Pekan ini banyak jiwa yang lelah berbisik lirih di lini masa, seolah bertanya apakah masih ada tempat yang benar-benar tenang. Ada satu kisah yang menjawabnya dari kejauhan — kisah tentang seorang lelaki yang mencium wangi surga bahkan sebelum ia sampai. Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam «Al-Bidayah wan-Nihayah» — ذكر ريح الجنة menghimpun riwayat tentang harum surga yang tercium dari jarak yang sulit dipercaya.
Padang Uhud pada suatu pagi. Debu belum sepenuhnya turun. Pedang beradu, dan udara penuh bau darah serta keringat prajurit.
Di tengah kekacauan itu, seorang sahabat bernama Anas bin an-Nadhr radhiyallahu 'anhu bergerak maju. Ia bukan lelaki yang gentar. Ketika sebagian pasukan mundur, ia justru melangkah ke arah pertempuran paling sengit.
Di jalannya ia berpapasan dengan Sa'ad bin Mu'adz radhiyallahu 'anhu. Wajah Anas berseri, seolah mencium sesuatu yang tak tercium orang lain.
أَيْنَ يَا سَعْدُ، وَاهًا لِرِيحِ الْجَنَّةِ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأَجِدُ رِيحَهَا دُونَ أُحُدٍ
"Ke mana, wahai Sa'ad? Aduhai, harum surga! Demi Allah, sungguh aku mencium wanginya dari balik Uhud," katanya. Ia tidak berkata tentang takut. Ia berkata tentang wangi. Wangi yang begitu nyata baginya sampai ia menyebut arahnya — dari balik gunung itu.
Lalu ia berperang. Ia menerjang tanpa ragu, maju terus, sampai akhirnya ia gugur di medan itu.
Ketika perang usai dan para syuhada dikumpulkan, jasad Anas nyaris tak dikenali. Luka menutupi tubuhnya. Tidak ada yang bisa memastikan itu dirinya.
Hanya seorang yang mengenalnya — saudarinya, Ar-Rubayyi' binti an-Nadhr. Ia mengenali Anas dari ujung jari-jarinya. Dan pada tubuh itu ditemukan lebih dari delapan puluh bekas luka, antara tebasan pedang, tikaman tombak, dan lesatan anak panah. Delapan puluh lebih. Semua di depan, semua menghadap musuh.
