Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Khutbah JumatKonflik & GeopolitikKamis, 16 Juli 2026

Khutbah Jumat — "Keadilan yang Tak Boleh Kalah oleh Kebencian"

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الَّذِيْ أَمَرَ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَنَهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْبَغْيِ وَالْعُدْوَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, hadirin yang dimuliakan Allah. Pada Jumat yang penuh berkah ini, marilah kita membuka hati dengan sebuah ayat yang menjadi tiang dari seluruh khutbah kita hari ini. Allah Ta'ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Maaida: 8)

Hadirin yang dimuliakan Allah, ayat ini turun dalam suasana ketegangan antara kaum Muslimin dan orang-orang yang memusuhi mereka. Dan di sinilah letak keagungannya: justru di puncak permusuhan, Allah memerintahkan kita untuk tetap adil. Bukan sekadar adil kepada teman, tetapi adil bahkan kepada mereka yang kita benci. Ini adalah timbangan yang paling berat untuk dijaga, karena kebencian adalah air bah yang bisa menyeret hati kita dari kejernihan menuju kegelapan.

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kata qawwāmīn dalam ayat ini bukan sekadar "orang yang adil sesekali," melainkan orang yang menegakkan keadilan secara terus-menerus, kokoh, dan konsisten — sebuah sifat yang menetap, bukan tindakan yang kadang muncul kadang hilang. Dan keadilan itu diikat dengan dua kata: lillāh (karena Allah) dan bil-qisth (dengan neraca yang lurus). Artinya, keadilan seorang mukmin bukan didorong oleh keuntungan, bukan oleh tekanan massa, bukan oleh keinginan tampak baik di mata orang; ia didorong semata-mata karena Allah melihat. Inilah yang membuat keadilan Islam tahan banting: ia tidak berubah ketika yang dinilai adalah lawan, dan tidak melunak ketika yang dinilai adalah kawan.

Mengapa ayat ini terasa sangat mendesak pekan ini? Karena dari berita yang sampai kepada kita, dunia sedang mendidih. Ketegangan besar antara dua kekuatan dunia meletup di sebuah selat sempit yang menjadi urat nadi perdagangan energi global. Kabar yang kita dengar menyebutkan kapal-kapal niaga ditembak, lalu menyusul serangan-serangan pada instalasi penting di kawasan itu. Kita yang duduk jauh di Indonesia menyaksikan semuanya lewat layar, dan hati kita bergemuruh: kepada siapa kita harus berpihak, dan bagaimana cara berpihak yang benar?

Di saat yang sama, kita mendengar kabar dari tanah Palestina yang belum juga reda. Percakapan umat pekan ini mengambil warna baru: bukan lagi sekadar amarah yang meledak, tetapi ajakan untuk berpengetahuan, untuk tidak menjadi penyangkal kekejaman hanya karena berbeda selera politik. Bahkan sampai kepada kita kabar tentang seorang anak yang disiksa oleh tentara asing yang justru sedang bertugas dalam sebuah misi perdamaian internasional — ironi yang menyayat, karena mereka yang seharusnya menjaga ketertiban malah menzalimi.

Dan yang paling dekat menghantam kesadaran kita: kekerasan yang meledak bukan di medan perang jauh, melainkan di ruang-ruang yang seharusnya paling aman. Pekan ini publik dikejutkan oleh kabar seorang siswa yang meledakkan bom rakitan di sekolahnya sendiri. Kita juga mendengar kabar pilu tentang perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan — seorang perempuan penyandang disabilitas dilecehkan, seorang remaja putri diduga dianiaya oleh banyak pelaku. Konflik, hadirin, ternyata tidak selalu berwujud perang antar-negara. Kadang ia berwujud kezaliman kecil di sekolah, di rumah, di lorong-lorong lingkungan kita.

Maka apa benang merah dari semua ini? Benang merahnya adalah satu: keadilan sedang diuji, baik di panggung dunia maupun di halaman rumah kita sendiri. Dan Allah, melalui ayat pembuka tadi, mengajarkan kita satu prinsip yang tidak boleh goyah: kūnū qawwāmīna lillāhi syuhadā'a bil-qisth — jadilah penegak keadilan karena Allah, saksi yang adil. Keadilan bukan hanya milik pengadilan; ia adalah sikap batin yang kita bawa ketika membaca berita, ketika berkomentar di media sosial, ketika memilih kata untuk menggambarkan pihak yang kita tidak sukai.

Hadirin yang dimuliakan Allah, betapa banyak dari kita yang tergelincir justru di sini. Ketika sebuah bangsa yang kita benci berbuat sesuatu, kita cenderung memandang semua tindakannya jahat, sekalipun ada yang benar. Sebaliknya, ketika pihak yang kita sukai berbuat aniaya, kita mencari-cari pembenaran. Inilah yang dilarang keras oleh ayat tadi: walā yajrimannakum syanaānu qaumin 'alā allā ta'dilū — janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu berlaku tidak adil. Islam tidak mengenal keadilan yang memihak; ia mengenal keadilan yang tegak di atas kebenaran, siapa pun pelakunya.

Dan di sinilah Islam memberi kita rambu kedua ketika menghadapi konflik antar-sesama mukmin. Allah Ta'ala berfirman:

وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱقْتَتَلُوا۟ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنۢ بَغَتْ إِحْدَىٰهُمَا عَلَى ٱلْأُخْرَىٰ فَقَٰتِلُوا۟ ٱلَّتِى تَبْغِى حَتَّىٰ تَفِىٓءَ إِلَىٰٓ أَمْرِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن فَآءَتْ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَهُمَا بِٱلْعَدْلِ وَأَقْسِطُوٓا۟ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ

"Dan kalau ada dua golongan dari orang-orang beriman berperang, damaikanlah antara keduanya. Tapi kalau yang satu melanggar terhadap yang lain, perangilah golongan yang melanggar itu sampai kembali kepada perintah Allah. Kalau dia telah kembali, damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil." (QS. Al-Hujuraat: 9)

Perhatikan, hadirin, betapa indah struktur ayat ini. Bahkan ketika satu pihak zalim dan harus dihentikan, tujuan akhirnya tetap ishlah — perdamaian, bukan pembalasan. Dan begitu perdamaian tercapai, sekali lagi diperintahkan keadilan: wa aqsithū, innallāha yuhibbul-muqsithīn. Allah tidak mencintai pihak yang menang; Allah mencintai pihak yang adil. Inilah sikap yang harus kita bangun ketika menyaksikan perang besar dunia: kita tidak boleh larut dalam sorak-sorai kemenangan salah satu pihak, tetapi kita menghendaki keadilan dan berhentinya penumpahan darah yang tak berdosa.

Marilah kita belajar dari sirah. Ketika Rasulullah ﷺ menaklukkan kota Makkah — kota yang penduduknya pernah menyiksanya, mengusirnya, dan membunuh sahabat-sahabatnya — beliau tidak membalas dengan pembantaian. Beliau berdiri di hadapan orang-orang yang paling memusuhinya dan bersabda, "Pergilah, kalian bebas." Itulah keadilan yang tidak dikalahkan oleh kebencian. Kemenangan tertinggi bukanlah menghancurkan musuh, melainkan menaklukkan hasrat balas dendam di dalam dada sendiri. Betapa sering kita, hadirin, ketika memiliki kesempatan untuk membalas, memilih membalas sekeras-kerasnya, dan menyebut itu sebagai keadilan. Padahal Nabi kita mengajarkan bahwa puncak keperkasaan justru terletak pada kemampuan menahan, memaafkan, dan tetap adil ketika kekuasaan berada di tangan.

Dan keadilan yang diajarkan Islam ini bukan keadilan yang bisa ditawar oleh kepentingan pribadi atau kedekatan hubungan. Allah Ta'ala berfirman:

۞ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ بِٱلْقِسْطِ شُهَدَآءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ أَوِ ٱلْوَٰلِدَيْنِ وَٱلْأَقْرَبِينَ ۚ إِن يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًۭا فَٱللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلْهَوَىٰٓ أَن تَعْدِلُوا۟

"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran." (QS. An-Nisaa: 135)

Renungkanlah, hadirin, betapa berat tuntutan ayat ini. Allah memerintahkan kita menjadi saksi yang adil bahkan ketika keadilan itu merugikan diri kita sendiri, orang tua kita, atau kerabat kita. Kalau terhadap keluarga sendiri kita dituntut adil, apalagi terhadap bangsa yang tidak ada hubungan darah dengan kita. Ayat ini membongkar akar dari semua ketidakadilan: hawa nafsu. Kita tidak berlaku tidak adil karena kita tidak tahu mana yang benar; kita berlaku tidak adil karena kita mengikuti kecenderungan hati, keberpihakan yang sudah tertanam, dan gengsi kelompok. Di era media sosial, hawa nafsu ini punya wujud baru: keinginan untuk selalu tampak berada di pihak yang "benar" menurut lingkaran kita, sekalipun itu berarti menutup mata dari fakta yang tidak menyenangkan.

Maka konflik dunia yang kita saksikan pekan ini sesungguhnya adalah cermin bagi hati kita masing-masing. Ketika kita membaca kabar dari Selat Hormuz, dari Palestina, dari misi perdamaian yang ternoda, pertanyaannya bukan hanya "siapa yang salah di sana," tetapi juga "bagaimana aku menyikapinya di sini." Apakah aku menjadi saksi yang adil, atau aku menjadi corong kebencian? Apakah aku menimbang dengan neraca kebenaran, atau aku menimbang dengan neraca kesukaan dan ketidaksukaan? Inilah jihad yang paling dekat dan paling sering kita lalaikan: jihad melawan hawa nafsu yang ingin memenangkan kelompok kita dengan cara apa pun.

Kemudian, ketika kita menyaksikan kezaliman menimpa yang lemah — anak-anak di zona konflik, perempuan yang dilecehkan, korban yang tak berdaya — Islam menuntut kita bergerak, bukan sekadar menonton. Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِيْ حَاجَةِ أَخِيْهِ كَانَ اللهُ فِيْ حَاجَتِهِ

"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh menyerahkannya kepada musuh. Dan barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya." (Sahih al-Bukhari 6951)

Dalam riwayat ini, kata lā yuslimuhu — tidak menyerahkannya, tidak membiarkannya sendirian menghadapi bahaya — adalah inti dari solidaritas umat. Solidaritas kepada Palestina, solidaritas kepada korban kekerasan di sekitar kita, semuanya berakar pada satu prinsip: kita tidak membiarkan saudara kita ditindas sendirian. Namun solidaritas ini harus cerdas. Percakapan pekan ini mengajarkan sesuatu yang penting: jangan menjadi penyangkal kekejaman, tetapi juga jangan menjadi penyebar amarah yang buta. Belalah kebenaran dengan ilmu, dengan data yang tepercaya, dengan kata yang tidak melampaui batas.

Ada hikmah yang dalam di ujung hadits tadi: wa man kāna fī hājati akhīhi kānallāhu fī hājatih — barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya. Hadirin, ini adalah kabar gembira di tengah rasa tak berdaya. Banyak dari kita merasa, "Apa yang bisa aku lakukan? Aku hanya orang kecil di Indonesia, sementara perang berkecamuk di negeri yang jauh." Hadits ini menjawab: mulailah dari kebutuhan saudara yang bisa kau jangkau. Ketika kita meringankan beban satu orang saja — satu tetangga yang kesulitan, satu korban yang butuh ditemani, satu keluarga yang butuh dibantu — Allah mencatat itu sebagai bagian dari solidaritas umat, dan Allah sendiri yang akan mencukupi kebutuhan kita. Kita tidak dituntut mengubah dunia; kita dituntut tidak berpaling dari yang di depan mata.

Inilah yang membedakan seorang mukmin dari sekadar penonton yang marah. Penonton yang marah menghabiskan energinya untuk mengumpat di layar, lalu tidur dengan hati yang tetap kosong. Seorang mukmin mengubah kemarahannya menjadi gerakan: doa yang tulus di sepertiga malam, sedekah yang disisihkan dari rezekinya, edukasi yang ia sebarkan dengan sabar, dan perlindungan yang ia berikan kepada yang lemah di sekitarnya. Kemarahan yang tidak berujung pada amal adalah beban; kemarahan yang berujung pada kebaikan adalah cahaya.

Dan bahaya terbesar dari kebencian yang tak terkendali adalah ia berubah menjadi kezaliman. Rasulullah ﷺ mengingatkan kita:

اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Jauhilah kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan-kegelapan di Hari Kiamat." (Sahih Muslim 2578)

Kezaliman, hadirin, tidak hanya dilakukan dengan senjata. Ia bisa dilakukan dengan lidah — ketika kita memfitnah, ketika kita menyebarkan kabar yang belum terbukti tentang suatu kaum, ketika kita menghukum seseorang atau sebuah bangsa dengan tuduhan tanpa bukti. Di era di mana satu jempol bisa menyebarkan tuduhan ke jutaan layar, kita semua berdiri di ambang bahaya menjadi pelaku kezaliman digital tanpa sadar. Betapa banyak orang yang tidak pernah mengangkat pedang, tetapi lisan dan jarinya telah menumpahkan kehormatan begitu banyak orang. Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada para sahabat, "Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?" Mereka menjawab, orang yang tidak punya harta. Beliau meluruskan: orang yang bangkrut adalah yang datang di Hari Kiamat membawa pahala shalat dan puasa, tetapi ia dulu mencaci si ini, menuduh si itu, memakan harta si ini, menumpahkan darah si itu — sehingga kebaikannya habis dibagikan kepada mereka yang ia zalimi. Alangkah ruginya jika ibadah kita habis untuk menebus kezaliman lisan kita sendiri.

Dan perhatikanlah, hadirin, betapa terhubungnya semua ini. Ketika kita gagal berlaku adil terhadap kabar dunia, kita melatih hati kita untuk gampang menuduh. Hati yang gampang menuduh akan gampang pula menzalimi yang dekat — pasangan, tetangga, rekan kerja. Sebaliknya, orang yang melatih diri untuk adil dalam menyikapi berita besar, ia sedang menempa karakter yang sama yang akan menjaganya adil di rumah, di pasar, dan di tempat kerja. Keadilan itu satu jiwa; ia tidak bisa kita nyalakan untuk urusan besar dan kita matikan untuk urusan kecil.

Maka, hadirin yang dimuliakan Allah, izinkan saya menutup khutbah pertama ini dengan beberapa langkah konkret yang bisa kita bawa pulang. Pertama, jadikan diri kita saksi yang adil: sebelum menyebarkan berita tentang konflik apa pun, tanyakan apakah kabar itu benar dan apakah kita bersikap adil dalam menyampaikannya. Satu jeda kecil sebelum menekan tombol bagikan bisa menyelamatkan kita dari mencatat kezaliman baru. Kedua, jangan biarkan kebencian pada satu bangsa membuat kita menutup mata dari kezaliman yang dilakukan bangsa yang kita sukai; keadilan itu satu, tidak bercabang, dan iman kita tidak diukur dari seberapa keras kita membela kelompok, melainkan dari seberapa lurus kita membela kebenaran. Ketiga, arahkan solidaritas kita pada yang konkret — doa yang tulus di sepertiga malam untuk saudara yang tertindas, sedekah yang kita salurkan lewat lembaga tepercaya, dan edukasi berbasis ilmu, bukan sekadar luapan amarah di kolom komentar yang cepat padam. Keempat, tengok yang lemah di sekitar kita: satu keluarga korban kekerasan di lingkungan, satu anak yang butuh perlindungan, satu tetangga yang terjepit — karena solidaritas yang sejati selalu dimulai dari yang bisa kita jangkau dengan tangan, bukan hanya yang kita ratapi lewat layar. Kelima, jaga lisan dan jempol kita dari menyebarkan tuduhan yang belum terbukti, karena itu bisa menjadi kegelapan bagi kita di akhirat. Keenam, jadikan rumah dan sekolah anak-anak kita sebagai ruang yang aman: kenali dengan siapa mereka bergaul, dengarkan keluh mereka, dan tanamkan bahwa keberanian sejati adalah menolak kezaliman, bukan melakukannya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ.

Hadirin yang dimuliakan Allah, pada khutbah kedua ini izinkan saya menegaskan kembali beberapa sisi dari pesan tadi, agar tertanam lebih dalam.

Sisi pertama: keadilan adalah bentuk penghambaan, bukan sekadar etika sosial. Ayat pembuka tadi menyandingkan keadilan dengan takwa — i'dilū huwa aqrabu lit-taqwā. Ketika kita menahan diri dari menghakimi sepihak, ketika kita memberi hak bahkan kepada pihak yang kita benci, kita sedang beribadah. Ini mengangkat perkara sikap kita terhadap berita dunia dari sekadar urusan opini menjadi urusan iman.

Sisi kedua: solidaritas sejati adalah solidaritas yang tidak menyerahkan saudaranya, lā yuslimuhu. Kita tidak bisa mengubah peta perang dunia, tetapi kita bisa memastikan tak seorang pun korban lemah di sekitar kita ditinggalkan sendirian. Solidaritas kepada yang jauh menjadi kosong jika kita buta pada yang dekat.

Sisi ketiga: kebencian yang tak dijaga akan menjelma kezaliman, dan kezaliman adalah kegelapan. Betapa mudah pekan-pekan penuh berita buruk seperti ini membuat hati kita mengeras, lalu lidah dan jempol kita ikut mengeras. Marilah kita jaga hati agar tetap terang, agar amarah kita pada kezaliman tidak berubah menjadi kezaliman baru.

Sisi keempat: harapan tidak boleh mati. Sekelam apa pun kabar dunia, seorang mukmin tidak pernah putus asa dari rahmat Allah. Tugas kita bukan menambah kepanikan, melainkan menjadi cahaya kecil — dalam doa, dalam keadilan, dalam kepedulian pada yang lemah. Sejarah umat ini penuh dengan malam-malam gelap yang kemudian berganti fajar; yang menjaga umat melewatinya bukanlah amarah, melainkan iman yang teguh dan amal yang tidak berhenti sekecil apa pun.

Sisi kelima, dan ini yang ingin saya tanamkan paling dalam: konflik dunia hendaknya mengembalikan kita pada muhasabah, bukan pada permusuhan sesama. Betapa ironisnya jika kita marah pada kezaliman di negeri yang jauh, sementara di grup keluarga sendiri kita saling menyerang karena beda pandangan tentang isu itu. Setan sangat gembira ketika umat yang seharusnya bersatu menghadapi kezaliman justru pecah menjadi kubu-kubu yang saling menghina. Marilah kita jaga persaudaraan ini; perbedaan cara pandang tentang cara membela kebenaran tidak boleh merobek ikatan yang Allah perintahkan untuk kita rawat. Kita boleh berbeda dalam taktik, tetapi kita satu dalam kebencian pada kezaliman dan kecintaan pada keadilan.

Maka marilah kita tundukkan kepala, mengangkat tangan, memohon kepada Allah.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوْصًا إِخْوَانَنَا فِيْ أَرْضِ فِلَسْطِيْنَ، اَللّٰهُمَّ كُنْ لَهُمْ حَافِظًا وَنَاصِرًا وَمُعِيْنًا، وَاجْبُرْ كَسْرَهُمْ، وَاشْفِ مَرْضَاهُمْ، وَارْحَمْ مَوْتَاهُمْ.

اَللّٰهُمَّ احْقِنْ دِمَاءَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَاكْفِفْ بَأْسَ الظَّالِمِيْنَ، وَأَطْفِئْ نِيْرَانَ الْحُرُوْبِ، وَأَبْدِلْ خَوْفَهُمْ أَمْنًا وَسَلَامًا.

اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا فِيْ مَدَارِسِهِمْ وَبُيُوْتِهِمْ، وَقِهِمْ شَرَّ الْعُنْفِ وَالْفِتَنِ، وَاجْعَلْ بُيُوْتَنَا وَحَيَّنَا آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا قَوَّامِيْنَ بِالْقِسْطِ، شُهَدَاءَ بِالْعَدْلِ، وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا ضَغِيْنَةً تَحْمِلُنَا عَلَى الظُّلْمِ.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِخَيْرِ عِبَادِكَ وَبِلَادِكَ.

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْنَا وَوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْ مَنْ رَبَّانَا صِغَارًا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى، وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan