Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatLingkungan & BencanaKamis, 9 Juli 2026

Khutbah Jumat — "Bumi Titipan, Sabar yang Menghidupkan"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَجَعَلَ الْأَرْضَ مُسَخَّرَةً لَنَا أَمَانَةً، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلٰى نِعَمِهِ الَّتِيْ لَا تُحْصٰى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, hadirin yang dimuliakan Allah. Marilah pada Jumat yang penuh berkah ini kita perbarui takwa kita kepada Allah — bukan takwa yang berhenti di lidah, tetapi takwa yang turun sampai ke cara kita memperlakukan bumi, air, tanah, dan sesama makhluk. Sebab Allah tidak menciptakan langit dan bumi ini sia-sia, dan tidak pula menyerahkannya kepada kita untuk kita rusak sesuka hati. Kita ini bukan pemilik bumi; kita hanya dititipi. Dan setiap titipan, cepat atau lambat, akan diminta kembali oleh yang menitipkannya.

Allah berfirman dalam Kitab-Nya:

وَٱصْبِرْ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ ٱلْمُحْسِنِينَ

"Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Hud: 115)

Hadirin yang dimuliakan Allah, ayat ini menautkan dua hal yang jarang kita hubungkan: sabar dan berbuat baik. Seakan-akan Allah berkata kepada kita, jangan hanya bersabar dengan pasrah membisu, tetapi bersabarlah sambil terus berbuat baik. Sabar seorang mukmin bukan sabar orang yang menyerah, melainkan sabar orang yang tetap bekerja, tetap menanam, tetap merawat, walaupun hasilnya belum kelihatan. Inilah yang paling kita butuhkan pekan ini, ketika kabar demi kabar tentang musibah datang menghampiri kita.

Dari berita pekan ini kita ketahui betapa banyak saudara kita yang sedang diuji. Ada suara dari Aceh yang menyampaikan bahwa sudah lebih dari enam bulan warga terdampak bencana belum benar-benar dipulihkan keadaannya. Bayangkan, hadirin — musibah datang sekali, tetapi rasa ditinggalkan itu datang berhari-hari, berbulan-bulan. Ini pelajaran keras bagi kita semua: yang menguji kesabaran seorang korban bukan hanya bencananya, tetapi juga sepinya uluran tangan sesudahnya. Maka tugas kita bukan sekadar berbelasungkawa saat berita ramai, melainkan hadir justru ketika kamera dan sorotan sudah pergi.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Kabar lain yang sampai kepada kita pekan ini adalah tumpukan sampah di sebuah tempat pembuangan akhir yang terbakar berhari-hari dan tak kunjung padam meski petugas dikerahkan, menyisakan asap yang mengganggu pernapasan warga di sekitarnya sampai puluhan orang harus mengungsi. Dan dari kawasan timur negeri kita, terdengar sorotan tentang pembukaan lahan besar-besaran serta penggundulan hutan yang mengorbankan bentang alam dan masyarakat adat, sampai-sampai seekor satwa liar yang dilindungi tersesat ke jalan lintas lalu mati di tangan warga karena habitatnya kian sempit. Renungkanlah, hadirin: banjir yang menenggelamkan, kekeringan yang menghanguskan, dan asap yang menyesakkan — sebagian besar bukanlah takdir yang jatuh dari langit begitu saja. Ia sering kali buah dari tangan manusia yang lalai; hutan yang digunduli, sampah yang dibiarkan, sungai yang dijadikan tempat buangan.

Di sinilah Islam berbicara empat belas abad lebih awal daripada segala istilah modern tentang lingkungan. Kita tidak menjaga bumi karena mengikuti kampanye orang lain; kita menjaganya karena Allah telah memerintahkannya sejak dahulu. Merawat bumi adalah fardh kifayah — kewajiban bersama umat; bila cukup banyak yang menanganinya, gugur beban itu dari yang lain, tetapi bila semua lalai, kita semua menanggung dosanya. Dan menjaga jiwa manusia dari asap, dari banjir, dari air kotor, itulah hifz an-nafs — memelihara kehidupan yang menjadi salah satu tujuan tertinggi syariat.

Marilah kita perhatikan, hadirin, betapa Nabi kita ﷺ mengajarkan kelembutan bahkan kepada hewan dan tanaman. Beliau ﷺ pernah mengabarkan bahwa seorang wanita masuk neraka karena mengurung seekor kucing hingga mati kelaparan, dan sebaliknya, seorang yang berdosa diampuni karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Beliau ﷺ juga bersabda bahwa tidaklah seorang muslim menanam sebuah tanaman lalu ada burung, manusia, atau binatang yang memakan darinya, kecuali itu menjadi sedekah baginya. Renungkanlah — jika memberi minum seekor anjing saja bisa mengantar seseorang ke surga, maka betapa besar pahala menjaga sungai agar tetap bersih untuk ribuan makhluk, betapa besar dosa mencemari air yang menjadi sumber hidup banyak jiwa. Agama kita tidak pernah memandang lingkungan sebagai urusan sepele; ia menjadikannya lahan pahala dan dosa yang nyata.

Maka, hadirin, ketika kita mendengar kabar hutan yang digunduli atau sungai yang tercemar, janganlah kita menganggapnya berita yang jauh dari agama. Justru itulah medan tempat iman kita diuji. Bumi tidak akan mengadu kepada manusia, tetapi ia akan bersaksi di hadapan Allah. Bukankah Allah menyebutkan bahwa pada Hari Kiamat bumi akan menceritakan segala yang terjadi di atasnya? Setiap sampah yang kita buang ke sungai, setiap pohon yang kita rusak tanpa keperluan, akan menjadi saksi — memberatkan atau meringankan, tergantung apa yang kita lakukan hari ini.

Allah menegaskan bahwa ujian ini memang bagian dari jalan hidup kita:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍۢ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqara: 155)

Perhatikanlah, hadirin, betapa akuratnya ayat ini menggambarkan keadaan pekan ini. "Kekurangan buah-buahan" — bukankah itu wajah kekeringan dan kemarau yang membuat panen gagal? "Kekurangan jiwa" — bukankah itu korban kecelakaan dan bencana? "Kelaparan dan ketakutan" — bukankah itu yang dirasakan warga yang rumahnya tersapu banjir atau paru-parunya dipenuhi asap? Allah tidak menyembunyikan bahwa hidup ini penuh ujian. Yang Allah janjikan bukanlah dunia tanpa musibah, melainkan kabar gembira bagi mereka yang menghadapinya dengan sabar. Dan kabar gembira itu bukan sekadar pahala di akhirat; ia juga ketenangan hati di dunia, sebab orang yang sabar tidak dikendalikan oleh paniknya.

Marilah kita renungkan bagaimana para nabi terdahulu menghadapi ujian yang jauh lebih berat daripada kita. Nabi Nuh 'alaihissalam berdakwah ratusan tahun, lalu diuji dengan banjir bandang yang menenggelamkan negeri. Nabi Ayyub 'alaihissalam kehilangan harta, anak, dan kesehatannya, tetapi tidak pernah kehilangan sabarnya kepada Allah. Nabi Yusuf 'alaihissalam dibuang ke dasar sumur, dijual sebagai budak, dan dipenjara secara zalim, namun keluar sebagai orang yang memberi makan seluruh negeri di masa paceklik tujuh tahun. Perhatikanlah, hadirin, bahwa dalam setiap kisah itu, sabar mereka bukanlah sabar yang lumpuh. Nabi Yusuf tidak duduk meratapi nasibnya; ia justru merancang lumbung pangan agar rakyat selamat dari kelaparan. Inilah gambaran sabar yang seharusnya kita tiru: sabar yang merancang solusi, bukan sabar yang menyerah pada keadaan.

Dan Allah menegaskan bahwa pahala bagi orang yang sabar tidaklah terbatas. Firman-Nya:

قُلْ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌۭ ۗ وَأَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍۢ

"Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.' Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)

Hadirin yang dimuliakan Allah, dua kalimat dalam ayat ini layak kita renungkan dalam-dalam. Yang pertama, "bumi Allah itu luas". Bagi saudara-saudara kita yang kehilangan rumah karena banjir atau longsor, kalimat ini adalah pelipur: Allah tidak menutup semua pintu; bumi-Nya luas, dan selalu ada jalan bagi yang mau berusaha. Yang kedua, "pahala mereka dicukupkan tanpa batas". Bayangkanlah, seluruh amal manusia ditimbang dengan hitungan, kecuali sabar — sabar dibayar tanpa hitungan, karena beratnya menahan diri saat ditimpa musibah hanya Allah yang tahu ukurannya. Maka bagi setiap korban bencana yang bertahan dengan sabar, bagi setiap relawan yang lelah menolong, bagi setiap orang tua yang tetap tegar di depan anaknya — ketahuilah bahwa langit sedang mencatat pahala yang tak terhingga.

Namun sabar sejati tidak berhenti pada diri sendiri. Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita paduan antara sabar, usaha, dan tawakkul. Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

اَلْمُؤْمِنُ اَلْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اَللَّهِ مِنْ اَلْمُؤْمِنِ اَلضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ

"Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, tetapi kebaikan ada pada keduanya. Bersemangatlah pada apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah berputus asa." (Bulugh al-Maram 1724)

Hadirin, inilah teologi menghadapi bencana yang benar. "Bersemangatlah pada apa yang bermanfaat" — maka menanam pohon bermanfaat, memilah sampah bermanfaat, memperbaiki saluran air bermanfaat. "Mintalah pertolongan kepada Allah" — maka kita berdoa, kita bertawakkul. "Dan janganlah berputus asa" — maka kita tidak menyerah walau musibah beruntun. Iman kita bukan iman yang pasif menunggu langit. Ia iman yang menyingsingkan lengan sambil menengadahkan tangan. Kekuatan yang dicintai Allah di sini bukan hanya kekuatan otot, tetapi kekuatan tekad untuk berbuat baik meski keadaan sulit.

Mari kita renungkan lebih dalam, hadirin. Mengapa manusia mudah lupa? Allah menggambarkan sifat kita dengan sangat jujur: ketika ditimpa kesulitan, kita berdoa siang-malam kepada-Nya; tetapi begitu kesulitan itu hilang, kita lupa pernah berdoa dan kembali lalai. Bukankah begitu pola kita menghadapi bencana? Saat banjir naik, semua ingat Tuhan. Saat air surut, kita kembali membuang sampah ke sungai yang sama. Saat kemarau mencekik, kita berdoa minta hujan. Saat hujan turun, kita lupa menjaga hutan yang menahan air itu. Inilah lingkaran kelalaian yang harus kita putus. Sabar dan syukur harus menjadi sikap tetap, bukan hanya reaksi darurat.

Renungan ini menuntun kita pada satu pertanyaan yang lebih mendasar, hadirin: seperti apakah hubungan kita dengan bumi ini sebenarnya? Al-Qur'an menegaskan bahwa manusia diciptakan dari bumi dan ditugaskan memakmurkannya, bukan menghancurkannya. Kita ini khalifah — wali yang dititipi, bukan pemilik yang bebas berbuat semaunya. Seorang wali yang menjaga harta anak yatim akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap rupiah yang ia gunakan. Demikian pula kita: setiap pohon yang kita tebang tanpa menanam gantinya, setiap sungai yang kita cemari, setiap gunung sampah yang kita biarkan, adalah amanah yang kelak diperiksa. Ketika kita membaca kabar tentang hutan yang digunduli demi lahan luas, sesungguhnya kita sedang menyaksikan bagaimana amanah dilalaikan — dan kita semua ikut menanggung akibatnya lewat banjir dan longsor yang datang kemudian.

Dan ketika ketidakadilan atau kelalaian pihak lain membuat kita marah, Allah mengajarkan sikap yang lebih tinggi. Firman-Nya:

وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ

"Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." (QS. Ash-Shura: 43)

Hadirin, ayat ini penting sekali di tengah suasana yang panas. Kita boleh kecewa melihat pemulihan yang lambat, kita boleh prihatin melihat lingkungan yang dirusak — tetapi kekecewaan itu tidak boleh berubah menjadi kebencian yang membakar. Islam mengajarkan kita menyalurkan kekecewaan menjadi energi perbaikan, bukan caci-maki yang tak membangun apa-apa. Sabar dan memaafkan di sini bukan berarti diam terhadap kesalahan; ia berarti tetap menuntut perbaikan dengan cara yang bermartabat, sambil menjaga hati agar tidak dikuasai amarah. Inilah 'azm al-umur — sikap dari orang-orang yang berkemauan kuat, yang memilih membangun ketika orang lain sibuk menyalahkan.

Maka, hadirin yang dimuliakan Allah, izinkan saya mengajak kita semua kepada beberapa langkah nyata pekan ini. Pertama, mari kita hidupkan kembali kepedulian kepada korban lama, bukan hanya korban baru — jenguk, tanyakan kebutuhan nyata, dan bantu semampu kita, karena hadir setelah sorotan padam adalah bentuk ihsan yang paling murni. Kedua, mari kita jadikan menjaga kebersihan lingkungan sebagai ibadah — mulai dari memilah sampah di rumah, tidak membuang ke sungai, dan menggerakkan kerja bakti di RT sebagai amal bersama. Ketiga, mari kita tanam pohon, walau satu, di pekarangan atau lahan kosong sekitar kita, sebab setiap yang dimakan makhluk dari tanaman kita menjadi sedekah bagi kita. Keempat, mari kita ajarkan anak-anak kita bahwa merawat bumi adalah bagian dari iman, bukan urusan orang lain. Kelima, bagi kita yang dititipi amanah mengurus hajat orang banyak — air, kebersihan, listrik — mari kita ingat bahwa amanah itu berat dan akan dimintai pertanggungjawaban.

Semua ini, hadirin, adalah wujud sabar yang aktif dan syukur yang nyata. Kita tidak bisa menghentikan datangnya ujian, tetapi kita bisa memilih bagaimana menghadapinya. Kita bisa memilih menjadi bagian dari kerusakan, atau menjadi bagian dari perbaikan. Semoga Allah menjadikan kita golongan yang kedua.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلهِ عَلٰى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلٰى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.

Hadirin yang dimuliakan Allah, izinkan pada khutbah kedua ini kita gali lebih dalam satu sisi yang mudah terlewat. Kita sering mengira bencana adalah hukuman semata. Padahal, bagi seorang mukmin, ujian adalah tangga. Setiap tetes kesabaran yang kita jaga saat musibah adalah tabungan pahala yang tidak Allah sia-siakan. Bumi Allah itu luas, dan janji-Nya bagi yang sabar melampaui hitungan.

Sisi kedua yang perlu kita renungkan: musibah adalah cermin solidaritas. Bencana menyingkap siapa yang benar-benar peduli dan siapa yang hanya ramai di layar. Umat yang sehat adalah umat yang bergerak turun ke lapangan, bukan hanya bersuara di kolom komentar. Ketika kita menolong satu keluarga korban banjir dengan tangan kita sendiri, kita sedang menghidupkan makna ukhuwah yang sebenarnya.

Sisi ketiga: menjaga bumi adalah ibadah yang berkelanjutan. Ia tidak selesai dalam satu kerja bakti. Ia adalah kebiasaan — memilah sampah setiap hari, hemat air setiap wudhu, menanam dan merawat setiap musim. Inilah istikhlaf, tugas kekhalifahan kita di muka bumi yang akan kita pertanggungjawabkan. Dan tugas ini bersifat fardh kifayah — kewajiban bersama. Jika cukup banyak dari kita yang menanganinya, gugur beban itu dari yang lain; tetapi jika kita semua lalai dan menunggu pihak lain bertindak, maka kita semua menanggung dosanya bersama-sama.

Sisi keempat, hadirin: hendaklah kita berhati-hati agar tidak menjadi orang yang hanya ingat Allah saat susah. Betapa banyak di antara kita yang khusyuk berdoa saat air setinggi dada, lalu kembali lalai begitu air surut. Betapa banyak yang bersedekah besar saat bencana ramai diberitakan, lalu menutup tangan begitu sorotan berpindah. Iman yang sejati adalah iman yang konsisten — dalam lapang maupun sempit, saat ramai maupun sepi. Justru amal yang kita lakukan diam-diam, ketika tidak ada yang memuji dan tidak ada kamera yang merekam, itulah yang paling berat timbangannya di sisi Allah.

Maka marilah kita tutup dengan menengadahkan tangan, memohon kepada Allah agar meringankan beban saudara-saudara kita dan meneguhkan hati kita di atas kebaikan.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِرًا وَمُعِيْنًا وَحَافِظًا.

اَللّٰهُمَّ ارْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَاكْشِفْ عَنَّا الْغَرَقَ وَالْحَرِيْقَ وَالْجَدْبَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ، وَارْحَمْ إِخْوَانَنَا الْمُصَابِيْنَ بِالْبَلَايَا وَالْكَوَارِثِ، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَعَجِّلْ لَهُمُ الْفَرَجَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الْأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ مَائِنَا وَزَرْعِنَا وَثِمَارِنَا، وَاجْعَلْنَا لِأَرْضِكَ حَافِظِيْنَ لَا مُفْسِدِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَاجْعَلْهُمْ رَحْمَةً عَلٰى رَعِيَّتِهِمْ يَرْعَوْنَ أَمَانَتَهُمْ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْ مَنْ رَبَّانَا صِغَارًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Lihat Briefing Mingguan