أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَنَا أَيُّنَا أَحْسَنُ عَمَلًا، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, ramai dibicarakan cerita tentang jabatan, gelar, dan harta yang jadi sengketa — dan di saat yang sama, lini masa kita justru dipenuhi curhat sederhana tentang hidup. Ada satu pesan yang ingin saya bagikan malam ini, dan pesan itu sebenarnya sangat tua, tetapi selalu terasa baru.
Pernahkah kita bertanya: seandainya malam ini kita tidak bangun lagi esok pagi, apa yang akan orang ceritakan tentang kita? Mari kita renungkan sejenak sambil menyimak firman Allah:
وَلَا يَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ هُوَ خَيْرًۭا لَّهُم ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّۭ لَّهُمْ
"Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka." (QS. Aal-i-Imraan: 180). Ayat ini menegur kebiasaan halus kita: mengira menahan itu untung, padahal menahan itu rugi. Kita kira harta yang tergenggam erat adalah keamanan; Allah berkata sebaliknya, ia bisa jadi belenggu di leher kita kelak. Di tengah dunia yang mengajari kita menimbun, ayat ini mengajari kita melepas.
Saudara-saudara sekalian, saya teringat satu kenyataan yang membuat saya kecil di hadapan Allah. Manusia paling mulia yang pernah berjalan di bumi ini, Rasulullah ﷺ, ketika wafat tidak meninggalkan satu keping emas pun. Diriwayatkan bahwa beliau hanya meninggalkan senjatanya, seekor bagal putih tunggangannya, dan sebidang tanah yang beliau jadikan sedekah. Bayangkan: seorang pemimpin bangsa, yang jika mau bisa hidup bergelimang, memilih pergi dengan tangan ringan. Dan justru karena itulah namanya dikenang empat belas abad, sementara nama-nama para penimbun harta di zamannya sudah lama terlupakan.
Pekan ini kita dengar kabar tentang orang-orang yang memperkarakan gelar, tentang amplop yang berpindah tangan diam-diam, tentang sengketa yang berakar pada harta dan kedudukan. Di sisi lain, kabar yang menyentuh hati justru datang dari cerita-cerita jujur orang biasa — tentang keluarga, tentang perjuangan hidup, tentang kasih yang sederhana. Kontras ini seperti cermin: yang berkilau belum tentu bernilai, dan yang sederhana justru sering abadi. Kita hidup di zaman yang bising oleh timbangan, sampai lupa bahwa yang paling berat di akhirat justru hal-hal yang tak bisa ditimbang di dunia.
Coba kita jujur pada diri sendiri sebentar, saudara-saudara. Siapa di antara kita yang pekan ini pernah merasa iri melihat pencapaian orang lain di media sosial? Rumah barunya, mobil barunya, jabatan barunya. Rasa itu manusiawi, tidak perlu kita pungkiri. Tapi mari kita tanya lebih dalam: kalau semua yang kita irikan itu diberikan kepada kita hari ini, lalu besok kita wafat — apakah semua itu menolong kita? Jawabannya sudah kita tahu. Yang menolong kita di kubur bukan yang membuat orang lain iri, melainkan yang membuat Allah ridha. Betapa sering kita salah tempat menaruh kecemburuan — cemburu pada yang fana, dan lalai pada yang kekal.
Ada nasihat indah dari Sayyiduna Abu Bakr ash-Shiddiq رضي الله عنه yang berbunyi:
مَنْ دَخَلَ الْقَبْرَ بِلَا زَادٍ فَكَأَنَّمَا رَكِبَ الْبَحْرَ بِلَا سَفِينَةٍ
"Barangsiapa masuk ke alam kubur tanpa bekal, maka seakan-akan ia mengarungi lautan tanpa perahu." (Nashaihul Ibad — باب الثنائي (2/8)). Renungkanlah gambaran ini, jamaah. Kita semua sedang berlayar menuju satu pelabuhan yang pasti. Pertanyaannya bukan seberapa mewah kapal kita di dunia, melainkan apakah kita membawa perahu untuk menyeberang. Perahu itu bernama amal saleh. Dan amal saleh tidak perlu besar untuk berharga — cukup ikhlas dan konsisten.
Maka apa yang membuat sebagian dari kita lupa menyiapkan perahu itu? Sering kali justru karena hidup kita sedang enak. Rasulullah ﷺ pernah menyampaikan bahwa yang beliau khawatirkan atas umatnya bukan kemiskinan, melainkan ketika perhiasan dunia dibukakan lebar-lebar. Sebab kesenangan membuat kita merasa tidak butuh apa-apa lagi, sampai kita menunda-nunda kebaikan. Kita bilang, "nanti kalau sudah mapan baru bersedekah", "nanti kalau sudah tua baru rajin ibadah" — padahal maut tidak menunggu kita mapan atau tua.
Jamaah yang saya hormati, mari kita ukur diri sendiri malam ini dengan pertanyaan sederhana: dari semua yang kita kejar hari ini, mana yang akan ikut ke dalam kubur? Rumah tidak ikut. Mobil tidak ikut. Jabatan dan gelar tidak ikut. Yang ikut hanya tiga: sedekah yang mengalir, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan. Betapa ruginya kalau seluruh umur habis untuk mengejar yang tak ikut, dan lupa menyiapkan yang ikut.
Ada satu hal yang perlu kita pahami, saudara-saudara, supaya pesan ini tidak disalahpahami. Islam tidak melarang kita kaya. Sahabat-sahabat besar seperti Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan adalah para saudagar kaya raya, tetapi kekayaan mereka justru menjadi tangga ke surga karena mereka menjadikannya jalan sedekah. Jadi yang salah bukan memiliki, melainkan dimiliki. Yang salah bukan punya harta di tangan, melainkan punya harta di hati sampai lupa Allah. Maka jangan kita salah paham, lalu berhenti bekerja atau merasa berdosa karena punya rezeki. Bekerjalah, cari yang halal, tapi jaga hati tetap ringan — siap memberi kapan pun Allah memberi kesempatan.
Karena itu, sebelum kita pulang malam ini, saya ajak kita melakukan tiga hal konkret dalam 24 jam ke depan. Pertama, keluarkan satu sedekah malam ini juga, sekecil apa pun — transfer ke panti, beri tetangga yang kekurangan, atau titip untuk pembangunan sumur. Jangan tunggu mapan. Kedua, ajarkan satu kebaikan kepada anak atau orang terdekat kita besok — satu doa, satu adab, satu ayat — karena itu warisan yang terus mengalir. Ketiga, tuliskan di catatan ponsel kita satu kalimat: "Apa yang aku siapkan untuk perjalanan panjang itu?" Baca lagi tiap pagi pekan ini.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang pergi dengan tangan ringan dan bekal yang penuh, yang meninggalkan berkah bukan beban. Marilah kita tutup dengan doa.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَارِنَا آخِرَهَا، وَخَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ. اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا زَادًا صَالِحًا لِلِقَائِكَ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَتْرُكُونَ صَدَقَةً جَارِيَةً وَعِلْمًا يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدًا صَالِحًا يَدْعُو لَنَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.
