أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَمَانَةَ مِيْزَانَ الْعِبَادِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْعَدْلُ فِيْ حُكْمِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْأَمِيْنُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati ini, kabar tentang pejabat yang terjaring, dana anak sekolah yang diduga bocor, dan yang lemah yang jadi korban terasa bertumpuk di layar kita. Malam ini saya tidak ingin mengajak kita menunjuk siapa yang salah di sana. Saya ingin mengajak kita menunjuk ke satu tempat yang lebih dekat: meja kita sendiri.
Ada satu ayat pendek yang bunyinya sederhana, tapi bebannya luar biasa. Allah berfirman:
وَأَقِيمُوا۟ ٱلْوَزْنَ بِٱلْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا۟ ٱلْمِيزَانَ
"Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu." (QS. Ar-Rahmaan: 9) Ayat ini tidak berbicara kepada presiden saja, tidak kepada hakim saja, tidak kepada menteri saja. Ia berbicara kepada setiap tangan yang memegang timbangan — dan siapa di antara kita yang tidak memegang timbangan apa pun? Kita menimbang saat membagi warisan, saat menilai anak, saat memberi upah, saat menepati janji, saat berbicara tentang orang lain.
Saudara-saudara sekalian, coba kita renungkan sebentar. Kita mudah sekali marah pada kecurangan besar di luar sana. Kita geram membaca kabar korupsi. Tapi apakah kita sama tegasnya kepada diri sendiri ketika kita mengurangi timbangan dalam hal-hal kecil? Ketika kita menjanjikan sesuatu dan menundanya tanpa alasan. Ketika kita memberi upah tukang lebih rendah dari yang disepakati karena "ah, dia tidak akan protes". Ketika kita lebih sayang kepada satu anak dan mengabaikan yang lain. Kezaliman besar di puncak itu, jamaah, bermula dari kezaliman-kezaliman kecil yang dianggap biasa di bawah.
Pekan ini kita dengar kabar dana makan bergizi anak sekolah yang diduga diselewengkan. Kita juga dengar kabar anak-anak yang menjadi korban kekerasan di tempat yang seharusnya aman. Dua kabar ini menyatu pada satu titik yang menyakitkan: yang paling lemah dan tidak berdaya justru menjadi sasaran. Dan di sinilah keadilan diuji paling jujur. Sebab keadilan kepada yang setara itu mudah — mereka bisa membalas. Keadilan kepada yang lemah itulah yang berat, karena mereka tidak punya kuasa menuntut.
Rasulullah ﷺ memberi kita gambaran yang menggetarkan tentang ke mana kezaliman itu bermuara:
إِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Sesungguhnya kezaliman adalah kegelapan pada Hari Kiamat." (Sahih Muslim 2579) Bayangkan, saudara-saudara: setiap hak yang kita pangkas, setiap orang lemah yang kita zalimi, setiap timbangan yang kita curangi — semuanya berubah menjadi kegelapan yang menyelimuti kita di hari ketika satu-satunya penerang adalah cahaya amal. Orang yang di dunia tampak terang oleh kedudukan bisa berjalan dalam gelap gulita di akhirat, karena setiap langkahnya diambil dari hak orang lain.
Lalu apa yang bisa kita lakukan? Islam tidak pernah menakut-nakuti tanpa memberi jalan. Ukuran keadilan kita yang sesungguhnya bukan pada seberapa keras kita mengkritik yang di atas, melainkan pada seberapa jujur timbangan kita di rumah dan di lingkungan sendiri. Adil kepada pasangan. Adil di antara anak-anak. Jujur dalam jual-beli. Menepati janji sekecil apa pun. Membela yang lemah di dekat kita, bukan cuma yang viral di layar.
Maka izinkan saya menawarkan tiga hal yang bisa kita lakukan mulai malam ini, dalam dua puluh empat jam ke depan. Pertama, ingat-ingat satu janji yang belum kita tepati kepada seseorang yang lemah posisinya — anak, pekerja, adik — dan tunaikan besok pagi. Kedua, periksa satu urusan uang yang kita pegang untuk orang lain, sekecil apa pun, dan pastikan tidak ada hak yang tercecer. Ketiga, tahan satu kalimat tuduhan yang ingin kita sebarkan tentang kasus yang ramai pekan ini, sampai kita benar-benar tahu kebenarannya. Tiga langkah kecil ini, kalau dijaga, adalah cara kita menegakkan timbangan di tangan sendiri.
Saudara-saudara, keadilan bukanlah kata besar yang hanya cocok untuk mimbar dan spanduk. Keadilan adalah kebiasaan harian yang paling dekat dengan dapur, dompet, dan lisan kita. Kalau kita menunggu para pemimpin adil lebih dulu baru kita adil, kita tidak akan pernah mulai. Tapi kalau setiap kita meluruskan satu timbangan kecil hari ini, masyarakat yang adil itu bukan lagi angan — ia sedang kita bangun, satu meja demi satu meja.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُقْسِطِيْنَ الْعَادِلِيْنَ، وَجَنِّبْنَا الظُّلْمَ وَظُلُمَاتِهِ، وَاحْفَظْ أَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا وَضُعَفَاءَنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
