بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ رَزَقَ عِبَادَهُ مِنَ الطَّيِّبَاتِ، وَأَوْجَبَ الْعَدْلَ فِيْ كُلِّ مُعَامَلَةٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lalui ini, kita banyak mendengar kabar tentang pekerja yang dirumahkan dan keluhan bahwa mencari nafkah terasa makin seret. Ada satu pesan sederhana yang ingin saya bagikan malam ini — bukan untuk menambah beban, tapi untuk meringankan hati kita yang mungkin sedang gelisah soal rezeki.
Mari kita mulai dari pertanyaan jujur: siapa di antara kita yang pekan ini pernah merasa cemas soal uang? Cemas soal cicilan, soal harga sembako yang naik, soal pekerjaan yang belum pasti. Rasa itu manusiawi. Tapi izinkan saya membacakan satu ayat yang menenangkan sekaligus menuntut kejujuran dari kita, firman Allah dalam surah Ar-Rahman:
وَأَقِيمُوا۟ ٱلْوَزْنَ بِٱلْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا۟ ٱلْمِيزَانَ
QS. Ar-Rahmaan: 9 — "Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu."
Ayat ini biasanya kita pahami sebagai perintah untuk pedagang: jangan curang menimbang. Tapi ada makna yang lebih dalam, saudara-saudara. Allah menyandingkan timbangan ini dengan keseimbangan langit dan bumi. Seolah Allah berkata: keadilan dalam urusan rezeki itu bagian dari keteraturan alam semesta. Ketika kita mengurangi hak orang lain — hak pekerja, hak pemasok, hak pelanggan — kita sebenarnya sedang menggoyang satu bagian kecil dari keseimbangan yang Allah jaga.
Pekan ini kabar yang sampai ke kita bercerita tentang pekerja teknologi yang divisi lokalnya menyusut drastis karena keputusan penyelarasan tim, dan tentang tenaga honorer di daerah yang sebagian terancam dirumahkan. Kabar-kabar seperti ini membuat kita bertanya: di manakah keadilan bagi pekerja kecil? Dan itu pertanyaan yang sah. Tapi mari kita balik cerminnya sebentar ke diri kita sendiri. Sebelum kita menuntut keadilan dari yang di atas, apakah timbangan kita sendiri sudah tegak? Apakah kita membayar orang yang bekerja untuk kita tepat waktu? Apakah kita, ketika membeli dari pedagang kecil, menawar sampai mereka rugi hanya demi hemat beberapa ribu rupiah?
Ada juga kegetiran yang lebih halus pekan ini, yaitu perasaan bahwa beban pajak dan potongan terus mengejar rakyat kecil, sementara sebagian yang di atas terlihat menikmati lebih dari yang pantas. Perasaan ini nyata dan tidak perlu kita ingkari. Tapi Islam mengajarkan kita satu hal penting: jangan biarkan ketidakadilan yang kita lihat di luar membuat kita ikut curang di dalam. Kalau kita membalas timbangan yang miring dengan menjadi tidak jujur pula, kita hanya menambah kemiringan itu.
Dengarlah peringatan Rasulullah ﷺ yang tajam sekali:
اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Riyad as-Salihin 203 — Rasulullah ﷺ bersabda, "Jauhilah kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan pada Hari Kiamat." Perhatikan pilihan kata Nabi ﷺ, saudara-saudara. Kezaliman itu tidak disebut "dosa" saja, tapi "kegelapan" — zhulumāt, gelap yang berlapis-lapis. Setiap kali kita mengurangi hak orang, kita menyalakan satu titik gelap yang kelak akan mengelilingi kita di hari ketika cahaya paling kita butuhkan.
Maka apa yang bisa kita renungkan tentang diri kita malam ini? Rezeki yang sempit bukanlah tanda Allah membenci kita. Kadang rezeki disempitkan justru untuk menguji: apakah kita akan tetap jujur ketika keadaan sulit? Nabi ﷺ sendiri hidup dalam kesederhanaan yang luar biasa, kadang berhari-hari dapurnya tidak menyalakan api. Namun beliau tidak pernah menempuh jalan harta yang tidak halal. Ini mengajarkan kita bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari besarnya penghasilan, melainkan dari kehalalan dan kejujurannya.
Ada satu hal lagi yang perlu kita renungkan, saudara-saudara, tentang cara kita memandang pekerjaan. Kita hidup di zaman ketika gengsi sering menempel pada jenis pekerjaan. Kita bangga menyebut anak yang bekerja di menara kaca, tetapi diam-diam malu menyebut anak yang menjadi tukang atau petani. Padahal Rasulullah ﷺ menyebut kerja tangan sendiri sebagai penghasilan yang paling baik. Bayangkan, buruh yang pulang dengan tangan lecet, petani yang punggungnya basah keringat, guru honorer yang mengajar dengan gaji kecil tapi ikhlas — mereka semua, di mata Allah, sedang menjalankan penghasilan yang paling mulia. Kalau begitu, mengapa kita masih memakai ukuran manusia untuk menilai kemuliaan, dan bukan ukuran Allah? Barangkali salah satu sumber kegelisahan kita soal rezeki adalah karena kita mengukur kecukupan dengan mata orang lain, bukan dengan syukur di hati sendiri.
Dan pertanyaan yang lebih dalam lagi, saudara-saudara: kenapa hati kita begitu mudah gelisah soal rezeki? Bukankah Allah sudah menjamin rezeki setiap makhluk yang bernapas? Kegelisahan itu sering muncul bukan karena rezekinya benar-benar tidak ada, tapi karena kita takut kehilangan gaya hidup, takut turun kelas di mata orang, takut tidak bisa mengikuti apa yang orang lain punya. Di sinilah timbangan hati kita diuji. Semakin kita menyandarkan ketenangan pada besarnya angka di rekening, semakin gelisah kita ketika angka itu goyah. Tetapi semakin kita menyandarkan ketenangan pada jaminan Allah, semakin tenang kita menghadapi rezeki yang naik-turun. Menata timbangan rezeki, ternyata, dimulai dari menata timbangan hati.
Dan bagi kita yang sedang lapang, ada tanggung jawab. Ketika kita melihat tetangga kehilangan pekerjaan, atau pedagang kecil di ujung gang mulai sepi, jangan hanya mengucap "sabar ya". Tanyakan apa yang bisa kita bantu. Belilah dari mereka. Sambungkan mereka pada peluang. Karena menolong nafkah halal saudara kita adalah salah satu sedekah paling mulia.
Jadi malam ini, saudara-saudara, mari kita pulang dengan tiga langkah kecil. Pertama, malam ini juga, periksa satu timbangan dalam hidup kita — apakah ada hak orang yang belum kita tunaikan, sekecil apa pun. Kalau ada, tunaikan besok. Kedua, esok pagi, belilah satu barang dari pedagang kecil di sekitar rumah tanpa menawar sampai mereka rugi. Ketiga, cari satu orang yang sedang kesulitan rezeki di lingkungan kita, dan tanyakan dengan tulus apa yang bisa kita bantu.
Sebagai penutup, ingatlah bahwa keadilan yang kita jaga di meja kecil kita hari ini adalah benih dari keadilan besar yang kita rindukan di negeri ini. Kita tidak bisa memperbaiki seluruh timbangan negeri dalam semalam, tapi kita bisa memastikan timbangan yang ada di tangan kita tegak lurus. Dari situlah perbaikan dimulai.
اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا وَاسِعًا، وَاكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ مُعَامَلَاتِنَا عَادِلَةً، وَاجْبُرْ قُلُوْبَ الْمَكْرُوْبِيْنَ مِنَ الْعَامِلِيْنَ وَالْفَلَّاحِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
