Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumLingkungan & BencanaKamis, 9 Juli 2026

Kultum — "Sabar yang Menyingsingkan Lengan"

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْأَرْضَ وَجَعَلَهَا مِهَادًا، وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْبِلَادَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, kabar tentang banjir, kekeringan, sampah yang terbakar, dan warga terdampak bencana yang merasa ditinggalkan berbulan-bulan datang silih berganti. Ada satu pesan yang ingin saya bagikan malam ini, dan pesan itu sederhana: sabar yang sejati bukanlah diam.

Coba kita jujur pada diri sendiri. Kalau ada tetangga tertimpa musibah, apa yang paling sering kita kirim? Biasanya kalimat pendek: "Sabar ya." Lalu kita kembali sibuk. Padahal "sabar" dalam Islam bukan kata untuk menutup percakapan — ia kata untuk membuka tindakan. Dengarkan bagaimana Allah menyandingkannya:

وَٱصْبِرْ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ ٱلْمُحْسِنِينَ

"Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Hud: 115)

Perhatikan, saudara-saudara. Allah tidak berkata "bersabarlah dan diamlah". Allah menyambung sabar dengan muhsinin — orang-orang yang berbuat baik. Seolah-olah Allah berkata: sabar itu satu paket dengan amal. Orang yang benar-benar sabar adalah orang yang tetap berbuat baik justru ketika keadaan sulit. Itulah sabar yang menyingsingkan lengan.

Pekan ini kita dengar suara dari sebuah daerah yang menyampaikan bahwa sudah lebih dari enam bulan warga terdampak bencana belum benar-benar dipulihkan. Ini menyentuh saya, karena artinya ujian mereka bukan hanya bencana yang datang sekali, melainkan sepi yang datang berhari-hari. Dan di sinilah pertanyaannya jatuh ke kita: ketika kita membaca kabar itu, apakah kita ikut mendoakan, ikut menyisihkan, ikut hadir? Atau kita hanya menggeser layar ke berita berikutnya?

Kabar lain yang sampai ke kita adalah tumpukan sampah di sebuah tempat pembuangan yang terbakar sampai asapnya mengganggu napas warga sekitar, dan sorotan tentang hutan yang digunduli di kawasan timur negeri kita. Saya ingin kita menangkap satu hal penting: sebagian bencana ini bukan murni takdir dari langit. Ia buah dari tangan yang lalai. Sampah yang tak dipilah, sungai yang jadi tempat buangan, pohon yang ditebang tanpa ditanam kembali. Kita sering berdoa minta dijauhkan dari banjir, tetapi tangan kita sendiri yang menyumbat salurannya.

Di sinilah, saudara-saudara, saya ingin kita ingat satu prinsip yang sederhana tapi sering kita lupakan: bumi ini titipan, bukan warisan yang boleh kita habiskan sesuka hati. Kita ini bagaikan penjaga rumah orang lain — bagaimana perasaan kita kalau menitipkan rumah pada seseorang, lalu pulang mendapati temboknya dicoret, halamannya penuh sampah, dan pohonnya ditebang habis? Begitulah bumi ini di hadapan Allah. Ia dititipkan pada kita dalam keadaan tertata rapi, lengkap dengan hutan, sungai, dan udara bersih. Pertanyaannya, akan kita kembalikan dalam keadaan apa?

Maka izinkan saya mengajak kita mengukur diri sendiri malam ini. Rasulullah ﷺ pernah bersabda, "Bersemangatlah pada apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah berputus asa" — sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Lihatlah paduan indah ini: bersemangat berbuat, meminta tolong pada Allah, dan pantang putus asa. Ini resep menghadapi musibah yang lengkap. Bukan pasif menunggu, bukan pula sombong merasa cukup dengan usaha sendiri tanpa Tuhan. Berapa banyak dari kita yang saat tertimpa masalah hanya memilih satu dari tiga ini? Ada yang cuma berdoa tapi tak bergerak. Ada yang cuma sibuk bergerak tapi lupa berdoa. Nabi kita mengajarkan ketiganya sekaligus — dan itulah keseimbangan yang membuat hati tenang.

Saya teringat sifat kita sebagai manusia yang Allah gambarkan dengan jujur: ketika ditimpa kesulitan, kita rajin berdoa; begitu kesulitan hilang, kita lupa. Bukankah begitu? Saat kemarau, semua minta hujan. Saat hujan turun, kita lupa menjaga resapan airnya. Inilah lingkaran yang harus kita putus. Sabar dan syukur mestinya menjadi kebiasaan, bukan sekadar reaksi darurat saat air sudah setinggi lutut.

Lalu apa yang bisa kita lakukan setelah pulang dari sini malam ini? Saya usulkan tiga hal kecil yang nyata. Pertama, malam ini juga, kirim satu pesan pada saudara atau tetangga yang sedang diuji — bukan sekadar "sabar ya", tetapi "apa yang bisa saya bantu?". Kedua, besok pagi, mulai satu kebiasaan merawat bumi: pisahkan sampah organik dari yang bukan, atau tampung air wudhu untuk menyiram tanaman. Ketiga, sisihkan sedikit dari rezeki kita untuk korban bencana yang sudah lama tidak lagi diberitakan — karena merekalah yang paling membutuhkan justru saat semua sudah lupa.

Saudara-saudara, sabar bukanlah menyerah. Sabar adalah tetap berjalan, tetap berbuat baik, tetap menengadahkan tangan, walau jalan menanjak. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang sabar sekaligus berbuat baik, yang merawat bumi-Nya sebagai wujud syukur.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ إِخْوَانَنَا الْمُصَابِيْنَ، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَعَجِّلْ لَهُمُ الْفَرَجَ، وَاجْعَلْنَا لِأَرْضِكَ حَافِظِيْنَ لَا مُفْسِدِيْنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ مَائِنَا وَزَرْعِنَا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan