Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumEkonomi & BisnisKamis, 9 Juli 2026

Kultum — "Rezeki Sempit, Iman Diuji"

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ رَزَقَ عِبَادَهُ مِنَ الطَّيِّبَاتِ، وَأَوْجَبَ الْعَدْلَ فِيْ كُلِّ مُعَامَلَةٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati ini, banyak dari kita mendengar keluhan yang sama berulang di mana-mana: mencari uang terasa makin susah, roda ekonomi seret, dagangan sepi. Ada di antara kita mungkin yang baru saja dirumahkan, ada yang usahanya lesu, ada yang bingung memenuhi kebutuhan bulan ini. Malam ini saya tidak ingin berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Saya ingin kita bicara jujur tentang satu hal: ketika rezeki menyempit, di situlah sebenarnya iman kita sedang diuji dengan ujian yang paling halus.

Mari kita mulai dari satu ayat. Allah berfirman:

ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ ٱلرِّبَوٰا۟ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِى يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيْطَٰنُ مِنَ ٱلْمَسِّ

"Orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran tekanan penyakit gila." (QS. Al-Baqara: 275). Saudara-saudara sekalian, gambaran Allah ini bukan hiperbola. Coba perhatikan orang yang terjerat pinjaman berbunga: hidupnya benar-benar terhuyung. Tidur tidak tenang karena dikejar tenggat, telepon berdering menakutkan, keluarga jadi tegang. Riba dijanjikan sebagai penyelamat, tetapi ia justru merampas ketenangan — persis seperti orang yang berdiri limbung.

Nah, kenapa saya mulai dari sini? Karena godaan terbesar saat rezeki sempit adalah mengambil jalan pintas yang haram. Pekan ini kita dengar bagaimana himpitan ekonomi menekan banyak keluarga. Dalam keadaan seperti ini, iklan pinjaman daring terlihat seperti oase di gurun. Klik, isi data, uang cair. Tetapi kita semua tahu — di dalam hati kita tahu — bahwa oase itu sering fatamorgana. Yang cair hari ini menjerat berbulan-bulan setelahnya.

Kabar lain yang sampai ke kita pekan ini adalah tentang para pedagang kecil dan tekanan yang mereka hadapi, sampai soal kewajiban legalitas usaha yang tenggatnya makin dekat. Dan ada juga sindiran tajam tentang beban yang terus diburu dari kantong rakyat. Semua ini menumpuk menjadi satu perasaan: hidup makin berat. Tetapi izinkan saya bertanya kepada kita semua, dalam hati masing-masing: ketika hidup makin berat, apakah kita justru makin dekat kepada Allah, atau makin nekat mengambil yang bukan hak?

Di sinilah saya ingin mengajak kita merenungkan satu prinsip yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah ﷺ memberi peringatan yang keras tentang kecurangan dalam berdagang. Diriwayatkan bahwa ada seorang pria yang memamerkan barang dagangannya lalu bersumpah palsu dengan nama Allah bahwa ia telah ditawari harga tinggi, padahal tidak. Karena perbuatan itu, turunlah ayat tentang orang yang menukar janji Allah dengan harga murah — mereka tidak akan mendapat bagian di akhirat (Sahih al-Bukhari 2675). Betapa mahal harga sebuah sumpah palsu di pasar. Demi selisih keuntungan yang kecil, seseorang menggadaikan bagiannya di akhirat. Ini pelajaran yang tepat untuk pekan ini: saat dagangan sepi, godaan untuk "sedikit membohongi pembeli" terasa masuk akal. Tetapi Allah menimbang dengan neraca yang berbeda dari neraca kita.

Saudara-saudara, mari kita renungkan lebih dalam apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan hati kita saat rezeki sempit. Kesempitan itu, dalam kacamata iman, bukan hukuman — ia bisa jadi ladang. Ladang untuk membuktikan bahwa kita lebih takut kepada Allah daripada kepada kekurangan. Ladang untuk melatih sabar. Ladang untuk membersihkan cara kita mencari makan. Sebab bukankah rezeki yang sedikit tetapi halal jauh lebih menenangkan daripada rezeki yang banyak tetapi membakar? Orang yang makannya haram, doanya tertolak, tidurnya gelisah, dan hartanya tidak pernah terasa cukup. Sedangkan orang yang makannya halal, sedikitnya terasa lapang.

Lalu apa yang bisa kita lakukan malam ini, setelah pulang dari sholat? Tiga hal yang konkret. Pertama, periksa cara kita mencari nafkah — apakah ada satu titik kecurangan, satu sumpah palsu, satu selisih yang kita tahu bukan hak kita? Perbaiki satu saja mulai besok pagi. Kedua, jika kita atau tetangga kita terjerat pinjaman berbunga, jangan diam menahan malu; datangi orang yang bisa dipercaya, cari jalan keluar bersama, hindari menambah utang baru untuk menutup yang lama. Ketiga, jika Allah masih memberi kita kelapangan, lihatlah sekeliling — mungkin ada tetangga yang baru dirumahkan pekan ini. Sepiring makanan yang kita antar, atau bantuan mengurus usaha kecilnya, bisa jadi lebih berharga dari seribu nasihat.

Marilah kita tutup dengan satu keyakinan: bahwa Allah tidak pernah menutup satu pintu rezeki kecuali Dia membuka pintu lain yang lebih baik dan lebih berkah, selama kita mencarinya dengan cara yang Dia ridhai. Kesempitan hari ini bukan akhir cerita; ia hanya satu bab yang menguji apakah kita tetap setia pada timbangan yang jujur.

اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ.

اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan