Di tengah pekan yang ramai dengan tuntutan hak dan kabar perselisihan, ada satu adegan di Hari Kiamat yang justru membuat Rasulullah ﷺ tersenyum sampai tampak gigi-gigi depannya. Kisah ini dihimpun Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wan-Nihayah — «حديث فيه أن الله تعالى يصالح عن عبده الذي له به عناية من ظلمه», tentang bagaimana Allah mendamaikan hamba yang terzalimi dengan yang menzaliminya.
Suatu hari Rasulullah ﷺ sedang duduk di antara para sahabat. Suasana tenang. Angin Madinah bertiup pelan. Tiba-tiba beliau tertawa. Bukan tawa biasa. Beliau tertawa sampai gigi-gigi depannya terlihat.
Para sahabat saling berpandangan, heran. Apa gerangan yang membuat manusia paling mulia itu tertawa lepas? Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu yang pertama memberanikan diri bertanya. "Apa yang membuatmu tertawa, wahai Rasulullah? Demi ayah dan ibuku."
Rasulullah ﷺ menjawab. Ia bercerita tentang sebuah adegan yang akan terjadi kelak.
Dua orang dari umat beliau akan berlutut di hadapan Rabb Yang Maha Perkasa. Hari itu bukan hari main-main. Matahari didekatkan, keringat mengucur, dan tidak ada lagi tempat bersembunyi. Hari itu setiap hak akan ditagih sampai tuntas. Bahkan seekor kambing tak bertanduk pun akan menuntut balas kepada kambing bertanduk yang pernah menyeruduknya di dunia. Tidak ada yang terlewat, sekecil apa pun.
Salah satu dari dua orang itu berkata, "Ya Rabb, ambilkan untukku hakku dari saudaraku ini. Ia pernah menzalimiku."
Allah pun berfirman kepada yang menzalimi, "Berikan kepada saudaramu haknya."
Tetapi orang yang berhutang kezaliman itu menunduk. "Ya Rabb," katanya, "tidak ada lagi kebaikan yang tersisa padaku." Amal baiknya sudah habis. Tidak ada yang bisa ia berikan untuk membayar kezalimannya dulu.
Suasana menegang. Yang terzalimi menuntut, yang menzalimi tak punya apa-apa lagi untuk membayar. Lalu terjadilah sesuatu yang membuat Rasulullah ﷺ tersenyum.
Allah Yang Maha Pengasih memperlihatkan kepada orang yang terzalimi tadi istana-istana surga yang megah, gemerlap, dan indah. Ia takjub. Ia lupa sejenak pada tuntutannya.
"Ya Rabb," katanya, "untuk siapa istana-istana ini?"
Dijawab, "Untuk siapa saja yang membayar harganya."
"Dan siapa yang mampu membayar harganya, ya Rabb?"
Dijawab, "Engkau mampu."
Ia terkejut. "Bagaimana caranya, ya Rabb?"
"Dengan memaafkan saudaramu."
Maka orang itu pun berkata, "Ya Rabb, aku telah memaafkannya." Ia melepaskan tuntutannya, dan sebagai gantinya ia meraih istana surga.
Di sinilah Allah berfirman dengan kelembutan yang menghangatkan hati, "Kalau begitu, peganglah tangan saudaramu, dan masukkanlah ia bersamamu ke dalam surga."
Setelah bercerita, Rasulullah ﷺ berkata kepada para sahabatnya, "Bertakwalah kepada Allah, dan damaikanlah di antara sesama kalian. Sesungguhnya Allah mendamaikan di antara kaum mukminin."
Pelajaran
Perhatikan bagaimana Allah menyelesaikan perselisihan itu: bukan dengan menghancurkan salah satu pihak, tetapi dengan mengangkat keduanya. Orang yang terzalimi tidak dipaksa menyerah begitu saja; ia justru diberi ganti yang jauh lebih baik dari sekadar balas dendam — istana surga sebagai upah memaafkan. Di sinilah letak kelembutan syariat: memaafkan bukan berarti membiarkan kezaliman, melainkan memilih ganti yang lebih mulia di sisi Allah. Di pekan yang penuh tuntutan hak dan perselisihan seperti sekarang, kisah ini menegur pelan: sebelum kita habiskan tenaga untuk membalas dan menuntut sampai tuntas, ada satu pintu yang sering kita lupakan — pintu memaafkan, yang di baliknya Allah menyimpan istana. Dan seringkali tangan yang kita lepaskan dari genggaman amarah, justru menjadi tangan yang kita gandeng menuju surga.
Sumber Asli
Al-Bidayah wan-Nihayah — حديث فيه أن الله تعالى يصالح عن عبده الذي له به عناية من ظلمه بما يريه من قصور الجنة ونعيمها
قَالَ أَبُو يَعْلَى: حَدَّثَنَا مُجَاهِدُ بْنُ مُوسَى، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بَكْرٍ، حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ شَيْبَةَ الْحَبَطِيُّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَنَسٍ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: «بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ إِذْ رَأَيْنَاهُ ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ ثَنَايَاهُ، فَقَالَ عُمَرُ: مَا أَضْحَكَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي؟ فَقَالَ: رَجُلَانِ جَثَيَا مِنْ أُمَّتِي بَيْنَ يَدَيْ رَبِّ الْعِزَّةِ، تَبَارَكَ وَتَعَالَى، فَقَالَ أَحَدُهُمَا: يَا رَبِّ، خُذْ لِي مَظْلِمَتِي مِنْ أَخِي. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: أَعْطِ أَخَاكَ مَظْلِمَتَهُ. قَالَ: يَا رَبِّ، لَمْ يَبْقَ مِنْ حَسَنَاتِي شَيْءٌ …»
