Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsPendidikan & SDMKamis, 9 Juli 2026

Kisah Pendek — "Yang Tinggal untuk Belajar"

Di tengah pekan yang penuh kabar tentang sekolah dan para pengajar, ada satu kisah lama yang layak kita dengar kembali — tentang bagaimana generasi terbaik menempatkan ilmu, bahkan di saat perang sekalipun. Imam Yusuf al-Kandahlawi rahimahullah dalam Hayat as-Sahabah — الباب الرابع باب الهجرة / الإهتمام بالتعليم في الجهاد menghimpun perkataan Ibnu Abbas tentang perhatian umat pada ilmu di tengah jihad.

Madinah masa itu adalah kota yang selalu bersiaga. Kabar tentang seruan berangkat berperang datang silih berganti. Debu dari kaki kuda mengendap di jalanan, dan pedang tergantung di dinding rumah-rumah, siap kapan saja.

Angin gurun membawa panas ke lorong-lorong kota. Di dekat masjid, sekelompok orang berkumpul. Sebagian memasang pelana. Sebagian lagi memeriksa tali busur. Wajah-wajah itu tegang, tetapi tenang. Mereka tahu apa artinya panggilan jihad.

Ada satu perintah yang turun kepada kaum mukminin. Bunyinya keras, menuntut mereka bergerak.

إِلَّا تَنفِرُوا۟ يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

"Jika kamu tidak berangkat, niscaya Allah akan menyiksa kamu dengan siksa yang pedih." Ancaman itu jelas. Berangkat berjihad menjadi tuntutan.

Sebagian sahabat lalu berpikir keras. Kalau semua orang wajib berangkat, apakah tidak seorang pun boleh tinggal? Lalu siapa yang akan menjaga kota? Dan yang lebih penting — siapa yang akan menjaga ilmu?

Maka turunlah ayat lain yang menyeimbangkan.

وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةً

"Tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu berangkat semuanya." Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menjelaskan makna ayat ini. Tidak semua harus pergi berperang. Harus ada kelompok yang tinggal.

Untuk apa mereka tinggal? Bukan untuk bersantai. Mereka tinggal untuk tafaqquh fid-din — mendalami agama. Mereka menjaga ilmu, mempelajarinya, memahaminya dengan sungguh-sungguh. Sementara saudara-saudara mereka menempuh medan yang berdebu, mereka menempuh medan yang lain: medan halaqah, tempat wahyu dipelajari dan dipahami.

Di sudut masjid, majelis-majelis kecil tetap menyala. Suara bacaan Al-Qur'an mengalir pelan di antara tiang-tiang. Ayat yang baru turun dihafal, dibahas, diresapi maknanya. Mereka yang tinggal tidak sedang bersembunyi dari bahaya; mereka sedang menyimpan bekal untuk seluruh umat.

Dan ketika para pejuang kembali dari medan, membawa lelah dan luka, kelompok yang tinggal ini menyambut mereka. Bukan dengan tangan kosong. Mereka menyambut dengan ilmu. Mereka mengajarkan apa yang telah mereka pelajari selama para pejuang pergi. Wahyu yang turun, hukum yang baru, pemahaman yang bertambah — semua itu disampaikan kepada saudara-saudara mereka yang pulang. Pedang yang lelah beristirahat; giliran ilmu yang berbicara.

Begitulah umat itu bergerak dalam dua barisan yang saling melengkapi. Satu barisan mengangkat pedang menjaga negeri. Satu barisan lagi memegang ilmu menjaga agama. Keduanya sama-sama berjihad. Keduanya sama-sama diperlukan. Tidak ada yang lebih tinggi merendahkan yang lain.

Malam-malam Madinah menjadi saksi keduanya. Di satu sisi kota, terdengar derap kuda yang bersiap ke medan. Di sisi lain, terdengar gumam bacaan yang tak pernah berhenti. Dua suara yang berbeda, tetapi satu tujuan: menjaga agar cahaya ini terus menyala.

Yang menakjubkan, ini terjadi di puncak masa perang — saat paling genting, saat paling mudah untuk berkata "ilmu bisa nanti, sekarang urusan yang lebih mendesak dulu". Tetapi generasi itu tidak berkata demikian. Mereka justru memastikan bahwa di tengah genderang perang, api ilmu tidak pernah padam.

Pelajaran

Kisah ini mengajarkan satu hal yang dalam: menjaga ilmu adalah jihad yang sejajar dengan menjaga negeri. Ketika para sahabat membagi diri menjadi yang berperang dan yang belajar, mereka sedang mengatakan bahwa sebuah umat tidak akan bertahan hanya dengan kekuatan fisik — ia butuh kekuatan ilmu yang terus dijaga dan diwariskan. Barisan yang tinggal untuk tafaqquh itu bukan barisan yang lari dari tanggung jawab; mereka justru memikul tanggung jawab yang paling panjang umurnya. Di pekan ketika para pendidik kita merasa jasanya tak cukup dihargai, kisah ini mengingatkan bahwa dalam timbangan yang benar, orang yang menjaga dan mengajarkan ilmu adalah pahlawan yang setara dengan mereka yang berjuang di garis depan. Memuliakan mereka bukanlah kebaikan tambahan; ia adalah bagian dari menjaga keutuhan umat itu sendiri.

Sumber Asli

Hayat as-Sahabah — الباب الرابع باب الهجرة / الإهتمام بالتعليم في الجهاد

الإهتمام بالتعليم في الجهاد في سبيل الله قول ابن عباس في معنى الآية {وما كان المؤمنون لينفروا كافة} أخرج البيهقي عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قال الله تبارك وتعالى: {خذوا حذركم فانفروا ثبات أو أنفروا جميعا} وقال: {أنفروا خفافا وثقالا} وقال: {إِلاَّ تَنفِرُواْ يُعَذّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا} ، ثم نسخ هذه الآيات

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan