan gambar yang jernih tentang bagaimana seharusnya seorang pemegang amanah bersikap — bukan menunggu diaudit, melainkan takut sendiri kepada setiap rupiah yang bukan haknya. Dan pelajaran itu tidak hanya untuk pejabat; siapa pun yang memegang kas kecil, dana bersama, atau titipan orang lain, memikul bara yang sama.

Sumber Asli

Hayat as-Sahabah — الباب الرابع باب الهجرة / رأي عمر رضي الله عنه في حق المسلمين في المال

أتيت علياً رضي الله عنه يوماً فجاءه قنبر، فقال: يا أمير المؤمنين إنَّك رجل لا تليق شيئاً، وإنَّ لأهل بيتك في هذا المال نصيباً، وقد خبأت لك خبيئة، قال: وما هي؟ قال: إنطلق فانظر ما هي، قال: فأدخله بيتاً فيه باسنة مملوءة آنية ذهب وفضة مموَّهة بالذهب، فلما رآها علي قال: ثكلتك أمك لقد أردت أن تدخل بيتي ناراً عظيمة؟ ثم جعل يزنها ويعطي كل عريف بحصته؛ ثم قال:

هذا جني وخيارُه فيهْ · وكلُّ جانٍ يدهُ إلى فيهْ

لا تغريني، وغرِّي غيري.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan