Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsKonflik & GeopolitikKamis, 9 Juli 2026

Kisah Pendek — "Ibu yang Menyuruh Anaknya Teguh"

Pekan ini kabar konflik dan seruan balas dendam memenuhi layar kita, dan diam-diam kita bertanya: untuk apa sebenarnya seseorang bertahan sampai akhir? Ada satu percakapan tua antara seorang anak dan ibunya yang menjawab pertanyaan itu dengan tajam. Syaikh Yusuf al-Kandahlawi rahimahullah dalam «Hayat as-Sahabah» — أقوال عمر في الشهداء menghimpun kisah Abdullah bin az-Zubair radhiyallahu 'anhuma bersama ibunya.

Mekah panas dan tegang. Pasukan besar telah mengepung kota suci itu selama berbulan-bulan. Abdullah bin az-Zubair berdiri di antara reruntuhan, seorang pemimpin yang dulu dikelilingi ribuan pengikut.

Sekarang pengikut itu satu per satu pergi. Ada yang takut. Ada yang tergoda tawaran aman dari pihak lawan. Yang tersisa tinggal segelintir.

Abdullah lelah. Bukan lelah badan saja, tapi lelah hati. Ia mengirim utusan menemui ibunya. Ibunya sudah sangat tua, matanya nyaris tak melihat lagi. Namanya masyhur: putri seorang sahabat besar, seorang perempuan yang imannya sekokoh batu.

"Sampaikan pada ibu," pesan Abdullah lewat utusan, "orang-orang sudah meninggalkanku. Bahkan orang-orang dekatku pun pergi. Pihak lawan menawariku jaminan keamanan kalau aku mau menyerah. Apa yang harus kulakukan?"

Utusan itu berangkat. Ia sampaikan pesan Abdullah kepada perempuan tua itu, kata demi kata.

Sang ibu diam sejenak. Lalu ia berkata dengan suara yang tenang tapi tegas:

إِنْ خَرَجْتَ لِإِحْيَاءِ كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمُتْ عَلَى الْحَقِّ

"Kalau engkau berjuang untuk menghidupkan Kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya ﷺ, maka matilah di atas kebenaran."

Ia belum selesai. Suaranya makin dalam:

وَإِنْ كُنْتَ إِنَّمَا خَرَجْتَ عَلَى طَلَبِ الدُّنْيَا فَلَا خَيْرَ فِيكَ حَيًّا وَلَا مَيِّتًا

"Tapi kalau engkau berjuang hanya karena mengejar dunia, maka tidak ada kebaikan padamu, baik hidup maupun mati."

Kalimat itu menghantam seperti petir. Bukan ibu yang menyuruh anaknya lari agar selamat. Bukan ibu yang menangis memohon anaknya menyerah. Ini ibu yang bertanya satu hal saja: untuk siapa engkau bertahan?

Sang ibu tahu, kalau anaknya menyerah demi keselamatan, ia akan hidup dalam kehinaan. Dan kalau anaknya bertahan demi dunia — demi kekuasaan, demi nama — maka kematiannya sia-sia. Yang ia inginkan hanya satu: agar anaknya lurus niatnya. Kalau niatnya untuk Allah, maka apa pun yang terjadi, ia menang.

Abdullah mendengar jawaban ibunya. Dan ia mengerti. Ia tidak menyerah. Ia bertahan di atas apa yang ia yakini sebagai kebenaran, sampai napas terakhirnya.

Di tempat dan zaman yang sama, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu pernah ditanya para sahabat tentang siapa sebenarnya syuhada. Orang-orang menjawab, "Mereka yang gugur dalam peperangan." Umar mengoreksi dengan lembut: keberanian dan ketakutan itu tabiat yang Allah tanam pada manusia. Ada orang berperang karena riya, ada yang karena gengsi, ada yang karena mengejar harta. Lalu Umar berkata:

وَلَكِنِ الشَّهِيدُ مَنِ احْتَسَبَ نَفْسَهُ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ، وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

"Tetapi syahid yang sejati adalah orang yang mengikhlaskan jiwanya karena Allah; muhajir sejati adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah; dan Muslim sejati adalah orang yang membuat kaum Muslimin selamat dari lidah dan tangannya."

Pelajaran

Yang membuat kisah ini menembus zaman adalah pertanyaan sang ibu: untuk siapa engkau bertahan? Ia tidak mengukur anaknya dari menang atau kalah, dari hidup atau mati, melainkan dari niat di balik perjuangannya. Dan Umar melengkapinya: nilai sebuah pengorbanan bukan pada dahsyatnya, melainkan pada keikhlasannya — bahkan seorang yang gugur di medan pun belum tentu syahid jika hatinya mengejar dunia. Pekan ini, ketika kita menyaksikan berbagai konflik dan tergoda ikut larut dalam kemarahan dan seruan balas dendam, kisah ini menegur pelan: sebelum kita bersuara, kita perlu bertanya pada diri sendiri — untuk siapa suara ini? Untuk Allah dan membela yang lemah, atau sekadar melampiaskan ego dan mencari pengakuan? Sebab Umar mengingatkan, seorang Muslim sejati justru dikenali dari selamatnya orang lain dari lidah dan tangannya — termasuk lidah dan jari kita di media sosial.

Sumber Asli

«Hayat as-Sahabah» — أقوال عمر في الشهداء

ولكن الشهيد من احتسب بنفسه، والمهاجر من هجر ما نهى الله عنه، والمسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده.

قصة عبد الله بن الزبير وأمه: أن عبد الله بن الزبير رضي الله عنهما أرسل إلى أمه أن الناس قد انفضُّوا عني وقد دعاني هؤلاء إلى الأمان. فقالت: إن خرجت لإِحياء كتاب الله وسنّة نبيه صلى الله عليه وسلم فَمُتْ على الحق، وإن كنت إنما خرجت على طلب الدنيا فلا خير فيك حيّاً ولا ميِّتاً.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan