Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumKonflik & GeopolitikKamis, 9 Juli 2026

Kultum — "Marah Boleh, Adil Tetap Wajib"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْعَدْلِ وَلَوْ عَلٰى أَنْفُسِنَا، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Saudara-saudara sekalian yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, layar-layar kita penuh dengan kabar berat: sebuah negeri Muslim yang berduka setelah perang, kekerasan yang berulang di Papua, dan luka Gaza yang tak kunjung menutup. Malam ini saya ingin berbagi satu pesan sederhana tetapi berat: bahwa marah kita boleh, tetapi adil kita tetap wajib.

Mari kita mulai dari satu pertanyaan jujur. Siapa di sini yang pekan ini pernah membaca sebuah kabar, lalu dalam hati langsung memvonis satu pihak sebelum kabar itu selesai kita baca? Saya jujur mengakui, saya pun begitu. Itulah tabiat manusia ketika terluka. Dan justru untuk saat-saat seperti itulah Allah menurunkan peringatan-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

Dalam QS. Al-Maaida: 8, Allah berfirman: "Hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." Perhatikan, saudara-saudara: Allah tidak melarang kita membenci kezaliman. Yang Allah larang adalah membiarkan kebencian itu membuat kita berhenti adil. Itu perbedaan yang halus tetapi menentukan.

Pekan ini kita menyaksikan bagaimana duka bisa dengan mudah berubah menjadi seruan balas dendam. Kabar yang sampai ke kita dari sebuah negeri yang baru berduka menggambarkan lautan manusia yang menangis, dan di tengahnya bergema teriakan untuk membalas. Kita paham luka itu. Tetapi mari kita ukur diri sendiri: ketika kita terluka, apakah kita masih mampu berkata benar? Ataukah luka itu membuat kita membesar-besarkan, menuduh tanpa bukti, bahkan mendoakan keburukan bagi orang yang belum tentu bersalah?

Kabar kedua datang dari Papua, dari Intan Jaya dan Yahukimo, dengan narasi yang saling bertentangan. Dan kabar ketiga, yang paling menyayat, terus datang dari Gaza — seorang bayi berusia empat bulan yang wafat karena keluarganya dihalangi, tenda-tenda pengungsi yang dibom. Tiga kabar ini menguji satu hal yang sama dalam diri kita: apakah kita akan berpihak kepada kebenaran dan kepada yang lemah, ataukah kita akan berpihak kepada emosi kita sendiri?

Dan di sinilah letak bahaya yang sering luput. Ketika kita membalas kezaliman dengan sikap yang juga zalim — menyebar kabar bohong, menghakimi tanpa tabayyun, mendoakan kehancuran orang tak bersalah — kita justru sedang menambah kegelapan di dunia, bukan menguranginya. Rasulullah ﷺ mengingatkan dalam sebuah hadits:

إِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dalam Sahih Muslim 2579, Rasulullah ﷺ bersabda: "Kezaliman adalah kegelapan pada Hari Kiamat." Bayangkan, saudara-saudara. Setiap kezaliman yang kita lakukan — sekecil apa pun, termasuk kezaliman lidah dan jari saat marah — akan menjelma menjadi kegelapan yang menyelimuti kita di hari ketika kita paling membutuhkan cahaya. Maka membela yang lemah dengan cara yang zalim adalah kontradiksi; kita ingin menghapus gelap, tetapi malah menambahnya.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Mari kita renungkan bahwa keadilan itu justru dimulai dari hal yang paling kecil dan paling dekat. Kita mungkin tidak bisa menghentikan bom di Gaza malam ini. Tetapi kita bisa menghentikan satu kabar bohong agar tidak menyebar dari genggaman kita. Kita bisa menahan diri dari mendoakan keburukan untuk orang yang belum tentu bersalah. Kita bisa mengubah kemarahan menjadi doa yang tulus dan sedekah yang nyata. Inilah cara seorang mukmin yang lemah di hadapan dunia tetapi kuat di hadapan Allah: ia menang atas dirinya sendiri sebelum ia bicara tentang menang atas orang lain.

Dan yang lebih dalam lagi, saudara-saudara: semua kabar kematian pekan ini sesungguhnya sedang berbicara kepada kita tentang diri kita sendiri. Mereka yang berkabung, mereka yang gugur, mereka yang wafat sebagai korban — mereka telah menyeberang ke kehidupan yang kekal. Sementara kita masih di sini, masih diberi napas, masih diberi kesempatan. Pertanyaannya: apa yang sedang kita perbuat dengan kesempatan ini? Apakah kita mengisinya dengan menegakkan keadilan, membela yang lemah, dan merawat hati agar tetap jernih — ataukah kita menghabiskannya dengan amarah yang tidak mengubah apa pun kecuali menggelapkan hati kita sendiri?

Maka malam ini, sebelum kita pulang, mari kita ambil tiga langkah nyata untuk 24 jam ke depan. Pertama, pilih satu kabar konflik yang belum kita verifikasi, lalu putuskan untuk tidak menyebarkannya sampai kita yakin kebenarannya. Kedua, ganti satu status kemarahan yang ingin kita tulis dengan satu doa tulus untuk saudara-saudara kita yang tertindas. Ketiga, sisihkan sedikit — sekecil apa pun — untuk disalurkan kepada mereka yang lemah lewat lembaga yang amanah, sebab satu rupiah yang nyata lebih berbobot daripada seribu kata kemarahan.

Saudara-saudara yang saya hormati, marilah kita tutup dengan menyadari bahwa adil kepada yang tak kita sukai adalah puncak dari iman yang matang. Marah itu manusiawi, tetapi adil itu ilahi. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang menegakkan keadilan bahkan ketika hati kita sedang terluka.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا قَوَّامِيْنَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لَكَ، وَجَنِّبْنَا الظُّلْمَ وَالْبَغْيَ، وَارْحَمْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، اَللّٰهُمَّ اشْفِ جَرْحَاهُمْ وَارْحَمْ مَوْتَاهُمْ وَاحْفَظْ أَطْفَالَهُمْ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan