Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatAqidah & IbadahKamis, 16 Juli 2026

Khutbah Jumat — "Memurnikan Tauhid di Tengah Riuh Zaman"

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْخَلْقَ لِعِبَادَتِهِ، وَهَدَاهُمْ بِفَضْلِهِ إِلٰى تَوْحِيْدِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah. Kita berdiri di hadapan Allah pekan ini dengan satu pertanyaan yang jarang kita tanyakan pada diri sendiri: seberapa murni sebenarnya penghambaan kita? Mari kita buka khutbah ini dengan firman Allah yang mengetuk langsung inti persoalan itu.

وَأَنْ أَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًۭا وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

"Dan (aku telah diperintah): Hadapkanlah wajahmu kepada agama dengan tulus dan ikhlas, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik." (QS. Yunus: 105).

Perhatikanlah pilihan kata dalam ayat ini, hadirin. Allah tidak sekadar menyuruh kita beragama — Dia menyuruh kita menghadapkan wajah. Wajah adalah bagian tubuh yang paling menunjukkan ke mana arah perhatian kita. Ke mana wajah kita menghadap, ke situlah hati kita condong. Maka perintah "aqim wajhaka" adalah perintah untuk meluruskan arah hati, bukan sekadar memperbanyak ritual. Dan lawan dari kelurusan itu bukan hanya menyembah berhala; ia mencakup setiap keadaan di mana hati kita terbelah antara Allah dan selain-Nya.

Kata "hanifan" dalam ayat ini pun membawa makna yang dalam, hadirin. Para ulama menjelaskan bahwa "hanif" adalah keadaan condong secara total kepada kebenaran, berpaling dari segala kebengkokan. Ia bukan sikap setengah-setengah, bukan pula agama yang dipakai saat nyaman dan ditinggalkan saat berat. Ayat ini menutup dengan larangan yang tegas: "wa laa takuunanna minal musyrikin" — jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang musyrik. Larangan itu ditujukan bahkan kepada orang yang lisannya sudah bersyahadat, karena syirik memiliki wajah yang halus dan tersembunyi, yang bisa merayap masuk ke hati orang yang paling rajin sekalipun tanpa ia sadari. Inilah sebabnya para sahabat, yang imannya jauh lebih kokoh dari kita, tetap gemetar mengkhawatirkan keikhlasan mereka.

Pekan ini, dari berita yang sampai kepada kita, kita menyaksikan ramainya orang mencari bimbingan ibadah — cara sholat yang benar, doa yang menenangkan, dzikir yang menuntun. Ini kabar yang menggembirakan; hati manusia memang diciptakan untuk gelisah sampai ia kembali kepada Rabb-nya. Kanal-kanal video dipenuhi kajian, tuntunan, dan tausiyah; banyak orang, di tengah beratnya hidup, kembali menengok bekal akhiratnya. Bahkan kabar duka yang silih berganti pekan ini — ucapan bela sungkawa yang beredar dari satu ke lain — turut mengingatkan kita bahwa kematian adalah guru yang paling jujur, yang menyeret kembali perhatian manusia dari dunia yang fana kepada Rabb yang kekal.

Namun di tengah kerinduan yang tulus itu, hadirin, kita juga menyaksikan hal yang mengkhawatirkan. Beredar klaim-klaim spiritual yang mengambang, seperti narasi mimpi yang dinaikkan derajatnya seolah menjadi wahyu, tanpa timbangan ilmu sama sekali. Ini bukan perkara sepele. Ketika pengalaman batin pribadi seseorang — mimpinya, perasaannya, "getaran hatinya" — dinaikkan menjadi seolah otoritas keagamaan, maka pintu kekacauan aqidah terbuka lebar. Sebab kalau setiap mimpi bisa menjadi wahyu, siapa lagi yang bisa membedakan kebenaran dari khayalan? Agama ini dijaga justru dengan ilmu dan dalil, bukan dengan mimpi dan perasaan.

Dan di ruang percakapan yang lain, publik menyaksikan hal yang lebih memilukan: orang saling melempar tuduhan tentang keimanan, bahkan menggeneralisasi para penuntut ilmu agama dengan kata-kata yang tidak pantas dan tuduhan yang kasar. Di sisi lain lagi, ada yang menyindir kemunafikan sebagian orang yang lantang bersuara soal moral publik tetapi longgar terhadap dirinya sendiri. Kita tidak perlu masuk ke pusaran caci-maki itu. Tetapi kita perlu mengambil pelajaran darinya: bahwa penyakit terbesar zaman ini bukanlah kurangnya orang beragama, melainkan berlimpahnya orang yang menjadikan agama sebagai alat menilai orang lain, bukan sebagai jalan menata diri.

Inilah zaman kita, hadirin. Zaman di mana informasi keagamaan melimpah, tetapi timbangannya justru menipis. Zaman di mana orang berani menilai keimanan orang lain, sementara jarang menimbang keimanan dirinya sendiri. Zaman di mana jari kita lebih cepat mengetik "sesat" dan "munafik" untuk orang lain, daripada mulut kita mengucap "astaghfirullah" untuk diri sendiri. Maka khutbah kita pekan ini ingin membawa kita semua pulang ke satu titik: bahwa pangkal segala kebaikan adalah tauhid yang murni, dan pangkal segala penyucian adalah membersihkan hati kita lebih dahulu sebelum sibuk membersihkan orang lain. Agama datang bukan untuk memberi kita senjata menyerang, melainkan cermin untuk berkaca.

Allah menegaskan keesaan-Nya dengan gaya bahasa yang tegas dalam firman-Nya:

۞ وَقَالَ ٱللَّهُ لَا تَتَّخِذُوٓا۟ إِلَٰهَيْنِ ٱثْنَيْنِ ۖ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌۭ وَٰحِدٌۭ ۖ فَإِيَّٰىَ فَٱرْهَبُونِ

"Allah berfirman: Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut." (QS. An-Nahl: 51).

Renungkanlah, hadirin. Larangan "dua tuhan" di sini bukan hanya tentang berhala di masa jahiliah. Dua tuhan bisa hadir dalam hati seorang Muslim yang rajin sholat: satu tuhan bernama Allah, satu lagi bernama pengakuan manusia. Satu tuhan bernama Allah, satu lagi bernama harta. Ada orang yang beribadah, tetapi hatinya lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan ridha Allah. Ada yang berdzikir, tetapi lebih cemas pada omongan tetangga daripada pada catatan malaikat. Itulah bentuk halus dari "dua tuhan" yang harus kita waspadai. Tauhid sejati menuntut agar rasa takut, harap, dan cinta yang tertinggi hanya tertuju kepada Allah.

Para ulama menyebut syirik yang halus ini sebagai syirik khafi — syirik yang tersembunyi, yang tidak terlihat karena ia bersembunyi di balik amal yang tampaknya saleh. Rasulullah ﷺ pernah memperingatkan bahwa yang paling beliau khawatirkan atas umatnya adalah syirik kecil, dan ketika ditanya apa itu, beliau menjawab: riya' — beramal agar dilihat manusia. Betapa dekatnya penyakit ini dengan kita hari ini, hadirin. Di zaman ketika setiap kebaikan bisa direkam dan dibagikan, betapa mudahnya niat kita bergeser tanpa terasa: dari beribadah untuk Allah menjadi beribadah untuk sorotan. Kita bersedekah, lalu tergoda memfotonya. Kita membaca Qur'an, lalu berharap ada yang melihat. Perlahan, tanpa sadar, kita telah menyelipkan "tuhan kedua" ke dalam ibadah kita sendiri.

Maka tauhid, hadirin, bukanlah pekerjaan sekali jadi. Ia adalah perjuangan seumur hidup untuk terus-menerus memulangkan hati kepada Allah setiap kali ia menyimpang. Nabi Ibrahim 'alaihissalam, sang bapak para nabi, yang menghancurkan berhala dengan tangannya sendiri, tetap berdoa memohon dijauhkan dari menyembah berhala. Kalau seorang Ibrahim masih berdoa demikian, siapakah kita yang merasa aman dari godaan hati yang bercabang? Inilah sebabnya orang yang benar-benar memahami tauhid justru menjadi lebih rendah hati, lebih takut pada dirinya sendiri, dan lebih enggan menghakimi orang lain — karena ia tahu betapa rapuhnya hati manusia.

Dan tauhid yang benar tidak pernah berhenti di lisan. Ia menuntut fondasi amal yang jelas. Rasulullah ﷺ menggambarkan bangunan agama ini dengan sangat gamblang. Diriwayatkan dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

"Islam dibangun di atas lima dasar: bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan sholat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berpuasa di bulan Ramadhan." (Sahih al-Bukhari 8).

Perhatikanlah urutannya, hadirin. Syahadat diletakkan sebagai fondasi, lalu di atasnya berdiri tiang-tiang amal. Ini mengajarkan kita bahwa aqidah dan ibadah tidak pernah terpisah. Orang yang mengaku bertauhid tetapi meninggalkan sholat sedang merobohkan bangunannya sendiri. Sebaliknya, orang yang rajin beramal tetapi lalai memurnikan keyakinannya sedang membangun di atas pasir. Maka ketika pekan ini kita melihat orang mencari panduan sholat dan dzikir, mari kita sambut dengan gembira — tetapi sambil mengingatkan bahwa semua amal itu hanya bernilai bila berdiri di atas fondasi tauhid yang lurus dan niat yang ikhlas.

Dan lihatlah, hadirin, betapa bijaknya Rasulullah ﷺ menggambarkan agama ini sebagai bangunan. Bangunan tidak berdiri dalam sehari, tidak pula selesai sekali jadi. Ia dibangun batu demi batu, dirawat dari waktu ke waktu, dan bila ada bagian yang retak, ia diperbaiki — bukan dirobohkan seluruhnya. Begitulah semestinya kita memandang keislaman diri kita dan saudara kita. Ketika kita melihat seorang saudara yang salah satu tiangnya masih goyah — mungkin sholatnya belum tegak, mungkin ada maksiat yang belum ia tinggalkan — sikap kita bukanlah merobohkan seluruh bangunan imannya dengan tuduhan "kafir" atau "sesat". Sikap kita adalah membantu menegakkan tiang yang goyah itu dengan kelembutan, sebagaimana seorang tukang bangunan yang penyabar. Betapa banyak hari ini orang yang, karena melihat satu retak pada saudaranya, langsung menjatuhkan vonis atas seluruh keimanannya. Itu bukan cara seorang yang paham bangunan.

Di sinilah kita perlu belajar dari sejarah umat kita sendiri — dan izinkan saya menceritakan satu peristiwa besar yang jarang kita renungkan. Di masa Khalifah 'Utsman bin 'Affan radhiyallahu 'anhu, khalifah ketiga yang dijuluki Dzun-Nurain karena dinikahkan dengan dua putri Rasulullah ﷺ, umat Islam sempat nyaris terpecah. Bukan karena berhala, bukan karena musuh dari luar, melainkan karena perbedaan cara membaca Al-Qur'an. Ketika pasukan Muslim dari Syam dan Irak berkumpul di medan perang, terdengarlah perbedaan qira'ah di antara mereka. Yang semula hanya berbeda, lama-lama menjadi saling mengoreksi, lalu saling menyalahkan, hingga sebagian bahkan mulai mengkafirkan saudaranya sendiri — hanya karena melafalkan ayat yang sama dengan cara yang berbeda, padahal keduanya adalah bacaan yang sah dari Rasulullah ﷺ.

Sahabat Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu 'anhu, yang menyaksikan benih perpecahan ini dengan mata kepalanya sendiri, tidak tinggal diam. Ia menempuh perjalanan jauh menemui 'Utsman di Madinah, dan dengan wajah yang cemas ia berkata: "Wahai Amirul Mukminin, selamatkanlah umat ini sebelum mereka berselisih tentang Kitab mereka seperti perselisihan Yahudi dan Nasrani tentang kitab-kitab mereka." Kata-kata itu menghunjam. 'Utsman paham betul bahwa umat-umat terdahulu hancur bukan karena serangan dari luar, melainkan karena robek dari dalam. Maka ia mengumpulkan para sahabat, bermusyawarah, dan mengambil keputusan besar: menuliskan mushaf dalam satu rujukan bacaan dan menyebarkannya ke seluruh negeri, demi menutup pintu perpecahan.

Pelajarannya untuk kita hari ini sangat jelas, hadirin. Pertama, perbedaan dalam perkara cabang — cara berdoa, pilihan mazhab, afiliasi organisasi — tidak boleh dibiarkan tumbuh menjadi saling mengkafirkan. Kedua, menjaga persatuan umat kadang menuntut para pemimpin dan tokohnya untuk berani mengambil keputusan yang tidak populer, sebagaimana 'Utsman rela namanya dipertaruhkan demi keutuhan umat. Ketiga, dan ini yang paling menusuk untuk kita di 2026: kalau para sahabat yang mulia saja bisa tergelincir ke jurang saling menyalahkan hanya karena beda bacaan, betapa lebih rentannya kita hari ini di ruang digital, di mana perbedaan sekecil apa pun bisa langsung menjadi perang tuduhan yang disaksikan ribuan orang. Umat yang dewasa adalah umat yang bisa berbeda tanpa saling merobek.

Dan agar hati tetap lurus, Rasulullah ﷺ mengajarkan kita berpegang pada amal-amal yang kekal. Diriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

اَلْبَاقِيَاتُ اَلصَّالِحَاتُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ، وَسُبْحَانَ اَللَّهِ، وَاَللَّهُ أَكْبَرُ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاَللَّهِ

"Al-baaqiyaatush-shaalihaat (amal-amal saleh yang kekal) adalah: (ucapan) Laa ilaaha illallah, Subhaanallah, Allahu akbar, Alhamdulillah, dan Laa haula wa laa quwwata illaa billah." (Bulugh al-Maram 1743).

Lihatlah betapa lembutnya syariat ini, hadirin. Ketika kabar terasa berat, ketika hati diserang keraguan, ketika lidah gatal ingin ikut mencela orang lain di media sosial — Rasulullah ﷺ memberi kita pegangan yang ringan di lisan tetapi berat di timbangan. Alih-alih menghabiskan waktu memperdebatkan keimanan orang lain, mari kita penuhi lisan kita dengan kalimat-kalimat yang menyucikan diri sendiri. Bayangkan, hadirin: satu kalimat "subhaanallah" yang keluar dari lisan kita, yang begitu ringan sampai kadang kita ucapkan tanpa berpikir, ternyata termasuk al-baaqiyaat ash-shaalihaat — amal yang tidak akan lenyap, yang akan tetap tercatat ketika harta, jabatan, dan pengikut media sosial kita sudah tidak berarti apa-apa. Sungguh Allah Maha Pemurah: Dia menyediakan tabungan akhirat yang paling menguntungkan dengan modal yang paling ringan.

Dan agar hati kita tetap terjaga dari penyakit menghakimi, marilah kita dengarkan satu peringatan langsung dari Rasulullah ﷺ tentang apa yang Allah cintai dan benci. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا: فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوْهُ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوْا، وَيَكْرَهُ لَكُمْ: قِيْلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

"Sesungguhnya Allah menyukai tiga hal untuk kalian dan tidak menyukai tiga hal untuk kalian. Dia menyukai kalian menyembah-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan berpegang teguh pada tali Allah dan tidak berpecah belah; dan Dia tidak menyukai bagi kalian qiila wa qaala (desas-desus), banyak bertanya yang tidak perlu, dan menyia-nyiakan harta." (Riyad as-Salihin 1781).

Betapa lengkapnya hadits ini menjawab kegelisahan pekan kita, hadirin. Perhatikan tiga hal yang Allah cintai: menyembah-Nya tanpa menyekutukan — itulah tauhid; dan berpegang pada tali Allah tanpa berpecah belah — itulah persatuan. Kedua hal inilah yang sedang diuji pekan ini: tauhid yang murni dan ukhuwah yang utuh. Lalu lihatlah salah satu yang Allah benci: qiila wa qaala — "katanya begini, katanya begitu" — kabar burung, desas-desus, dan perdebatan tak berujung. Bukankah persis inilah yang tumbuh subur di ruang digital kita? Menyebar kabar setengah matang, memperpanjang perdebatan yang tidak menambah takwa, menghabiskan waktu dan energi untuk hal yang tidak menyucikan hati. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa umur kita terlalu berharga untuk dihamburkan pada qiila wa qaala.

Maka, hadirin yang dimuliakan Allah, ada beberapa hal konkret yang bisa kita lakukan pekan ini. Pertama, mari kita jadwalkan waktu khusus untuk memperbaiki niat — sebelum sholat, sebelum bersedekah, sebelum menulis sesuatu di ruang publik, tanyakan pada diri dengan jujur: untuk siapa ini kulakukan, untuk Allah atau untuk dilihat manusia? Kedua, mari kita ganti kebiasaan mengomentari keimanan orang lain di media sosial dengan memperbanyak dzikir baaqiyaat shaalihaat; setiap kali jari kita gatal ingin mengetik cacian atau ikut dalam qiila wa qaala, alihkan tangan itu ke tasbih dan lisan itu ke istighfar. Ketiga, mari kita timbang setiap klaim keagamaan yang sampai ke kita dengan bertanya: mana dalilnya, dari mana ilmunya — jangan mudah percaya pada perasaan, mimpi, atau janji yang tak berdasar, karena agama ini dijaga dengan ilmu, bukan dengan kabar viral. Keempat, mari kita rawat persatuan di lingkungan kita; kalau berbeda pendapat dengan saudara seiman dalam perkara cabang, sampaikan dengan adab dan doa, jangan dengan tuduhan dan cibiran. Kelima, mari kita hidupkan kembali sholat berjamaah di masjid lingkungan sebagai perekat hati yang nyata, bukan sekadar seruan di layar. Keenam, mari kita luangkan lima menit setiap malam pekan ini untuk muhasabah — bukan menghitung dosa orang lain, melainkan bertanya jujur pada diri sendiri tentang arah hati kita hari ini.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.

Hadirin yang dimuliakan Allah, izinkan kita perdalam sekali lagi inti khutbah pertama. Kita telah menyebut bahwa "dua tuhan" bisa bersemayam halus di hati seorang ahli ibadah. Ini bukan tuduhan; ini undangan untuk memeriksa diri. Sebab tauhid bukan status yang sekali diucapkan lalu selesai, melainkan perjuangan seumur hidup untuk terus memulangkan hati kepada Allah setiap kali ia menyimpang.

Kita juga telah belajar dari kisah penyatuan mushaf di masa 'Utsman bahwa perpecahan umat sering berawal dari perkara yang, kalau ditimbang dengan ilmu, sebenarnya bukan pangkal kekafiran. Betapa banyak hari ini persaudaraan retak hanya karena beda pilihan ustadz, beda organisasi, beda cara berdoa. Mari kita jadikan kedewasaan para sahabat sebagai cermin: mereka menyelamatkan persatuan justru dengan menahan diri, bukan dengan memaksakan kemenangan.

Dan kita telah diingatkan bahwa amal yang kekal itu ringan di lisan. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk merasa lemah. Sesibuk apa pun, sekeras apa pun ujian pekan ini, kita masih mampu berkata "subhaanallah" dan "laa ilaaha illallah". Inilah rahmat Allah: Dia membuka pintu penyucian diri seluas-luasnya, dan menutup pintu bagi alasan kita untuk lalai.

Marilah kita tutup dengan memperbanyak doa, memohon agar Allah memurnikan tauhid kita, meluruskan ibadah kita, dan menyatukan hati umat ini.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا.

اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ، إِنَّكَ تَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُوْرُ.

اَللّٰهُمَّ اجْمَعْ قُلُوْبَ الْمُسْلِمِيْنَ عَلٰى كَلِمَةِ التَّوْحِيْدِ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ، وَاهْدِهِمْ سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّهِمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِرًا وَمُعِيْنًا، وَعَلٰى عَدُوِّهِمْ ظَهِيْرًا.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ، وَارْزُقْهُمُ الْأَمَانَةَ فِيْ حِفْظِ حُقُوْقِ الْأُمَّةِ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْ مَنْ سَبَقَنَا مِنْ إِخْوَانِنَا، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan