Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
KultumEkonomi & BisnisKamis, 16 Juli 2026

Kultum — "Harta yang Berputar, Bukan yang Dikubur"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ رَزَقَ عِبَادَهُ مِنَ الطَّيِّبَاتِ، وَأَوْجَبَ الْعَدْلَ فِيْ كُلِّ مُعَامَلَةٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang saya hormati, di pekan yang baru saja kita lewati, ramai perbincangan tentang daya beli yang menipis dan ekonomi yang katanya baik-baik saja padahal banyak dari kita merasakan yang sebaliknya. Malam ini saya ingin berbagi satu pesan sederhana: kekayaan sejati bukan pada berapa banyak yang kita simpan, tetapi pada berapa banyak yang kita putar menjadi kebaikan.

Mari kita dengar firman Allah:

۞ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلْأَحْبَارِ وَٱلرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَٰلَ ٱلنَّاسِ بِٱلْبَٰطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۗ وَٱلَّذِينَ يَكْنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلْفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍۢ

"...Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih." (QS. At-Tawba: 34)

Perhatikan kata "menyimpan" di sini, saudara-saudara. Yang dicela bukan orang yang punya harta, melainkan orang yang menimbun harta lalu menutup pintunya rapat-rapat dari hak orang lain. Di masa sulit, naluri kita justru ingin mengunci semua yang kita punya. Tetapi Islam mengajarkan yang berlawanan: justru di masa sulit itulah harta harus berputar, agar keberkahan mengalir dan roda ekonomi kecil di sekitar kita tetap berputar.

Pekan ini kita dengar keluhan yang jujur: ada usaha kecil yang sepi, ada keluarga yang menahan malu meminjam untuk menutup kebutuhan. Kabar yang sampai ke kita tentang koperasi desa yang ingin memutus ketergantungan pada rentenir sebenarnya menyimpan pesan yang menohok: masih banyak tetangga kita yang terjerat pinjaman berbunga karena tidak ada tangan yang terulur lebih dulu. Dan di ruang percakapan lain, ada pula pertanyaan tentang keabsahan transaksi kripto — sebuah tanda bahwa umat kita haus akan kejelasan tentang mana harta yang halal dan mana yang samar.

Nabi kita ﷺ mengajarkan sebuah prinsip yang indah tentang harta yang halal. Dalam riwayat Sahih Muslim 1014c, disebutkan tentang orang yang mencari nafkah "dari penghasilan yang halal dan membelanjakannya pada apa yang menjadi haknya". Dua kalimat, tetapi mencakup seluruh etika ekonomi Islam: bersihkan sumbernya, benarkan penggunaannya. Rezeki yang halal di sumber tetapi dihamburkan pada yang sia-sia belum sempurna; dan harta yang dibelanjakan dengan baik tetapi berasal dari sumber yang kotor sudah cacat dari awal.

Saudara-saudara, kita sering berpikir bahwa yang penting cuma jumlahnya — asal banyak, urusan selesai. Padahal dalam timbangan Allah, yang dinilai adalah sumbernya dan alirannya, bukan sekadar tumpukannya. Ada orang yang gajinya kecil tetapi rumahnya tenang, anaknya saleh, tidurnya nyenyak. Ada pula yang hartanya melimpah tetapi hidupnya dikejar-kejar cemas, keluarganya retak, dan setiap malam menghitung yang belum cukup. Bedanya bukan pada angka, melainkan pada keberkahan. Dan keberkahan itu hanya menempel pada harta yang bersih di sumber dan mengalir di penggunaannya.

Maka, saudara-saudara, mari kita ukur diri sendiri malam ini. Bukan mengukur dompet orang lain, bukan menuding pejabat yang jauh, tetapi mengukur dua pertanyaan sederhana: dari mana harta yang masuk ke rumah kita, dan ke mana ia keluar? Berapa banyak yang kita putar menjadi kebaikan, dan berapa banyak yang kita kubur karena takut kekurangan?

Ada yang lucu tapi jujur di sini. Kadang kita lebih cepat menghitung untung jualan online daripada menghitung berapa lama kita belum bersedekah. Kita hafal betul saldo e-wallet, tapi lupa kapan terakhir kali menengok tetangga yang usahanya bangkrut. Ini bukan celaan — ini cermin, dan saya termasuk yang bercermin di dalamnya.

Yang lebih dalam lagi: harta itu menguji siapa kita sebenarnya. Ketika sempit, apakah kita menjadi lebih pelit atau lebih peduli? Ketika lapang, apakah kita menjadi lebih dermawan atau lebih rakus? Rezeki adalah ujian dua arah — kekayaan menguji syukur, kekurangan menguji sabar. Dan keduanya menuntut satu hal yang sama: hati yang tidak diperbudak oleh dunia.

Malam ini, sebelum kita pulang, saya ajak tiga hal konkret. Pertama, tetapkan satu sedekah rutin, sekecil apa pun, yang tidak akan kita lewatkan pekan ini — biar keberkahan mulai mengalir. Kedua, jika ada tetangga yang kita tahu sedang terjerat pinjaman berbunga, jangan hanya berdoa dari jauh; tawarkan bantuan, walau sekadar mengantar ke tempat pinjaman yang lebih manusiawi. Ketiga, sebelum masuk ke akad atau investasi yang kita tidak paham, tahan dulu, tanyakan kepada yang berilmu — kejelasan itu bagian dari takwa.

Saudara-saudara, kekayaan sejati bukan pada tumpukan yang kita jaga, melainkan pada aliran yang kita jaga. Harta yang berputar menjadi kebaikan itulah yang akan kita temukan kembali di akhirat, sementara yang kita kubur dalam ketakutan akan kita tinggalkan tanpa sisa. Semoga Allah menjadikan rezeki kita sedikit tetapi berkah, dan menjauhkan kita dari harta yang banyak tetapi membinasakan.

اَللّٰهُمَّ أَغْنِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan