Pekan ini kita banyak mendengar tentang yang kuat merampas hak yang lemah, tentang keadilan yang diuji di ruang-ruang kekuasaan. Tapi ada satu bentuk keadilan yang jauh lebih dekat — keadilan di antara dinding rumah yang bersebelahan. Imam Yusuf al-Kandahlawi rahimahullah dalam Hayat as-Sahabah — قصة عبد الله بن سلام مع جاره الذي كان يؤذيه menghimpun sebuah kisah tentang seorang sahabat dan tetangganya yang menyakiti.
Madinah di masa awal Islam. Rumah-rumah berdempetan, dinding tanah yang tipis, suara dari sebelah terdengar jelas. Seorang lelaki datang menemui Rasulullah ﷺ. Wajahnya lelah. Ada beban di matanya.
"Tetanggaku menyakitiku," katanya.
Rasulullah ﷺ menatapnya. Jawabannya pendek. "Bersabarlah."
Lelaki itu pulang. Ia mencoba bersabar. Tapi gangguan itu tidak berhenti. Ia datang lagi. Kali kedua.
"Tetanggaku menyakitiku."
Jawaban Nabi ﷺ tetap sama. "Bersabarlah."
Ia pulang lagi. Menahan diri lagi. Tapi hatinya sudah penuh. Untuk ketiga kalinya ia datang, dan mengulang keluhan yang sama.
"Tetanggaku menyakitiku."
Kali ini Rasulullah ﷺ memberi sesuatu yang berbeda. Bukan sekadar "bersabarlah". Beliau ﷺ memberi cara.
اعْمِدْ إِلَى مَتَاعِكَ فَاقْذِفْهُ فِي السَّكَّةِ
"Bawalah barang-barangmu, lalu letakkan di tengah jalan," sabda Nabi ﷺ.
Lelaki itu tercengang. Barang-barangnya? Di jalan, di mana semua orang lewat dan bertanya?
"Maka bila ada orang yang lewat dan bertanya kepadamu," lanjut Rasulullah ﷺ, "katakanlah: tetanggaku menyakitiku. Dengan begitu, jatuhlah laknat atas dirinya."
Bayangkan pemandangan itu. Seorang lelaki mengeluarkan seluruh isi rumahnya ke tengah lorong. Orang berdatangan. "Kenapa barangmu di jalan?" Dan ia menjawab dengan jujur: tetanggaku menyakitiku. Satu per satu orang tahu. Kabar menyebar. Sang tetangga yang menyakiti kini terbuka di hadapan seluruh kampung — bukan dibalas dengan kekerasan, tapi dengan kebenaran yang tak bisa disembunyikan.
Lalu Rasulullah ﷺ menutup dengan tiga prinsip yang menjadi timbangan iman:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam."
Ada riwayat lain yang dihimpun dalam bab yang sama. Suatu hari Rasulullah ﷺ keluar untuk sebuah peperangan. Beliau ﷺ berkata di hadapan pasukan:
لَا يَصْحَبْنَا الْيَوْمَ مَنْ آذَى جَارَهُ
"Hari ini, janganlah ikut bersama kami orang yang telah menyakiti tetangganya."
Seorang lelaki dari rombongan itu berdiri. Ia mengaku terus terang bahwa ia pernah melakukan sesuatu yang mengganggu tetangganya. Dan Rasulullah ﷺ berkata kepadanya, "Kalau begitu, jangan ikut bersama kami hari ini." Begitu beratnya perkara menyakiti tetangga, sampai ia bisa menghalangi seseorang dari kehormatan berjihad bersama Nabi ﷺ.
Pelajaran
Yang menarik dari kisah ini adalah cara Nabi ﷺ menyelesaikan konflik: bukan dengan menyuruh membalas, dan bukan pula dengan menyuruh diam selamanya. Dua kali beliau berkata "bersabarlah", dan baru pada kali ketiga beliau memberi jalan — jalan yang menegakkan kebenaran tanpa kekerasan. Sang lelaki tidak diminta memukul atau balas menyakiti; ia hanya diminta membuka kenyataan agar keadilan sosial bekerja dengan sendirinya. Inilah keadilan ala Nabi ﷺ: melindungi yang terzalimi tanpa melahirkan kezaliman baru. Dan di ujung kisah, kita belajar betapa seriusnya hak tetangga dalam Islam — sampai menyakiti tetangga bisa menghalangi seseorang dari kemuliaan yang besar. Di pekan ketika kita ramai membicarakan keadilan yang jauh di ruang kekuasaan, kisah ini mengembalikan kita pada keadilan yang paling dekat: bagaimana kita memperlakukan orang yang tinggal persis di sebelah rumah kita.
Sumber Asli
Hayat as-Sahabah — الباب الرابع باب الهجرة / قصة عبد الله بن سلام مع جاره الذي كان يؤذيه
حياة الصحابة قصة عبد الله بن سلام مع جاره الذي كان يؤذيه وأخرج أبو نُعيم في المعرفة عن محمد بن عبد الله بن سلام رضي الله عنه أنه أتى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: آذاني جاري، فقال: «اصبر» ثم عاد إليه الثانية فقال: آذاني جاري، فقال: «اصبر» ثم عاد الثالثة، فقال: آذاني جاري، فقال: «اعتمد إلى متاعك فاقذفه في السَّكة، فإذا أتى عليك آتٍ فقل: آذاني جاري، فتحقَّق عليه اللعنة. ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكوم جاره، ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه، ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيراً أو يسكت» . كذا في الكنز.
نهيه عليه السلام في غزوة أن يصحبه من آذى جاره وأخرج الطبراني في الأوسط عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال: خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم في غزاة فقال: «لا يصحبنا اليوم من آذى جاره» فقال رجل من القوم: أنا بُلت في أصل حائط جاري، فقال: «لا تصحبنا اليوم» . قال الهيثيم: وفيه يحيى بن عبد الحميد الحمَّاني وهو ضعيف. اهـ.
