Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَحَلَّ الطَّيِّبَاتِ وَحَرَّمَ الْخَبَائِثَ، وَجَعَلَ الْمَالَ الْحَلَالَ زِيْنَةً لِعِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Hadirin yang dimuliakan Allah, marilah pada mimbar Jumat ini kita mulai dengan sebuah firman Allah yang menyentuh langsung persoalan yang mengepung rumah tangga kita hari ini.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَٰلُكُمْ وَلَآ أَوْلَٰدُكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَٰسِرُونَ
Allah berfirman dalam QS. Al-Munaafiqoon: 9: "Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi."
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, ayat ini turun bukan untuk melarang kita memiliki harta. Islam tidak pernah memusuhi harta; para sahabat besar seperti Abu Bakr, Utsman, dan Abdurrahman bin Auf adalah orang-orang kaya yang hartanya menjadi jalan menuju surga. Yang diperingatkan Allah adalah keadaan ketika harta berbalik menguasai kita — ketika mengejar, menjaga, atau mencemaskan harta menjadi begitu besar hingga ia menggeser Allah dari pusat hidup kita. Dan di zaman kita, hadirin, peringatan ini terasa jauh lebih tajam daripada di masa turunnya. Sebab hari ini, alat yang bisa melalaikan kita dari Allah itu ada di dalam genggaman, siang dan malam, di dalam telepon yang kita bawa ke mana-mana.
Dari berita pekan ini kita ketahui betapa nyata belenggu itu. Ramai diperbincangkan kisah seorang ibu — seorang istri, sekaligus ibu pekerja — yang membuka diri bahwa ia terjerat hutang pinjaman online yang, karena bunga yang menumpuk, telah membengkak sampai angka yang sulit dibayangkan untuk sebuah keluarga biasa. Bacalah kembali kalimatnya: ia menyebut dirinya bukan penjudi, bukan pemboros; ia hanya seorang ibu yang mencoba menambal kebutuhan, lalu terperosok ke dalam lubang bunga-berbunga yang tak berujung. Inilah wajah paling jujur dari fitnah harta hari ini: ia tidak datang sebagai godaan mewah, ia datang sebagai "solusi cepat" bagi orang yang sedang terhimpit.
Kabar lain yang sampai kepada kita pekan ini lebih menyayat karena datang dari tempat yang seharusnya menjaga. Publik dikejutkan oleh cerita tentang seorang anak dari kalangan pejabat yang justru asyik bermain judi online di lapak yang diblokir oleh pemerintah — pemerintah yang sama tempat orang tuanya mengabdi — lalu dengan ringan memamerkannya di media sosial. Dan dari satu daerah, kita dengar ironi yang pahit: seorang oknum aparat yang tugasnya memberantas narkoba malah tergelincir mencoba barang haram itu sendiri. Hadirin, kita tidak berdiri di sini untuk menghakimi orang per orang; kita berdiri untuk membaca polanya. Dan polanya adalah: penyakit ini tidak mengenal seragam, tidak mengenal jabatan, tidak mengenal garis keturunan. Ia masuk lewat celah yang sama pada setiap hati — kelalaian dari mengingat Allah.
Maka pertanyaan yang harus kita bawa pulang bukanlah "betapa buruknya mereka", melainkan "di mana celah yang sama itu ada pada diri kita?" Sebab yang membedakan kita dari mereka yang jatuh bukanlah bahwa kita lebih suci, melainkan boleh jadi hanya karena kita belum diuji dengan godaan yang sama besarnya. Kita mungkin belum pernah menekan tombol pasang taruhan, tetapi berapa kali kita menekan tombol "beli sekarang, bayar nanti" untuk sesuatu yang belum kita mampu? Kita mungkin belum pernah meminjam dari aplikasi berbunga, tetapi berapa kali hati kita gelisah membandingkan apa yang kita punya dengan apa yang dipamerkan orang lain di layar? Serigala yang sama sedang mengendus di halaman kita masing-masing, hadirin — hanya bentuk mangsanya yang berbeda.
Dan ada satu kabar lagi pekan ini yang harus kita sebut, meski berat, agar kita tidak melupakan yang paling lemah. Sampai kepada kita berita seorang perempuan yang menjadi korban kekerasan dan dipaksa terlibat dalam kejahatan zat terlarang. Di titik ini kita melihat bahwa penyakit sosial jarang datang sendirian; ia berjalan beriringan dengan kezaliman terhadap yang tak berdaya. Ketika kita berbicara tentang narkoba, jangan sampai mata kita hanya tertuju pada barang haramnya dan luput dari korban manusia yang tertindas di baliknya. Islam mengajarkan kita membaca dua lapis sekaligus: kemungkaran yang harus dilawan, dan korban yang harus dibela.
Hadirin yang dimuliakan Allah, mari kita perdalam dengan melihat bagaimana Islam memandang jalan harta yang haram ini. Allah berfirman tentang riba dengan bahasa yang keras:
يَمْحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰا۟ وَيُرْبِى ٱلصَّدَقَٰتِ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ
Dalam QS. Al-Baqara: 276 Allah menegaskan: "Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa." Perhatikan pilihan kata Allah, hadirin: yamhaqu — Allah memusnahkan, menggerus, menghilangkan berkahnya sedikit demi sedikit sampai habis. Inilah rahasia yang tidak tampak di layar aplikasi pinjaman itu. Angka di layar boleh bertambah, tapi berkahnya digerus. Sebaliknya yurbi — Allah menyuburkan sedekah, menumbuhkannya, meski di mata manusia sedekah itu tampak mengurangi harta. Ibu yang terjerat pinjol berbunga itu, secara angka ia meminjam untuk menambal; tapi secara hakikat, ia sedang menuang hartanya ke dalam lubang yang digerus keberkahannya oleh Allah sendiri.
Dan riba dalam pandangan Islam bukan dosa satu orang. Ia adalah dosa berjamaah. Rasulullah ﷺ bersabda, sebagaimana diriwayatkan dalam Bulugh al-Maram 951:
عَنْ جَابِرٍ رضى الله عنه قَالَ: لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم آكِلَ الرِّبَا، وَمُوكِلَهُ، وَكَاتِبَهُ، وَشَاهِدَيْهِ، وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ
Diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu 'anhu: "Rasulullah ﷺ melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, pencatatnya, dan dua saksinya, seraya bersabda: 'Mereka semua sama.'" Renungkanlah, hadirin, betapa luasnya jaring hadits ini. Bukan hanya yang mengambil bunga; bukan hanya yang memberi pinjaman. Yang mencatat pun terkena. Yang menjadi saksi pun terkena. Dan mereka semua, kata Nabi ﷺ, hum sawa' — sama. Bawalah hadits ini ke dunia kita hari ini. Ketika seseorang di grup keluarga merekomendasikan aplikasi pinjaman berbunga kepada saudaranya yang terhimpit, ia sedang berdiri di salah satu kursi itu. Ketika seseorang menandatangani sebagai penjamin transaksi ribawi hanya karena tidak enak menolak, ia berdiri di kursi itu. Islam menutup pintu riba dari segala sisinya, bukan hanya dari pintu depan.
Kenapa Islam sekeras itu terhadap riba, hadirin, sampai memakai kata la'ana — melaknat? Sebab riba adalah bentuk paling halus dari memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Ia berpakaian bantuan, tetapi bekerja sebagai perangkap. Ia datang di saat seseorang paling lemah — saat terhimpit, saat butuh, saat tak punya pilihan — lalu memanfaatkan kelemahan itu untuk mengambil lebih banyak. Di sinilah letak kezalimannya: yang kuat semakin kuat di atas penderitaan yang lemah, dan risiko ditimpakan sepenuhnya kepada peminjam sementara pemberi pinjaman dijamin untung apa pun yang terjadi. Aplikasi pinjaman berbunga hari ini adalah wajah modern dari kezaliman yang sama; ia hanya berganti seragam menjadi antarmuka yang ramah dan proses yang cepat. Justru kemasan yang manis inilah yang membuatnya lebih berbahaya daripada rentenir zaman dulu, sebab ia menjangkau jutaan orang sekaligus lewat layar, tanpa perlu bertatap muka, tanpa perlu merasa malu.
Dan inilah yang harus kita waspadai bersama, hadirin: banyak dari kita berpikir riba adalah urusan bank besar dan pengusaha kelas atas, sesuatu yang jauh dari dapur kita. Padahal hadits Nabi ﷺ tadi menunjuk langsung kepada peran-peran kecil yang sering kita anggap sepele. Merekomendasikan pinjol kepada teman yang kepepet dengan niat "membantu" — itu masuk. Menjadi joki atau perantara transaksi taruhan online demi komisi kecil — itu masuk. Menutup mata dan ikut memuluskan transaksi haram di tempat kerja karena "kan cuma menjalankan tugas" — itu pun masuk dalam lingkaran yang sama. Islam mengajarkan kita memeriksa bukan hanya perbuatan besar, tetapi juga kursi-kursi kecil yang tanpa sadar kita duduki dalam rantai kemungkaran.
Lalu apa akar dari semua ini, hadirin? Rasulullah ﷺ telah menunjukkannya dalam sebuah perumpamaan yang tajam, sebagaimana dalam Riyad as-Salihin 484:
مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِيْ غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ
Dari Ka'ab bin Malik radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Dua serigala lapar yang dilepas di tengah kawanan domba tidak lebih merusak bagi mereka daripada keserakahan seseorang terhadap harta dan ketenaran terhadap agamanya." Bayangkan gambar itu, hadirin: dua serigala lapar dilepas malam hari ke tengah kawanan domba yang tidak berdaya. Berapa banyak yang akan mati sebelum fajar? Itulah, kata Nabi ﷺ, gambaran kerusakan yang ditimbulkan oleh dua serigala dalam dada manusia — serigala keserakahan harta dan serigala gila hormat. Judi online menjanjikan keduanya sekaligus: harta cepat dan gengsi menang. Pinjaman berbunga menjanjikan gaya hidup yang belum mampu kita tanggung. Keduanya melepas serigala ke dalam agama kita.
Perhatikanlah, hadirin, betapa cermat pilihan kata Nabi ﷺ. Beliau tidak berkata "serigala itu merusak domba"; beliau berkata keserakahan itu merusak agama seseorang. Artinya, kerusakan pertama yang ditimbulkan judol dan pinjol bukanlah kerusakan finansial — itu datang belakangan. Kerusakan pertamanya adalah pengikisan agama: shalat yang tergesa karena pikiran tersita utang, kejujuran yang tergadai demi menutup lubang, hubungan keluarga yang retak karena rahasia dan kebohongan. Uang bisa dicari lagi; tetapi agama yang terkikis pelan-pelan sering tidak disadari sampai ia hampir habis. Inilah kenapa Nabi ﷺ memakai gambaran serigala — kerusakan yang cepat, senyap, dan menghabiskan sebelum pemiliknya terbangun.
Marilah kita belajar dari cara para pendahulu kita bersikap terhadap harta. Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, seorang khalifah yang menggenggam kekuasaan atas wilayah yang luas, hidup dengan tambalan di bajunya dan tidur di atas pelepah kurma. Bukan karena beliau tak mampu, tetapi karena beliau paham bahwa yang menguasai harta harus lebih kuat daripada harta itu sendiri. Bandingkan dengan tabiat zaman kita, di mana seseorang rela berhutang berbunga demi telepon keluaran terbaru, atau memasang taruhan demi terlihat "berhasil" di mata orang. Jarak antara dua sikap ini adalah jarak antara jiwa yang merdeka dan jiwa yang diperbudak. Serigala tadi hanya bisa masuk ke kandang yang tidak berpagar; dan pagar itu bernama qana'ah — merasa cukup dengan pemberian Allah.
Maka jalan keluarnya, hadirin, bukan sekadar menghindari, tetapi menyucikan sumbernya, yaitu jiwa. Allah berfirman:
وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا
Dalam QS. Ash-Shams: 10 Allah berfirman: "dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya" — yakni jiwa yang dikubur dan dikotori oleh dosa. Ayat sebelumnya berbicara tentang keberuntungan orang yang menyucikan jiwanya; ayat ini adalah bandingannya yang gelap. Setiap kali seseorang menekan tombol pasang taruhan, setiap kali seseorang menormalkan yang haram sebagai "sudah biasa", ia sedang menimbun debu di atas jiwanya. Inilah kerugian yang sesungguhnya — bukan sekadar rekening yang terkuras, tetapi jiwa yang tertutup.
Dan perhatikanlah, hadirin, betapa proses pengotoran ini berjalan diam-diam. Tidak ada seorang pun yang di hari pertama berkata "aku ingin menghancurkan keluargaku dengan judi". Semua bermula dari yang kecil dan terasa ringan: sekali coba, sekadar iseng, katanya cuma hiburan. Tetapi jiwa manusia bekerja seperti kaca: satu goresan hari ini, satu goresan besok, dan pada suatu hari kita tidak lagi bisa melihat jernih menembusnya. Inilah yang para ulama sebut sebagai matinya rasa — ketika hati tidak lagi bergetar saat melakukan yang haram, karena telah terbiasa. Judi online dan pinjaman berbunga hari ini begitu berbahaya justru karena kemudahannya: ia tidak menuntut keberanian melanggar, ia hanya menuntut satu sentuhan jari. Dan justru karena begitu mudah, ia begitu cepat menormalkan dirinya di dalam hati.
Maka tugas kita, hadirin, adalah membalik arah itu — bukan menunggu jiwa cukup kotor untuk baru dibersihkan, tetapi menjaganya bening sejak awal. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa hati manusia berkarat sebagaimana besi berkarat, dan pengilapnya adalah dzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur'an. Di sinilah semua benang tema pekan ini bertemu pada satu simpul: pangkal dari jerat harta bukanlah lemahnya ekonomi semata, melainkan hati yang lalai. Perbaiki hubungan hati dengan Allah, dan serigala kehilangan pijakannya. Inilah dakwah yang sesungguhnya kita butuhkan pekan ini — bukan sekadar memperingatkan "judi itu haram", tetapi menuntun hati kembali kepada Allah agar ia tidak lagi menganggap yang haram itu menarik.
Hadirin yang dimuliakan Allah, dari mimbar ini mari kita bawa pulang beberapa langkah nyata untuk pekan ini, sebab iman yang tidak turun menjadi amal hanyalah angan-angan. Pertama, mari kita audit telepon kita masing-masing malam ini: hapus satu aplikasi judi, satu tautan pinjaman berbunga, satu fitur paylater yang selama ini membuka pintu belanja di luar kemampuan. Satu saja, malam ini — sebab perubahan besar selalu bermula dari satu langkah kecil yang kita ambil dengan sungguh-sungguh, bukan dari niat besar yang tak pernah dijalankan.
Kedua, mari kita jadikan rumah sebagai benteng. Bicarakan dengan pasangan dan anak-anak, secara terbuka dan tanpa menghakimi, tentang bahaya yang masuk lewat layar. Jangan tunggu sampai masalah meledak baru bicara; buka percakapan sekarang, saat suasana masih tenang. Anak yang merasa aman bercerita kepada orang tuanya adalah anak yang paling terlindungi dari serigala di layar. Ketiga, bagi kita yang Allah beri kelapangan, mari kita hidupkan kembali qardh hasan — pinjaman kebaikan tanpa bunga — di lingkungan kita. Bayangkan seandainya di setiap masjid, di setiap RT, ada satu kas kecil tempat saudara yang terhimpit bisa meminjam tanpa dijerat bunga. Itulah pintu halal yang harus kita sediakan sebelum saudara kita terpaksa mengetuk pintu ribawi karena tak ada pilihan lain.
Keempat, mari kita rawat sikap terhadap yang sudah terjerat: mereka butuh tangan yang menolong, bukan jari yang menuding. Ibu yang terlilit pinjol itu, saudara yang tergelincir judi itu — mereka bukan musuh yang harus dipermalukan, melainkan korban yang harus diselamatkan. Kelima, mari kita perbanyak sedekah, sebab Allah sendiri berjanji menyuburkannya sementara Ia menggerus riba; sedekah adalah investasi yang timbangannya di sisi Allah, bukan di layar aplikasi. Keenam, dan ini yang paling mendasar, mari kita jaga dzikir harian kita, sebab pangkal dari semua kelalaian ini adalah hati yang lupa kepada Allah. Hati yang basah oleh dzikir tidak mudah dimasuki serigala; hati yang kering adalah kandang yang terbuka.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Hadirin yang dimuliakan Allah, di khutbah kedua ini izinkan kita menggali lebih dalam beberapa sisi yang mudah terlewat. Yang pertama, kita cenderung memandang korban pinjol dan judol sebagai orang yang "salah sendiri". Kita berkata dalam hati, "kenapa dia bodoh sekali sampai terjerat?" Tetapi ibu yang terjerat ratusan juta itu tidak bangun pagi lalu memutuskan menghancurkan keluarganya. Ia terperosok pelan-pelan, satu pinjaman menutup pinjaman lain, dalam sistem yang memang dirancang agar mudah masuk dan sulit keluar. Rasulullah ﷺ ketika menghadapi orang yang berbuat salah, tidak pernah memulai dengan mempermalukan; beliau memulai dengan merangkul dan meluruskan. Sikap kita sebagai umat semestinya adalah sikap penyelamat, bukan hakim. Menolong yang tenggelam lebih utama daripada menceramahi cara ia jatuh ke air. Menuding korban hanya menambah bebannya, dan sering justru mendorongnya makin dalam ke lubang karena malu untuk keluar.
Sisi kedua: kegelapan yang diperingatkan Nabi ﷺ tentang kezaliman itu nyata di pekan ini. Sampai kepada kita kabar seorang perempuan yang dipaksa dan disiksa hingga dijadikan alat dalam kejahatan narkoba. Di sini penyakit sosial digital bertemu dengan kezaliman terhadap yang lemah — dua kegelapan yang bertumpuk dalam satu peristiwa. Tugas kita bukan hanya menjauhi barang haramnya, tetapi juga membuka mata pada korban tersembunyi di balik label kasus. Sebab dakwah yang sehat bukan hanya bicara tentang dosa yang tampak di permukaan; ia juga membela mereka yang suaranya tidak terdengar. Jangan sampai kita begitu sibuk mengecam kemungkaran sampai lupa memeluk korbannya.
Sisi ketiga: keserakahan itu, sebagaimana serigala tadi, akan terus lapar jika tidak dikekang dengan qana'ah. Kekayaan sejati, kata Nabi ﷺ, bukanlah banyaknya harta, melainkan kaya hati. Selama hati kita belum merasa cukup, tidak ada angka yang akan menghentikan perburuan; yang punya sejuta akan mengejar sepuluh juta, yang punya sepuluh akan mengejar seratus. Maka benteng terakhir dari semua fitnah harta ini bukan di dompet, melainkan di dada. Orang yang hatinya kaya bisa hidup sederhana tanpa merasa kurang; orang yang hatinya miskin akan selalu merasa kurang berapa pun yang ia timbun. Inilah rahasia yang membuat para sahabat mulia hidup zuhud di tengah kelapangan.
Sisi keempat: perbaikan tidak menunggu kebijakan besar dari atas. Ia dimulai dari satu telepon yang diaudit, satu tetangga yang ditolong, satu kebiasaan yang ditinggalkan hari ini. Menjaga harta dan jiwa umat dari jerat ini adalah fardh kifayah — kewajiban kolektif yang terpikul di pundak kita bersama, yang gugur hanya bila cukup banyak dari kita yang menanganinya, dan menjadi dosa bersama bila kita semua berpangku tangan. Kelak di yaumil hisab, kita tidak akan ditanya tentang apa yang dilakukan pejabat atau lembaga; kita akan ditanya tentang apa yang kita lakukan dari posisi kita sendiri. Maka mari kita jawab pertanyaan itu mulai hari ini, dengan langkah yang kecil tetapi nyata.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ، وَمِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ، اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.
اَللّٰهُمَّ فُكَّ كُرْبَةَ كُلِّ مَدِيْنٍ مِنْ إِخْوَانِنَا الْمُسْلِمِيْنَ، وَاهْدِ مَنْ زَلَّتْ قَدَمُهُ إِلَى الْقِمَارِ وَالْمُسْكِرَاتِ، وَارْحَمْ كُلَّ مَظْلُوْمٍ ضَعِيْفٍ فِيْ أَرْضِنَا.
اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
