Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumAqidah & IbadahKamis, 16 Juli 2026

Kultum — "Membersihkan Cermin Sebelum Menilai"

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ الْمُعَلِّمُ الْأَوَّلُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, ada satu hal yang mengganjal di hati saya ketika membuka ruang percakapan publik. Di satu sisi, begitu banyak orang mencari cara sholat yang benar, doa yang menenangkan, dzikir yang menuntun. Tapi di sisi lain, begitu ramai pula orang yang sibuk menilai keimanan orang lain — bahkan sampai melempar tuduhan kasar kepada para penuntut ilmu agama. Malam ini saya ingin berbagi satu pesan sederhana: sebelum kita sibuk menggosok cermin orang lain, mari kita bersihkan dulu cermin kita sendiri.

Mari kita mulai dari firman Allah yang menjadi kompas kita:

وَأَنْ أَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًۭا وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

"Dan hadapkanlah wajahmu kepada agama dengan tulus dan ikhlas, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik." (QS. Yunus: 105).

Perhatikan, saudara-saudara. Allah menyuruh kita menghadapkan wajah kita — wajah kita sendiri, bukan wajah tetangga. Ayat ini seolah menepuk pundak kita dan berkata: urus dulu arah hidupmu sebelum sibuk mengarahkan hidup orang lain. Betapa sering kita terbalik. Kita hafal betul kesalahan orang, tapi lupa memeriksa niat kita sendiri saat sholat tadi.

Pekan ini, kabar yang sampai ke kita menggambarkan wajah zaman yang unik. Banjir konten ibadah di mana-mana — bagus, alhamdulillah. Tapi bersamaan itu, muncul juga klaim-klaim spiritual yang mengambang, seperti cerita mimpi yang dibungkus seolah wahyu, beredar tanpa timbangan ilmu. Dan yang lebih menyita perhatian, muncul percakapan panas di mana orang saling mengukur keislaman satu sama lain, seakan surga dan neraka bisa dibagikan lewat kolom komentar. Saya jadi teringat, saudara-saudara — kadang kita lebih rajin menilai kadar iman orang lain daripada menghitung berapa kali hari ini kita benar-benar hadir dalam sholat.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Di sinilah letak masalahnya. Ketika keimanan kita jadikan alat untuk menghakimi, ia berhenti menyucikan kita dan mulai membusukkan hati. Sebab menghakimi itu memberi ilusi bahwa kita sudah beres, padahal justru itulah tanda kita berhenti bercermin. Orang yang benar-benar takut kepada Allah biasanya terlalu sibuk memeriksa dirinya sendiri untuk sempat menuduh orang lain.

Mari kita dengarkan bagaimana Rasulullah ﷺ memberi kita pekerjaan rumah yang lebih bermanfaat daripada mencela. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا: فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوْهُ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوْا، وَيَكْرَهُ لَكُمْ: قِيْلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

"Sesungguhnya Allah menyukai tiga hal untuk kalian dan tidak menyukai tiga hal untuk kalian. Dia menyukai kalian menyembah-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan berpegang teguh pada tali Allah dan tidak berpecah belah; dan Dia tidak menyukai bagi kalian percakapan yang tidak berguna, banyak bertanya yang tidak perlu, dan menyia-nyiakan harta." (Riyad as-Salihin 1781).

Subhaanallah, betapa pas hadits ini untuk pekan kita. Lihatlah, saudara-saudara: tiga yang Allah cintai adalah tauhid, dan persatuan. Tiga yang Allah benci — salah satunya adalah "qiila wa qaala", desas-desus dan obrolan tak berguna. Bukankah persis itu yang tumbuh subur di ruang digital kita? Menyebar kabar setengah matang, menuduh tanpa bukti, memperpanjang perdebatan yang tidak menambah takwa. Rasulullah ﷺ mengajarkan kita bahwa energi kita terlalu berharga untuk dihamburkan pada "qiila wa qaala".

Maka saya ingin mengajak kita semua merenung lebih dalam. Apa sebenarnya yang kita cari ketika kita menghakimi keimanan orang lain? Sering kali, kalau jujur, kita sedang menutupi kegelisahan tentang diri sendiri. Lebih mudah menuding orang lain kurang beriman daripada duduk sendirian di sepertiga malam dan bertanya: ya Allah, seberapa jujur ibadahku selama ini? Menghakimi itu jalan pintas; muhasabah itu jalan panjang. Dan Allah tidak menjanjikan surga bagi yang paling banyak menuduh, melainkan bagi yang paling bersih hatinya.

Ada pula pelajaran halus di sini tentang bagaimana kita memperlakukan sesama Muslim yang berbeda. Persatuan yang Allah cintai itu tidak berarti kita harus seragam dalam segala hal. Umat ini sejak dulu berbeda dalam banyak perkara cabang. Yang Allah benci bukan perbedaannya, melainkan perpecahannya — ketika perbedaan tumbuh jadi permusuhan, ketika beda pilihan ustadz jadi alasan memutus silaturahmi. Tali Allah itu satu; kita semua berpegang padanya dari sudut yang berbeda-beda, tapi tetap tali yang sama.

Lalu apa yang bisa kita bawa pulang malam ini, saudara-saudara? Saya usulkan tiga hal yang konkret dan bisa dimulai dalam 24 jam ke depan. Pertama, mulai malam ini, setiap kali kita tergoda mengetik komentar yang menilai keimanan orang lain, tahan dulu, lalu ganti dengan satu kali istighfar. Kedua, ambil waktu lima menit sebelum tidur untuk muhasabah — bukan menghitung dosa orang, tapi bertanya jujur pada diri: hari ini niatku ke mana. Ketiga, kalau ada saudara seiman yang berbeda pendapat dengan kita, kirimkan doa untuknya, bukan cibiran; itu jauh lebih berat di timbangan.

Mari kita tutup dengan satu kesimpulan yang saya harap menempel sampai besok pagi. Iman itu bukan pentungan untuk memukul orang lain; iman itu air untuk membersihkan diri sendiri. Semakin bersih cermin kita, semakin jelas kita melihat betapa banyak yang masih harus kita perbaiki — dan orang yang sibuk memperbaiki diri tidak punya waktu untuk menghakimi. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang lebih keras pada diri sendiri dan lebih lembut pada saudaranya.

اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ النِّفَاقِ وَالرِّيَاءِ، وَنَقِّ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْغِيْبَةِ وَالتُّهْمَةِ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَشْتَغِلُ بِعَيْبِ نَفْسِهِ عَنْ عُيُوْبِ النَّاسِ.

اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَاجْمَعْنَا عَلٰى كَلِمَةِ التَّوْحِيْدِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Lihat Briefing Mingguan