Pekan ini kita banyak mendengar tentang harta dan kesenangan dunia yang menjerat manusia hingga lupa batas. Ada satu kisah dari zaman para sahabat yang bicara tentang ujung terjauh dari melepaskan diri dari kesenangan diri sendiri. Imam Yusuf al-Kandahlawi rahimahullah dalam Hayat as-Sahabah — Bab Keluarnya Para Sahabat dari Syahwat Jiwa menghimpun kisah Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah radhiyallahu 'anhu, sang "kepercayaan umat ini".
Perang Badar. Matahari membakar lembah. Debu beterbangan di antara dentang pedang dan teriakan.
Di barisan kaum muslimin berdiri Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah radhiyallahu 'anhu. Tubuhnya tinggi, wajahnya tenang. Ia bukan orang sembarangan di sisi Rasulullah ﷺ — dialah yang kelak digelari amin hadzihil ummah, orang kepercayaan umat ini.
Tapi hari itu ada satu orang di barisan musyrikin yang terus mengincarnya. Terus mendekat. Terus mencari celah untuk membunuhnya.
Orang itu ayahnya sendiri.
Abu 'Ubaidah menghindar. Ia berkelit ke kiri, ke kanan. Ia tidak mau berhadapan. Setiap kali ayahnya datang menyerang, ia menyingkir. Hatinya tahu siapa yang di depannya — darah dagingnya, orang yang membesarkannya.
Tapi sang ayah tidak berhenti. Ia terus memburu. Pedangnya terus mengancam nyawa anaknya sendiri, atas nama berhala yang ia sembah.
Sampai suatu titik, ketika ayahnya makin memaksa mengejar, Abu 'Ubaidah tidak lagi bisa menghindar. Ia berbalik. Ia hadapi. Dan ia tebas ayahnya itu hingga tewas.
Bukan karena benci. Bukan karena harta. Tapi karena garis telah ditarik: di satu sisi Allah dan Rasul-Nya, di sisi lain segala ikatan jiwa — ayah, anak, saudara, harta. Dan Abu 'Ubaidah memilih Allah.
Maka turunlah ayat tentang orang-orang seperti dia:
لاَّ تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُوْلَئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ
"Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun mereka itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah ditanamkan keimanan dalam hati mereka." (QS. Al-Mujadalah: 22)
Abu 'Ubaidah tidak menceritakan peristiwa itu dengan bangga. Tidak ada sorak. Yang ada hanya keteguhan seorang lelaki yang telah memutus tali jahiliah demi mengikat tali Islam.
Pelajaran
Kisah ini bukan tentang membenci keluarga — Islam justru memerintahkan berbakti kepada orang tua sampai batas terjauh. Ini tentang urutan cinta. Abu 'Ubaidah menaruh Allah di atas segala ikatan jiwa, dan justru dari sanalah keimanan "ditanamkan di hatinya". Di pekan ketika kita melihat begitu banyak orang diseret oleh kesenangan dan harta — judi, pinjaman berbunga, gengsi — kisah ini menampar pelan: kalau seorang sahabat sanggup melepaskan ikatan sedarah demi Allah, apakah kita tidak sanggup melepaskan satu aplikasi judi, satu kebiasaan belanja berhutang, satu godaan kecil di layar telepon? Melepaskan syahwat jiwa selalu terasa berat di awal. Tapi di sanalah, kata Allah, iman ditanam.
Sumber Asli
Hayat as-Sahabah — الباب الرابع باب الهجرة / باب خروج الصحابة عن الشهوات النفسانية
حياة الصحابة باب خروج الصحابة عن الشهوات النفسانية قطع حبال الجاهلية لتشييد حبال الإسلام قتل أبي عبيدة بن الجراح أباه يوم بدر أخرج أبو نُعيم في الحلية عن ابن شَوْذَب قال: جعل أبو أبي عبيدة بن الجراح يتصدّى لابنه أبي عبيدة رضي الله عنه يوم بدر، فجعل أبو عبيدة يحيد عنه، فلما أكثر قَصَدَه أبو عبيدة فقتله. فأنزل الله تعالى فيه هذه الآية حين قتل أباه: {لاَّ تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الاْخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ اللَّهَ} {وروسوله ولو كان آباءهم أو أبناءهم أو إخوانهم أو عشيرتهم} {أُوْلَئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ} (سورة المجادلة، الآية: 22). وأخرج البيهقي والحاكم عن عبد الله بن شوذب نحوه. قال البيهقي: هذا منقطع. وأخرجه الطبراني أيضاً بسند جيد عن ابن شَوْذَب نحوه، كما في الإِصابة.
