أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ رَزَقَ عِبَادَهُ مِنَ الطَّيِّبَاتِ، وَأَوْجَبَ الْحَلَالَ فِيْ كُلِّ مُعَامَلَةٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati ini, kita mendengar kabar seorang ibu yang terlilit hutang pinjaman online sampai angka yang membuat kita menahan napas — bukan karena ia berfoya-foya, tapi karena ia mencoba bertahan. Ada satu pesan yang ingin saya bagikan malam ini, dan saya minta kita renungkan bersama, bukan sebagai orang yang merasa aman, tapi sebagai orang yang sama-sama membawa telepon di saku.
Saudara-saudara sekalian, coba kita bayangkan sebuah gambar yang pernah dilukiskan oleh Rasulullah ﷺ. Dua ekor serigala yang sedang kelaparan, dilepas di malam hari ke tengah kandang domba yang tidak berpagar. Apa yang terjadi sampai pagi? Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits yang shahih:
مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِيْ غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ
"Dua serigala lapar yang dilepas di tengah kawanan domba tidak lebih merusak bagi mereka daripada keserakahan seseorang terhadap harta dan ketenaran terhadap agamanya." Bayangkan, jamaah — kerusakan yang ditimbulkan dua serigala terhadap kawanan domba yang tak berdaya, itulah yang ditimbulkan dua serigala lain terhadap agama kita: serigala serakah harta, dan serigala gila hormat. Dan pekan ini, saya rasa kita semua melihat betapa dua serigala itu sekarang punya kandang baru: layar telepon kita.
Coba kita jujur pada diri sendiri. Judi online tidak lagi butuh kita datang ke tempat gelap; ia menyapa lewat notifikasi, lewat iklan di sela video, lewat teman yang berbisik "sekali coba, siapa tahu rezeki". Pinjaman berbunga tidak lagi butuh kita antre di kantor; ia cukup satu klik, cair dalam hitungan menit, lalu menagih dengan bunga yang beranak-pinak. Serigala itu tidak masuk lewat pintu depan yang kita jaga; ia masuk lewat jendela kecil yang selalu terbuka di saku kita.
Pekan ini kita juga mendengar kabar yang membuat kita geleng kepala. Ada anak dari kalangan pejabat yang justru asyik bermain judi di lapak yang diblokir pemerintah, lalu memamerkannya. Ada oknum aparat yang tugasnya memberantas narkoba malah tergelincir mencobanya. Dan ada kabar yang lebih pahit — seorang perempuan yang disiksa dan dipaksa terlibat dalam kejahatan zat terlarang. Saudara-saudara, saya tidak ingin kita berhenti pada rasa marah kepada mereka. Sebab kalau kita hanya marah, kita melewatkan pertanyaan yang lebih penting: kalau serigala itu bisa masuk ke dada seorang penjaga, apa yang membuat kita yakin dada kita lebih terkunci?
Allah mengingatkan kita dalam QS. Al-Munaafiqoon: 9: "Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi." Perhatikan, jamaah, Allah tidak berkata "janganlah hartamu membuatmu miskin" atau "janganlah hartamu membuatmu malu". Allah berkata: janganlah harta melalaikanmu dari mengingat Allah. Karena begitu hati lupa kepada Allah, serigala masuk tanpa perlawanan. Judol dan pinjol bukan sekadar masalah dompet; ia gejala dari hati yang mulai lalai.
Lalu apa yang ayat dan hadits ini ungkapkan tentang diri kita? Bahwa musuh terbesar kita bukan aplikasi di telepon — aplikasi hanya pintu. Musuh terbesar adalah hati yang tidak pernah merasa cukup. Selama hati belum kenal qana'ah, berapa pun yang kita punya akan terasa kurang, dan kita akan terus mencari jalan pintas, halal atau tidak. Serigala keserakahan tidak pernah kenyang; ia hanya bisa dikurung, bukan dikenyangkan.
Dan saudara-saudara, mari kita jujur tentang bagaimana hati yang tidak cukup itu dipelihara setiap hari. Kita membuka layar, dan yang kita lihat adalah orang lain dengan mobil baru, liburan mewah, gaya hidup yang berkilau. Kita tidak melihat cicilan yang mencekik di baliknya, tidak melihat hutang yang menumpuk untuk membiayai kilau itu. Yang masuk ke hati kita hanya perbandingan: kenapa dia bisa, aku tidak? Dari perbandingan itulah lahir keinginan yang tidak wajar, dan dari keinginan yang tidak wajar itulah orang nekat menekan tombol pinjam atau pasang. Maka menjaga hati di zaman ini termasuk menjaga apa yang kita biarkan masuk lewat mata. Bukan berarti kita harus buang telepon — itu tidak realistis. Tetapi kita bisa memilih: mengurangi menatap yang membuat kita merasa kurang, dan memperbanyak mensyukuri yang sudah Allah beri.
Ada satu hal lagi yang ingin saya titipkan, jamaah. Pekan ini kita juga melihat bahwa serigala ini bisa masuk ke dada siapa saja — bahkan ke dada mereka yang seharusnya menjaga. Ini seharusnya membuat kita rendah hati, bukan sombong. Jangan pernah kita berkata "alhamdulillah saya tidak seperti mereka" dengan nada meremehkan, sebab yang menjaga kita tetap lurus bukanlah kehebatan kita, melainkan penjagaan Allah semata. Doa yang paling pantas kita panjatkan bukan "ya Allah, hukum mereka", melainkan "ya Allah, jaga hati kami agar tidak tergelincir seperti mereka."
Maka saudara-saudara, malam ini sebelum kita tidur, saya mengajak kita melakukan tiga hal kecil. Pertama, buka telepon kita, dan hapus satu saja — satu aplikasi judi, satu tautan pinjaman berbunga, atau satu fitur belanja cicilan yang selama ini menggoda kita berbelanja di luar kemampuan. Satu saja malam ini, sebagai tanda kita masih memegang kendali. Kedua, kalau kita punya saudara atau tetangga yang sedang terjerat, kirim satu pesan yang menolong, bukan yang menghakimi — tanyakan kabarnya, tawarkan bantuan yang nyata. Ketiga, tambah satu dzikir sebelum tidur malam ini, sebagai cara mengunci kembali pintu hati yang mudah terbuka itu.
Jamaah yang saya hormati, mari kita tutup dengan satu kesimpulan yang saya harap menempel sampai besok pagi: serigala itu nyata, dan kandangnya ada di saku kita. Tapi kita bukan domba yang tak berdaya — kita punya pagar bernama iman, dzikir, dan qana'ah. Malam ini, mari kita perkuat satu bagian dari pagar itu, sekecil apa pun.
اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ، اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ، وَارْحَمْ كُلَّ مَنِ ابْتُلِيَ مِنَّا بِفِتْنَةِ الْمَالِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
