Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Kisah dari HaditsKonflik & GeopolitikKamis, 16 Juli 2026

Kisah Pendek — "Emas yang Ditolak Ali"

Pekan ini kabar tentang harta yang disalahgunakan dan keadilan yang goyah memenuhi layar kita, dari panggung dunia sampai ke ruang paling dekat. Di tengah semua itu, ada satu kisah dari masa para sahabat tentang bagaimana seorang pemimpin memperlakukan harta umat. Imam Yusuf al-Kandahlawi rahimahullah dalam Hayat as-Sahabah — رأي عمر رضي الله عنه في حق المسلمين في المال menghimpun peristiwa yang membuat kita bertanya: seberapa besar godaan harta yang berani ditolak seseorang demi keadilan?

Siang itu terik di Kufah. Debu beterbangan pelan di halaman. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, Amirul Mukminin, sedang duduk ketika seorang lelakinya yang bernama Qanbar datang tergesa-gesa.

Wajah Qanbar berseri. Ia membawa kabar yang menurutnya menggembirakan.

"Wahai Amirul Mukminin," katanya, "engkau ini orang yang tidak pernah menyisakan apa pun untuk dirimu. Padahal keluargamu punya hak dalam harta ini. Aku sudah menyimpankan sesuatu untukmu."

Ali menatapnya. "Apa itu?"

"Ikutlah," kata Qanbar. "Lihat sendiri."

Ali bangkit. Qanbar menuntunnya ke sebuah ruangan. Di dalamnya ada sebuah wadah besar. Penuh. Berisi bejana-bejana emas dan perak, berkilau dilapis emas. Cahaya yang masuk dari celah pintu memantul di permukaannya.

Qanbar tersenyum, menunggu pujian.

Tapi wajah Ali berubah. Bukan gembira. Ia justru terguncang. Suaranya keras memenuhi ruangan.

"Celaka engkau! Ibumu kehilanganmu! Engkau ingin memasukkan ke dalam rumahku api yang besar?"

Qanbar terdiam, kaget. Ia mengira sedang berbuat baik. Ia tidak menyangka simpanan itu justru dianggap bara.

Ali tidak menunda. Ia segera meminta timbangan. Bejana demi bejana ditimbang di depan matanya. Lalu ia memanggil para pemimpin kelompok, dan membagikan seluruh isinya. Setiap orang menerima haknya. Tak sepotong pun tersisa di tangan Ali.

Sambil membagi, ia melantunkan sebuah bait yang dulu juga sering diucapkan:

هَذَا جَنَايَ وَخِيَارُهُ فِيهْ ... وَكُلُّ جَانٍ يَدُهُ إِلَى فِيهْ

"Inilah hasil petikanku, dan yang terbaik darinya ada di dalamnya — sedang setiap pemetik biasanya membawa tangannya ke mulutnya sendiri."

Maksudnya: orang biasa memetik untuk dinikmati sendiri. Tapi Ali memetik untuk dibagikan, bukan untuk perutnya. Lalu ia berkata pada dunia, seakan berbicara langsung padanya:

لَا تَغُرِّينِي وَغُرِّي غَيْرِي

"Jangan engkau tipu aku, wahai dunia — tipulah orang selainmu."

Peristiwa serupa juga hidup di masa Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu. Ketika harta fai' terkumpul di hadapannya, ia tidak membiarkannya bermalam sebelum dibagi. Ia mengumpulkan orang dan membacakan ayat-ayat tentang siapa yang berhak. Lalu ia menegaskan sebuah prinsip yang membekas: bahwa harta itu bukan milik segelintir orang, melainkan hak yang tersebar. Tak seorang Muslim pun kecuali punya bagian dalam harta ini — sampai-sampai, katanya, seorang penggembala di negeri yang jauh sekalipun punya haknya.

Emas berkilau di depan mata. Wadah penuh, siap dibawa pulang. Bagi kebanyakan orang, itu hadiah. Bagi Ali, itu api.

Pelajaran

Yang menakjubkan dari kisah ini bukan sekadar bahwa Ali menolak harta — tetapi bahwa ia melihat emas itu sebagai api. Ia tidak menghitung apa yang bisa ia nikmati; ia menghitung apa yang akan ditanyakan Allah kepadanya kelak. Ketika Qanbar mengira sedang berbuat baik, Ali justru gemetar takut. Itulah beda antara orang yang memandang harta umat sebagai kesempatan dan orang yang memandangnya sebagai amanah. Di pekan ketika kita ramai membicarakan harta negara yang disalahgunakan dan keadilan yang diinjak di berbagai penjuru dunia, kisah ini menampar lembut: keadilan sejati dimulai dari satu keputusan pribadi untuk tidak mengambil yang bukan hak kita, sekecil apa pun, walau tak seorang pun melihat. Api itu selalu tampak seperti emas dulu — sampai kita menyentuhnya.

Sumber Asli

Hayat as-Sahabah — الباب الرابع باب الهجرة / رأي عمر رضي الله عنه في حق المسلمين في المال

وكان يقول: يا دنيا، لا تغريني وغُرِّي غيري، وينشد: هذا جنايَ وخيارُه فيهْ وكلُّ جانٍ يَدهُ إلى فيهْ ... فقال: يا أمير المؤمنين إنَّك رجل لا تليق شيئاً، وإنَّ لأهل بيتك في هذا المال نصيباً، وقد خبأت لك خبيئة، قال: وما هي؟ ... فأدخله بيتاً فيه باسنة مملوءة آنية ذهب وفضة مموَّهة بالذهب، فلما رآها علي قال: ثكلتك أمك لقد أردت أن تدخل بيتي ناراً عظيمة؟ ثم جعل يزنها ويعطي كل عريف بحصته.

سمعت عمر رضي الله عنه يقول: إجتمعوا لهذا المال فانظروا لمن ترونه ... وإِني قد قرأت آيات من كتاب الله ... والله ما من أحد من المسلمين إلا وله حق في هذا المال أُعطي منه أو مُنع حتى راعٍ بعَدَن.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan