Di tengah kabar pekan ini tentang kemewahan yang dipamerkan dan harta umat yang diperebutkan, ada satu potret lama tentang pemimpin yang justru kelaparan bersama sahabatnya. Imam at-Tirmidzi rahimahullah dalam «Asy-Syama'il al-Muhammadiyyah» — Bab tentang cara hidup Rasulullah ﷺ menghimpun riwayat-riwayat tentang betapa sederhananya penghidupan Nabi ﷺ. Salah satunya terjadi di sebuah siang yang terik di Madinah.
Matahari sedang di puncaknya. Jalan-jalan Madinah lengang. Orang-orang berteduh di dalam rumah, menunggu panas mereda.
Di jam seperti itu, Rasulullah ﷺ keluar dari rumahnya. Aneh. Bukan waktu beliau biasa keluar.
Tidak lama, Abu Bakar radhiyallahu 'anhu muncul. Beliau ﷺ bertanya, "Apa yang membuatmu keluar, wahai Abu Bakar?"
"Aku keluar untuk menemui Rasulullah, memandang wajahmu, dan memberi salam," jawab Abu Bakar.
Belum lama, Umar radhiyallahu 'anhu pun datang. "Apa yang membuatmu keluar, wahai Umar?"
"Rasa lapar, wahai Rasulullah," jawab Umar terus terang.
Rasulullah ﷺ tersenyum. "Aku pun merasakan sebagian dari yang kau rasakan."
Tiga manusia terbaik zaman itu, berdiri di bawah terik, disatukan oleh satu hal yang sederhana: lapar. Bukan kemewahan yang mempertemukan mereka, melainkan perut yang kosong.
Maka berangkatlah mereka ke rumah Abu al-Haitsam bin at-Tayyihan al-Anshari, seorang yang punya banyak pohon kurma dan kambing. Tapi ia tidak di rumah. Istrinya berkata bahwa suaminya pergi mengambilkan air tawar untuk mereka.
Tak lama Abu al-Haitsam datang, memikul girbah berisi air penuh. Ia meletakkannya, lalu bergegas memeluk Nabi ﷺ, menebusnya dengan ayah dan ibunya. Ia bawa tamu-tamunya ke kebun, membentangkan tikar.
Lalu ia pergi ke pohon kurma dan datang membawa setandan kurma. Nabi ﷺ berkata, "Kenapa tidak engkau pilihkan yang matang saja untuk kami?"
"Aku ingin engkau sendiri yang memilih, wahai Rasulullah — mana yang ruthab, mana yang busr," jawab Abu al-Haitsam.
Mereka pun makan kurma itu dan minum air sejuk tadi. Setelah kenyang, Rasulullah ﷺ bersabda kalimat yang menggetarkan:
هَذَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مِنَ النَّعِيمِ الَّذِي تُسْأَلُونَ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ! ظِلٌّ بَارِدٌ، وَرُطَبٌ طَيِّبٌ، وَمَاءٌ بَارِدٌ
"Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, inilah termasuk kenikmatan yang akan ditanyakan kepada kalian pada Hari Kiamat! Naungan yang sejuk, kurma yang lezat, dan air yang dingin."
Bayangkan. Naungan, kurma, dan air — hal yang paling sederhana — disebut Nabi ﷺ sebagai nikmat yang akan dihisab. Padahal ini pemimpin yang kalau mau, bisa saja hidup mewah.
Abu al-Haitsam lalu hendak menyembelihkan hewan. Nabi ﷺ berpesan, "Jangan sembelih yang sedang menyusui." Maka disembelihnya seekor kambing muda, dan mereka makan.
Sebelum pergi, Nabi ﷺ bertanya, "Apakah engkau punya pembantu?" Abu al-Haitsam menjawab tidak. Beliau ﷺ berkata, "Kalau nanti datang tawanan kepada kami, datanglah."
Kemudian datanglah beberapa tawanan. Abu al-Haitsam menghadap. Nabi ﷺ menyuruhnya memilih. "Pilihkan saja untukku, wahai Rasulullah," katanya. Maka Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ الْمُسْتَشَارَ مُؤْتَمَنٌ، خُذْ هَذَا، فَإِنِّي رَأَيْتُهُ يُصَلِّي، وَاسْتَوْصِ بِهِ مَعْرُوفًا
"Sesungguhnya orang yang dimintai nasihat itu adalah pemegang amanah. Ambillah yang ini, karena aku melihatnya shalat, dan perlakukanlah ia dengan baik."
Abu al-Haitsam pulang, menceritakannya kepada istrinya. Sang istri berkata, "Engkau tidak akan memenuhi hak yang disabdakan Nabi tentangnya kecuali dengan memerdekakannya." "Kalau begitu, ia merdeka," kata Abu al-Haitsam.
Pelajaran
Kisah ini mempertemukan dua amanah dalam satu siang: amanah atas nikmat, dan amanah atas orang yang lemah. Pemimpin umat itu lapar, bukan karena tak mampu, melainkan karena hatinya tidak terpaut pada dunia — dan justru kurma dan air sejuk yang paling sederhana pun ia sebut sebagai nikmat yang akan dihisab. Betapa jauh sikap ini dari mereka yang menumpuk lalu memamerkannya. Lalu ketika seorang tawanan diserahkan, Nabi ﷺ tidak memperlakukannya sebagai barang; beliau berpesan agar diperlakukan dengan baik karena ia seorang yang shalat, dan berakhir dengan pembebasannya. Di pekan ketika kita gelisah tentang harta umat yang diperebutkan, kisah ini menuntun kita ke pertanyaan yang jujur: apakah nikmat yang kita pegang membuat kita makin bersyukur dan makin lembut kepada yang lemah — atau makin lupa bahwa semuanya akan ditanya?
Sumber Asli
«Asy-Syama'il al-Muhammadiyyah» — 50- باب ما جاء في عيش رسول الله صلى الله عليه وسلم
حدثنا محمد بن إسماعيل. حدثنا آدم بن أبي سلمة بن أبي إياس. حدثنا شيبان. حدثنا عبد الملك بن عمير عن ابن عبد الرحمن عن أبي هريرة قال: خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم في ساعة لا يخرج فيها ولا يلقاه فيها أحد، فأتاه أبو بكر فقال: ما جاء بك يا أبا بكر؟ قال: خرجت ألقى رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنظر في وجهه، والتسليم عليه، فلم يلبث أن جاء عمر، فقال ما جاء بك يا عمر؟ قال الجوع يا رسول الله. قال صلى الله عليه وسلم وأنا قد وجدت بعض ذلك.
فانطلقوا إلى منزل أبي الهيثم بن التيّهان الأنصاريّ… فوضعها، ثم جاء يلتزم النبي صلى الله عليه وسلم ويفديه بأبيه وأمّه، ثم انطلق بهم إلى حديقته فبسط لهم بساطا، ثم انطلق إلى نخلة فجاء بقنو فوضعه، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: أفلا تنقّيت لنا من رطبه؟ فقال يا رسول الله إني أردت أن تختاروا أو تخيروا من رطبه وبسره، فأكلوا وشربوا من ذلك الماء. فقال صلى الله عليه وسلم: هذا والذي نفسي بيده من النعيم الذي تسألون عنه يوم القيامة! ظل بارد، ورطب طيّب، وماء بارد.
فقال صلى الله عليه وسلم: هل لك خادم؟ قال لا. قال: فإذا أتانا سبي فأتنا؛ فأُتي صلى الله عليه وسلم برأسين… فقال النبي صلى الله عليه وسلم: إن المستشار مؤتمن، خذ هذا، فإنّي رأيته يصلي، واستوص به معروفا. فانطلق أبو الهيثم إلى امرأته فأخبرها بقول رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقالت امرأته: ما أنت ببالغ حقّ ما قال فيه النبي صلى الله عليه وسلم إلّا بأن تعتقه، قال فهو عتيق.
