Kabar kekerasan terhadap anak-anak di tempat yang semestinya mendidik dan melindungi kembali mengemuka pekan ini. Berita semacam ini meninggalkan luka yang tidak mudah dijelaskan, dan sering menyisakan pertanyaan getir di hati orang tua maupun masyarakat: ke mana keadilan, dan mengapa kezaliman tampak bisa berlalu begitu saja? Untuk hati yang bergolak seperti itu, Al-Qur'an menawarkan sebuah kalimat yang menenangkan tanpa membius.
وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱللَّهَ غَٰفِلًا عَمَّا يَعْمَلُ ٱلظَّٰلِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍۢ تَشْخَصُ فِيهِ ٱلْأَبْصَٰرُ
"Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak." (QS. Ibrahim: 42)
Imam Ibnu Katsir (Tafsir Ibn Kathir on 14:42) menjelaskan makna ayat ini sebagai penghiburan sekaligus penegasan: "Wahai Muhammad, jangan kira Allah lalai terhadap apa yang diperbuat orang-orang zalim yang ingkar. Jangan mengira bahwa karena Allah memberi mereka tenggat dan menunda hukuman-Nya, maka Dia lalai atau membiarkan." Beliau menegaskan justru sebaliknya, "Allah mencatat semuanya dengan teliti dan menyimpannya sebagai catatan yang memberatkan mereka." Kata kuncinya adalah penangguhan, bukan pembiaran. Dua hal yang oleh mata yang lelah sering tampak sama, padahal jauh berbeda.
Ibnu Katsir kemudian menguraikan gambaran hari yang dimaksud — hari ketika mata terbelalak. Beliau membawakan rangkaian ayat lain yang melukiskan suasana kebangkitan: manusia digiring bergegas menuju penyeru (menyitir QS. Al-Qamar: 8), wajah-wajah tertunduk hina di hadapan Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri (QS. Thaha: 111), keluar dari kubur dengan tergesa (QS. Al-Ma'arij: 43). Tentang penggalan "mata terbelalak", beliau menjelaskan pandangan mereka membeku kebingungan, "berusaha tidak berkedip karena kengerian." Dan tentang "hati mereka kosong", beliau menukil keterangan Qatadah dan lainnya bahwa hati itu seakan naik ke tenggorokan karena teramat takut.
Yang perlu dijaga dalam merenungi ayat ini adalah keseimbangannya. Ayat ini tidak mengajak kita pasrah pasif dan membiarkan kezaliman, sebab syariat tetap memerintahkan menegakkan keadilan dan membela yang terzalimi lewat jalan yang benar. Yang ayat ini tanggalkan adalah dua penyakit hati: pertama, prasangka bahwa Allah tidak peduli; kedua, iri melihat orang zalim yang tampak menikmati hidupnya. Ibnu Katsir menutup dengan menyebut kelanjutan seruan Allah kepada Rasul-Nya — bahwa peringatan ini justru datang sebagai penenang bagi pihak yang teraniaya dan sebagai ancaman bagi yang menganiaya.
Yang halus dari susunan ayat ini adalah arah pandangnya. Alih-alih memuaskan rasa ingin tahu kita tentang "kapan" dan "bagaimana" orang zalim dihukum di dunia, ayat justru mengangkat pandangan kita jauh ke depan — ke hari ketika mata tak lagi mampu berkedip. Ibnu Katsir merangkai beberapa ayat lain untuk melukiskan suasana itu: manusia bergegas menuju penyeru, wajah-wajah tertunduk di hadapan Yang Maha Hidup, hati serasa naik ke tenggorokan. Gambaran ini bukan untuk menakut-nakuti belaka, melainkan untuk menggeser timbangan hati: bahwa hari itu jauh lebih menentukan daripada hari ini, dan bahwa keadilan yang kita rindukan pasti datang — hanya saja pada panggung yang lebih besar dan lebih adil daripada ruang sidang mana pun di dunia.
Ada pula sisi rahmat dalam kata "penangguhan". Tenggat yang Allah berikan bukan hanya beban bukti yang menumpuk bagi yang terus berbuat zalim; ia juga ruang tobat bagi yang mau berhenti. Selama nyawa masih dikandung badan, pintu kembali belum tertutup. Maka ayat ini berbicara dua arah sekaligus: menenangkan yang teraniaya bahwa catatan tak pernah hilang, dan memanggil yang menganiaya untuk memanfaatkan tenggat itu sebelum tiba hari yang membuat mata terbelalak.
Tadabbur dan ibrah. Ibrah utamanya: diamnya keadilan dunia bukan diamnya keadilan Allah. Bagi keluarga korban dan siapa pun yang merasa suaranya tak didengar, ayat ini adalah pelukan: catatan itu tidak pernah hilang, dan penundaan bukan penghapusan. Bagi siapa pun yang merasa aman karena kezalimannya belum tersentuh, ayat ini adalah teguran paling lembut sekaligus paling menakutkan — bahwa ia sedang berjalan menuju hari ketika matanya sendiri akan terbelalak. Maka merenungi ayat ini seharusnya melahirkan dua sikap sekaligus: sabar yang tidak putus asa, dan keberanian untuk terus menegakkan yang benar tanpa merasa sendirian.
Tanya-Jawab
T: Kalau Allah mencatat semua, kenapa saya masih harus repot melapor dan mencari keadilan di dunia? J: Karena ayat ini menanggalkan putus asa, bukan menanggalkan ikhtiar. Ibnu Katsir menjelaskan ini sebagai penghiburan atas prasangka "Allah lalai", bukan larangan menegakkan keadilan. Menempuh jalan yang benar untuk membela yang terzalimi tetap perintah syariat.
T: Saya marah sekali sampai ingin membalas dengan cara apa pun. Bagaimana ayat ini menuntun saya? J: Ayat ini mengalihkan beban dari pundak kita yang rapuh kepada keadilan Allah yang teliti. Marah pada kezaliman itu wajar, tetapi ia disalurkan lewat jalan yang benar; membalas dengan kezaliman baru hanya menambah catatan, bukan menghapusnya.
T: Kenapa orang zalim kok kelihatan tenang dan bahagia? J: Ibnu Katsir menyebutnya penangguhan — tenggat, bukan pembebasan. Ketenangan itu justru bagian dari catatan yang, dalam bahasa ayat, disimpan "untuk hari ketika mata terbelalak."
T: Kalau saya jadi korban, apakah saya harus "ikhlas" dan melupakan begitu saja? J: Ikhlas bukan berarti melupakan atau membiarkan. Ayat ini justru menjaga ingatan bahwa Allah tidak lupa, sambil menuntun kita menempuh jalan keadilan yang benar. Menyerahkan hasil akhir kepada Allah berbeda dari berhenti berikhtiar.
Renungan ini adalah tadabbur yang berbantuan AI, bukan tafsir muktamad; untuk pendalaman dan keputusan, rujuklah ahli tafsir dan ulama tepercaya.
