Di sela riuh curhat pekan ini tentang jiwa-jiwa yang lelah dan gelisah, ada satu obat lama yang nyaris terlupakan: berhenti sejenak, dan berpikir. Syaikh Yusuf al-Kandahlawi rahimahullah dalam «Hayat as-Sahabah» — الباب الرابع باب الهجرة / التفكر والاعتبار menghimpun kisah para sahabat yang menjadikan tafakur sebagai amalan utama. Salah satu yang paling menonjol adalah kisah Abu Darda radhiyallahu 'anhu.
Damaskus. Siang yang terik. Debu beterbangan di jalanan, dan orang-orang berlalu-lalang mengurus dunia mereka. Di sela keramaian itu, ada seorang lelaki yang berbeda. Ia tidak banyak bicara. Ia sering duduk sendiri, memandang jauh, seakan sedang membaca sesuatu yang tidak terlihat orang lain.
Lelaki itu Abu Darda. Sahabat Nabi. Dulu ia seorang pedagang yang sibuk mengejar keuntungan. Lalu ia memilih meninggalkan sebagian besar urusan dagangnya, bukan karena malas, tetapi karena ia menemukan sesuatu yang lebih berharga: waktu untuk berpikir.
Ketika ditanya tentang amalannya, jawabannya membuat orang berhenti sejenak.
Suatu hari seseorang bertanya kepada Ummu Darda tentang apa amalan paling utama suaminya. Ia tidak menyebut shalat malam yang panjang. Ia tidak menyebut puasa yang tak putus. Ia menjawab dengan satu kata.
"At-tafakkur wal-i'tibar." Berpikir dan mengambil pelajaran.
Orang itu bertanya lagi, kali lain, tentang amalan yang paling banyak dikerjakan Abu Darda. Jawabannya tetap serupa: merenung, mengambil ibrah. Bagi Abu Darda, memikirkan ciptaan Allah dan akibat segala sesuatu adalah ibadah yang tidak kalah dari ruku dan sujud.
Ia bahkan pernah berkata dengan kalimat yang kemudian dikenal luas:
تَفَكُّرُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ قِيَامِ لَيْلَةٍ
"Berpikir sesaat lebih baik daripada bangun beribadah semalam."
Suatu kali, seorang lelaki datang kepadanya, hendak berangkat berperang. "Wahai Abu Darda, berilah aku wasiat," pintanya.
Abu Darda tidak memberi nasihat panjang. Ia memberi dua kalimat yang menancap.
اذْكُرِ اللهَ فِي السَّرَّاءِ يَذْكُرْكَ فِي الضَّرَّاءِ
"Ingatlah Allah di waktu lapang, niscaya Dia mengingatmu di waktu sempit."
Lalu ia menambahkan: bila engkau condong pada sesuatu dari dunia, pandanglah ke mana akhirnya bermuara. Sebuah nasihat yang seolah dirancang untuk zaman yang sibuk mengejar tanpa pernah bertanya "lalu apa?".
Ada satu peristiwa kecil yang menggambarkan jiwa Abu Darda. Suatu hari dua ekor lembu lewat di dekatnya, keduanya sedang bekerja menarik beban. Lalu yang satu berhenti, sementara yang lain tetap berjalan. Orang biasa mungkin tidak akan menoleh. Tetapi Abu Darda memandangnya, lalu berkata pelan:
إِنَّ فِي هَذَا لَمُعْتَبَرًا
"Sesungguhnya pada peristiwa ini terdapat pelajaran."
Dari dua ekor lembu yang bekerja, ia menarik renungan tentang manusia: ada yang bertahan sampai akhir, ada yang berhenti di tengah jalan. Baginya, seluruh alam adalah kitab terbuka bagi jiwa yang mau berhenti dan membaca.
Pelajaran
Abu Darda mengajarkan satu hal yang sangat dibutuhkan jiwa-jiwa yang lelah hari ini: bahwa ketenangan sering datang bukan dari menambah aktivitas, melainkan dari berani berhenti sejenak untuk berpikir. Di tengah zaman yang memaksa kita terus bergerak, terus scroll, terus membandingkan diri, kalimat "tafakur sesaat lebih baik dari qiyam semalam" terdengar seperti tamparan lembut. Bukan berarti ibadah malam tak berharga — melainkan bahwa jiwa yang tidak pernah diberi ruang untuk merenung akan kehilangan arah, sekeras apa pun ia beramal. Nasihatnya kepada lelaki yang hendak berperang itu adalah resep sederhana untuk kegelisahan modern: sandarkan diri pada Allah di waktu lapang, maka di waktu sempit kita tidak akan merasa sendirian. Pekan ini, ketika begitu banyak jiwa berteriak dengan bisikan, mungkin obat pertamanya bukan nasihat yang lebih banyak — melainkan keberanian untuk berhenti, memandang, dan mengambil pelajaran.
Sumber Asli
«Hayat as-Sahabah» — الباب الرابع باب الهجرة / التفكر والاعتبار
وأخرج أبو نُعيم في الحلية عن عون بن عبد الله بن عتبة قال: سألت أم الدرداء رضي الله عنها ما كان أفضل عمل أبي الدرداء؟ قالت: التفكر والاعتبار… قيل لأم الدرداء: ما كان أكثر عمل أبي الدرداء رضي الله عنه؟ قالت: الاعتبار.
وعندهما أيضاً عن أبي الدرداء أنه قال: تفكُّر ساعة خير من قيام ليلة… عن حبيب بن عبد الله أن رجلاً أتى أبا الدرداء وهو يريد الغزو فقال: يا أبا الدرداء أوصني، فقال: اذكر الله في السّراء يذكرك في الضرّاء، وإذا أشرفت على شيء من الدنيا فانظر إلى ما يصير.
وعنده أيضاً عن سالم بن أبي الجَعْد قال: مرّ ثوران على أبي الدرداء وهما يعملان، فقام أحدهما ووقف الآخر فقال أبو الدرداء: إنَّ في هذا لمعتبراً.
