Di tengah pekan yang ramai oleh orang saling menilai keimanan dan mempertajam perbedaan, ada baiknya kita menengok satu peristiwa besar dari masa lalu yang justru menyelamatkan umat dari perpecahan. Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wan-Nihayah — مناقبه الكبار وحسناته العظيمة menghimpun kisah tentang salah satu jasa terbesar Khalifah 'Utsman bin 'Affan radhiyallahu 'anhu: penyatuan bacaan Al-Qur'an dalam satu mushaf.
Angin gurun bertiup kering di sebuah medan perang di perbatasan. Pasukan Muslim dari berbagai penjuru berkumpul: ada yang datang dari Syam, ada yang dari Irak. Mereka satu barisan, satu panji, satu Tuhan. Tapi ada sesuatu yang mulai retak di antara mereka.
Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu 'anhu memperhatikannya dengan cemas. Ketika waktu membaca Al-Qur'an tiba, terdengar suara-suara yang berbeda. Orang Syam membaca dengan satu cara, mengikuti bacaan yang mereka warisi. Orang Irak membaca dengan cara lain. Awalnya hanya berbeda. Lalu mulai saling mengoreksi. Lalu saling menyalahkan.
"Bacaanku yang benar," kata seorang.
"Bacaanmu keliru," balas yang lain.
Suara-suara itu meninggi. Sebagian bahkan mulai mengkafirkan saudaranya sendiri hanya karena berbeda cara melafalkan ayat yang sama. Hudzaifah menyaksikan benih perpecahan itu tumbuh di hadapannya. Dan ia tahu, dari sejarah, ke mana ujung jalan seperti ini.
Ia tidak menunggu. Begitu kembali, ia menempuh perjalanan jauh menemui Amirul Mukminin 'Utsman di Madinah. Wajahnya masih membawa debu perjalanan ketika ia berkata:
يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، أَدْرِكْ هَذِهِ الْأُمَّةَ قَبْلَ أَنْ تَخْتَلِفَ فِي كِتَابِهَا كَاخْتِلَافِ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى فِي كُتُبِهِمْ
"Wahai Amirul Mukminin, selamatkanlah umat ini sebelum mereka berselisih tentang Kitab mereka seperti perselisihan Yahudi dan Nasrani tentang kitab-kitab mereka."
Kata-kata itu menusuk. 'Utsman terdiam. Ia paham betul bahwa umat-umat sebelumnya hancur bukan karena musuh dari luar, melainkan karena robek dari dalam — berpecah tentang kitab suci mereka sendiri.
'Utsman tidak mengambil keputusan sendirian. Ia kumpulkan para sahabat. Ia bermusyawarah. Dan disepakatilah satu langkah besar: menuliskan mushaf dalam satu bacaan yang dirujuk, lalu menyebarkannya ke seluruh penjuru negeri agar umat kembali membaca dari sumber yang sama.
Ini bukan keputusan yang ringan. Menyeragamkan bacaan berarti mengesampingkan sebagian cara baca yang juga sah, demi maslahat yang lebih besar: menutup pintu perpecahan. 'Utsman memilih persatuan umat di atas kenyamanan golongan. Ia rela namanya dipertaruhkan demi keutuhan yang lebih penting.
Mushaf itu pun ditulis dan dikirim. Perlahan, gemuruh perselisihan mereda. Umat kembali membaca dari satu bacaan yang menyatukan. Apa yang tadinya nyaris menjadi bara perpecahan, dipadamkan oleh satu keputusan yang lahir dari kebijaksanaan dan keberanian.
Pelajaran
Kisah ini mengajarkan satu hal yang sangat kita butuhkan pekan ini: perbedaan dalam perkara cabang tidak boleh dibiarkan tumbuh menjadi saling mengkafirkan. Para sahabat sendiri berbeda dalam cara membaca, dan Rasulullah ﷺ pernah membenarkan lebih dari satu bacaan. Namun ketika perbedaan itu mulai merobek ukhuwah, 'Utsman bertindak — bukan dengan menyalahkan satu pihak, melainkan dengan mencari titik temu yang menyatukan. Lihatlah keberaniannya: ia rela dikritik demi menyelamatkan umat dari nasib umat terdahulu. Hari ini, ketika kita mudah sekali menuduh saudara seiman "sesat" hanya karena beda organisasi atau beda pilihan guru, kisah ini menegur kita: energi kita seharusnya untuk merajut, bukan merobek. Sang penjaga satu bacaan itu mengajarkan bahwa menjaga persatuan kadang menuntut kita menahan ego, dan itulah bentuk keimanan yang matang.
Sumber Asli
Al-Bidayah wan-Nihayah — مناقبه الكبار وحسناته العظيمة
[مَنَاقِبُهُ الْكِبَارُ وَحَسَنَاتُهُ الْعَظِيمَةُ] وَمِنْ مَنَاقِبِهِ الْكِبَارِ وَحَسَنَاتِهِ الْعَظِيمَةِ أَنَّهُ جَمَعَ النَّاسَ عَلَى قِرَاءَةٍ وَاحِدَةٍ، وَكَتَبَ الْمُصْحَفَ عَلَى الْعَرْضَةِ الْأَخِيرَةِ، الَّتِي دَرَّسَهَا جِبْرِيلُ رَسُولَ اللَّهِ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فِي آخِرِ سِنِي حَيَاتِهِ، وَكَانَ سَبَبُ ذَلِكَ أَنَّ حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ كَانَ فِي بَعْضِ الْغَزَوَاتِ، وَقَدِ اجْتَمَعَ فِيهَا خَلْقٌ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ مِمَّنْ يَقْرَأُ عَلَى قِرَاءَةِ الْمِقْدَادِ بْنِ الْأَسْوَدِ وَأَبِي الدَّرْدَاءِ، وَجَمَاعَةٌ مِنْ أَهْلِ الْعِرَاقِ مِمَّنْ يَقْرَأُ عَلَى قِرَاءَةِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ وَأَبِي مُوسَى، وَجَعَلَ مَنْ لَا يَعْلَمُ بِسَوَغَانِ الْقِرَاءَةِ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ يُفَضِّلُ قِرَاءَتَهُ عَلَى قِرَاءَةِ غَيْرِهِ، وَرُبَّمَا خَطَّأَ الْآخَرَ أَوْ كَفَّرَهُ، فَأَدَّى ذَلِكَ إِلَى اخْتِلَافٍ شَدِيدٍ
فَرَكِبَ حُذَيْفَةُ إِلَى عُثْمَانَ، فَقَالَ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، أَدْرِكْ هَذِهِ الْأُمَّةَ قَبْلَ أَنْ تَخْتَلِفَ فِي كِتَابِهَا كَاخْتِلَافِ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى فِي كُتُبِهِمْ. وَذَكَرَ لَهُ مَا شَاهَدَ مِنَ اخْتِلَافِ النَّاسِ فِي الْقِرَاءَةِ، فَعِنْدَ ذَلِكَ جَمَعَ عُثْمَانُ الصَّحَابَةَ وَشَاوَرَهُمْ فِي ذَلِكَ، وَرَأَى أَنْ يَكْتُبَ الْمُصْحَفَ عَلَى حَرْفٍ وَاحِدٍ، وَأَنْ يَجْمَعَ النَّاسَ فِي سَائِرِ الْأَقَالِيمِ عَلَى الْقِرَاءَةِ بِهِ دُونَ مَا سِوَاهُ ; لِمَا رَأَى فِي ذَلِكَ مِنْ مَصْلَحَةِ كَفِّ الْمُنَازَعَةِ وَدَفْعِ الِاخْتِلَافِ
