Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumTeknologi & AIKamis, 9 Juli 2026

Kultum — "Layar yang Tidak Pernah Sepi dari Allah"

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, saya membaca sebuah pola yang mengganggu. Banyak konten yang beredar di ruang digital menandai dirinya sendiri dengan peringatan — kekerasan, manipulasi, aib — seolah semua itu adalah tontonan yang wajar disebar. Malam ini ada satu pesan sederhana yang ingin saya bagikan: layar kita tidak pernah benar-benar sepi dari pengawasan Allah.

Coba kita renungkan sebuah perasaan yang mungkin kita semua pernah alami. Ketika sendirian, larut malam, hanya ditemani cahaya layar — di situ sering kali kita paling lengah. Kita merasa tidak ada yang melihat. Tidak ada tetangga, tidak ada keluarga, tidak ada wajah yang dikenal. Justru di saat itu, iman kita sedang benar-benar diuji. Sebab Allah berfirman menyifati hamba-Nya yang beruntung:

وَٱلَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَٰفِظُونَ

"Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya." (QS. Al-Ma'aarij: 29)

Ayat ini, saudara-saudara, tidak berbicara tentang penjagaan di depan orang ramai. Justru sebaliknya — ia berbicara tentang penjagaan diri di saat-saat sepi, ketika satu-satunya yang melihat hanyalah Allah. Dan di situlah letak iman yang sesungguhnya: menjaga diri bukan karena takut dilihat manusia, melainkan karena yakin Allah selalu hadir.

Nabi kita ﷺ mengajarkan satu kaitan yang indah antara iman dan rasa malu. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah Maha Pemalu, dan seorang mukmin pun pemalu. Rasa malu Allah, kata beliau, akan terciderai jika seorang mukmin melakukan apa yang dilarang. Perhatikan betapa lembutnya bahasa ini. Malu bukan kelemahan; malu adalah tanda hati yang masih hidup. Ketika kita masih merasa risih membuka atau menyebar sesuatu yang buruk, itu pertanda hati kita masih sehat. Yang perlu kita takutkan justru ketika kita tidak lagi merasa apa-apa.

Kabar yang sampai ke kita pekan ini menyayat hati. Ada kekerasan dalam rumah tangga yang menyebar cepat, ada sindiran keras tentang sosok guru yang menodai kepercayaan. Tapi izinkan saya bertanya sesuatu yang lebih dekat kepada diri kita sendiri: bukankah kita juga kadang ikut menyebarkan aib itu? Kita membagikan kabar buruk sebelum memastikan kebenarannya. Kita meneruskan potongan video memalukan ke grup keluarga. Kita menonton sampai habis apa yang seharusnya kita tutup. Mari kita ukur diri sendiri sebelum mengukur orang lain.

Di sinilah saya ingin mengajak kita semua merenung lebih dalam. Teknologi memberi kita kekuatan yang dulu tidak dimiliki manusia mana pun: kita bisa menyebarkan satu kabar ke ribuan orang hanya dengan satu sentuhan. Kekuatan sebesar itu selalu datang bersama tanggung jawab yang sama besarnya. Setiap kali jari kita menyentuh tombol bagikan, kita sedang membuat keputusan moral. Kita sedang memilih: menjadi penjaga kehormatan saudara kita, atau menjadi mata rantai yang mempermalukannya.

Dan yang paling menyedihkan, saudara-saudara, rasa malu itu memang bisa hilang perlahan. Bukan sekaligus, tapi setetes demi setetes. Pertama kita risih melihat sesuatu yang buruk. Kedua kalinya sedikit kurang risih. Ketiga kalinya biasa saja. Dan pada akhirnya, kita tidak lagi merasa apa-apa — bahkan mungkin ikut tertawa. Inilah yang harus kita jaga: jangan biarkan mata kita menjadi terbiasa dengan yang salah, sampai hati kita mati rasa terhadapnya.

Tetapi ada sisi lain yang lebih terang, saudara-saudara — dan saya tidak ingin kita pulang malam ini hanya membawa rasa cemas. Di balik layar yang tampak riuh dan keras itu, ada begitu banyak hati yang sebenarnya sedang kesepian. Pekan ini pun kita dengar banyak orang menumpahkan gelisahnya tentang keluarga, tentang jodoh, tentang makna hidup yang terasa hilang. Mereka bukan orang jauh; mereka adalah tetangga kita, saudara kita, bahkan mungkin anak kita sendiri. Dan di sinilah amanah kita: layar yang sama yang bisa menyebar aib juga bisa menjadi jembatan kebaikan. Sebuah pesan hangat, sebuah doa yang tulus, sebuah kesediaan mendengar — semua itu bisa menjadi cahaya bagi seseorang yang sedang gelap. Nabi ﷺ mengajarkan kita agar menjadi orang yang jujur dan berbuat baik. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah ﷺ bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ

"Hendaklah kalian berpegang teguh pada kebenaran, karena kebenaran menuntun kepada amal shaleh." (Bulugh al-Maram 1717). Maka mari kita jadikan kejujuran dan kebaikan sebagai warna yang kita bawa ke layar kita — bukan aib yang kita sebar, melainkan kebaikan yang kita tebar.

Lalu apa yang bisa kita lakukan setelah pulang dari sholat malam ini? Saya tawarkan tiga hal yang ringan tapi nyata. Pertama, sebelum tidur nanti, buka riwayat tontonan kita hari ini, dan tanyakan dengan jujur: adakah yang membuat kita malu bila diperlihatkan kepada Allah? Kalau ada, hapus, dan berjanji tidak mengulang. Kedua, mulai malam ini, jadikan aturan pribadi: tidak meneruskan satu pun kabar buruk tentang orang lain sebelum kita pastikan benar dan bermanfaat. Ketiga, sisihkan waktu sepuluh menit sebelum tidur tanpa layar — untuk berdzikir, untuk hening, untuk memberi hati kita kesempatan bernapas dari kebisingan.

Saudara-saudara sekalian, layar kita adalah cermin hati kita. Apa yang kita cari di sana, apa yang kita tahan di sana, apa yang kita sebarkan dari sana — semuanya bercerita tentang siapa kita ketika merasa tidak ada yang melihat. Kita tidak perlu menunggu aturan baru atau saringan yang lebih canggih untuk menjaga diri; penjaga yang paling kuat sudah ada di dalam dada kita, yaitu rasa malu kepada Allah. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang menjaga diri di keramaian maupun di kesunyian, dan menjadikan rasa malu kita sebagai penjaga yang tidak pernah tidur.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدٰى وَالتُّقٰى وَالْعَفَافَ وَالْغِنٰى، وَاحْفَظْ أَبْصَارَنَا وَقُلُوْبَنَا وَأَلْسِنَتَنَا عَمَّا لَا تَرْضٰى، وَارْزُقْنَا الْحَيَاءَ الَّذِيْ يَقُوْدُنَا إِلَى رِضَاكَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan