Saudara-saudara sekalian yang saya hormati. Pekan yang baru kita lewati ini penuh dengan percakapan yang panas — soal moral publik, soal aturan, soal kabar kekerasan di beberapa tempat. Malam ini saya tidak ingin menambah kegaduhan. Saya justru ingin mengajak kita semua berhenti sejenak dan bertanya satu hal sederhana: ketika kita merasa berada di pihak yang benar, apakah kita masih ingat untuk bersikap santun?
Karena begini, saudara-saudara. Ada sebuah penyakit halus yang menghinggapi banyak dari kita — termasuk saya. Penyakit itu berbisik: "Kamu benar, jadi kamu boleh kasar." Kita menolak sebuah perbuatan yang salah, lalu tanpa sadar kita mulai menghina manusia yang melakukannya. Kita membela agama, lalu tanpa sadar kita merendahkan orang yang kita anggap musuh. Dan kita merasa itu semua sah, karena "kan kita di pihak yang benar." Padahal Rasulullah ﷺ justru mengingatkan bahwa hati yang benar tidak akan pernah nyaman dengan menghina orang lain.
"Seorang Muslim adalah saudara bagi sesama Muslim. Ia tidak boleh menipunya, tidak boleh berdusta kepadanya, dan tidak boleh meninggalkannya tanpa pertolongan. Kehormatan, harta, dan darahnya adalah suci. Takwa itu di sini." (Riyad as-Salihin 234)
Perhatikan kalimat terakhirnya, saudara-saudara. "Takwa itu di sini" — sambil Nabi ﷺ menunjuk dadanya. Takwa itu bukan di lisan yang paling lantang berteriak. Takwa itu di hati. Dan hati yang bertakwa akan berat untuk merendahkan seorang manusia, karena ia tahu bahwa kehormatan orang lain itu suci di sisi Allah.
Pekan ini kita dengar percakapan yang begitu ramai tentang keinginan menjaga moral publik, sampai muncul usulan aturan dan langkah pencegahan. Niat menjaga generasi itu baik. Tetapi mari kita jujur — sering kali percakapan yang niatnya baik itu berubah menjadi ajang saling ejek, saling tuduh, dan saling merendahkan. Kita juga dengar kabar kekerasan dari tanah Papua dan kabar intoleransi dari negeri jauh. Kabar-kabar ini menyayat, dan reaksi paling gampang adalah ikut marah, ikut menuduh, ikut menyebar tanpa memeriksa. Padahal justru di saat seperti inilah keimanan kita diuji: bisakah kita tetap tegas pada kebenaran, tanpa kehilangan kelembutan pada manusia?
Ada satu prinsip indah dari Nabi Syu'aib 'alaihissalam yang Allah abadikan. Ketika ia menyeru kaumnya yang bahkan tidak beriman kepadanya, Allah berfirman menirukan seruannya:
"Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan." (QS. Ash-Shu'araa: 183)
Lihatlah kata "manusia" — bukan "orang seiman", tapi manusia secara umum. Hak setiap orang harus dijaga, siapa pun dia. Ini pelajaran besar: keadilan Islam tidak pilih-pilih. Kita tidak boleh mengurangi hak seseorang hanya karena ia berbeda pandangan, berbeda kelompok, atau bahkan berbeda agama. Menahan diri dari menzalimi orang yang kita tidak sukai — itu justru puncak keimanan, bukan kelemahan.
Saya teringat satu adegan dalam sirah, saudara-saudara. Ketika sebuah iringan jenazah lewat di hadapan Rasulullah ﷺ, beliau berdiri menghormatinya. Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, itu jenazah orang Yahudi." Beliau menjawab dengan tenang, "Bukankah ia juga seorang manusia?" Renungkan, saudara-saudara. Di puncak keteguhan aqidahnya — beliau yang paling tahu mana benar dan mana salah — Rasulullah ﷺ tidak pernah kehilangan kemampuan melihat kemanusiaan orang yang berbeda dengannya. Beliau tegas pada prinsip, tetapi lembut pada manusia. Dan inilah yang sering terbalik pada kita: kita lembut pada prinsip (mudah kompromi kalau menguntungkan), tetapi keras pada manusia (mudah menghina kalau berbeda).
Kalau kita jujur pada diri sendiri, sebenarnya penyakit ini berakar dari satu hal: kita ingin merasa lebih baik dari orang lain. Menghina orang lain memberi kita rasa nikmat semu bahwa kita lebih mulia. Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kemuliaan bukan diukur dari seberapa rendah kita memandang orang, melainkan dari seberapa bertakwa hati kita. Orang yang benar-benar dekat dengan Allah justru semakin rendah hati, semakin sadar akan kekurangan dirinya sendiri, dan karena itu semakin lembut kepada sesama. Kesombongan spiritual — merasa paling benar sampai merasa berhak menghina — adalah salah satu jebakan paling halus dalam beragama.
Saudara-saudara, izinkan saya bertanya di dalam hati kita masing-masing: kapan terakhir kali kita membagikan sebuah kabar buruk tentang seseorang tanpa memeriksa kebenarannya? Kapan terakhir kali kita ikut mengetik komentar yang merendahkan, lalu merasa lega karena "kan dia salah"? Kita semua pernah. Dan itulah mengapa kita perlu terus mengingatkan diri: menegur kesalahan itu wajib, tetapi menghina manusia itu tidak pernah menjadi bagian dari agama ini.
Renungkanlah pula apa yang ayat dan hadits tadi ungkapkan tentang sifat manusia. Manusia mudah merasa paling benar. Dan perasaan paling benar itu, bila tidak dijaga, akan menutup mata hati sehingga kita tidak lagi melihat kemanusiaan orang yang berseberangan dengan kita. Islam datang membongkar tipuan ini. Kebenaran yang kita pegang seharusnya membuat kita lebih rendah hati, bukan lebih tinggi hati. Sebab orang yang benar-benar dekat dengan kebenaran tahu betul betapa ia sendiri masih penuh kekurangan.
Maka, saudara-saudara, sebelum kita pulang malam ini, saya ingin menitipkan tiga hal yang bisa kita kerjakan dalam 24 jam ke depan. Pertama, buka satu percakapan online yang pekan ini sempat kita ikuti dengan nada kasar — dan diamkan, atau ganti dengan komentar yang lebih santun. Kedua, tahan satu kabar buruk tentang orang lain yang belum jelas kebenarannya, jangan disebarkan. Ketiga, temukan satu orang yang berbeda pandangan dengan kita, lalu perlakukan ia dengan adil hari ini — dengar dulu, jangan langsung menuduh. Kecil, tapi itulah timbangan yang sedang kita luruskan.
Marilah kita tutup dengan sebuah kesimpulan yang saya harap menempel sampai besok pagi: menjadi benar itu penting, tetapi menjadi benar dengan cara yang santun itu jauh lebih mulia. Kebenaran yang disampaikan dengan kasar sering kehilangan cahayanya, sedangkan kebenaran yang disampaikan dengan rahmat justru membuka hati. Semoga Allah menjaga lisan dan hati kita.